
Sudah seminggu berlalu sejak Yoa menyetujui untuk belajar menerima keluarganya. Namun dia masih meminta waktu yang tepat untuk mau melihat bukti-bukti dan bertemu dengan keluarga nya.
Malam itu Yoa dan penghuni panti asuhan cempaka selesai menikmati makan malam, Yoa membantu membereskan piring bekas makan penghuni panti yang telah selesai makan. Ia melihat Bunda dan Bu Dewi yang akan beranjak pergi meninggalkan meja makan. Yoa segera menghampiri mereka, "Bunda, Bu Dewi" panggil Yoa.
Bunda dan Bu Dewi menoleh ke arah Yoa.
"Ada apa Yoa?" Tanya Bunda.
"Emmm itu.. Apa Yoa boleh bicara dengan Bunda dan Bu Dewi?"
Bunda dan Bu Dewi saling pandang lalu tersenyum pada Yoa, seolah mengerti apa yang akan di utarakan Yoa.
"Tentu saja sayang." Jawab Bu Dewi mantab.
"Kalau begitu Yoa bantuin kakak kakak mencuci piring dulu."
Bunda dan Bu Dewi mengangguk, Yoa pun langsung berlalu meninggalkan Bunda dan Bu Dewi.
1 jam kemudian Yoa sudah berada di ruang sekretariat duduk di tengah tengah antara Bunda dan Bu Dewi.
"Ada apa sayang?" Bunda mulai membuka suara sambil membelai rambut Yoa.
"Yoa pikir, Yoa sudah siap." Jawab Yoa.
"Benarkah?" Ucap Bu Dewi sambil memegang punggung tangan Yoa.
"Jadi kamu sudah mau menerima keluargamu?" Tambah Bunda.
Yoa melihat ekspresi Bunda dan Bu Dewi yang terlihat sangat bahagia, "Yoa sudah siap melihat bukti itu, tapi Yoa juga ingin bertemu dengan mereka saat melihat bukti itu."
Senyum Bunda dan Bu Dewi makin lebar, mereka merasa lega usaha mereka beberapa hari ini sedikit mendapatkan hasil.
"Iyaa sayang, nanti Bu Dewi atur dengan asisten mereka." jawab Bu Dewi.
Yoa hanya mengangguk dan tersenyum, Bunda dan Bu Dewi memeluk Yoa bersamaan.
####
Zovennia High School
Junho, Guan, dan Deka berjalan di koridor menuju kelas mereka. Seperti biasa banyak pasang mata memandang mereka dengan wajah berseri-seri seperti melihat pemandangan yang menyegarkan. Junho, Guan dan Deka memang terlihat sangat tampan, julukan 'Trio Pangeran Zovennia' memang sangat pantas mereka sandang.
Mereka masuk kedalam kelas lalu duduk di bangku masing-masing. Junho terlihat sangat bahagia pagi itu, Guan dan Deka menyadari itu.
"Lo habis menang lotre yaa Jun?" tanya Deka.
Junho tersenyum, "ini jauh lebih berharga dari sekedar lotre." Jawab Junho.
"Widihh, dapet game baru yaa lo?" Tanya Deka lagi.
"Dihh, game tidak ada apa apa nya?" Junho sangat yakin dengan ucapannya.
"Wahh ada apa nihh, seorang Junho dapet sesuatu yang lebih berharga dari game?" Deka makin penasaran.
Junho hanya tersenyum. Guan yang daritadi hanya diam mulai bertanya, "masalah keluarga lo yaa?"
Senyum Junho makin lebar, "Bingo!"
"Emang masalah apaan sihh?" Tanya Deka.
__ADS_1
"Rahasia. Nanti kalo udah 100% kelar baru gue ceritain." Jawab Junho.
"Jadi belum kelar?" Tanya Guan
"Hampir. Masih 70% , gak lama jadi 100%." Jawab Junho yakin.
"Ini masalah keluarga apa masalah charger sihh? Kok ada persenan nya kek ngecash gadget?" Deka bingung mendengar jawaban Junho.
Junho hanya tersenyum mendengar ucapan Deka. Guan yang melihat mood Junho yang mulai membaik dibanding beberapa hari ini ikut senang, namun karena sifat nya dingin ia hanya berekspresi datar.
