Nona Muda Jangyong

Nona Muda Jangyong
Episode 5 : Belajar Menerima


__ADS_3

"Pak Ahmad?" Ucap Yoa karena melihat Pak Ahmad seperti sedang melamun. Pak Ahmad tersadar sejenak setelah larut dari kenangan 10 tahun lalu, "tapi apa Pak?" Yoa mengulangi pertanyaan nya pada Pak Ahmad.


"Tapi, pengurus itu meninggal di dalam ambulan ketika perjalanan menuju ke rumah sakit, karena usia nya yang sudah tidak muda lagi juga." Jelas Pak Ahmad terasa berat.


Yoa sudah tidak bisa menahan airmata nya lagi, airmata nya keluar begitu deras, "Meninggal?" Ucap Yoa sangat sedih. Meskipun dia tidak bisa mengingat pengurus panti itu, tapi dia merasa orang itu pasti sangat baik, mendengar dari cerita Pak Ahmad kalau pengurus itu sangat melindunginya.


Pak Ahmad merasa sangat sedih melihat Yoa menangis, ia mengusap airmata Yoa dengan lembut, "Pengurus panti itu sempat meminta bantuan Pak Ahmad untuk membawa mu pergi."


"Pergi?" Tanya Yoa yang mulai bisa menghentikan airmatanya.


"Iyaa, Pak Ahmad tidak begitu mengerti maksudnya, ia berkata untuk membawa mu pergi dan melindungimu, karena ada orang jahat yang ingin mencelakaimu."


"Mencelakai ku?" Yoa kaget dengan cerita Pak Ahmad, "Kenapa ada yang mau mencelakai anak umur 3 tahun?" Lanjutnya.


"Pak Ahmad juga tidak paham maksudnya waktu itu, dia juga berpesan nanti orangtua kandungmu pasti akan menjemputmu suatu saat. Karena ketika itu Pak Ahmad dan istri tidak sanggup merawatmu karena kami juga baru saja mempunyai bayi kembar waktu itu, lalu kami membawa mu ke panti asuhan cempaka dimana Bu Dewi adalah teman kami dan menceritakan semua nya."


Yoa begitu serius mendengarkan, Pak Ahmad membelai punggung tangan Yoa, "Jadi nak, ini adalah waktu yang dijanji kan pengurus itu bahwa orangtua mu akan menjemputmu."


"Apa Pak Ahmad yakin mereka adalah orangtua kandungku? Bagaimana kalau mereka adalah orang yang ingin mencelakaiku dengan pura pura menjadi orangtua kandungku?" Ucap Yoa menggebu gebu dengan perasaan sedikit takut.


"Yoa, kamu tahu kan Pak Ahmad, Bu Dewi dan Bunda mu sudah melindungimu selama 10 tahun lebih, tidak mungkin kita dengan mudah melepaskan mu. Dengan alasan ini juga kami selalu setuju setiap kamu menolak adopsi."


Yoa tertegun, ia tersadar dengan ucapan Pak Ahmad yang sangat diyakini memang benar ada nya.


"Maka dari itu nak, coba lah bertemu dengan orangtua mu, lihat bukti bukti yang mereka bawa, lalu tanyakan pada hatimu apakah setelah melihat mereka kau akan mempercayai nya atau tidak." Lanjut Pak Ahmad.


Yoa hanya terdiam. Ia sangat memahami cerita Pak Ahmad, tapi ia masih terasa berat untuk menerima keluarganya. Selain karena belum melihat bukti bukti yang diucapkan Pak Ahmad, ia juga diselimuti perasaan takut tentang kejadian 5 tahun lalu.


Pak Ahmad menatap Yoa yang seperti belum mau nerima, Pak Ahmad melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 14:45, yang berarti sudah 1 jam lebih mereka mengobrol disana, karena Yoa pulang sekolah jam 1 siang.


Pak Ahmad membereskan baju, sepatu dan foto bayi itu memasukkan nya kembali kedalam kotak dan menutupnya, "Sudah hampir sore, ayo kita pulang, nanti Bunda mu nyariin."


Yoa tersadar dari lamunan nya sejenak mendengar ucapan Pak Ahmad, ia pun mengangguk pelan, lalu mengambil tas ransel yang ia letakkan dibawahnya.


"Ambil ini dan simpanlah, anggap sebagai peninggalan pengurus yang sudah menyelamatkan mu itu." Ucap Pak Ahmad sambil menyerahkan kotak yang sudah tertutup itu.

__ADS_1


Yoa melihat kotak yang berada ditangan Pak Ahmad, lalu mengambil nya, "Baik Pak Ahmad."


Pak Ahmad tersenyum mendengar jawaban Yoa. Mereka berdua pun keluar dari mcd menuju motor yang terparkir, Pak Ahmad memakai helm nya, saat hendak naik motor ia melihat Yoa yang belum mengenakan helm dan seperti sedang melamun. Pak Ahmad pun mengambil helm nya dan memakaikan nya pada Yoa, "Jangan terlalu dipikirkan, pelan pelan saja. Pak Ahmad kan hanya bilang belajar lah menerima, bukan langsung menerima."


Yoa terkaget dari lamunan nya. Lalu naik ke boncengan setelah Pak Ahmad selesai memasang kunci helm nya.


Pak Ahmad mulai menyalakan motornya, "Sudah siap?" Katanya sambil sedikit menoleh kebelakang.


