Nona Muda Jangyong

Nona Muda Jangyong
Episode 1 : Adopsi


__ADS_3

Himalaya Regency Kota X


Sebuah mobil mewah memasuki salah satu rumah besar yang sangat mewah. Para pelayan berlarian dan langsung berbaris saling berhadapan dipinggir jalan menuju pintu utama rumah. Seorang wanita turun dari pintu belakang mobil setelah salah satu pengawal membuka pintu, wanita itu memakai dress warna maroon dengan lengan sebatas siku, berusia 44 tahun namun tetap cantik dengan rambut panjang hitam pekatnya, diikuti seorang suster yang menggendong seorang bayi laki-laki yang sedang terlelap tidur.


Wanita itu membuka kacamata hitam nya, "Rumah ini akan jadi saksi lengkapnya keluarga ku." Gumam wanita itu dengan senyum lebar yang seperti melambangkan kelegaan nya.


Seorang wanita berusia sekitar 35 tahun sedikit berlari menuju wanita yang masih memandangi rumah baru nya disamping mobil nya, "Nyonya Diya semua telah siap." Katanya sambil sedikit membungkuk.


"Terima kasih banyak atas kerja keras mu pelayan Si." Kata wanita yang ternyata bernama Diya itu dengan ramah.


"Samasama nyonya, saya turut bahagia bisa andil bagian dari impian nyonya selama ini."


Diya hanya tersenyum sambil berjalan menuju pintu utama. Semua pelayan membungkuk saat Diya berjalan didepan mereka. Asisten Si dan suster mengikuti di belakangnya.


Seorang anak laki-laki tinggi tampan berusia 16 tahun yang masih memakai seragam sekolah menengahnya juga keluar dari mobil Diya, dengan mengucek mata nya yang seperti masih mengantuk ia melihat sekeliling nya. Ia melihat Diya yang sudah berjalan memasuki rumah. "Mahh.." Teriak nya sambil berlari menghampiri Diya, para pelayan membungkuk lagi saat anak laki-laki itu berlari didepan mereka.


Diya menoleh lalu meraih lengan anak laki-laki itu sambil tersenyum, "Sayang kamu udah bangun?"


Anak itu mengangguk sedikit, "Kita ngapain sih mah disini? Tumben banget mamah mau beli rumah ngajak aku."


Diya tersenyum lalu menarik lembut mengajak berjalan memasuki rumah mewah itu, "Junho sayang, ini kan rumah baru kita, jadi mama sengaja ajak kamu kesini."


Anak laki-laki itu langsung mengedarkan pandangan keseluruh ruangan setelah mendengar ucapan Diya, lalu tiba-tiba dia tersenyum setelah seperti mengingat sesuatu, "Adek mau pulang yaa mah?" Tanya nya dengan senyum bahagia.


Diya mengangguk dengan senyum yang tak kalah bahagia, Junho langsung memeluk Diya, mereka berdua tersenyum bahagia sambil mengamati rumah baru mereka yang berlantai 3. Pelayan Si dan suster ikut tersenyum melihat kebahagiaan ibu dan anak yang seperti sangat tidak sabar menyambut anggota keluarga mereka yang akan pulang.


"Abang juga akan pulang kan mah?"

__ADS_1


"Kenapa? Kau rindu lawan perangmu yaa?"


"Haha mamah memang paling mengerti kita."


"Hentikan kebiasaan kalian itu, atau adekmu tidak betah tinggal disini."


"Ancaman mamah kali ini seperti nya menakutkan."


Diya hanya tersenyum mendengar perkataan anaknya. Walaupun sudah samasama besar tapi kedua anak laki-laki nya sering berdebat, dan sepertinya sekarang Diya menemukan senjata untuk menghentikan perang mereka yang sering membuat Diya pusing.


####


Panti Asuhan Cempaka


Disebuah ruangan bertuliskan 'Ruang Sekretariat' duduk berhadapan dua orang perempuan yang dibatasi sebuah meja. Seperti ada ketegangan di wajah mereka.


"Yoa gak mau buk." Kata salah satu perempuan yang name tag di seragam menengah pertama nya bertulis 'Yoa Aeri'.


