Nona Bar-Bar Kesayangan Tuan Muda

Nona Bar-Bar Kesayangan Tuan Muda
Dalang Di Balik Insiden Aiden


__ADS_3

Setelah tiga hari, keadaan Aiden berangsur membaik. Meskipun perban masih belum mau beranjak dari pipi dan keningnya. Tapi luka-lukanya sudah mulai mengering. Dan selama Aiden sakit, Cinta selalu merawatnya dengan baik.


Perhatian Aiden teralihkan oleh decitan pada pintu kamar. Cinta datang sambil membawa sebuah nampan yang berisi segelas air putih dan beberapa butir obat yang kemudian dia berikan pada sang suami.


"Kak Ai, minum dulu obatnya." Pinta Cinta.


"Terimakasih, Sayang." Aiden menerima beberapa butir obat yang Cinta berikan padanya lalu meneguknya secara bersamaan.


"Aku akan mengganti perbannya." Ucap Cinta kemudian mengambil tempat di samping Aiden.


Cinta membuka perban pada pelipis dan pipi Aiden secara bersamaan. Setelah membersihkan keringat di sekitar lukanya, Cinta mengoleskan salep pada lukanya. Lalu menggantinya dengan perban baru.


"Kak Ai, apa masih pusing?" Tanya Cinta memastikan. Dia menatap cemas suaminya.


Aiden menggeleng. "Tidak separah kemarin, hari ini sudah mendingan. Tidurlah, kau terlihat lelah." Pinta Aiden melihat lingkaran hitam di mata Cinta. Dia tau Cinta pasti sangat lelah setelah menemaninya di rumah sakit selama 2 hari dua malam.


"Aku tidak mengantuk." Jawabnya. "Oya, apa Kak Ai ingin makan atau minum sesuatu? Perlu aku ambilkan?" Tanya Cinta memberi penawaran.


Aiden menggeleng. "Tidak usah, aku sedang tidak lapar dan tidak haus. Kau sudah makan siang?" Cinta mengangguk. Jika dia mengatakan belum, pasti Aiden akan langsung mengomelinya. Meskipun belum makan siang, tapi Cinta mengatakan sudah.


"Ini masih tengah hari, sebaiknya kita tidur siang saja. Kita tidur sama-sama."


Aiden tau jika istri kecilnya ini sangatlah keras kepala. Jika dia tidak membujuknya, pasti Cinta akan menolak untuk tidur siang, padahal dia terlihat sangat lelah. Dan jika dia juga ikut tidur, maka Cinta tidak memiliki alasan untuk menolaknya lagi.


"Baiklah, ayo."


-


Sang raja siang telah meninggalkan singgasananya. Sinarnya yang agung tenggelam di ujung barat sana. Merubah warna langit yang biru menjadi merah kekuningan, atau yang biasa kita kenal dengan Jingga di ujung senja.


Seorang perempuan muda baru saja bangun dari tidur siangnya. Pandangannya lalu menyapu pada sosok tampan disampingnya yang masih terlelap, sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk lengkungan indah di wajah cantik nya.


Perempuan itu 'Cinta' beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi.


Setelah mandi dan mengganti pakaiannya. Cinta meninggalkan kamarnya dan berjalan keluar. Tiba-tiba perutnya keroncongan, Cinta kelaparan karena belum makan sejak siang.

__ADS_1


"Kalian semua bodoh dan tidak berguna!! Bagaimana mungkin kalian bisa gagal dan kalah dari satu orang?! Dan karena ulah kalian, anakku mati!! Aku tidak mau tahu, dengan orang mu yang tersisa, lanjutkan rencana dan rampok semua harta di Villa ini!!"


Tap...


Cinta menghentikan langkahnya saat indera pendengarannya, tanpa sengaja menangkap pembicaraan Bibi penjaga Villa dengan seseorang dari sambungan telfon.


Dan yang mengejutkan adalah, ternyata para perampok yang terlibat perkelahian dengan Aiden malam itu adalah orang-orang suruhannya. Anaknya ikut terlibat, bahkan dia turut terbunuh bersama tiga rekannya.


"Oh, jadi kejadian malam itu adalah perbuatan mu?! Kau adalah dalang di balik insiden yang menimpa suamiku?!"


Kedua mata wanita itu membelalak, sontak dia menoleh. Dan betapa terkejutnya dia saat mendapati Cinta berdiri di dekat tangga sambil menatap tajam padanya.


"No..Nona?!"


"Ternyata kau busuk ya?! Aku sangat menyesalkan keputusan suamiku untuk memperkerjakan orang seperti mu, apalagi sampai mempercayaimu!!"


