
Seorang gadis muda terlihat meliukkan tubuhnya memasuki sebuah club' malam yang cukup ternama di kota S. Dia tak hanya sendiri, ada seorang pria yang menemaninya, namun mereka berpisah setelah berbincang selama beberapa saat.
Gadis cantik dalam balutan mini dress merah bermodel kemben itu tiba-tiba menghentikan langkahnya. Pandangannya lalu menyapu, mencari objek yang membuatnya harus mendatangi club' tersebut.
Sampai mata Hazel-nya menemukan sosok yang dia cari sedang duduk bersama teman-temannya.
Raut wajahnya berubah datar dan sorot matanya menjadi datar. Gadis itu meliukkan tubuhnya menghampiri empat pria dan 7 wanita yang sedang menikmati pestanya.
"Apa aku datang terlambat?" Tegur gadis cantik itu sambil menatap beberapa manusia tersebut. Dan kedatangannya langsung menyita perhatian mereka semua.
"Cinta, akhirnya kau datang juga. Kemari lah dan duduk, kami sudah menunggumu dari tadi. Steven juga sudah menyiapkan minuman untukmu." Ucap salah satu teman Steven.
Cinta menyeringai sinis. "Sayangnya aku tidak minum, minuman beralkohol untuk saat ini. Aku takut ada jebakan di dalan minuman itu." Ucap Cinta sambil menatap Steven seolah-olah Cinta sudah tau apa yang Steven rencanakan.
"Tidak ada, aku berani menjaminnya. Lihat, aku akan membuktikannya." Steven mengambil minuman tersebut lalu meneguknya hingga tandas tak tersisa. Dan benar apa yang Steven katakan, dia tidak apa-apa.
Lalu Steven memberikan minuman lain pada Cinta."Sekarang giliran mu, bukankah kau adalah ratunya minum," Cinta menatap minuman tersebut namun tidak langsung menerimanya.
Pandangan Cinta bergulir pada beberapa minuman yang ada di atas meja. Dia tidak akan terjebak dan jatuh dalam permainan Steven. Cinta meletakkan minuman tersebut lalu menukar tempatnya dengan acak. Dan apa yang Cinta lakukan tentu saja membuat Steven terkejut.
"Nah, sekarang mari kita minum." Cinta mengangkat gelasnya dan mengajak semua yang ada di ruangan itu untuk bersulang.
Cinta ingin melihat, jika keyakinannya memang tidak salah. Steven memiliki rencana buruk padanya dengan mengirim kedua temannya dan mengundangnya untuk datang ke klub' malam.
Steven dan kedua orang itu saling bertukar pandang. Dengan ragu mereka mengambil gelas yang ada di atas meja. Dan mimik muka yang mereka tunjukkan membuat Cinta semakin yakin jika Steven menang memiliki rencana buruk untuknya.
"Kalian semua tidak asik, sudahlah aku pergi saja. Lebih baik aku memimpin para pendosa itu untuk menari." Cinta meneguk minumannya dan pergi begitu saja.
Sepertinya Steven sudah salah menilai dirinya. Cinta bukanlah gadis bodoh yang mudah untuk dibodohi, dan dia sudah membuat sebuah kesalahan besar dengan melakukan tindakan bodoh semacam ini.
__ADS_1
Beruntung Cinta segera menyadari kebodohannya, karena sudah jatuh cinta pada orang yang salah.
-
Dan sementara itu...
Di lokasi yang sama namun ditempat berbeda. Seorang pria terus memperhatikan mereka dari kejauhan. Orang itu adalah Aiden, dia ikut pergi ke bar bersama Cinta setelah mendengar apa yang gadis itu katakan.
Aiden sungguh sangat terkejut dengan aksi gadis itu. Tidak salah bila Cinta mendapatkan julukan gadis bar-bar. Karena dia memang sangat bar-bar.
"APA SEMUA BERSENANG-SENANG?!" teriakan nyaring itu langsung menyita perhatian Aiden.
Aiden mencari dari mana sumber suara itu berasal. Kedua matanya membelalak melihat Cinta yang sedang berdiri di sebuah panggung, dengan di kelilingi puluhan manusia yang sedang meliukkan tubuhnya di dance floor.
Pria itu bangkit dari duduknya dan segera menghampiri gadis itu. Aksi gila Cinta harus segera dihentikan, atau dia akan mendapatkan perlakuan tidak senonoh dari para hidung belakang di sana.
