
Ketika sang surya kembali ke peraduannya, dan langit mulai di dominasi dangan warna gelap dan seberkas mega berwarna merah terang serta sedikit unsur jingga di langit barat.
Burung-burung mulai berterbangan untuk kembali ke saranganya yang hangat dengan sulaman dari helaian-helaian rumput yang telah menguning dan bertemu dengan keluarganya.
Udara senja yang semakin dingin, menerpa permukaan kulit wajah dan kaki tak tertutup dari seorang gadis yang tengah duduk di tepian danau, yang terbentuk alami oleh alam yang terletak di pinggiran kota.
"Cinta, apa yang kau lakukan?!" Kaget Aiden saat Cinta menciptakan air ke mukanya.
"Hahaha..." Bukannya berhenti dan merasa bersalah. Cinta malah tertawa terbahak-bahak.
Dia terus melancarkan aksi nya dan mencipratkan air ke wajah Aiden. Cinta mengulanginya terus menerus hingga berkali-kali. Bukan hanya wajah dan rambut Aiden saja yang basah, tapi pakaiannya juga.
"Cinta, hentikan atau aku akan menghukum?!" Ancam Aiden bersungguh-sungguh.
"Hahaha..!! Aku tidak takut." Sepertinya ancaman Aiden tidak berpengaruh apapun padanya.
"Cinta hentikan, mata kiri ku mulai perih."
"Tidak mau!! Ini sangat mengasikkan, Hahaha.."
Aiden mendengus berat. Pria itu beranjak dan meninggalkan danau sambil menekan mata kirinya dengan sapu tangan, mata kiri Aiden pernah cidera dan nyaris saja membuatnya buta. Itulah kenapa dia lebih sering memakai kaca mata ketika berada di luar rumah, mata itu juga tidak bisa terkena air terlalu lama.
Melihat raut wajah Aiden yang berubah kesakitan membuat Cinta menjadi panik seketika. Gadis itu meninggalkan Danau dan menyusul Aiden yang berjalan menuju mobilnya.
"Kak Ai, apa yang terjadi? Kenapa kau terus memegangi mata kiri mu? Matamu baik-baik saja bukan?" tanya Cinta memastikan. Gadis itu benar-benar cemas.
"Mata kiri ku pernah mengalami cidera parah dan nyaris saja buta. Itulah kenapa sekarang tidak bisa terkena paparan sinar matahari langsung, dan air terlalu lama." Jelasnya.
"Lalu kenapa kau tidak memberitahuku dari tadi? Lalu sekarang siapa yang salah? Aku atau Kak Ai?"
Aiden menatap gadis di depannya dengan tatapan tak percaya. Bukankah yang menjadi korban adalah dirinya? Lalu kenapa malah Cinta selaku tersangka yang marah-marah?
"Yakk!! Kenapa malah menatapku seperti itu?!" Keluh Cinta sambil mempoutkan bibirnya.
Aiden mendengus geli. Gadisnya ini benar-benar penuh kejutan, tidak salah jika Titel bar-bar melekat pada dirinya. "Aku yang menjadi korban disini, tapi kenapa tersangkanya yang marah-marah?!" Ucap Aiden kemudian mengecup singkat bibir Cinta.
Cinta memukul dada Aiden setelah pria itu melepaskan tautan bibirnya. "Menyebalkan!!" Aiden terkekeh geli.
__ADS_1
Pria itu mengambil kotak obat yang dia letakkan diantara kursi kemudi dan kursi penumpang, kemudian mengeluarkan sebuah botol kecil dengan cairan putih di dalamnya. Itu adalah obat tetes mata yang selalu dia bawa kemana-mana.
Setelah itu Aiden menggunakan Eye Patch putih pada mata kirinya. Hal itu dia lakukan supaya mata kirinya tidak terpapar matahari secara langsung setelah diobati. Karena masih harus menunggu selama beberapa menit, sampai obatnya benar-benar meresap.
"Kenapa harus ditutup segala?" Geram Cinta.
Aiden menggeleng. "Tidak apa-apa." Jawabnya. Jari-jari besarnya membuka satu persatu kancing pada kemeja denim lengan terbuka yang melekat di tubuhnya. Kemeja itu basah akibat ulah cinta, lalu menggantinya dengan kemeja hitam dengan model yang sama.
"Kak Ai, maaf. Aku sungguh-sungguh tidak berniat untuk membuat mata kiri mu sakit lagi. Salahmu juga sih, kenapa tidak mengatakan apa-apa, seharusnya kau memberitahuku jika mata kiri mu bermasalah dan tidak bisa terkenal air!!!"
Lagi...
