
Q"KAK AI?!"
Cinta memekik sekencang-kencangnya. Dia terkejut bukan main saat melihat siapa orang yang berdiri dihadapannya. Aiden menghampiri Cinta kemudian berlutut di depan wanita itu duduk.
Sudut bibir Aiden tertarik ke atas. Jari-jari besarnya menghapus jejak air mata di wajah istrinya. Aiden tau apa alasan Cinta menangis. Cinta memukul dada Aiden dengan brutal, dia menyebut suaminya itu menyebalkan.
"Jadi selama ini Kak Ai tau jika mataku bermasalah?" Aiden mengangguk. "Lalu kenapa selama ini Kak Ai pura-pura tidak tau apa-apa. Apa Kak Ai ingin mempermainkan ku?"
Aiden menggeleng. "Bukan begitu, Sayang. Aku hanya tidak ingin membebani mu. Aku juga ingin menjaga perasaanmu. Aku tau kau berusaha menyembunyikan keadaanmu dariku karena tidak ingin membuat suami mu ini sampai sedih dan cemas."
"Sejak kapan, Kak Ai mengetahuinya?" Tanya Cinta penasaran.
"Sejak kita masih di America. Aku sengaja tidak memberitahumu, karena aku tau kau ingin menyembunyikannya dariku!!"
Cinta semakin tidak kuasa menahan air matanya. Wanita itu kemudian berhambur ke dalam pelukan suaminya dan memeluk Aiden dengan erat. Isakan Cinta semakin keras, punggungnya naik turun.
Aiden mengusap punggung Cinta naik-turun."Apa yang kau tangisi, Sayang? Yang terpenting sekarang aku sudah sembuh. Dan bisa melihat dengan normal, tanpa ada yang perlu kau cemaskan." Ujar Aiden mencoba menenangkan Cinta.
Wanita itu kemudian melepaskan pelukannya dan menatap Aiden penasaran. "Kak Ai, jujur saja aku penasaran. Memangnya dari mana kau mendapatkan donor mata untukku? Jangan bilang jika kau sampai mengancam seseorang supaya mau mendonorkan matanya?!"
"Sembarangan. Aku memang kejam, tapi aku tidak semenyeramkan itu. Ada orang baik hati yang dengan suka rela memberikan matanya untukmu. Dan orang itu ingin supaya kau sembuh."
"Memangnya siapa orang itu?"
"Ibunya Steven, dia ingin menebus kesalahan putranya pada kita, dengan memberikan kedua matanya padamu. Dia sudah menyadari semua kesalahannya, dan dia melakukan kebaikan diakhir hidupnya."
"Tunggu, maksud kak Ai dia meninggal?"
Aiden mengangguk. "Bibi Vina mengakhiri hidupnya tak lama setelah mendonorkan matanya padamu. Dia tidak ingin membuat Steven sendirian dan kesepian di sana, itulah kenapa dia memutuskan untuk menemani putranya."
Cinta mendesah berat. "Sungguh ketulusan hati seorang Ibu. Setelah kita keluar dari sini, temani aku ke makamnya. Aku ingin mengucapkan terimakasih padanya."
"Baiklah. Tapi sekarang kau harus istirahat, supaya keadaanmu segera pulih." Ucap Aiden sambil membelai wajah Cinta.
"Baiklah, Kak Ai." Cinta mengangguk patuh.
__ADS_1
Aiden meninggalkan Cinta sendiri di ruang inapnya. Pria itu harus mengganti pakaiannya, sejujurnya Aiden tidak nyaman dengan pakaian yang dia pakai saat ini, itulah kenapa dia memutuskan untuk cepat-cepat menggantinya.
-
Aiden kembali ke kamar Cinta dan tidak mendapati wanitanya sedang tertidur pulas. Pria itu menarik sudut bibirnya dan mengurai senyum tipis. Aiden menghampiri Cinta kemudian duduk disampingnya.
Jari-jari besarnya mengusap kepala Cinta penuh sayang, dan gerakan tangan Aiden membuat mata Cinta yang sebelumnya tertutup kini terbuka.
"Kak Ai," panggil Cinta pelan.
"Maaf, jari membangunkan mu. Sebaiknya kau tidur lagi, aku akan menemanimu di sini.",
Cinta menggeleng. Wanita itu bangkit dari berbaring nya lalu berpindah ke atas pangkuan Aiden. "Kak Ai, bawa aku pergi dari sini. Aku mau pulang, aku bosan dan tidak mau di sini lagi, ya." Rengek Cinta memohon.
