Nona Muda Jangyong

Nona Muda Jangyong
Episode 11 : Keluarga


__ADS_3

"Om Hendra?" Kata Yoa sedikit kaget dan senang melihat sesosok pria tinggi yang hanya beberapa kali ia temui, namun memiliki kesan yang sangat baik untuk nya.


"Iyaa ini papah mu sayang." Jawab Hendra yang sudah berdiri didepan Yoa dengan senyum yang menambah ketampanan nya meskipun sudah berusia hampir kepala 5.


Papah? Ahh iyaa, om hendra suami tante Diya yang otomatis adalah papa ku. Benarkah lekaki tampan ini papahku?


"Apa kau tidak ingin memeluk papah mu?" Tanya Hendra sambil merentangkan kedua tangan nya ke depan ke arah Yoa.


Yoa tersenyum pada Hendra lalu menghampiri pria itu dan memeluknya, "Om Hendra apa kabar?" Kata Yoa dalam pelukan Hendra.


"Baik sayang. Maafkan papah yaa, sudah lama tidak mengunjungimu."


"Tidak apa apa om. Yoa mengerti, kata tante Diya, om sibuk."


Hendra memang jarang ikut istrinya menemui Yoa di panti asuhan. Dalam 2 tahun mereka hanya bertemu 3 kali.


"Dimana anak papah yang berisik sejak pagi tadi? Kenapa tidak ada suaranya?" Tanya Diya sambil clingak clinguk mencari Junho.


"Iyaa juga, dimana anak itu?" Jawab Hendra yang baru menyadari kalau Junho tidak terlihat.


"Tuan muda Junho sedang sakit perut nyonya." Jawab Bibi Dian.


Junho? Apa dia abangku?


"Astaga, apa dia makan ceker pedas lagi?" Tanya Diya pada Bibi Dian.


"Maafkan saya nyonya, tadi tuan muda memaksa." Jawab Bibi Dian.


"Anak itu benar-benar susah dikasih tau." Gerutu Diya.


Manusia yang dibicarakan pun muncul, berlari menuruni tangga dengan tergesa-gesa menghampiri kerumunan yang sedang menyambut Yoa.


"Mah mana adekku?" Teriak nya sambil berlari mendekat.


Adekku? Kenapa sangat menyenangkan mendengarnya. Gumam Yoa.


Yoa melihat seorang laki-laki tampan yang berlari mendekat seperti akan menerkam nya. Yoa sedikit takut lalu tanpa sadar bersembunyi dibelakang Diya sambil memegang lengan kiri Diya. Dan benar saja, saat melihat Yoa, Junho ingin langsung memeluknya, Diya yang menyadari Yoa takut menghentikan Junho dengan menahan sedikit dadanya dengan telapak tangan kanannya.


"Stop!" Perintah Diya.


"Apa sih mah? Aku kan pengen peluk adek." Bantah Junho.


"Kamu gak lihat adekmu ketakutan?" Jawab Diya sambil menjewer telinga Junho, membuat anak itu meringis sakit.


"Aduhh! sakit tau mahh." Kata Junho sambil melepas tangan Diya dari telinganya.


"Kamu itu kebiasaan suka buru-buru, adekmu takut itu." Kata Hendra.


Junho menatap Yoa yang sedari tadi hanya melihat dari balik punggung Diya. Lalu tersenyum sambil melambai pada Yoa, "Hallo adek, ini abang mu yang paling tampan, jangan takut yaa, abang gak gigit kok."


Semua orang yang ada dalam ruangan itu tersenyum melihat tingkah bocah tampan itu. Yoa juga tersenyum kecil sambil mengamati wajah Junho.


Dia abangku? Huuwaa sangat tampan. Kalau bertemu dijalan pasti aku langsung naksir. Dia sangat lucu.


Diya menggeser sedikit tubuhnya yang digunakan Yoa bersembunyi, "Sayang, sapa lah bocak berisik ini, dia abang mu." Kata Diya sambil melirik Junho sedikit.


Junho merentangkan tangan, tanda mintak dipeluk sambil tersenyum manis. Yoa masih ragu, ia tidak pernah memeluk laki-laki manapun selain yang dekat dan dianggap nya seperti orangtua.


"Apakah tidak apa-apa tante?" Tanya Yoa dengan polosnya seolah bertanya apakah tidak apa-apa dia memeluk lawan jenis.


"Tidak apa-apa sayang, dia abangmu. Abang kandungmu. Peluklah dia sebentar, kalau tidak dia akan berisik sepanjang hari." Jawab Diya disusul dengan tawa kecil orang-orang yang menyaksikan drama keluarga yang baru bertemu itu.


