Nona Bar-Bar Kesayangan Tuan Muda

Nona Bar-Bar Kesayangan Tuan Muda
Jangan Mencampuri Hidupku!!


__ADS_3

Steven melangkahkan kakinya memasuki sebuah club' malam yang namanya sudah terkenal di seantero kota.


Mighnight club terasa sangat sesak dan panas sekalipun sudah ada pendingin ruangan di dalamnya, hal tersebut dipicu oleh banyaknya pasangan yang sedang bercumbu di pojok ruangan tanpa mengenal tempat.


Dengan tenang, Steven berjalan melewati para pendosa itu yang sedang memanjakan dirinya dengan surganya dunia. Pemuda itu menuju konter bar di mana suasana tenang tercipta.


"Tumben malam ini tidak seramai biasanya?" Ucap Steven setelah dia duduk di sebuah kursi panjang yang ada di depan meja hitam yang bentuknya melingkar.


"Mungkin karena bukan malam Minggu. Kau ingin memesan apa?"


"Seperti biasa saja."


"Oke, segera tiba."


Seorang wanita berkebangsaan Rusia terlihat menghampiri Steven dan langsung mel*mat bibirnya. Alih-alih menolak, dia justru mengikuti permainan wanita itu dan membalas ciumannya.


"Kau kemana saja? Kenapa akhir-akhir ini tidak pernah datang lagi kemari?" Wanita itu duduk dipangkuan Steven sambil mengalungkan kedua lengannya pada leher pemuda itu.


Steven mengangkat dagu wanita itu lalu mengecup singkat bibir merahnya. "Aku sedang sibuk dan kebetulan tidak berminat untuk bermain di sini. Tapi bisakah malam ini kau menemaniku? Aku benar-benar membutuhkan pengalihan dan pelampiasan saat ini."


Wanita itu mengangguk. "Tentu saja, dengan senang hati aku akan menemanimu bermain, Sayang." Ucapnya.


Steven membawa wanita itu ke ruangan VIP, malam ini akan dia habiskan untuk bercinta dengan wanita kesukaannya tersebut.


-


-


-


Semilir angin malam berhembus lirih. Menerbangkan helaian rambut Aiden dan membuat tatanannya menjadi sedikit berantakan. Pria itu berdiri di balkon kamarnya menikmati langit malam bertabur bintang


Malam sudah semakin larut, namun Aiden masih tetap terjaga dan begitu sulit untuk menutup matanya. Entah apa yang sebenarnya dia pikirkan.


"CRIS!! KELUAR DARI KAMARKU ATAU AKU AKAN MEMBUNUHMU!!"


Teriakan nyaring seorang gadis yang bagaikan Guntur berkaur di dalam telinganya. Sepasang iris matanya menatap lurus pada sebuah kamar yang letaknya berhadapan dengan balkon tempatnya berdiri.


Ini sudah hampir tengah malam. Jadi wajar jika suara bak teriakan lumba-lumba itu begitu jelas terdengar oleh telinganya. Aiden mendengus berat. Dia tidak tau apa yang sedang dilakukan oleh sepasang kembar itu di tengah malam begini.

__ADS_1


Dari tempatnya berdiri, Aiden melihat Cinta yang sedang berusaha mengusir saudara kembarnya untuk keluar dari kamarnya, sedangkan Cris terus berlari dan tidak mau keluar.


Aiden mendengus berat. Menggelengkan kepala melihat tingkah mereka berdua.


-


-


-


"Cris, berhenti berlari dan keluar dari kamarku sekarang juga!!"


Seharusnya Cinta sudah berlayar ke alam mimpinya, jika saja saudara kembarnya yang super duper jahil ini tidak mengganggunya dan memaksa untuk tidur satu kamar dengannya.


"Cinta, jangan berlebihan. Kita adalah saudara kembar. Seharusnya kita berbagi banyak hal seperti pasangan kembar lainnya bukannya malah bertengkar seperti ini!!"


"Tidak usah banyak ceramah, berhenti berlari dan cepat keluar atau aku akan menyetrummu sampai mati kering?!" Ancam Cinta bersungguh-sungguh.


Cris menghentikan langkahnya. Pemuda itu mempout kan bibirnya dan menatap Cinta dengan memelas. "Kau jahat, Mao. Tega sekali pada saudara sendiri. Aku kan hanya rindu tidur satu kamar dan kasur denganmu." Cris memasang mimik sedih dan membuat Cinta memutar mata jengah.


"Terserah. Keluar sekarang, atau aku akan memanggil Mama supaya kau dihukum," ancam Cinta dan membuat mata Cris membelalak. Jika sudah urusan dengan ibunya, maka dia menyerah.


