
Sang penguasa malam telah meninggalkan singgasananya dan kembali ke peraduannya. Posisinya kini digantikan oleh sang Surya yang mulai menyinari bumi dengan sinarnya yang hangat.
Burung-burung berkicau riang turut menyambut datangnya hari baru. Hari baru berarti semangat baru. Burung-burung kecil pun tak mau ketinggalan dan turut meramaikan lagi dengan kicauannya yang merdu.
Di salah satu kamar, disebuah Villa mewah. Seorang wanita baru saja terbangun dari tidur nyenyak nya. Sesekali dia menguap karena rasa kantuknya yang masih belum hilang sepenuhnya.
Dengan enggan dan sedikit malas. Wanita muda itu turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah kamar mandi. Dari luar, dia mendengar suara gemercik dari dalam sana. Dan dia berani bersumpah jika yang ada di dalam adalah suaminya.
"Wow, pisang raja." Sepasang Biner Hazel itu langsung terbuka lebar saat melihat sosis berurat milik suaminya terpampang jelas di depan matanya.
"Cinta, apa yang kau lakukan di sini?!" Kaget pria itu yang pastinya adalah Aiden.
"Cuci muka dan gosok gigi. Kak Ai, sepertinya mandi bersama tidaklah buruk. Bagaimana kalau aku ikut mandi bersamamu juga?" Usul Cinta sambil melepas piyama tidurnya.
"Cinta!!" Geram Aiden saat Cinta langsung melompat ke dalam bathtub dan membuat airnya meluber kemana-mana.
Cinta tersenyum tiga jari. Menunjukkan barisan gigi putihnya yang rapi. Bahkan dia tidka merasa bersalah sedikit pun. Aiden mendengus geli. Memarahinya juga percuma, karena masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri.
Dan Aiden tidak memiliki pilihan lain selain membiarkan Cinta ikut mandi bersamanya. Karena dilarang pun sangat percuma, dia tidak akan mau mendengarnya.
.
"Kak Ai, pakai yang ini saja ya." Cinta menyerahkan sebuah singlet putih dan rompi hitam bertudung pada Aiden. Tak lupa celana jeans panjang yang sedikit robek pada lututnya.
"Apa tidak ada pakaian yang lain lagi? Setidaknya kemeja." Cinta menggeleng dan bersikeras supaya Aiden mau memakai pakaian pilihannya.
"Tidak ada yang lain. Kak Ai harus memakai yang ini. Dan aku tidak mau dengar kata protes, titik!!"
Aiden mendengus untuk yang kesekian kalinya. Dengan enggan dan sedikit dongkol. Aiden mengambil pakaian yang Cinta pilihkan untuknya. Sebenarnya dia tidak pernah memakai rompi bertudung saat bersantai, dia hanya memakainya ketika olah rasa saja.
Dan yang Aiden heran kan, diantara semua rompi yang dia miliki, kenapa harus yang bertudung ini?! Meskipun dengan sangat terpaksa, tapi Aiden tetap memakainya juga.
"Oya, Kak Ai. Kau bilang ingin melihatku keajaiban, tapi kenapa kau malah tidak membangunkan ku?"
__ADS_1
"Karena mendung, keajaiban itu tidak mungkin bisa kau temukan saat mendung datang."
"Aku mengerti. Ya sudah aku juga mau ganti baju dulu." Cinta meninggalkan Aiden begitu saja dan melesat masuk ke dalam kamar mandi.
Meskipun sudah menjadi sepasang suami-istri. Tapi tetap saja Cinta malu jika harus bertelanjang di depan suaminya. Padahal Aiden sudah berkali-kali melihat tubuhnya yang polos.
-
Paman penjaga Villa itu terkejut melihat kedatangan putrinya dalam balutan pakaian mini dan make up tebal 'Menor' dan sepanjang dia bekerja di sini. Ini baru pertama kalinya ia melihat putrinya mau datang ke tempatnya bekerja.
"Saras, sedang apa kau disni, Nak? Dan kenapa kau berpakaian seperti ini??" Tanya pria setengah baya itu dengan tatapan penuh kecewa.
"Aku yang memintanya!!" Sahut seseorang dari arah belakang. Sontak keduanya menoleh.
