Nona Bar-Bar Kesayangan Tuan Muda

Nona Bar-Bar Kesayangan Tuan Muda
Keterkejutan Kakek Qin


__ADS_3

Duka menyelimuti di kediaman Qin. Semua orang yang ada di mansion itu menangis, setelah Kakek Qin memberitahu mereka jika Aiden dan Cinta telah menjadi korban dan meninggal dalam insiden di Villa.


Kakek Qin meraung, bahkan dia sampai berguling di lantai hanya untuk menunjukkan kesedihan palsunya. Bukan hanya kesedihannya yang palsu, tapi juga air matanya.


"Aiden, kau masih muda nak. Kenapa kau harus pergi secepat ini?! Kakek sungguh menyesal karena sudah memperlakukanmu dengan tidak baik. Aiden, kau adalah cucu Kakek yang paling tersayang. Tapi kenapa kau harus pergi secepat ini? Huhuhu.."


Sesekali kakek Qin meneteskan obat tetes ke matanya, agar terlihat lebih dramatis lagi. Kakek Qin terus meraung dan menyerukan kalimat-kalimat kesedihan.


Dan sementara itu. Max yang menyaksikan drama menggelikan itu hanya bisa mendengus. Dia akui jika Kakek Qin adalah pemain drama yang sangat hebat. Dan yang Max sesalkan, kenapa Kakek Qin tidak ikut casting drama saja.


"Hoam. Dramanya membosankan, dan kalian semua kenapa begitu bodoh, mau saja di bohongi oleh Kakek tua ini?! Jelas-jelas Tuan dan Nona masih hidup,"


Sontak saja Kakek Qin mengangkat wajahnya dan menatap Max dengan penuh tanya. "Apa maksudmu?" Tanya si Kakek meminta penjelasan. Max menunjuk ke arah pintu dengan dagunya.


Dengan ragu Kakek Qin menoleh dan kedua matanya membelalak melihat kedatangan Cinta dan Aiden yang dalam keadaan baik-baik saja. Meksipun perban tampak pada pelipis dan tulang pipinya.


"A..Aiden, Ci..Cinta...?! Ka..kalian masih hidup?!" Ucap Kakek Qin terbata-bata.


Aiden menyeringai sinis. "Kenapa, Kakek? Kelihatannya kau sangat terkejut mengetahui jika kami masih hidup."


"Terkejut? Tentu saja tidak, hahaha. Kakek malah sangat senang karena kalian berdua masih hidup. Dan ngomong-ngomong ada apa dengan wajahmu? Kenapa sampai di perban? Kau..baik-baik saja bukan?"


"Aku yakin Kakek tidak buta, sampai tidak bisa melihat apakah aku baik-baik saja atau tidak. Bukankah urusan Kakek di sini sudah selesai, aku tidak perlu lagi menunjukkan jalan keluarnya bukan? Silahkan keluar!!"


"Aiden, kau~!! Dasar Cucu durhaka!!"


Kakek Qin berjalan ke arah pintu dengan perasaan kesal. Max yang sudah berdiri di dekat pintu tampak tersenyum meremehkan ke arah si Kakek, dan dengan senang hati dia mempersilahkan kakek Qin untuk pergi dari sana.


"Kalian semua awas saja, aku pasti akan membalas kal~ Aahh..."


Tubuh Kakek Qin terjungkal ke depan karena ulah Max. Pria itu memajukan kaki kirinya dengan sengaja. Dan saat Kakek Qin menoleh, dengan menyebalkan nya Max malah menoleh dan pura-pura bersiul.


"Aaarrrkkhhh!!!" Kalian semua memang sangat keterlaluan!!"

__ADS_1


Aiden mendesah berat. Kemudian dia berbalik dan pergi ke kamarnya yang ada di lantai dua, diikuti oleh Cinta yang kemudian berjalan mengekor di belakangnya. Sedangkan Max langsung membubarkan semua orang di sana.


.


Cinta membuka tirai kamar dan seketika membuat ruangan yang semula gelap itu menjadi terang kembali. Selama mereka pergi, ruangan tersebut tak pernah tersentuh sama sekali.


Tak ada satu pelayan pun yang berani masuk ke dalam kamar tersebut apalagi membukanya. Mereka tidak mau terkena masalah, apalagi teguran dari Aiden.


Cinta menoleh. Sudut bibirnya tertarik ke atas melihat Aiden yang sedang berbaring dalam posisi terlentang, sebelah tangannya ia letakkan di atas keningnya. Dengan langkah tenang namun pasti, wanita itu kemudian menghampiri sang suami.