"Masa bodoh!!" Cinta menjulurkan lidahnya pada Cris. Sedangkan pemuda itu mendengus dan pergi dengan terpaksa.


Selepas kepergian Cris, di dalam ruangan itu hanya menyusahkan Cinta sendiri. Gadis bermarga Jung tersebut menjatuhkan tubuhnya pada kasur queen size miliknya dengan posisi terlentang.


Sepasang Hazelnya menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan tak terbaca. Tiba-tiba sudut bibirnya tertarik ke atas. Wajahnya merona mengingat kejadian di taman tadi. Aiden begitu hangat dan sangat lembut.


"Astaga, ada apa denganku?! Kenapa aku terus memikirkannya, pasti aku sudah tidak waras?!" Gumam Cinta entah pada siapa.


Cinta tidak tau apa yang dirasakan pada Aiden benar-benar cinta atau bukan, yang jelas hatinya selalu berdebar saat pria itu menatap matanya, tersenyum padanya, atau ketika dia memberikan perhatiannya yang melimpah.


Hatinya selalu merasa tenang dan damai ketika pria itu berada di dekatnya. Apa yang dia rasakan pada Steven tidak sama dengan apa yang dia rasakan ada Aiden kali ini. Apa yang dia rasakan begitu hebat dan luar biasa, itu cinta atau bukan. Cinta menyerahkan pada sang waktu agar bisa menjawab semuanya.


-


-


-

__ADS_1


Keheningan menyelimuti kebersamaan seorang kakek dan cucunya di meja makan. Tak ada yang bersuara, hanya dentingan sendok dan garpu yang memecah dalam suasana hening yang begitu mencekam.


Setelah beberapa saat, mereka sama-sama meletakkan sendok dan garpunya setelah menyelesaikan sarapan paginya. Suasana mulai mencair ketika si kakek mulai buka suara.


"Kakek dengar semalam kau di serang oleh orang tidak di kenal?"


Aiden mengangkat wajahnya untuk menatap pria tua di depannya kemudian mengangguk. "Benar, dan hal itu terjadi ketika aku sedang bersama Cinta." Jawabnya.


"Cinta?! Putri keluarga Su yang rumahnya berhadapan dengan mansion ini?" Aiden mengangguk. "Aiden, Kakek tidak melarangmu untuk dekat dengan siapa pun termasuk, Cinta. Tapi kau harus ingat satu hal, kau sudah bertunangan!! Sedikit banyak jagalah perasaan Alea, karena dia adalah calon masa depanmu."


"Untuk apa membahas wanita itu, Pak Tua?! Sampai kapan kau akan memaksakan kehendakmu dan terus ikut campur urusan pribadiku?! Ini hidupku, aku yang lebih berhak menentukan dengan siapa harus menikah!! Jika keputusanmu itu hanya demi bisnis, maka bermimpi saja!! Aku sudah selesai!!"


Aiden bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja. Dia kesal setengah mati. Sikap kakeknya membuatnya muak. Bagaimana bisa pria tua itu selalu memaksakan kehendaknya, dia terus saja mengatur hidupnya, padahal Kakek Qin sangat tau jika Aiden benci pada kekangan dan aturan.


-


-


-


"Cinta,"


Gadis itu mengangkat wajahnya setelah mendengar seseorang memanggil namanya. Sudut bibirnya tertarik ke atas melihat siapa yang memanggil namanya. Cinta bangkit dari duduknya dan menghampiri orang itu.


"Sedang apa kau di sana?" Tanya orang tersebut setelah cinta masuk ke dalam mobilnya.


"Menunggu kendaraan umum. Aku sedang menghindari Cris makanya berangkat lebih awal. Bocah menyebalkan itu terus saja berulah dan membuatku naik darah!!" Ujarnya.


Aiden mendengus geli. Pria itu mengusap kepala Cinta sambil tersenyum lebar. "Kau mau kuliah bukan?" Gadis itu mengangguk."Biar aku antar sana. Lagipula terlalu berbahaya jika seorang gadis naik kendaraan umum seorang diri." Lanjutnya.


Cinta pun setuju untuk diantar oleh Aiden, lagi pula ini adalah moment yang sangat berharga, jadi mana mungkin dia melewatkannya.


"Asal tidak merepotkan, aku sih tidak masalah." Aiden menggeleng.


Dan dalam hitungan detik saja, mobil sedan mewah itu melesat jauh meninggalkan Halte tempat Cinta berada sebelumnya.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2