Yoa pun menatap Junho sebentar lalu berjalan sedikit ke arah Junho dan menuju pelukan Junho. Junho tersenyum bahagia. Hanya sebentar mereka berpelukan.

__ADS_1


"Adek kau sangat cantik." Kata Junho setelah melihat wajah jelas Yoa.


"Ahh, terima kasih. Abang juga sangat tampan." Jawab Yoa malu-malu.


"Terima kasih juga." Jawab Junho sambil meraih tangan kiri Yoa dan menggandengnya, "Ayok abang antar ke kamarmu."


Diya yang mendengar itu langsung mendekat dan menggandeng tangan kanan Yoa, "Tidak, biar mamah saja yang mengantar nya."


"Mamah istirahat aja, pasti capek kan? Biar Junho aja." Jawab Junho.


"Mamah gak capek. Yoa kan anak perempuan jadi biar mamah aja yang mengantar nya ke kamar."


"Apa hubungan nya sih mah? Kan Junho abangnya, jadi biar Junho aja yang nganter. Iya kan dek?" Tanya Junho pada Yoa. Yoa hanya mengangguk canggung.


"Tapi Yoa lebih dekat dengan mamah, jadi Yoa lebih nyaman bersama mamah. Iyaa kan sayang?" Yoa juga mengangguk canggung mendengar pertanyaan Diya.


"Pokoknya sama Junho aja."


"Sama mamah aja."


Yoa tersenyum melihat perdebatan ibuk dan anak itu.


Kenapa bahagia sekali rasanya diperebutkan seperti ini? Mamah abang kenapa kalian sangat menggemaskan, membuatku merasa sangat beruntung memiliki keluarga seperti kalian. Apa? Keluarga? Ahh benar, mereka memang keluarga ku.


"Mamah, Junho. Hentikan, kalian membuat Yoa bingung." Kata Hendra yang memecah lamunan Yoa yang sebenarnya sangat menikmati perdebatan ibu dan anak.


Diya dan Junho langsung menatap Yoa yang terlihat bingung. Yoa yang merasakan mendapat tatapan aneh hanya tersenyum bingung.


"Sudah biarkan pelayan Si yang mengantarnya. Si?" Kata Hendra sambil memanggil pelayan Si.


"Iyaa tuan besar." Jawab pelayan Si sedikit mendekat ke arah Hendra.


"Tidak." Kata Diya dan Junho hampir bersamaan.


"Biar mamah aja."


"Iyaa, biar mamah sama Junho aja. Ayok sayang, Junho." Kata Diya sambil menggandeng Yoa dan mengajak Junho menuju sebuah lift, menandakan berakhirnya drama perdebatan ibu dan anak.


Hendra hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat kelakuan orang orang tersayangnya.


Sampai didalam lift, Diya memencet angka 2.


"Kau bisa gunakan lift ini kalau terlalu lelah menaiki tangga. Kamar mu, kamar papa mama dan kamar abang abangmu ada di lantai 2." Jelas Diya.


Tak menunggu lama pintu lift terbuka, mereka bertiga pun keluar.


"Di lantai 3 ada tempat gym dan bioskop mini dek. Kapan-kapan kita harus nonton bareng." Kata Junho.


Yoa hanya menanggapi dengan mengangguk.


"Ada perpustakaan juga. Kau suka membaca kan?" Tambah Diya.


Lagi-lagi Yoa hanya mengangguk. Sampai mereka sampai di satu pintu berwarna merah muda yang di pintu nya terukir dengan cantik sebuah nama 'Yoa Aeri Jangyong'


Jangyong? Apa mereka menambah nama ku?


"Itu nama lahirmu sayang." Kata Diya yang menyadari kebingungan Yoa.


"Benarkah tante?"


Diya mengangguk dengan tersenyum.


Junho meraih gagang pintu, "Dek kamu udah siap melihat kamarmu? Mamah mendesain nya khusus untukmu." Kata Junho.

__ADS_1


Junho pun membuka pintu nya. Yoa hanya bisa melongo melihat kamar baru nya, kamar yang 10x kali lebih besar dari kamar nya di panti asuhan, didominasi warna merah muda dan sedikit biru langit yang merupakan dua warna favorite Yoa. Mata Yoa langsung terfokus pada sebuah rak besar, lalu berlari menghampirinya dengan mata berbinar.