"Nona, Anda salah paham. Semua tidak seperti yang kau dengar, saya bisa menjelaskan pada Anda. Sebenarnya sa~?!"


"Cukup!! Aku tidak mau dengar alasan apapun lagi darimu!! Kau... Dipecat!!"


"Pergi dari sini dan jangan menampakkan batang hidungmu lagi, atau kau mati!!"


Wanita itu menyambar vas bunga di samping kanannya lalu melemparkannya pada Cinta. Sebelum menyentuh kepala dan wajahnya, Cinta menangkisnya dengan lengan kirinya. Akibatnya lengan kirinya memar dan terluka.


Cinta pun tak mau kalah. Wanita itu menyambar vas disampingnya dan melemparkan pada Bibi penjaga Villa. Akibatnya wanita itu tersungkur karena vas tersebut mendarat mulus pada kepalanya.


"Kau!!"


"Pergi sekarang sebelum kau kehilangan anggota tubuhmu!!"


Dengan emosi dan amarah memuncak. Wanita itu pergi meninggalkan Villa milik Aiden. Dia bersumpah akan membalas perbuatan Cinta. Kejadian hari ini tidak akan pernah dia lupakan sampai kapan pun!!


.


"Cinta, ada keributan apa diluar? Aku mendengar suara orang bertengkar dari sini." Ucap Aiden setibanya Cinta di kamar.

__ADS_1


Cinta mengangguk membenarkan. "Memang. Dan yang ribut adalah aku dan Bibi penjaga Villa ini. Aku baru saja memecatnya." Ucap Cinta dengan santainya.


"Apa? Memecatnya? Tapi kenapa?" Aiden menatap Cinta penuh selidik.


"Kenapa? Tentu saja aku memiliki alasan yang kuat untuk melakukannya. Dan jika Kak Ai ingin tau, bisa dengarkan langsung rekaman di ponsel ini!!" Aiden mengambil ponsel itu dari tangan Cinta dan memutar Audio yang dia maksud.


"Kalian semua bodoh dan tidak berguna!! Bagaimana mungkin kalian bisa gagal dan kalah dari satu orang?! Dan karena ulah kalian, anakku mati!! Aku tidak mau tahu, dengan orang mu yang tersisa, lanjutkan rencana dan rampok semua harta di Villa ini!!"


Mata Aiden membelalak mendengar suara orang dalam rekaman tersebut. Itu adalah Bibi penjaga Villa. Orang yang sangat dia percayai, dan siapa yang menduga jika dia malah menusuknya dari belakang.


Brakk!!!


"KURANG AJAR!!"


"Aku mengatakan fakta 'Kan?! Begitulah kelakuan dari orang yang sangat kau percayai itu. Ternyata dia menusuk mu dari belakang. Dan sebaiknya mulai sekarang kita harus waspada dan lebih berhati-hati karena dia bisa kembali kapan saja untuk membalas dendam!!"


"Sepertinya wanita itu sudah bosan hidup. Dia tidak tau dengan siapa sebenarnya dia sedang berhadapan. Lihat dan tunggu saja, bagaimana aku akan menghancurkannya!!"


Bulu kuduk Cinta langsung berdiri. Melihat sorot mata tajam Aiden membuatnya merinding sendiri. Dia tidak tau kenapa suaminya ini bisa begitu mengerikan, bahkan dia terlihat lebih menyeramkan dari iblis neraka sekali pun.


Hingga Cinta bertanya dalam hatinya. Benarkah ini Aiden yang selama ini di kenalnya atau bukan? Karena Aiden yang dia kenal adalah sosok yang hangat, bukan dingin dan mengerikan seperti ini.


"Uhh, Kak Ai kau sangat mengerikan. Dan berhentilah menunjukkan tatapan seperti itu. Lihatlah, bulu kudukku sampai berdiri." Cinta menunjukkan lengannya pada Aiden. Bulu-bulu halusnya benar-benar berdiri.


Aiden mendengus. Sepertinya dia baru saja mengeluarkan sisi iblis nya yang selama ini jarang sekali dia tunjukkan pada orang lain.


"Namanya juga sedang marah. Pasti menyeramkan lah!"


"Tidak juga, Cris saja kalau marah terlihat begitu gemoy." Jawab Cinta cekikikan.


"Aku dan dia berbeda, Nyonya Muda Qin. Sudahlah, aku mandi dulu." Aiden bangkit dari duduknya dan meninggalkan Cinta begitu saja.


-


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2