Cinta mengomeli Aiden sekali lagi. Bukannya marah dengan sikap istrinya, Aiden malah merasa geli, karena Cinta begitu menggemaskan.
"Kita pulang, sudah hampir petang." Cinta mengangguk.
-
Seorang pria tua terus saja memaksa untuk masuk ke kediaman keluarga Qin. Dia tetap saja bersikukuh meskipun penjaga telah mengusirnya berkali-kali.
Dia yang dulu begitu dihormati sekarang malah di perlakukan layaknya sampah.
Sementara itu, seorang pemuda yang juga datang bersama kakek tua itu tampak babak belur setelah dihajar oleh salah satu dari kedua penjaga tersebut.
"Br*ngsek!!! Berani-beraninya kalian melarang ku masuk!! Apa kalian tidak tau dan tidak mengenal siapa aku!!" Bentak pria tua itu yang pastinya adalah Kakek Qin.
"Maaf, Tuan. Tapi ini perintah langsung dari Tuan Muda, supaya kami tidak mengijinkan Anda berdua untuk masuk!!"
Steven menghampiri salah satu dari kedua pria itu. "B*ngsat!! Aku akan membunuhmu!!"
Brugg...
"Uhhh." Rintih kesakitan keluar dari sela-sela bibir Steven setelah mendapatkan pukulan telak pada ulu hatinya. Pemuda itu jatuh tersungkur di lantai karena ulah penjaga tersebut.
"Yakk!! Apa yang kalian lakukan pada putraku?!" Teriak seorang wanita dari arah belakang.
Wanita itu menghampiri Steven yang tampak kesakitan. Dia menatap tajam kedua pria yang berdiri di depannya. Lalu memberi perintah pada anak buahnya untuk menghajar mereka berdua. Sehingga perkelahian pun tak bisa terhindarkan lagi.
__ADS_1
Dua penjaga itu di keroyok oleh anak buah Ibu Steven yang jumlahnya lebih dari lima orang. Mereka kewalahan dan mulai tersudut, meskipun berhasil menumbangkan dua dari mereka.
Dorr..
Dorr..
Dorr..
Satu persatu anak buah Ibu Steven tumbang setelah beberapa timah panas menembus tubuh mereka. Sontak semua orang menoleh pada sumber suara dan mendapati Aiden berjalan menghampiri mereka dengan senjata di tangannya.
"Berani sekali kalian datang dan membuat keributan di sini?!" Geram Aiden sambil menatap mereka bergantian. "Seret mereka semua keluar dari sini!!"
"Baik, Tuan Muda!!"
"Yakk!! Bocah kurang ajar, berani sekali kau memperlakukanku seperti ini?! Apa kau tidak kenal siapa aku!!" Teriak si wanita penuh emosi.
"Tentu saja aku tau, kau tak lebih dari seorang Jal*ng yang mengincar harta kekayaan keluarga Qin!!"
"Br*ngsek!! Berani sekali kau menghina Ibuku!!"
Tenggg...
"Aarrrkkhhh!! Tanganku!! Cinta Su, apa-apaan kau ini, EO!!" bentak Steven penuh emosi. Bukan wajah Aiden, tapi kepalan tangannya malah berciuman dengan penggorengan yang entah Cinta dapatkan dari mana.
Akibatnya Steven langsung menggeliat kesakitan karena kuatnya benturan tersebut, membuat tangan pemuda itu seketika menjadi mati rasa. Cinta tersenyum dan menatap pemuda itu dengan senyum penuh kemenangan.
"Anggap saja kau sedang berolah raga, dan uji kekebalan dengan penggorengan ini. Bagaimana rasanya? Nikmat bukan!!"
"Br*ngsek!! Perempuan sialan, kemari kau!! Biar aku memberimu pelajaran!!" Teriak Steven penuh emosi. Namun langkahnya di tahan oleh Aiden.
Sebuah ujung pistol menempel pada kening Steven. "Berani melangkah satu kali saja, ku pastikan peluru terakhir dalam pistol ini akan meledakkan kepalamu!!" Ucap Aiden bersungguh-sungguh. "Aku akan menghitungnya sampai tiga."
Steven menunjuk Aiden, Cinta dan kedua penjaga itu sembari melangkah pergi. "Ingat, ini masih belum berakhir. Aku pasti akan membalas perbuatan kalian dan penghinaan ini!!" Ucapnya dan pergi begitu saja.
Aiden mendesah berat. Setelah meminta kedua penjaganya itu mengobati lukanya. Aiden mengajak Cinta untuk masuk ke dalam. Dia akan memperketat penjagaan, karena bisa saja mereka kembali untuk membuat keributan.
-
__ADS_1
Bersambung.