Aiden menggeleng. "Tidak sebelum dokter sendiri yang menyatakan kau boleh pulang!! Menurut atau aku akan marah?!"
"Kak Ai, menyebalkan!!" Cinta mempoutkan bibirnya.
Dia benar-benar kesal setengah mati pada suami tampannya ini. Bagaimana mungkin Aiden tidak mau mengabulkan permintaannya, padahal Cinta cuma ingin pulang.
Aiden mendesah berat. "Mulai lagi," ucapnya membatin. Cinta kumat lagi penyakit merajuknya, dan jika sudah seperti ini pasti Aiden sendiri yang dibuat pusing oleh tingkah istrinya.
"Cinta, jangan mulai apalagi bersikap keras kepala. Atau aku akan benar-benar marah?!"
"Tuh kan, bahkan Kak Ai sampai mengancam ku segala, dasar menyebalkan!!"
Aiden memijit pelipisnya yang terasa pening. Semakin hari Cinta memang semakin manja, dan sikapnya itu sering kali membuat Aiden pusing sendiri.
"Besok kita pulang, aku akan bicara dengan dokter."
"Sungguh?" Mata Cinta berbinar seketika setelah mendengar ucapan Aiden. Pria itu mengangguk. "Kyyaa,, aku tau jika Kak Ai tidak mungkin bisa mengecewakanku. Terimakasih Kak Ai, kau memang yang terbaik."
Aiden mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Cinta. "Sama-sama, Sayang." Diam-diam Aiden menarik sudut bibirnya.
Pria itu mengeratkan pelukannya pada tubuh Istri cantiknya ini. Melihat Cinta sebahagia ini membuat hati Aiden menghangat.
__ADS_1
-
Setelah satu Minggu, akhirnya Cinta bisa menghirup udara bebas lagi. Terkurung di rumah sakit selama itu membuat Cinta merasakan kebosanan yang luar biasa. Saat ini Cinta sedang berada di rumah ibunya, membantu wanita itu menyiapkan makan malam.
Nyonya Gita meminta Cinta dan Aiden supaya makan malam di rumahnya. Sudah lama mereka tidak makan malam bersama. Dan pasangan muda itu menyetujuinya.
"Em, aromanya sangat lezat. Ma, boleh aku mencobanya?" Gita mengangguk. Wanita itu menyerahkan sebuah sendok pada putrinya.
"Bagaimana?"
"Em, sepeti biasa. Masakan Mama memang yang terbaik." Cinta memberikan pujiannya.
Dia akui, jika masakan ibunya memang lebih baik dari pada masakan para Chef profesional yang bekerja di hotel berbintang atau di restoran ternama. Bagi Cinta, masakan sang ibu memang tidak ada duanya.
"Ini sudah hampir selesai. Sebaiknya segera panggil suami dan kedua kakakmu. Ayo kita makan malam sama-sama." Pinta Nyonya Gita yang kemudian di balas anggukan oleh Cinta.
"Baik Ma."
Cinta meninggalkan dapur dan menghampiri suami serta kedua kakaknya untuk makan malam. Baru juga setengah jalan, tapi tiba-tiba Cinta merasakan mual yang sangat luar biasa pada perutnya.
Wanita itu lari ke kamar mandi sambil memegangi perut dan mulutnya. Bahkan dia menghiraukan pertanyaan Ibunya. Dan di dalam toilet, Cinta muntah-muntah.
Gita yang panik segera mematikan kompornya dan menyusul Cinta. Gita menggedor pintu kamar mandi sambil memanggil-manggil nama Cinta. Tapi tidak ada jawaban, dan itu membuat ibu tiga anak itu menjadi cemas.
"Cinta, buka pintunya. Katakan pada Mama jika kau baik-baik saja. Cinta cepat buka pintunya, jangan membuat Mama cemas."
Aiden, Cris dan Carell yang mendengar teriakan Gita buru-buru pergi ke dapur. Setibanya di sana mereka melihat Cinta yang baru saja keluar dari kamar mandi. Wajahnya sedikit pucat.
Mengabaikan kedua iparnya. Pria itu menghampiri sang istri. "Sayang, ada denganmu? Apa kau baik-baik saja?" Tanya Aiden memastikan.
Cinta mengangguk. Kemudian dia menunjukkan sebuah benda tipis panjang dengan dua garis merah di tengahnya. Sontak mata kanan Aiden membelalak.
"Cinta, ini?!"
"Kak Ai, aku hamil!!"
__ADS_1
-
Bersambung.