Nona Bar-Bar Kesayangan Tuan Muda

Nona Bar-Bar Kesayangan Tuan Muda
Kembalinya Ingatan Cinta


__ADS_3

Mobil hitam milik Aiden baru saja meninggalkan mansion mewahnya. Ini adalah hari Senin, tanpa ditanya pun tentu saja semua orang sudah pasti tau kemana pria itu akan pergi.


Jika biasanya Aiden membawa supir, tapi kali ini dia mengemudi sendiri. Itu karena dia lebih nyaman sendiri dari pada harus bersama orang lain.


Mata kanannya membelalak saat seorang perempuan tiba-tiba saja menghadang mobilnya dengan berdiri di tengah jalan. Beruntung Aiden bisa mengerem tepat waktu, sehingga tubuh wanita itu aman.


Wanita itu kemudian menggedor kaca mobil Aiden. Dan betapa terkejutnya dia setelah mengetahui jika mobil yang dia hentikan ternyata adalah mobil milik Aiden.


"EO, Tuan Qin. Baguslah ini adalah dirimu. Aku mohon tolong aku, ada beberapa orang gila yang mengejar ku!!"


Kemudian pandangan Aiden bergulir pada beberapa preman yang tampak kelelahan beberapa meter di belakang wanita itu, yang pastinya adalah Cinta.


"Masuklah." Aiden membukakan pintu untuk wanita itu.


Kemudian dia segera tancap gas dan pergi meninggalkan beberapa pria yang saat ini terkapar di jalanan, setelah terserempet mobilnya ketika berusaha untuk menghadangnya.


Cinta pun kini bisa menghela napas lega. Akhirnya dia bisa lolos dan lepas dari para preman tersebut. "Bagaimana kau bisa berurusan dengan mereka?" Tanya Aiden memecah keheningan.


"Aku tidak sengaja menimpuk kepala si botak dengan batu. Ada anjing gila yang mengejar ku, aku mencoba mengusirnya dan menakut-nakutinya dengan batu. Eh, batu itu malah menimpuk kepala si botak sampai bocor."


"Tidak terima aku menimpuk nya sampai berdarah, dia memanggil anak buahnya untuk mengejar ku!! Aku sempat terkepung, kami terlibat perkelahian, lalu aku berhasil memecahkan telor dua orang dari mereka. Tapi aku kalah jumlah dan akhirnya seperti ini. Aku kabur lalu dikejar!!"


Aiden mendengus geli. Jika Luna benar-benar Cinta, maka dia tidak merasa heran. Mengingat betapa bar-bar nya istrinya itu. Tapi jika mereka salah orang yang berbeda, rasanya sangat mustahil.


"Tuan Qin, kenapa kau malah menghela napas panjang? Apa ada yang aneh dengan ucapan ku?!" Ucap wanita itu sambil menatap penasaran pria di sampingnya.


Aiden menggeleng. "Tidak ada, hanya saja tingkah mu mengingatkanku pada seseorang yang sudah meninggalkan ku pergi jauh."


"Ah, pasti orang itu sangat istimewa ya. Jika aku mengingatkanmu padanya, anggap saja jika aku ini adalah dia. Beres bukan?!"


"Mengatakannya memang gampang. Bagaimana aku bisa menganggap mu sebagai dia jika kalian bukan lah orang yang sama!!'


"Ah benar juga, bagaimana aku tidak bisa berpikir sampai sana ya?" Wanita itu memukul kepalanya sendiri.

__ADS_1


Aiden memandang perempuan disampingnya ini begitu lama. Hatinya rasanya sesak ketika menatap sepasang Hazel itu. Luna memiliki warna mata yang mirip dengan Cinta. Bahkan semua yang ada pada perempuan itu, dia benar-benar mengingatkannya pada istrinya.


"Tuan Qin, boleh aku sedikit bercerita padamu? Sudah sejak lama aku ingin berbagi kisah ini dengan orang lain. Tapi tidak ada yang pas. Tapi entah kenapa aku malah ingin bercerita padamu, apa kau keberatan?"


Aiden menggeleng. "Katakan saja, apa yang ingin kau ceritakan padaku?"


Luna mendesah berat. "Jujur saja, aku memiliki sebuah problem yang tidak bisa aku pecahkan sampai sekarang. Setiap malam selama satu tahun ini, aku selalu dihantui sebuah mimpi yang sama. Dimana aku melihat seorang pria, tapi aku tidak tau siapa orang itu."


"Dia selalu memanggilku dengan nama 'Cinta' jujur saja aku sangat bingung, siapa Cinta dan kenapa dia memanggilku dengan nama itu. Aku mencoba mengingatnya, tapi rasanya sangat sulit."


