
Aiden terus memperhatikan Cinta yang sedang sibuk menata pakaiannya ke dalam koper. Wanita itu mengatakan jika dia akan pergi berlibur bersama teman-temannya selama beberapa hari. Dan Aiden tentu mempercayainya. Tapi bukan dalam arti yang sebenarnya.
Sebenarnya Aiden sudah tau kemana Cinta akan pergi. Dia hanya berpura-pura tidak tau saja.
Aiden bangkit dari kursinya lalu menghampiri Cinta yang terus mondar-mandir, ke sana kemari. Aiden lalu menawarkan diri untuk membantu Cinta, tapi wanita itu menolaknya. Karena Cinta tidak mau merepotkan suaminya.
"Sayang, apakah ada yang bisa ku bantu?" Tanya Aiden yang entah sejak kapan sudah ada di belakang Cinta.
Wanita itu menggeleng. "Tidak perlu, Kak Ai. Aku sudah hampir selesai kok. Oya, maaf ya karena aku harus pergi tanpa mengajakmu. Ini adalah acara para wanita, dan hanya perempuan yang boleh ikut." Cinta menatap Aiden penuh sesal.
Aiden menggeleng. Lalu dia menarik Cinta ke dalam pelukannya. "Tidak apa-apa, Sayang. Aku bisa mengerti dan memahaminya. Bukankah kau masih memiliki banyak waktu yang bisa dihabiskan bersamaku?" Cinta mengangguk.
Wanita itu semakin merapatkan pelukannya pada tubuh suaminya. Betapa beruntungnya Cinta karena memiliki suami yang sangat pengertian seperti Aiden.
Sebenarnya Cinta merasa bersalah karena telah membohongi suaminya. Tapi bagaimana lagi, karena inilah yang terbaik untuk saat ini.
"Ya sudah, aku mandi dulu." Cinta melepaskan pelukan Aiden kemudian beranjak dari hadapannya.
Namun langkahnya dihentikan oleh Aiden. Pria itu menarik pergelangan tangan Cinta lalu menyatukan bibir mereka. Sebelah tangan Aiden menelusup ke dalam helaian Cinta yang terurai, dan tangan satu lagi memeluk wanita pinggang wanita itu dengan posesif.
Tak mau kalah dari suaminya. Cinta mengangkat kedua lengannya dan mengalungkan pada leher Aiden. Cinta membalas ciuman suaminya dan sesekali menginvasi nya.
Ciuman yang semula lembut berubah menjadi ciuman panjang yang menuntut.
Namun ciuman mereka tidak berlangsung lama. Aiden mengakhiri ciumannya saat menyadari jika Cinta telah kehabisan nafasnya. Sudut bibir Aiden tertarik ke atas. Jari-jari besarnya menghapus sisa liur di bibir wanitanya.
"Ya sudah, kau mandi dulu. Aku akan mencarikan taksi untukmu." Cinta mengangguk.
Cinta juga menolak saat Aiden menawarkan diri untuk mengantarnya dengan alasan dia masih harus menjemput ketiga sahabat lainnya. Dan lagi-lagi Aiden hanya mengiyakan saja.
__ADS_1
Aiden mengeluarkan benda tipis miliknya lalu menghubungi seseorang. Dan itu adalah dokter spesialis yang akan menangani operasi mata Cinta. Bahkan Aiden sampai harus mendatangkan dokter tersebut dari luar negeri, karena dia ingin Cinta mendapatkan yang terbaik.
"Lakukan dengan baik, dan aku tidak ingin ada kegagalan."
Aiden mengakhiri sambungan telfonnya dan mendesah berat. Sebenarnya dia merasa cemas dan khawatir. Tapi sebisa mungkin ia mencoba untuk tetap tenang.
Cklek...
Aiden menoleh setelah mendengar suara pintu kamar mandi di buka. Pria itu tersenyum tipis melihat sosok Cinta keluar dari dalam sana hanya dengan balutan handuk yang melingkari pinggulnya.
Aiden memeluk Cinta yang sedang memoleskan make up pada wajah cantiknya. Wanita itu tersenyum lembut dan membalas pelukan Aiden dengan sebelah tangannya. Karena tangan satu lagi sibuk dengan make up-nya.
"Aku pasti akan sangat-sangat merindukanmu." Ucap Aiden sambil mengeratkan pelukannya.
