Nona Muda Jangyong

Nona Muda Jangyong
Episode 10 : Rumah


__ADS_3

Himalaya Regency


Pagi itu Diya bersama suami dan 2 anak nya sudah sampai di rumah baru mereka, diikuti semua asisten dan art nya.


"Ayolah mah biarin Junho ikut." Rengek Junho sambil bergelayutan di tangan Diya. Sejak Diya bilang adeknya akan pulang, Junho terus terusan ingin ikut menjemput adeknya. Tapi Diya melarang karena dia tidak mau membuat Yoa merasa tidak nyaman jika di jemput banyak orang.


"Sudah mama bilang tunggu dirumah saja, biar mama dan asisten Cho yang menjemput."


"Tapi Doyon ikut." Bantah Junho sedikit kesal.


"Astaga Junho, adekmu masih bayi jadi harus kemana mana dengan mama, lagian Doyon nanti tinggal di mobil sama suster."


"Yaudah aku ikut tunggu di mobil."


"Mama bilang enggak, kamu tunggu di rumah aja."


Junho mengerucutkan bibirnya cemberut, lalu menatap Hendra yang sibuk dengan laptopnya, "Pah, bilangin mama biarin Junho ikut."


"Ikut kemana?" Jawab Hendra masih sibuk dengan pekerjaan nya.


"Jemput adek pah." Jawab Junho.


Hendra pun menghentikan aktifitasnya menatap Junho yang sedang memasang wajah kesal, "Sudah tunggu dirumah saja, biar mama mu yang jemput."


"Papah sama aja kayak mamah." Junho makin kesal.


"Kalau kamu ikut kesana adekmu akan canggung, kalau canggung disana dia bisa menunda pulang, kalau ketemu disini mau tidak mau dia akan membiasakan diri."


Junho hanya diam mendengar nasehat Hendra.


"Papa mu benar. Lebih baik kita menyambutnya disini." Tambah Diya.


"Tapi Junho ingin segera bertemu adek mah." Jawab Junho.


"Tenang saja, mamah pastikan hari ini kita akan berkumpul lagi dengan adek. Mending sekarang telfon abangmu itu, suruh dia segera pulang."


"Males banget. Biarin aja abang gak pulang. Kalau ada abang nanti Junho gak bisa dekat dengan adek." Jawab Junho.


"Kalau gitu kau tidak akan mendapatkan game baru mu." Sahut Hendra tiba-tiba dengan muka datar yang kembali sibuk dengan laptopnya.


"Papa mulai ketularan mama yaa suka ngancem."


Diya dan Hendra hanya tersenyum melihat rengekan anaknya.


####


Panti Asuhan Cempaka


Yoa dan semua penghuni panti terlihat berkumpul di ruang tamu, mereka akan mengantar kepindahan Yoa ke keluarganya. Terlihat beberapa tangisan di wajah mereka. Tentu Yoa yang paling tidak bisa menahan airmata nya. Mereka sering mengantar kepindahan penghuni panti namun kali ini dirasa paling berat, karena Yoa terkenal sangat baik dan sering membantu penghuni panti.


Yoa berada dalam pelukan Bunda, Bunda mengusap punggung Yoa lembut, "Kamu harus tetap jadi anak baik yaa sayang?"


Yoa hanya menjawab dengan mengangguk.


"Kalau kamu rindu kita datanglah kesini, kita akan selalu menerima kapanpun Yoa mau datang berkunjung." Lanjut Bunda.


Tiba-tiba sebuah mobil mewah datang, Diya keluar bersama asisten Cho lalu memasuki ruang tamu panti. Diya merasa sedih melihat Yoa menangis sesegukan.


"Lihat sayang, mama mu sudah datang." Kata Bunda yang membuat Yoa melepas pelukan dari Bunda dan menatap Diya.


"Tante Diya." Sapa Yoa.

__ADS_1


Diya tersenyum pada Yoa, "Apa kamu yakin mau pulang sekarang sayang?" Tanya Diya karena melihat Yoa seperti belum siap.


Yoa mengangguk pelan, "Yoa akan pamit dulu."


"Iyaa sayang, lakukanlah."


Yoa memeluk Bunda lagi, "Bundaa. Maafin Yoa yaa kalau Yoa sering merepotkan."