"Istriku, apa maksudmu?! Kenapa kau malah mengajari putri kita sesuatu yang tidak benar?! Ini bukan barat, jadi pakaian seperti ini sangat tidak cocok dan sesuai dengan kebudayaan kita!!"
"Arrkkhh!! Kau terlalu berisik!! Apa kau tidak ingin derajat mu diangkat naik? Jika kita memiliki menantu kaya, itu juga akan menguntungkan bagi kita. Mengertilah dan jangan bersikap kolot!!"
"Maksudmu?!"
"Kalian berdua gila!!" Ucap pria itu dan pergi begitu saja.
-
Cinta dan Aiden menuruni tangga setelah di beri tahu jika sarapan sudah siap. Pasangan muda itu berjalan menuju meja makan. Dan sudah ada beberapa menu berbeda tersaji di sana.
"Tuan Muda, silahkan di nikmati. Saya sendiri loh yang memasaknya." Ucap Saras yang tiba-tiba sudah ada di dekat Aiden.
"Tolong ya itu tangan, jangan sembarangan menyentuh suami orang jika kau tidak ingin aku sampai mematahkannya!!" Ucap Cinta. Dia tidak suka melihat suaminya diraba-raba seperti itu.
"Maaf ya, Nona Muda. Saya sedang berbicara dengan Tuan Muda, sebaiknya Anda~"
"Menjauh dariku atau ku patahkan kaki dan tanganmu?!" Ucap Aiden menyela kalimat Saras.
__ADS_1
Melihat tatapan tajam dan raut wajah Aiden yang suram membuat Saras merinding sendiri. Dia buru-buru meninggalkan meja makan Karana tidak mau mati mengenaskan ditangan pria bermarga Qin tersebut.
"Kak Ai, kau membuatnya ketakutan." Ucap Cinta yang juga ikut merinding karena ulah suaminya.
"Biarkan saja. Wanita seperti itu memang perlu di beri pelajaran sekali-kali, supaya tidak ngelunjak!!" Jawabnya dingin.
"Tapi tetap saja. Tidak seharusnya kau menakut-nakutinya. Bagaimana kalau anak orang sampai terkena serangan jantung karena ulah mu?!"
"Aku tidak peduli!!"
"Huu.. sungguh kejam!!"
"Sudah, tidak perlu hiraukan dia. Sebaiknya kita makan sekarang sebelum semua makanannya menjadi dingin." Ucapnya yang kemudian dibalas anggukan oleh Cinta.
"Baiklah!!"
-
Wanita itu terus memperhatikan putranya yang sejak kemarin selalu menutup dirinya di dalam kamar dan tidak mau makan. Dia tidak tau apa yang membuat Steven menjadi seperti ini. Apa karena patah hati?!
Wanita itu tentu saja tau siapa orang yang sudah membuat Steven patah hati. Dan dia bersumpah akan membalas orang itu karena sudah membuat anaknya frustasi.
"Steve, sampai kapan kau akan bersikap seperti ini, Sayang? Wanita di dunia ini bukan hanya perempuan itu saja. Kau itu tampan, jadi bisa menemukan yang lebih dari dia!!"
Steven menggeleng. "Memang mudah mengatakannya, Ma. Tapi Mama tidak ada diposisi ku sehingga tidak tau apa yang aku rasakan. Rasanya aku ingin mati dan menghilang saja dari dunia ini. Karana kebodohanmu dia malah jatuh ke dalam pelukan orang lain!" Tuturnya panjang.
Wanita itu mendengus berat. Bicara dengan Steven saat ini menang tidak ada gunanya. Dia seperti orang linglung. Mungkin saja meninggalkan dia sendiri akan lebih baik.
"Cinta, aku sangat merindukanmu. Kenapa kau harus memilih Pamanku dari pada diriku. Jika aku tidak bisa memilikimu, mungkin sebaiknya aku mati saja."
Steven yang dilanda frustasi dan patah hati berjalan menuju jendela kamarnya. Lalu berdiri di sana. Steven merentangkan kedua tangannya sambil menutup rapat-rapat kedua matanya. Dengan lirih dia kemudian berkata.
"Cinta, maaf, selamat tinggal!!"
__ADS_1
-
Bersambung.