"Tenang Kak Ai, aku hanya pergi sebentar saja kok. Tidak akan lama. Hanya satu Minggu, jika rindu kita bisa telfon bukan. Asal jangan Video Call saja."
Aiden melonggarkan pelukannya dan pura-pura bingung. "Kenapa? Apa kau takut jika ketahuan saat sedang bersama pria lain?" Cinta berdecak lalu mencubit perut Aiden saking kesalnya.
Aiden terkekeh. "Aku mengerti, Sayang. Aku selalu mempercayaimu, Cinta. Dan aku akan setia menunggumu pulang, oke."
Cinta merubah posisinya. Ia dan Aiden saling berhadapan. Cinta mengalungkan kedua tangannya pada leher suaminya lalu mengecup singkat bibir Kiss Able milik suaminya.
Tak suka di dominasi. Aiden mengambil alih ciuman itu sepenuhnya. Sebelah tangan Aiden menekan tengkuk Cinta untuk semakin memperdalam ciumannya.
Ciuman mereka berubah menjadi ciuman panjang yang menuntut. Dan Aiden baru mengakhiri ciumannya saat merasakan pukulan pada dadanya. "Kak Ai, kau ingin membunuhku ya? Aku hampir saja habis napas karena ulah mu!!" Keluh Cinta sambil memanyunkan bibirnya.
"Maaf, Sayang." Aiden memeluk Cinta dengan erat. Rasanya dia sangat berat untuk melepaskan Cinta sendiri. Tapi dia tidak memiliki pilihan lain. Ia harus tetap berpura-pura di depan Cinta jika tidak tau apa-apa.
"Baiklah aku akan memaafkan mu. Tapi bisakah sekarang kau melepaskan ku? Aku harus pergi sekarang. Mereka bisa kelamaan menungguku!!"
__ADS_1
Aiden mengangguk. "Aku akan mengantarkan mu sampai pagar. Ayo," Aiden membawa koper Cinta sambil menggenggam tangan wanitanya. Dalam hatinya Cinta merasa sedih, karena harus berjuang seorang diri. Tapi inilah yang terbaik. Dia harus kuat.
-
Satu Minggu telah berlalu. Dan hari ini jadwal perban di mata Cinta dibuka. Wanita itu sudah tidak sabar untuk bisa melihat lagi secara normal seperti dulu. Apalagi Dokter mengatakan jika operasinya berjalan dengan lancar.
Jantung Cinta berdegup kencang saat dokter mulai membuka lilitan perban yang menutup salah satu matanya. Dia sangat berdebar-debar. Terlebih lagi ketika Dokter membuka satu persatu perban yang ditempelkan pada kedua matanya.
"Nah, sekarang coba buka matamu secara perlahan-lahan." Pinta seorang dokter pada Cinta.
Wanita itu mengangguk. Cinta mulai membuka matanya dengan perlahan-lahan seperti saran dari dokter.
Air mata seketika menetes dari pelupuknya yang disusul dengan lelehan-lelehan lainnya. Yang semakin lama semakin tak terhitung jumlahnya. "Semua bisa terlihat dengan jelas, Dok." Ucap Cinta dengan suara parau nya. Dokter itu tersenyum lebar.
Lalu si dokter menoleh ke arah pria yang berdiri disampingnya. Orang itu memakai masker dan kaca mata, dan orang itu pula yang sedari tadi menggenggam tangan Cinta.
"Sebaiknya sekarang, Nyonya istirahat. Kami permisi dulu." Cinta mengangguk.
Wanita itu terkejut melihat sosok pria yang ikut keluar bersama tim medis. Cinta memperhatikan postur pria itu dan sepertinya tidak asing.
"Tunggu!!" Seru Cinta dan menghentikan langkah semua orang. "Kau, kemari lah." Pinta Cinta pada orang itu.
Orang yang dipanggil oleh Cinta meminta yang lain untuk keluar. Jantung Cinta berdegup kencang saat orang itu berjalan mendekat. Cinta seperti mengenalinya, genggaman tangannya dan postur tubuhnya, semua terasa familiar baginya.
Orang itu mendesah berat. Dia membuka kaca matanya lalu membuka masker yang melekat di wajahnya. Kedua mata Cinta membelalak melihat siapa yang saat ini berdiri dihadapannya.
"KAK AI!!"
-
__ADS_1
Bersambung.