"Nama itu terasa tidak asing, dan anehnya, suara pria itu sangat mirip denganmu. Aku sangat tersiksa selama ini." Wanita itu mengakhiri ceritanya dengan menghela napas panjang.


Aiden mati-matian menahan air matanya agar tidak sampai menetes. Sebuah fakta baru terungkap, jika istri belum meninggal, selama ini dia masih hidup tapi hilang ingatan. Aiden tidak tau harus merasa bahagia atau malah sebaliknya.


Dan sebisa mungkin Aiden bersikap biasa saja. Jika saja dia mengatakan yang sebenarnya. Itu bisa membebani Cinta, dia pasti akan mati-matian untuk mengingat masa lalunya, dan itu justru bisa menghambat dia untuk segera sembuh.


"Omo!! Tuan Qin, kenapa kau menangis? Apa ceritaku membuatmu sedih? Padahal menurutku itu sangat horor."


Hangat dan Nyaman...


Dua perasaan yang Luna rasakan saat ini ketika Aiden memeluknya. Bahkan pelukannya terasa sangat familiar. Luna seperti pernah merasakan pelukan sehangat ini, tapi dia tidak ingat kapan dan dimana.


Dengan ragu, Luna mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Aiden. Setitik kristal bening jatuh begitu saja dan membasahi pipinya. Entah kenapa hatinya terasa sesak saat memeluk pria ini. Siapa Aiden, dan apa hubungan mereka dimasa lalu?


Setelah di rasa cukup lama. Aiden melepaskan pelukannya. Biner mata kanannya menatap perempuan di depannya dengan tatapan tak terbaca. Dan melihat mata kiri Aiden yang tertutup benda hitam bertali membuat Luna menjadi sangat penasaran.


"Tuan Qin, apa matamu sedang sakit atau mengalami cidera? Kenapa harus ditutup seperti bajak laut begini? Tapi jujur saja ya, kau adalah bajak laut tertampan yang pernah aku temui."


Aiden menggenggam jari-jari lentik Luna yang ada di wajahnya, lalu menurunkan tangan seputih porselen itu tanpa melepaskan genggamannya.


"Mata kiri ku cacat. Sebuah insiden mengerikan telah merenggutnya, juga wanita yang paling aku cintai dari hidupku."


"Kecelakaan?" Aiden mengangguk.

__ADS_1


Kemudian Luna menoleh kebelakang. Dan orang-orang yang mengejarnya ternyata tidak mengejar lagi. "Tuan Qin, hentikan mobilnya. Aku turun disini saja. Maaf sudah merepotkan, Tuan." Aiden menahan pergelangan tangan Luna ketika wanita itu hendak keluar.


"Kemana kau setelah ini? Aku akan mengantarkan mu!!"


"Tapi, apa tidak merepotkan? Aku pikir Tuan Qin harus pergi ke kantor!!"


"Tidak apa-apa, masih ada orang lain yang bisa menggantikan pekerjaanku."


Luna tersenyum. "Baiklah kalau begitu."


Baru saja Aiden hendak menambah kecepatan pada mobilnya. Tapi semua insiden mengerikan terjadi tepat di depan matanya. Dimana sebuah mobil ditabrak sebuah truk, dan kejadian itu mengingatkan Aiden pada tragedi yang dia alami satu tahun yang lalu.


Sementara itu...


Luna yang juga menyaksikan hal itu tiba-tiba merasakan sesuatu seperti menghantam kepalanya. Saat kilasan-kilasan masa lalu melintas di kepalanya. Adegan demi adegan yang selama ini hanya sepenggal-sepenggal kini terekam seluruhnya.


Air mata terus mengalir dari pelupuknya dan membasahi kedua pipinya. Sebelah tangannya mencengkram dadanya yang terasa nyeri dan berdenyut sakit. Apa yang dialami oleh Luna tentu saja membuat Aiden menjadi sangat panik.


"Luna, ada apa denganmu? Kau tidak apa-apa bukan?" Tanya Aiden memastikan.


Luna mengangkat wajahnya yang penuh air mata dan menatap Aiden dengan tatapan tak terbaca. "Kak Ai," sontak mata kanan Aiden membelalak mendengar bagaimana Luna memanggilnya.


"Katakan sekali lagi." Pinta Aiden.


"Kak Ai,"


Aiden menarik Luna, bukan tapi Cinta ke dalam pelukannya. Air mata yang sedari tadi dia tahan kini tempah membasahi sisi wajahnya. Aiden tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini, yang jelas dia sangat bahagia.


"Terimakasih telah kembali untukku, Sayang. Cinta, aku merindukanmu!!"


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2