Aiden membelah lautan manusia yang saling berdesak-desakan tersebut. Tanpa banyak berkata-kata, Aiden menarik Cinta turun dari panggung dan membawanya pergi dari sana. Tidak ada perlawanan, dia hanya pasrah ditarik seperti itu oleh Aiden.
Aiden membawa Cinta melewati tangga yang ada dibalik lemari minuman. Dia sama sekali tidak bersuara hingga Ia membawa gadis itu memasuki salah satu ruangan yang sepertinya itu adalah ruang khusus.
Terlihat dari interior di dalamanya, lemari yang dipenuhi buku-buku, sofa, serta kursi dan meja kerja yang membelakangi sebuah kaca besar. Aiden masih belum juga melepaskan tangan Cinta, Ia kembali membawa gadis itu menuju kaca besar yang ada di belakang kursi kerja.
Kemudian Iaden menempatkan Cinta di depannya, sehingga punggungku yang terbuka karena dress model kemben yang ia gunakan, menempel di dadanya.
Cinta mengangkat wajahnya dan menatap Aiden yang tidak berekspresi sama sekali, datar. Lalu dia meletakan telapak tangan kirinya pada kaca sedangkan tangan kanannya masih memegang pergelangan tangan Cinta.
Dari tempatnya berada ini, Cinta bisa melihat seluruh kegiatan yang dilakukan dilantai bawah.
"Kau lihat dibawah sana, Cinta?"
__ADS_1
Aiden berbisik lirih di telinga kanan Cinta, dan itu membuat buku kuduk gadis itu berdiri seketika.
Cinta berusaha membasahi tenggorokannya yang kering dengan cara menelan ludah, dan kemudian mengangguk kecil. Sungguh, Cinta tidak tahu pasti apa maksud dari perkataan pria yang ada di belakangnya ini, dia hanya mengikuti nalurinya saja untuk mengangguk dalam menanggapi pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulutnya.
"Dibawah sana banyak pria yang kelaparan akan wanita sepertimu, dan malam ini kau datang kesini mengenakan pakaian ini?"
Cinta terkesiap mendengar kalimat pertanyaan yang baru saja terlontar dari bibir Aiden. Dia marah? Cinta bisa mendengar nada tajam dalam suaranya. Ia merasakan tangan kanan Aiden yang tadi mencengkeram tangannya kini sudah beralih memeluk pinggangnya.
"Aku mengijinkan mu datang ke tempat seperti ini bukan untuk memamerkan tubuhmu pada mereka, Sayang."
Aiden berbicara disekitar perpotongan leher Cinta, dan beberapa detik kemudian dia membalikkan tubuh gadis itu untuk menghadap padanya, kedua tangannya posesif mencengkram pinggang ramping itu dan matanya kembali mengunci mata Hazel gadis cantik ini.
"Tapi aku menyukai apa yang aku lakukan, Kak Ai. Memimpin mereka membuatku merasa lepas, semua beban di pundak ku terasa ringan."
Aiden mengusap kasar wajahnya. "Kau membuatku gila, ini sudah larut malam. Sebaiknya aku antar kau pulang." Ucap Aiden yang kemudian di balas anggukan oleh Cinta.
Aiden melepas jasnya lalu menyampirkan pada pundak Cinta. Menyisakan Vest V-Neck yang memamerkan otot lengan dan dadanya. Melihat Aiden yang begitu panas membuat Cinta harus menelan ludah, di sadari atau tidak, kini wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.
-
"Apa? Mereka datang bersama?"
Steven yang baru saja kembali dari toilet tanpa sengaja melihat Cinta dan Aiden berjalan meninggalkan club'. Mereka terlihat dekat dan mesra, Aiden merangkul pundak gadis itu sedangkan Cinta memeluk pinggang Aiden
Gyutt..
Steven mengepalkan tangannya. Amarah dan emosi terlihat jelas dari sorot matanya yang berkilat tajam. Bagaimana bisa Cinta bersama dengan pria itu? Itulah yang menjadi pertanyaan Steven saat ini.
Steven menggelengkan kepala, dia tidak bisa tinggal diam. Cinta seharusnya hanya mencintainya, dan Steven akan membuat dia menjadi miliknya bagaimana pun caranya.
__ADS_1
-
Bersambung.