####
Jam istirahat Yoa dan Yeri berjalan menuju perpustakaan, Lia dan Mina tidak ikut karena ada kegiatan ekskul mereka. Setelah sampai diperpustakaan mereka melakukan absensi fingerprint, karena sekolah mereka sangat ketat yang tidak membiarkan orang luar bisa memasuki sembarang ruangan.
"Yo, gue ke sains yaa?" Kata Yeri sambil menunjuk rak yang bertulis 'sains'.
"Oke, gue di bahasa yaa?" Jawab Yoa.
Yeri hanya mengangguk lalu mereka berpisah, Yoa ke rak bahasa sedang Yeri ke rak sains.
Yoa melihat-lihat buku di rak bahasa, mencari buku yang ia inginkan. Saat ia ingin mengambil buku secara bersamaan ada tangan lain yang akan mengambil buku itu juga yang akhirnya membuat tangan kedua nya bersentuhan. Yoa menoleh ke arah pemilik tangan, saat mengetahui pemilik tangan adalah seorang laki-laki ia segera menarik tangan nya.
"Ehh maaf." Kata Yoa pada laki-laki itu.
Laki-laki itu mengambil buku itu, lalu tersenyum pada Yoa, "Gapapa, aku yang salah. Mau buku ini?" Kata laki-laki itu sambil menyodorkan buku yang diambilnya.
"Enggak kok, ambil aja." Jawab Yoa.
"Emmm.. Kalo gitu kita gantian aja." Kata laki-laki itu.
"Yoa?" Suara Yeri yang mendekat menghentikan Yoa saat akan menjawab laki-laki itu. Yeri sudah berada di samping Yoa, "Ehh senior Allen." sapa Yeri pada laki-laki didepan Yoa dengan tersenyum.
"Tidak usah, ambil saja." Jawab Yoa.
"Kenapa? Kamu bisa baca dulu, kalau sudah selesai baru kasih ke aku." Kata Allen sedikit memaksa.
"Duluan aja, nanti kalo udah selesai kembalikan ke perpustakaan, biar gue ambil sendiri." Jawab Yoa merasa sedikit aneh karena Allen memakai kata aku kamu.
Yeri yang juga menyadari hal itu senyum senyum gak jelas pada Yoa. Yoa yang melirik Yeri merasa tidak nyaman dengan senyuman teman nya itu.
"Kalau dikembalikan ke perpustakaan bakal susah nemu nya lagi, bisa diambil murid lain." Jelas Allen.
"Emmm.. Gapapa kak, tidak begitu perlu." Jawab Yoa sambil meraih tangan Yeri "Ayo Yer, gue mau ke rak sains sebentar." Yoa menarik Yeri meninggal Allen.
Yeri menoleh sedikit ke arah Allen, "Senior Allen duluan yaa." Kata Yeri dengan tersenyum.
Allen hanya menjawab dengan tersenyum, dengan masih memandangi punggung Yoa yang sudah berlalu.
Setelah selesai mengambil beberapa buku, Yoa dan Yeri keluar dari perpustakaan menuju kelas. Sampai di kelas Mina dan Lia sudah duduk di bangku mereka sedang sibuk dengan hp masing-masing. Yoa langsung duduk di bangku sementara Yeri menghampiri Mina dan Lia.
"Guys guys tebak tadi kita habis ngobrol sama siapa di perpus?"
"Yaa mana kita tau Yer, lo pikir kita cenayang?" Jawab Mina sambil masih fokus dengan hp nya.
"Penting kahh?" Timpal Lia juga masih sibuk dengan hp nya.
"Dihh, dengerin gue." Jawab Yeri yang membuat kedua teman nya menatap nya bingung, "tadi Yoa ketemu seseorang di perpus." Kata Yeri sedikit berbisik.
Mina dan Lia terlihat mulai tertarik, "Siapa? Senior Hendry?" Tanya Lia juga berbisik sambil melirik ke arah Yoa yang terlihat tidak peduli dengan obrolan teman-teman nya, diikuti Yeri dan Mina.
__ADS_1
"Seriusan senior Hendry?" Imbuh Mina sambil menatap Yeri.