Yoa meraih jaket Pak Ahmad untuk pegangan, "Pak Ahmad, Yoa akan belajar menerima seperti saran Pak Ahmad."


Pak Ahmad yang akan mulai menjalankan motor nya tersenyum lega, "Anak pintar. Sampaikan pada Bu Dewi dan Bundamu, mereka pasti akan sangat bahagia."


Yoa mengangguk patuh. Lalu Pak Ahmad melajukan motornya meninggalkan parkiran mcd menembus jalanan yang sedikit ramai.


####


Malam itu diruang televisi keluarga Jangyong. Junho bermain game di tabletnya, sedangkan Diya sedang menggambar di meja ruangan itu sambil sesekali melirik anak bungsunya yang sedang bermain dengan suster.


"Junho kamu sudah belajar?" Tanya Diya tanpa menoleh pada anaknya yang sedang asyik bermain game.


"Kamu jangan bermain game terus, kalau nilai mu turun mama tidak akan membantu mu saat dimarahi papa." Ancam Diya sambil menatap anaknya yang masih saja sibuk dengan tabletnya.


"Tenang saja mahh, nilai Junho tidak akan turun."


"Tentu saja tidak boleh turun." Ucap Hendra yang tiba tiba datang dengan diikuti seorang laki laki berumur sekitar 50 tahun, "Kalau turun gagal dia ke Paris." Lanjut Hendra lalu menghampiri istri nya dan mencium keningnya.


"Nahh, bener itu alasannya mahh." Jawab Junho melirik sebentar papa nya yang tiba tiba datang, lalu melanjutkan game nya lagi.


Hendra menghampiri Doyon dan menggendongnya, "Anak papah makin pinter yaa jalan nya sayang." Hendra menciumi anaknya.


"Tumben papah udah pulang jam segini." tanya Diya setelah melihat jam dinding yang baru menunjukkan pukul setengah 7 malam.


Hendra menghampiri Diya dengan masih menggendong Doyon, lalu duduk disamping istrinya yang masih tetap fokus dengan sketsa desain baju nya, "Cho mau menyampaikan berita bahagia." u


Ucap Hendra dengan senyum bahagia.

__ADS_1


Diya langsung menghentikan aktifitasnya, menatap suaminya sebentar lalu beralih pada laki-laki 50 tahun yang sedari tadi berdiri agak jauh di samping sofa tempatnya duduk. Junho pun terlihat tertarik, ia juga mulai menghentikan bermain game nya.


Laki-laki itu berjalan sedikit untuk lebih dekat tempat duduk Diya, kemudian dia sedikit membungkuk pada Diya, "Selamat malam nyonya." Lanjut sedikit membungkuk pada Junho "Tuan muda."


"Ada berita apa Cho?" Tanya Diya.


Asisten Cho tersenyum pada Diya, lalu melirik suster Doyon yang masih berada dalam ruangan itu, mengisyaratkan nya dengan mata agar ia pergi dari ruangan itu. Suster itu pun seolah sudah hafal, ia langsung membungkuk lalu berlalu pergi.


"Apa ini tentang adek?" Tanya Junho bersemangat.


"Benar sekali tuan muda." Jawab asisten Cho mantap.


Hendra langsung tersenyum karena ia sudah mengetahui berita itu lebih dulu. Diya langsung memfokuskan tubuh nya pada asisten Cho setelah mendengar jawaban dari pertanyaan Junho, "Benarkah ini tentang anakku?" Tanya Diya.


Junho juga tak kalah fokus, "Apa adek sudah mau pulang?"


"Kapan dia akan berencana pulang?" Tambah Diya.


"Mahh kalo gitu kita harus cepat-cepat pindah kerumah baru." Kata Junho sambil menatap Diya dengan bahagia.


Hendra terkekeh melihat anak dan istrinya begitu bersemangat, "Kalian itu dengarkan Cho bicara dulu. Lihat itu Cho sampai tidak tega mau berbicara."


Diya dan Junho langsung menatap asisten Cho yang sedang tersenyum melihat anak dan ibu yang sedang sangat bahagia, "Maaf Nyonya, tuan muda saya harus menyela."


"Iya tak apa Cho, lanjutkan." Kata Diya. Junho mengangguk tanda menyetujui ucapan Diya.


"Jadi tadi saya menerima telefon dari Bu Dewi, kalau nona muda sudah setuju untuk belajar menerima keluarga jangyong." Jelas asisten Cho.


"Belajar menerima? Berarti belum fiks mau pulang?" Tanya Junho.


"Mungkin kita harus bersabar sedikit lagi tuan muda. Nona muda ingin sedikit waktu untuk mengenal keluarganya." Jelas Asisten Cho yang membuat Junho sedikit kecewa.


Diya melihat anaknya yang terlihat kecewa menghampirinya lalu meraih kepala nya disandarkan pada pundaknya, membelai rambut Junho lembut, "Sabar sayang, pasti tidak akan lama, ini sudah sangat bagus adekmu mau belajar menerima kita. Itu arti nya dia sudah berniat akan kembali pada kita."


Dengan masih bersandar dipundak Diya, Junho sedikit mendongak menatap Diya, "Benarkah mah tidak akan lama?"

__ADS_1


Diya mengangguk mantab sambil tersenyum. Junho pun memeluk mama nya erat. Hendra yang sedari tadi hanya mendengarkan percakapan mereka juga ikut tersenyum sambil menciumi Doyon.


__ADS_2