
Cinta menapakkan kakinya perlahan diarea Battery Park City tempat favoritnya selama ia berada di Manhattan ,New York.
Ketika senja datang, Cinta pasti selalu menyempatkan diri untuk berkunjung kemari. Tidak sendirian pastinya, karena Aiden selalu menemaninya.
Menatap indahnya kemegahan kota itu, yang benar-benar mempesona kala senja datang.
Bangunan neo klasik, yang berpadu dengan gotik berhiaskan langit senja Manhattan yang siapapun melihat pemandangan ini pasti akan jatuh cinta dengan pesonanya.
Sejak kecil, Cinta memang memiliki impian untuk tinggal di Manhattan, tapi Gita selalu menolak dengan berbagai alasan. Dan hal itu membuat Cinta sempat pundung dan berkeinginan untuk melarikan diri ke sana.
Tapi sayangnya hal itu tidak benar-benar dia lakukan. Cinta takut hilang dan tidak bisa kembali lagi pada keluarganya. Meskipun terkenal bar-bar, tapi Cinta sangat penakut.
Tak ingin menyia-nyiakan waktu yang dia miliki. Cinta mengabadikan setiap momen yang dia miliki selama berada di New York. Karena Minggu depan Ia, Aiden dan seluruh keluarga Su sudah harus kembali ke Seoul.
Cinta berjalan mundur tanpa memperhatikan apa yang ada disekitarnya. Dan Cinta tidak menyadari jika ada sepeda gunung yang melaju kearahnya.
Aiden yang melihatnya tentu saja tidak tinggal diam. Dia berseru dan langsung menyambar tubuh Cinta. "Omo!!" Dan betapa terkejutnya wanita itu. Hampir saja dia menjadi korban dari kecerobohan sendiri.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Aiden memastikan. Cinta menggeleng, meyakinkan pada Aiden jika dia baik-baik saja.
"Aku tidak apa-apa, Kak Ai."
"Lain kali hati-hati. Sudah hampir petang, sebaiknya kita pulang. Mama bisa cemas jika kita pulang terlambat." Ujar Aiden dan dibalas anggukan oleh Cinta.
Cinta menghentikan langkahnya saat tiba-tiba pandangannya mengabur. Apa yang dia lihat menjadi tidak jelas dan seperti terbelah menjadi dua.
Dan Cinta baru menyadari jika matanya bermasalah setengah bulan pasca kecelakaan yang nyaris membuatnya kehilangan nyawa. Tapi dia tidak menganggapnya serius.
"Sayang, ada apa? Kau baik-baik saja bukan?" Tanya Aiden sambil menatap Cinta cemas.
Cinta membalas tatapan suaminya dan mengangguk. Meyakinkan pada Aiden jika dia baik-baik saja. Cinta tidak ingin membuat Aiden cemas jika ia sampai mengatakan yang sebenarnya.
"Aku tidak apa-apa, Kak Ai. Mungkin karena terlalu lelah jadi kepalaku jadi sedikit pusing." Jawabnya.
"Apa kau sakit? Bagaimana kalau kita ke rumah sakit dulu sebelum pulang? Aku takut jika pusing yang kau alami agak serius." Ujarnya.
Cinta menggeleng. "Tidak perlu, Kak Ai. Sungguh aku baik-baik saja. Mungkin istirahat di rumah akan membuatku lebih baik." Ujarnya.
Aiden menatap Cinta dan mendesah berat. Dia tau jika istrinya ini tidak dalam keadaan baik-baik saja. Aiden tidak tau apa yang sebenarnya Cinta sembunyikan darinya. Dan itu adalah PR yang harus segera dia pecahkan.
-
Setelah memastikan Cinta sudah benar-benar tidur. Aiden menemui pasangan tua yang telah menyelamatkan Cinta. Mungkin mereka berdua dan cucunya bisa memberikan jawaban dari rasa penasarannya.
Tapi sayangnya yang ada hanya si Nenek dan Kakek saja. Karena cucunya diajak jalan-jalan oleh Cris.
"Nenek, Kakek, bisa kita bicara sebentar. Ada yang ingin aku tanyakan pada kalian berdua. Dan ini mengenai Cinta."
"Tentu saja, Tuan Muda. Memangnya apa yang ingin Tuan Muda ketahui tentang Luna, maksud saya Nona Cinta?"
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Cinta? Apakah dia baik-baik saja? Dua kali aku melihatnya hampir menubruk meja, setiap kali aku bertanya, dia selalu mengatakan jika baik-baik saja."