"Tapi Bu Dewi kan tahu Yoa gak akan bisa, Yoa janji bakalan kerja lebih keras biar bisa 100% membiayai hidup Yoa disini." Ucap Yoa dengan wajah yang sangat memohon.


"Yoa, ini bukan masalah biaya, kamu sudah sangat mandiri, bahkan kami hampir sudah tidak membiayai mu sama sekali selama 2 tahun terakhir." Kata Bu Dewi sambil memegang punggung tangan Yoa yang mulai dingin.


"Maka dari itu Bu Dewi, tolong ijinkan Yoa tinggal disini sampai Yoa kuliah." Yoa terus menatap Bu Dewi penuh harap.


"Yoa kamu butuh wali sayang, kamu harus punya orangtua."


"Ada Bu Dewi dan Bunda, Pak Ahmad juga. Yoa cuma mau kalian." Tubuh Yoa mulai lemas, ini bukan yang pertama bagi Yoa berdebat dengan Bu Dewi tentang adopsi tapi ini pertama kali nya ia melihat Bu Dewi sangat serius tentang adopsi nya.

__ADS_1


Yoa telah 10 tahun lebih tinggal di panti asuhan Cempaka, sejak 5 tahun lalu ia selalu menolak untuk di adopsi karena pengalaman buruknya ketika berusia 8 tahun yang sangat membuatnya terguncang.


Bu Dewi berdiam menatap Yoa yang mulai menitikkan airmata. Yoa menunduk merasakan sesak di dadanya. Mereka berada dalam diam untuk sesaat. Tiba-tiba pintu terbuka, seorang wanita paruhbaya menghampiri Yoa dan memeluknya yang masih menangis sesegukan.


"Bundaa, Yoa gak mau diadopsi." Kata Yoa yang juga memeluk erat wanita itu.


Wanita itu mengusap lembut kepala Yoa, "Iya sayang, bunda mengerti, bunda ada cerita untuk Yoa."


Airmata Yoa semakin deras, bahkan Bunda yang selama ini selalu mendukung keputusan nya seakan tidak lagi mendukung. Yoa sangat hafal ketika bunda berkata akan bercerita itu berarti apapun yang ia katakan adalah benar.


"Bunda akan bicara dengan Bu Dewi, sekarang Yoa mandi dan makan dulu yaa nak?" Bunda menatap mata Yoa lalu mencium kening nya. Yoa mengangguk, masih dengan airmata lalu berdiri belalu meninggal kan ruang sekretariat.


"Jangan terlalu memaksanya." Ucap Bunda yang kemudian mulai duduk ditempat yang ditinggalkan Yoa.


"Aku tidak memaksanya, kau tau kan aku yang paling bahagia mendengar berita ini, aku sudah sangat sakit melihat Yoa yang tersiksa dengan masalalu nya." Ucap Bu Dewi dengan muka sendu nya.


"Aku juga turut bahagia, tapi kau tau sendiri Yoa belum bisa melupakan Nisa"


Bu Dewi terdiam mendengar nama Nisa disebut. Kenangan yang membuat Yoa sangat tersiksa itu terbayang kembali di ingatan nya.


"Lalu kita harus bagaimana? Sudah beberapa bulan ini juga Yoa menolak bertemu dokter Raka lagi." Ucap Bu Dewi menatap Bunda yang juga sedang terbayang kejadian Nisa.


"Aku juga bingung bagaimana membujuk nya agar mau bertemu dokter Raka, dia selalu berkata dia sudah sembuh." Jawab Bunda yang kemudian diam sesaat, "Aku sudah bicara dengan Pak Ahmad, dia akan mencoba membujuk Yoa." Imbuh Bunda.


"Seperti nya itu yang terbaik. Pak Ahmad yang paling mengerti kondisi nya." Bu Dewi terlihat sangat setuju.


"Aku akan mencoba menasehati nya dengan pelan nanti, aku sangat takut kondisi nya jadi buruk kembali." Bunda mulai berdiri seolah akan pergi.

__ADS_1


"Ya lakukanlah, dia paling dekat dengan mu."


Bunda mengangguk pelan, lalu berlalu keluar pintu ruang sekretariat. Bu Dewi terlihat sangat gusar. Ia mengambil hp nya dan membuka kontak, mencari nama 'Asisten Cho', ia diam sejenak, lalu mulai memencet tombol panggil.


__ADS_2