
Suasana tenang menyelimuti kebersamaan Cinta, Aiden dan seluruh keluarga Su. Pagi ini mereka sarapan bersama Ibu dan kedua kakak Cinta. Karena semalam mereka berdua memang menginap di sana.
Kehangatan yang tidak pernah Aiden temukan di dalam keluarganya. Bisa dia temukan di dalam keluarga Cinta. Meskipun tanpa kehadiran sang kepala keluarga yang memang telah berpulang, tapi kebahagiaan terpancar jelas di wajah mereka.
Sudut bibir Aiden tertarik ke atas. Diam-diam dia mengurai senyum lembut. Keluarga Cinta begitu baik padanya, terutama Nyonya Gita. Ibu tiga anak itu selalu memberikan kehangatan dan memperlakukan Aiden seperti putra kandungnya sendiri.
Plakk...
Cinta memukul lengan Cris yang hendak mengambil lauk di depannya. "Lady first!!" Ucap Cinta menegaskan.
"Tidak bisa, aku yang lebih dulu ingin mengambil lauk ini. Sekali saja, apa sih susahnya mengalah padaku?!"
Cinta menggeleng. "Tidak ada kata mengalah dalam kamus hidupku, oke!! Dan seharusnya kakak lah yang mengalah, bukan adik!!"
"Dasar keras kepala, selalu ingin menang sendiri. Apa sih susahnya mengalah, tinggal bilang iya saja susah amat." Cris kembali menggerutu.
Sementara itu. Carell dan Nyonya Gita hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala tingkah Cinta dan Cris, mereka selalu begitu. Tidak pernah akur dan selalu saja ribut, dan apa yang mereka ributkan selalu masalah yang unfaedah.
"Aku harap kau tidak terkejut apalagi heran dengan tingkah dan kelakuan mereka berdua. Cinta dan Cris memang selalu begitu, tidak pernah akur, selalu saja ribut."
"Bukankah hal itu malah membuat hubungan mereka semakin erat dan kuat." Ucap Aiden yang kemudian di balas anggukan oleh Carel.
"Sudah-sudah, nanti lagi saja mengobrol nya. Dan kalian berdua, berhenti ribut ini adalah meja makan. Dan sebagai hukumannya, kalian berdua harus mencuci semua piring dan wadah yang kosong.
"Apa?! Tapi Ma, Cinta yang memulai duluan. Tapi kenapa malah aku kena hukum juga?" Protes Cris yang tidak terima dengan keputusan ibunya.
"Ini sudah menjadi keputusan Mama!! Dan Mama tidak mau dengar alasan apapun, paham?!"
"Baik, Ma."
Cinta menjulurkan lidahnya. Dia merasa happy dihukum bersama Cris. Dan bukan Cinta namanya, jika dia tidak memiliki sebuah ide jahil untuk mengerjai kakak kembarnya ini.
Dan selanjutnya mereka menikmati sarapan paginya dengan tenang. Si kembar pun sudah tidak ribut lagi seperti tadi.
Usai sarapan dan mencuci semua wadah yang kotor. Cinta dan Aiden berpamitan untuk pulang. Aiden harus pergi bekerja, sementara Cinta harus pergi kuliah. Sudah hampir dua Minggu kampus di tutup karena libur awal musim dingin.
__ADS_1
.
Cinta dan Aiden sama-sama sudah siap untuk pergi menjalani aktifitas masing-masing. Aiden yang tampak gagah dengan setelan jasnya, dan Cinta yang tampak anggun dalam balutan dress putihnya.
Pasangan muda itu berjalan beriringan menuruni tangga. Membuat beberapa pasang mata langsung tertuju pada mereka berdua. Mereka sangat kagum akan kecantikan dan ketampanan Nona dan Tuan Mudanya.
Cinta memiliki paras yang luar biasa cantik. Dia pernah di nobatkan sebagai Barbie hidup ketika mengikuti lomba kecantikan di sekolahnya, saat Cinta baru kelas 2 sekolah menengah akhir.
Sedangkan Aiden sendiri, terkadang orang bingung bagaimana harus menyebutnya, tampan atau cantik? Karena Aiden memiliki keduanya.
"Kenapa kalian menatap kami seperti itu? Apakah ada yang ada di wajah kami?" Cinta memegang wajahnya sendiri. Memastikan apakah ada yang salah pada make up nya atau tidak.