"Tuan Muda, sebenarnya kami ingin mengatakan hal ini pada Anda sejak awal. Tapi kami ragu. Kecelakaan itu membuat syaraf matanya bermasalah. 6 bulan lalu dokter mengatakan Nona Cinta akan mengalami kebutaan jika dia tidak segera menemukan donor mata yang tepat." Ujar si Nenek.
__ADS_1
"Bukan hanya itu. Perempuan malang itu juga tidak mungkin bisa hamil apalagi melahirkan. Dokter mengangkat rahimnya yang terluka parah karena tertusuk pecahan kaca. Dan kami tidak pernah berani mengatakan hal ini padanya. Kami takut, jika dia akan terpukul setelah mengetahui kebenarannya."
Jlederr...
Bagaikan tersambar petir di siang bolong. Hati Aiden hancur berkeping-keping setelah mendengar apa yang baru saja disampikan oleh pasangan tua itu. Aiden menutup matanya, dia membungkuk dalam duduknya.
Gita yang tidak sengaja mendengar perbincangan mereka bertiga tak bisa menahan air matanya. Wanita itu terkejut bukan main saat mengetahui bagaimana kondisi putrinya saat ini.
Kecelakaan itu ternyata berakibat fatal dan meninggalkan dampak yang sangat besar. Dan ibu mana yang tidak hancur hatinya saat mengetahui keadaan putrinya, yang tidak baik-baik saja.
Gita meremas dadanya yang terasa sesak. Rasanya dia ingin menjerit, menumpahkan semua rasa sesak yang ada di dadanya. Tapi dia tidak bisa. Gita harus tegar, dia pasti akan mencari jalan keluar agar putrinya bisa sembuh.
"Nenek, Kakek, tolong rahasiakan hal ini dari Cinta. Jangan sampai dia mengetahui tentang keadaannya yang sebenarnya. Dan masalah aku sudah mengetahui tentang matanya yang bermasalah. Tolong jangan beritahu dia."
"Baik, Tuan Muda. Kami mengerti."
-
Steven telah membulatkan tekadnya untuk menghabisi Cinta dan Aiden. Dia baru saja mendapatkan informasi jika pasangan muda itu baru saja meninggalkan kediaman keluarga Qin.
Dengan mengendarai sebuah truk pengangkut bahan bakar. Steven telah menunggu mereka di perempatan lampu merah. Dia mendapatkan truk itu atas bantuan temannya. Dan Steven telah bertekad untuk menyingkirkan mereka berdua.
Jika dia tidak bisa memiliki Cinta. Maka Aiden juga tidak boleh. Supaya dia tidak memiliki saingan untuk mendapatkan seluruh kekayaan keluarga Qin. Maka dia harus menyingkirkan keduanya, untuk selamanya.
"Aku mengerti." Steven baru saja mendapatkan kabar jika mobil Aiden sudah sampai di lampu merah. Dan dia telah bersiap untuk menjalankan rencananya.
Steven menatap tajam sebuah sedan hitam yang baru saja meninggalkan lampu merah. Pemuda itu menyeringai tajam. Setelah memasang maskernya, Steven mulai melajukan mobilnya dan...
Mobil sedan hitam milik Aiden terguling beberapa kali setelah terhantam truk yang Steven kemudikan. Mobil itu mengalami ringsek parah dan dia juga melihat tubuh Cinta terlempar keluar dengan sebuah pecahan kaca yang menancap pada perutnya.
Orang-orang langsung berkerumun di sana. Tak ingin diamuk masa, Steven pun langsung tancap gas dan meninggalkan lokasi kejadian. Tangannya gemetar hebat, sesekali dia melihat ke belakang melalui spion.
Dan karena tidak fokus pada jalanan di depannya. Steven tidak menyadari jika di depan sana ada sebuah kendaraan lain. Tak ingin mengalami hal yang fatal. Steven membanting stir ke kanan dan...
Brakk...
Truk itu menabrak pohon dan terguling beberapa kali, sebelum akhirnya meledak dan membuat Steven turut terbakar di dalam. Beruntung dia bisa menyelamatkan diri, meskipun luka bakar pada sekujur tubuhnya.
Dan Steven lah dalang utama di balik kecelakaan maut yang menimpa Cinta dan Aiden. Dan kejahatan Steven langsung di bayar secara kontan olehnya.
.
"Aarrkkhhhh...!!"
Teriakan berasal dari salah satu kamar di rumah megah tersebut. Bukan kamar utama ataupun kamar tamu, melainkan ruang bawah tanah.
Steven yang tidak bisa menerima keadaannya mengalami gangguan jiwa. Sehingga Vina harus mengurungnya di ruang bawah tanah. Kakinya di pas*ng supaya dia tidak bisa melarikan diri apalagi membahayakan orang lain lagi.