"Apa Kak Ai lelah?" Cinta menempatkan dirinya di atas tubuh Aiden.


"Hn."


Dan jawaban ambigu Aiden menjawab pertanyaannya. Seolah paham dan mengerti arti kata 'Hn' kemudian Cinta mendekatkan wajahnya pada wajah sang suami lalu mengecup singkat bibirnya.


"Kalau begitu Kak Ai istirahat saja, aku mandi dulu." Cinta beranjak dari hadapan Aiden dan meninggalkannya begitu saja.


Aiden bangkit dari berbaring nya lalu mengobrak-abrik isi tas Cinta untuk mencari obat penghilang rasa nyerinya. Tiba-tiba kepalanya terasa pusing dan salah satu matanya yang mengalami cidera terasa nyeri akibat terkena sinar matahari langsung.


Cinta yang mendapati suaminya tengah tertidur pulas, memutuskan untuk membiarkannya. Setelah berganti pakaian dan merias wajahnya. Cinta pergi meninggalkan kamarnya. Dia mau pulang sebentar ke rumah orang tuanya. Ia merindukan Ibunya.


-


Aiden membuka matanya dan mendapati langit biru telah berganti warna kuning kemerahan. Dia kebingungan karena tidak mendapati Cinta berbaring di sampingnya.


Setelah mandi dan berganti pakaian. Aiden meninggalkan kamarnya, namun sosok Cinta tetap tidak terlihat batang hidungnya. Sampai suara teriakan maut yang sangat dia kenal menggema di dalam telinganya.


"CRIS!! KEMBALIKAN KUNCI MOBIL ITU PADAKU!!"


Aiden berlari keluar dan mendapati sepasang kembar tengah ribut, berebut kunci mobil dihalaman mansion mewahnya. Cinta yang tidak rela jika mobilnya di sentuh saudara kembarnya terus mengejar Cris yang membawa lari kunci mobilnya.


"Cinta, aku ini kakakmu tapi kenapa kau begitu pelit padaku?! Ayolah, sebentar saja ya!!"

__ADS_1


"Tidak mau, mobilku bisa rusak jika kau memakainya terus. Pokoknya kau tidak boleh memakainya, titik!! Jadi kembalikan kunci mobil itu padaku atau kau mati!!"


"Kau tidak bisa membunuh apalagi mengancam ku!! Kalau aku mati kau pasti akan masuk penjara!!"


"Aku tidak peduli. Kembalikan kunci mobil itu atau aku akan menyebarkan videomu yang memakai pakaian Lolly sambil menari-nari di media sosial, biar semua orang tau!!"


Sontak saja kedua mata Cris membelalak saking kagetnya. "JANGAN!!!"


"Makanya cepat kembalikan kunci mobil itu padaku!!" Cinta mengulurkan tangannya pada Cris.


Pemuda itu mempoutkan bibirnya. Dengan terpaksa dia mengembalikan kunci mobil itu pada si pemilik. Sedangkan Cinta mengurai senyum penuh kemenangan.


"Nah begitu dong baru bagus. Kan kau sudah memiliki mobil sendiri, memakai barang milik sendiri itu lebih baik, daripada pamer tapi yang kau pamerkan adalah milik orang lain." Tuturnya.


Sementara itu. Aiden yang melihat pertengkaran mereka berdua hanya bisa mendengus geli. Pria itu menggelengkan kepala melihat tingkah sang istri yang selalu terlihat menggemaskan itu.


Aiden meninggalkan teras dan kembali ke dalam. Setidaknya dia sudah tau apa permasalah mereka dan di mana Cinta berada.


.


"Kak Ai, kau sedang apa?" Cinta masuk ke dalam sambil memainkan kunci mobil ditangannya. Wanita itu menghampiri Aiden yang sedang duduk sendiri di ruang keluarga.


Aiden mengangkat wajahnya dan menatap wanita disampingnya. "Hanya memeriksa beberapa file. Kau dari rumah Mama?" Cinta mengangguk. "Lalu kunci mobil itu?" Aiden menunjuk kunci mobil di tangan Cinta.


"Oh ini, aku hanya membawanya. Kak Ai, bagaimana kalau malam ini kita makan malam di luar saja?! Aku bosan makanan rumah."


"Kedengarannya tidak buruk juga. Kebetulan aku juga mau cari angin segar. Kejadian selama di Villa membuatku sakit kepala."


"Oke, kalau begitu aku siap-siap dulu."


Cinta beranjak dan meninggalkan Aiden begitu saja. Lagi-lagi Aiden mendengus. Ada saja tingkah Cinta yang membuatnya geli sendiri.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2