Para pelayan itu menggeleng. "Tidak ada, Nona. Kami memandang kalian karena Nona dan Tuan Muda sangat cocok dan serasi. Kalian berdua tampan dan cantik, sangat sempurna. Itulah kenapa kami sangat suka memandang Nona dan Tuan Muda."
"Ah, Bibi bisa saja. Aku kan jadi malu di sebut cantik. Ya meskipun memang begitu sih adanya, aku memang cantik." Wanita itu terkekeh.
"Tuan Muda, mobil Anda sudah siap." Seru sang sopir yang kemudian di balas anggukan oleh Aiden.
"Baiklah, Cinta ayo kita berangkat. Kau bisa terlambat jika tidak berangkat sekarang. Pakai syal dan mantel mu, di luar sangat dingin!!" Perintah Aiden mengingatkan.
-
Mobil Aiden berhenti di sebuah lampu merah setelah lampu lalu lintas berganti warna. Jalanan pagi ini memang lumayan padat karena ini adalah jam sibuk. Ada yang pergi bekerja, ada yang pergi sekolah dan masih banyak lagi.
Keheningan menyelimuti kebersamaan mereka, tak sepatah kata pun keluar dari bibir Cinta maupun Aiden, keduanya sibuk pada kegiatan masing-masing.
Seperti Cinta yang sibuk memperhatikan jalanan, dan Aiden yang sibuk dengan laptopnya. Ada beberapa file yang harus dia periksa ulang, karena semalam dia tidak terlalu berkonsentrasi.
"Kakak cantik, tolong beli bungaku ini. Aku dan adik-adikku belum makan, bisakah kau membelinya satu saja?"
Perhatian Aiden teralihkan. Dia menoleh pada gadis kecil yang menawarkan sebuah bunga kertas pada Cinta. Melihat anak kecil itu membuat Aiden merasa tidak tega.
"Berapa kau menjual bunga mu itu, Nak?"
"1000 won."
__ADS_1
"Kalau begitu Paman akan membeli semuanya. Dan kembaliannya bisa kau simpan untuk membeli makanan."
"Terimakasih Paman, kau sangat baik. Terimakasih Paman, terimakasih." Anak perempuan itu berkali-kali mengucapkan terimakasih pada Aiden sebelum pergi dari sana.
"Kak Ai, untuk apa kau membeli semua bunga ini?" Tanya Cinta kebingungan.
"Kasian anak itu, aku cuma ingin membantunya sedikit." Jawab Aiden dan membuat sudut bibir Aiden tertarik ke atas.
"Kau memang baik Kak Ai, aku~!!"
BRAK...
"AAHHH!!"
Kalimat Cinta terintrupsi oleh sebuah kejadian yang membuat semua orang berteriak histeris.
Saat sebuah truk pengangkut minyak, menabrak mobil sedan hitam yang ditumpangi oleh Cinta dan Aiden tepat setelah mobil itu keluar dari lampu merah. Juga sebuah motor yang dinaiki oleh dua wanita.
Akibatnya mobil itu terguling sampai beberapa kali di aspal, dan membuat tubuh Cinta terpental keluar sebelum akhirnya berakhir di jalanan dengan keadaan terluka parah. Namun dia masih bernapas.
Sementara Aiden masih terjebak di dalam mobilnya yang saat ini sudah ringsek parah, sedangkan supir yang mengemudikan mobil Aiden meninggal di tempat.
Dengan sisa tenaga yang dia miliki, Aiden mencoba merangkak keluar sambil menyerahkan nama Cinta. Wanita nya sudah tidak ada di sampingnya. Dan tak jauh dari tempat mobil Aiden berada, seorang wanita tergeletak di aspal.
Aiden tidak tau itu Cinta atau bukan. Pandangannya mengabur, wajahnya tertutup darah. Beberapa orang langsung mengangkat tubuh Aiden menjauh dari mobilnya, saat melihat mobil itu memercikkan api sampai akhirnya...
DUAR...
Mobil itu meledak. Membuat kobaran api besar menghanguskan mobil mewah yang tak lagi berbentuk itu.
Semua terjadi begitu cepat, sehingga tidak ada yang bisa memprediksikan akan kejadian memilukan ini. Dan yang menjadi pernyataannya, apakah Cinta sudah meninggal atau masih hidup?!
-
Bersambung.
__ADS_1