"Brengsek, keluarkan aku dari sini!!"
Vina menutup telinganya. Dia benar-benar bosan mendengar teriakan Steven. Vina tidak lagi peduli pada Steven setelah putranya itu mengalami kecacatan permanen pada tubuhnya. Karena menurut Vina dia tidak berguna lagi untuknya.
"Diam, bocah cacat. Atau Mama akan mengirim mu ke neraka untuk menyusul Papa serta Paman dan Bibi mu?!"
__ADS_1
"Kau Iblis!! Kau bukan ibuku!!"
"Memang, untuk apa aku memiliki anak yang tidak berguna sepertimu?! Dan sebaiknya aku membiarkanmu mati membusuk saja di sini!!"
"Sialan Kau!!" Teriak Steven penuh emosi.
"Diam, cacat!! Berisik."
Vina meninggalkan Steven begitu saja. Putranya itu sudah gila dan jadi pria cacat. Tidak ada gunanya lagi Vina peduli dan sayang padanya. Bahkan Vina ingin supaya Steven mati supaya tidak merepotkan nya lagi.
-
Aiden menatap Cinta yang sedang tertidur pulas dengan perih. Hatinya seperti tertohok ribuan pedang tajam setelah mengetahui bagaimana kondisi wanita itu saat ini.
Jari-jari besarnya mengusap kepala Cinta, dan apa yang Aiden lakukan membuat tidur wanita itu menjadi terusik.
"Kak Ai, kenapa membangunkan ku?" Keluh Cinta sambil mengucek matanya. Dia masih sangat-sangat mengantuk tapi Aiden malah membangunkannya.
"Kau tidak melihat di luar sudah gelap. Bangun, Sayang. Cepat mandi setelah ini kita makan malam sama-sama."
"Malas,"
"Kau ini perempuan, tapi kenapa malas mandi? Bagaimana kalau aku yang memandikanku?"
"Kedengarannya tidak buruk." Cinta mengulurkan kedua tangannya seperti anak kecil yang minta di gendong oleh Ibunya.
Aiden mendengus. Dengan gemas dia menjitak kepala coklat Cinta. Kemudian mengangkat tubuh wanita itu dan membawanya menuju ke kamar mandi. Aiden tidak merasa keberatan meskipun Cinta minta di mandikan.
Jika diperhatikan. Aiden dan Cinta seperti sepasang ayah dan anak. Aiden seperti seorang ayah yang sedang memandikan gadis kecilnya.
Mulai dari menyampo rambutnya, kemudian menggosok punggungnya. Sampai membilas semua busa yang ada di sekujur tubuhnya."Kak Ai, kau ingin memiliki berapa anak dariku?"
Deg...
Aiden terkejut setelah mendengar sebuah pertanyaan yang terlontar dari bibir Cinta. Wanita itu bertanya perihal anak padanya. Dan Aiden bingung harus menjawab apa. Karena tidak mungkin Aiden mengatakan yang sebenarnya pada Cinta.
"Berapapun tidak masalah, yang penting ibu dan bayinya sehat. Dan untuk sekarang aku tidak ingin membahas mengenai anak. Kau harus fokus dulu pada kuliahmu dan mengejar ketertinggalan mu."
"Setibanya kita di Seoul. Aku akan mencarikan guru privat untukmu. Kau tidak perlu bekerja, cukup menjadi Ibu dan Istri yang cerdas dan berpendidikan saja. Diam di rumah merawat ku dan anak-anak kita."
Aiden meringis ngilu saat membicarakan mengenai anak dengan Cinta. Rasanya seperti ada ribuan jarum tajam yang menusuk ulu hatinya.
Dan Aiden tidak tau bagaimana perasaan Cinta jika dia sampai mengetahui bagaimana keadaannya yang sebenarnya.
"Kau memang unik, Kak Ai. Baiklah aku akan menuruti apa yang menurutmu baik saja. Aku sudah kedinginan. Bisakah kau membawaku keluar dari sini sekarang juga? Aku mau di gendong."
Aiden mendengus geli. Lagi-lagi sebuah jitakan mendarat mulus pada kepala Cinta. Bukannya marah, wanita itu malah terkekeh. Cinta menyandarkan kepalanya pada dada bidang Aiden yang tersembunyi di balik kemeja hitamnya.
Cinta mencoba menahan dirinya untuk tidak menangis. Dan selama dia masih memiliki kesempatan, Cinta ingin memandang wajah Aiden dengan puas. Sebelum akhirnya dia harus kehilangan penglihatannya untuk selama-lamanya.
-
Bersambung.
__ADS_1