"Dihh bukan!" Jawab Yeri, "Senior Hendry mahh lewat."
"Terus siapa dong?" Tanya Mina makin penasaran.
"Dengerin gue." Jawab Yeri mengajak mereka mendekat membentuk lingkaran sambil berbisik "Senior Allen." Kata nya kemudian membuat mata kedua teman nya membulat, ketiga nya langsung menatap Yoa bersamaan.
"Beneran Yo?" Tanya Lia sedikit teriak yang membuat Yoa yang sepertinya sedang melamun tersentak kaget dan langsung menatap ketiga teman nya yang sedang menatap nya juga.
"Lo ngobrol sama senior Allen?" Imbuh Mina yang juga sedikit teriak yang membuat sebagian siswa di kelas menatap ke arah mereka.
Yeri melotot dan langsung membungkam mulut Mina dengan tangan nya, "Lo gila yaa? Gak sekalian pakek speaker?"
Mina langsung menyatukan kedua tangan nya membentuk tanda memohon, Yeri langsung melepas tangan nya dari mulut Mina, "Sorry, hihi." Kata Mina kemudian sambil meringis kecil.
"Senior Allen itu siapa?" Tanya Yoa bingung dengan tingkah ketiga teman nya.
"Lo gak tau senior Allen?" Kata ketiga teman Yoa bersamaan tanpa diberi aba aba.
Yoa menggeleng mantab, karena dia memang tidak mengenal nama itu, lebih tepatnya dia tidak begitu peduli dengan orang orang yang tidak kenal dekat.
Yeri, Mina, Lia langsung mendekat ke bangku Yoa, "Serius lo gak tau senior Allen?" Tanya Lia.
"Tapi kata Yeri tadi kalian ngobrol di perpus." Tambah Mina.
"Astaga Yoa, yang tadi kita bertemu di perpus, yang ngasih lo buku, dia itu senior Allen." Kata Yeri yang sedikit gemas dengan Yoa yang begitu mudah nya lupa.
Yoa diam sejenak seolah sedang mengingat, "Ohh siswa yang di rak sains." Kata Yoa santai.
"Astaga Yoa gimana bisa lo lupain makhluk Tuhan paling sempurna macam senior Allen." Kata Mina.
"Jangan bilang lo juga lupa kejadian lo sama senior Allen waktu MPLS?" Tanya Lia serius.
Yoa menatap Lia, lalu mengangkat kedua bahu nya, "Kayaknya." Jawab Yoa.
"Percuma ngomong tentang cowok sama Yoa, dia ngerti nya cuma belajar sama nyari duit doang." Tambah Yeri
Yoa hanya tersenyum aneh. Yeri, Mina dan Lia sedikit kecewa dan terlihat akan kembali ke bangku mereka, "Tunggu, ada yang mau gue tanyain ke kalian." Kata Yoa menghentikan teman-teman nya.
Ketiga teman nya terlihat tersenyum menatap Yoa, "Lo udah ingat kejadian MPLS?" Tanya Lia.
"Kayaknya senior Allen itu naksir sama lo Yo." Tambah Yeri.
"Iyaa bener, pasti bakal serasi banget lo sama senior Allen" Tambah Mina tidak mau kalah.
"Apaan sihh kalian, kenapa masih bahas itu. Gue bukan mau bahas itu." Jawab Yoa.
"Terus lo mau tanya apa dong?" Tanya Yeri.
"Emmm... itu.." Yoa terlihat bingung mengalihkan pandangan membuat teman teman nya saling bertukar pandang.
"Tanya aja Yo, kalau kita bisa jawab, pasti kita jawab." Kata Mina.
"Iyaa Mina bener, yang penting jangan tanyak soal sains, gue nyerah." Kata Lia sambil mengangkat kedua tangan nya tanda menyerah.
"Apalagi soal matematika, gue kabur paling duluan." Tambah Yeri yang membuat mereka berempat pun tertawa.
Lalu wajah Yoa tiba tiba serius, "Sebenarnya gue mau nanyak.." Yoa kembali diam sejenak, seakan berat mengatakan nya, "Gimana rasa nya punya mama?" Kata Yoa kemudian, membuat ketika teman nya kaget lalu saling pandang.
__ADS_1