"Tidak sayang, Yoa anak baik, tidak pernah merepotkan. Ingatlah untuk belajar dengan baik yaa."


Yoa mengangguk masih dalam tangisan, Bunda meraih kedua pipi Yoa lalu mencium keningnya.


Lalu Yoa beralih memeluk Bu Dewi, "Bu Dewi. Maafin Yoa sering tidak mendengarkan Bu Dewi."


"Tapi kali ini kau mendengarkan Bu Dewi kan?" Kata Bu Dewi dengan sedikit tertawa mencoba menghibur Yoa.


"Terima kasih Bu Dewi selalu mengerti Yoa."


"Samasama sayang. Teruslah jadi anak baik dan nurut sama kedua orangtuamu yaa?"


Yoa mengangguk, Bu Dewi juga mencium kening Yoa. Kemudian Yoa memeluk istri Pak Ahmad yang sering dipanggilnya ibu. Pak Ahmad yang berada disamping istrinya membelai rambut Yoa lembut.


"Ibu, Pak Ahmad, terima kasih sudah merawat Yoa, selalu memberi Yoa makanan yang sangat enak."


"Samasama sayang. Bahagialah selalu yaa, jangan lagi bersedih." Kata istri Pak Ahmad.


"Kalau kau rindu masakan ibumu, datang lah kesini." Tambah Pak Ahmad.


Yoa mengangguk, "Pasti. Yoa akan sering datang kesini."


Terakhir Yoa memeluk teman sekamar dan teman paling dekat dengan nya di panti, "Sinta, maafkan kakak harus meninggalkan mu tidur sendiri."


"Belajarlah dengan rajin. Ingatlah untuk dapat beasiswa nya."


"Tentu saja. Aku pasti bisa melebihi kak Yoa."


Yoa sedikit tersenyum mendengar perkataan Sinta. Yoa menatap Diya yang sedari tadi sesekali mengusap airmata nya.


Yoa menghampiri Diya, "Tante."


Diya meraih pipi Yoa lalu mengusap airmatanya, "Jangan menangis lagi sayang. Mama janji akan sering mengajakmu kesini." Yoa mengangguk.


"Mari kita pulang, papa dan abangmu sudah tidak sabar melihatmu."


Diya berpamitan dengan semua penghuni panti, lalu mengajak Yoa menuju mobil. Asisten Cho di bantu sopir membawakan barang-barang Yoa kedalam mobil, Diya masuk duluan kedalam mobil duluan setelah memberi salam. Yoa berdiri sejenak disamping mobil, menatap penghuni panti yang tersenyum dalam tangis mengantar nya.


Tempat yang selama ini ku sebut rumah, aku akan sangat merindukanmu.


Yoa melambai pada semua keluarganya di panti asuhan cempaka, lalu masuk kedalam mobil, asisten Cho menutup pintu mobil. Yoa belum bisa melepaskan pandangan nya dari tempat yang selama 10 tahun ini menjadi saksi hidup nya. Hingga mobil mulai berjalan, airmata Yoa semakin deras mengalir. Mobil perlahan mulai menjauhi panti asuhan cempaka. Diya mengusap rambut anaknya yang masih saja menangis, ia tidak berani bicara apapun.


Beberapa saat mereka terdiam didalam mobil, hingga terdengar suara Doyon menangis, "Sayang kau sudah bangun?" Kata Diya mengambil Doyon dari pangkuan suster yang ada di belakangnya.


Yoa kaget karena ternyata sedari tadi ada seorang suster dan bayi di belakang. Yoa menatap Diya yang mencoba menenangkan Doyon dan memberi nya susu di botol.


Siapa bayi ini? Gumam Yoa dalam hati.


"Doyon, lihat sekarang kakak akan pulang bersama kita." Kata Diya sambil mengarahkan Doyon ke arah Yoa.


"Anak ini siapa tante?" Tanya Yoa penasaran, karena dipikirnya dia hanya punya 3 abang.


"Ini Doyon. Dia adekmu."

__ADS_1


Adek? Ahh, jadi aku juga punya adek. Berarti 2 abang dan 1 adek.


"Jadi aku juga punya adek?"


"Tentu saja. Umurnya baru 2 tahun. Mama melahirkannya sebelum bertemu denganmu."


"Ahh seperti itu. Bolehkah aku menggendongnya?"