"Wahh, ada album NCT, ada merchandise nya juga. Wahh lightstick juga, pc nya juga sangat banyak. Ada Lucas." Kata Yoa begitu bersemangat. Sedari tadi Yoa yang hanya canggung dan bingung sekarang berubah menjadi Yoa yang sebenarnya sangat ceria.


Ya Yoa memang sangat menyukai Kpop, terutama NCT dan Wayv. Sebelumnya Yoa hanya mempunyai sedikit album dan pc, karena ia tidak memiliki cukup uang untuk membelinya. Tapi sekarang semua barang yang ia inginkan ada begitu banyak didepan mata. Diya dan Junho tersenyum bahagia melihat Yoa yang begitu bersemangat.


"Itu semua milikmu sayang." Kata Diya.


"Benarkah tante?"


"Tentu saja benar. Apa kau menyukai nya?"


"Sangat suka tante. Terima kasih."


"Samasama sayang."


"Dek lihat lah ruangan itu." Kata Junho menunjuk satu pintu.


"Itu tempat apa?" Tanya Yoa.


Junho hanya menjawab dengan menarik lengan Yoa mengajak berjalan menuju ruangan yang ditunjuk. Setelah pintu terbuka lagi lagi Yoa dibuat melongo melihat lemari besar berjejer banyak pakaian, sepatu dan tas baru, ditambah beberapa aksesoris dan perhiasan ala anak muda seusia Yoa.


"Ini semua buat kamu dek, mamah sendiri lho yang mendesain semua baju kamu." Jelas Junho.


"Ini semua buat Yoa tante?"


"Iya dong sayang, mama mu ini kan desainer, jadi baju baju anak mamah harus yang mamah buat sendiri dong." Jawab Diya.


"Tapi apa ini tidak terlalu berlebihan tante?"


"Tentu saja tidak sayang. Kamu cukup pakai yang kamu suka dan membuatmu nyaman."


"Iyaa dek, kamu kan cantik pasti makin cantik memakai semua pakaian itu." Tambah Junho.


Yoa tersenyum, lalu menghambur ke pelukan Diya, "Makasih banyak yaa tante."


"Samasama sayang." Jawab Diya.


Junho pun ikut memeluk mama dan adeknya, "Kamu harus bahagia terus yaa dek."


Yoa hanya mengangguk, tak terasa sedikit airmata nya terjatuh, ia buru-buru menghapusnya sebelum mama dan abangnya menyadari.


Kalaupun ini hanya mimpi aku sudah sangat bahagia. Sudah merasakan rasa nya memiliki keluarga.


Malam hari nya untuk pertama kalinya Yoa makan bersama keluarga kandungnya. Yoa masih terlihat sangat canggung meskipun Hendra, Diya dan Junho menurutnya sangat ramah. Setelah selesai makan, Yoa mengangkat piringnya hendak membawanya ke dapur.


"Mau dibawa kemana dek piringnya?" Tanya Junho yang bingung melihat Yoa berdiri membawa piringnya.


"Mau Yoa cuci piringnya." Jawab Yoa dengan polos yang seketika mengundang senyum gemas semua yang ada di meja makan.


"Tidak usah sayang. Biarkan disitu saja, nanti ada pelayan yang akan mencucinya." Jelas Diya.


"Tapi kata Bunda kalau abis makan harus di cuci piringnya tante." Kata Yoa dengan masih berdiri yang lagi-lagi mengundang senyum gemas semua yang mendengarnya.


"Nanti kalau kamu cuci piring itu pelayan nya tidak punya pekerjaan. Kalau mereka gak kerja, mamah gak akan kasih gaji, kalau mereka gak dapet gaji nanti keluarga nya makan apa?" Kata Junho dengan senyum senyum menggoda Yoa.


Seketika Yoa langsung duduk kembali di kursi nya dan meletakkan kembali piringnya di tempat semula, "Iya kah tante?" Tanya Yoa pada Diya.


Hendra dan Diya cekikikan melihat Yoa mempercayai ucapan Junho, "Kamu tidak perlu melakukan apapun disini sayang. Mamah sudah punya banyak pekerja. Kalau kamu butuh apapun cukup minta tolong pada mereka, karena itu pekerjaan mereka." Jelas Diya.


Yoa menyengir malu, "Maaf tante, Yoa terbiasa begini di panti."


"Kenapa minta maaf? Tidak apa-apa mamah ngerti kok."

__ADS_1


"Nanti kamu juga akan biasa kok." Kata Hendra yang sedari tadi hanya diam dan senyum senyum.


Yoa tersenyum pada Hendra, "Iyaa om."


__ADS_2