Yoa sangat suka anak kecil, melihat Doyon yang terlihat menggemaskan membuatnya ingin menggendong.


"Tentu saja boleh sayang." Kata Diya sambil menyerahkan Doyon ke pangkuan Yoa.


"Hallo adek Doyon, nama kakak Yoa." Sapa Yoa pada Doyon yang membuat Doyon tersenyum.


"Sepertinya Doyon menyukaimu."


"Adek sangat tampan dan menggemaskan tante."


"Benarkah? Kamu juga sangat cantik. Iyaa kan Doyon? Kakak Yoa cantik kan?"


Doyon tertawa melihat Diya mengajaknya bicara. Mereka pun larut dan canda tawa, sejenak Yoa melupakan kesedihan nya berpisah dengan panti asuhan cempaka.


1 jam kemudian mobil telah memasuki perumahan mewah dengan barisan rumah rumah besar. Jalanan perumahan sangat sepi karena memang tidak sembarang orang yang bisa keluar masuk perumahan. Mobil pun memasuki salah satu dari barisan rumah mewah itu. Yoa melihat rumah itu dari balik kaca mobil. Ia melongo kagum.


Ini rumah manusia kan? Apa kerajaan? Apa aku keturunan raja? Apa aku akan jadi tuan putri? Gumam Yoa asal.


Diya pun keluar dari mobil setelah sopir membuka pintu mobil. Asisten Cho membukakan pintu untuk Yoa yang masih asyik menikmati pemandangan istana di depan nya dengan Doyon yang masih dalam pangkuan nya.


"Silahkan nona muda." Kata asisten Cho mengagetkan Yoa. Yoa hanya tersenyum lalu keluar mobil dengan menggendong Doyon.


Diya menghampiri Yoa yang masih saja asyik mengagumi rumah mewah 3 lantai yang seperti istana menurutnya. Diya memerintahkan suster untuk mengambil Doyon. Yoa menyerahkan Doyon pada suster dengan masih belum melepaskan pandangan kagum nya pada rumah yang akan jadi rumah nya juga.


Diya menggandeng tangan Yoa, "Ayo kita masuk sayang." Kata Yoa dengan senyum bahagia.


"Hah? Iyaa tante." Jawab Yoa sedikit kaget.


Mereka pun mulai berjalan melewati art yang sedari tadi sudah berbaris menyambut mereka. Dengan suster yang menggendong Doyon dan asisten Cho mengikuti di belakang.


"Selamat datang nona muda." Kata barisan art bersamaan dengan menunduk saat Diya dan Yoa melewati mereka.


Yoa hanya membalas dengan senyum canggung dan bingung, "Mereka semua siapa tante?" Tanya Yoa setelah melewati barisan art yang memakai baju yang sama alias berseragam.


Diya membalas dengan senyuman karena dipikirnya anak perempuan nya ini sangat polos, "Mereka pekerja disini sayang, mereka yang bersihin rumah."


Tiba-tiba 2 perempuan menghampiri mereka yang tak lain adalah pelayan Si dan Bibi Dian.


"Selamat datang nona muda." Sapa pelayan Si dengan menunduk. Yoa membalas dengan senyuman.


"Selamat datang nona Aeri." Sapa Bibi Dian dengan menunduk.


Aeri? Dia memanggil nama belakang ku? Gumam Yoa yang merasa aneh karena jarang mendengar ada yang memanggil dengan nama belakangnya. Yoa pun juga membalas dengan senyum.


"Ini pelayan Si, kau pernah bertemu dengan nya kan sayang?" Kata Diya sambil menunjuk pelayan Si, "Dia kepala pelayan disini yang mengatur semua pelayan, jika kau butuh sesuatu dirumah bisa katakan pada asisten Si."


"Nahh yang disampingnya ini Bibi Dian." Lanjut Diya, "Bibi Dian ini yang biasa memasak, jika kau ingin makan apapun kata kan pada Bik Dian."


"Benar nona, bibi dengar nona suka dimsum. Bibi sudah kursus membuat dimsum khusus untuk nona." Kata Bibi Dian yang terlihat sangat bahagia.


"Terima kasih bibi Dian." Jawab Yoa masih sedikit canggung.


"Kalau ini papa kamu yang paling tampan." Kata suara yang tiba-tiba muncul entah dari mana.

__ADS_1


__ADS_2