Nona Muda Jangyong

Nona Muda Jangyong
Episode 24 : Rencana Jahat


__ADS_3

Yeri, Mina dan Lia pergi ke kantin meninggalkan Yoa dengan Nuca.


"Apa lo gak capek diam terus seperti itu?" Tanya Nuca dengan dingin.


"Maksud lo?"


"Lo kan tinggal bilang pakde Hendra itu bokap lo. Jangan bilang lo gak tau kalau pakde donatur terbesar disini."


"Pakde? Bentar deh, mending sekarang jelasin dulu lo itu siapa?"


"Kan tadi udah gue bilang, gue ini sepupu lo."


Tante Diya kan anak tunggal. Apa dia anak adiknya om Hendra? Gumam Yoa dalam hati.


"Saran gue lo segera selesaiin masalah ini. Sebelum keluarga lo terutama bang Han tau. Kalau sampai bang Han yang membereskan masalah Riska dan Bella, gue gak yakin apa mereka bisa selamat." Jelas Nuca lalu mulai berjalan meninggalkan Yoa yang mematung bingung.


Diarah lain Allen berjalan mendekati Yoa. Nuca dan Allen berhenti saat mereka perpapasan.


"Sial! Lain kali suruh panggilan alam mu itu tau waktu." Gumam Nuca seperti kesal pada Allen.


Allen hanya nyengir malu, "Sorry sorry." Allen menepuk pundak Nuca, "Thanks you."


Nuca hanya mengangguk lalu melanjutkan langkah nya menjauhi Allen. Allen pun mendekati Yoa, "Mentang-mentang abis disamperin cowok tampan gue dilupain." Celetuk Allen memasang wajah cemberut.


"Lo kenal cowok itu?" Tanya Yoa menunjuk Nuca yang tinggal terlihat punggungnya menjauh.


"Si kulkas?"


"Kulkas?"


"Cewek cewek sih manggilnya gitu. Namanya Nuca."


"Dia temen lo?"


"Kayaknya."


"Kok kayaknya."


"Gue sekelas sama dia." Allen meraih tangan Yoa, "Lo udah buang waktu belajar gue. Sekarang gue laper, temenin gue makan." Allen pun menarik Yoa mengajaknya ke kantin. Yoa dengan segala kebingungan nya pun menurut saja saat Allen mengajak nya ke kantin.


####


"Siapa sih sebenarnya anak panti itu?" Celetuk Riska yang sedang duduk di kantin memandangi Yoa dan teman teman nya serta Allen sedang bercanda gurau sambil menikmati makanan.


"Gue juga penasaran." Sahut Bella, "Kemarin Allen, sekarang Nuca yang membela nya. Dan tadi paling gila sihh, seorang Junho memeluk bahkan mencium nya." Lanjut Bella yang makin membuat Riska panas.


"Shit! Gue jadi inget, kak Guan yang tidak suka disentuh sembarang cewek pun menggandeng tangan nya." Riska menatap Yoa dengan mata seolah ingin menyerang.


"Gimana kalau gue cari tau lewat bokap gue."


Riska langsung mengarahkan pandangan ke arah Bella, "Lo bener. Kita bisa tau data-data dia dari bokap lo. Gue yakin dia itu cuma anak panti, dan yang gue denger dia itu tidak bisa di adopsi."


"Tidak bisa atau tidak mau?" Bella tersenyum jahat, "Bisa saja dia tidak mau terikat dengan keluarga, jadi dia bisa bebas mencari cowok kaya."


"Lo bener. Kenapa gue gak kepikiran."


"Lo tenang aja. Sekarang bokap gue lagi ke luar kota, mungkin senin baru balik."


"Kamu disini ternyata." Kata Hendri yang tiba-tiba datang lalu duduk kursi samping Bella, dengan ekspresi yang seperti sedang kesal.


"Sayang." Sahut Bella tersenyum sambil mengaitkan tangan nya di lengan Hendri.

__ADS_1


"Aku denger kamu abis ngancam Yoa?" Tanya Hendri yang seketika mengubah ekspresi wajah Bella menjadi kesal.


Bella menarik tangan nya dari lengan Hendri, "Yoa lagi Yoa lagi. Sebenernya pacar kamu itu Yoa apa aku sihh?"


"Aku kan sudah sering bilang, Yoa itu sudah seperti adik buatku." Jelas Hendri.


"Apa kamu pikir cewek dan cowok asing tanpa hubungan darah bisa dekat tanpa ada perasaan? Lelucon apaan itu."


"Tapi memang seperti itu kenyataan nya."


"Hah! Dan kamu pikir cewek mana yang bisa terima pacarnya perhatian sama cewek lain?"


"Harus berapa kali aku bilang, itu hanya sekedar karena dia adikku. Berhenti mengganggu Yoa." Hendri makin kesal dan mulai berdiri dari kursi, "Aku ada rapat osis, pulang sekolah tidak perlu menunggu ku." Hendri langsung pergi meninggalkan Bella dan Riska.


"Sial! Apa sih hebatnya anak panti itu sampai pacar gue pun ngebela dia." Gerutu Bella.


Riska tersenyum sinis, "Gimana kalau kita kasih dia sedikit pelajaran?"


Bella menatap Yoa tajam, "Gue ada rencana."


"Rencana apa?"


"Lo inget gak waktu ada camping sekolah? Tu anak ijin kalau dia gak bisa berada ditempat gelap."


"Iyaa gue inget."


"Nanti gue ambil kunci gudang ke kantor bokap."


Yoa masih asyik bercanda bersama Yeri, Mina, Lia, Allen tanpa menyadari ada 2 pasang mata yang memandangnya penuh amarah.


####


Disebuah rumah tua yang tetap terlihat mewah dan terawat, Eni atau ibu Hendra sedang makan malam bersama Hania dan kedua anaknya.


"Iyaa bang Junho juga bilang Aeri udah pulang." Tambah Rike.


"Apa kau yakin Hendra yang bilang sendiri?" Tanya Eni sambil masih menikmati makanan nya.


Hania gelagapan mendengar pertanyaan Eni, "Tentu saja. Memang nya siapa lagi yang akan memberitau Nia kalau bukan bang Hendra." Jawabnya dengan gugup.


"Jangan lupa. Kau termasuk dalam alasan Hendra dan Diya tidak mau membawa Aeri menemui mami."


"Maksud mami apa?"


"Apa kau ingin mami ingatkan?" Eni mulai menaikkan suara nya yang membuat Hania bergidik.


"Nuca, Rike masuk kamar." Perintah Hania pada Nuca yang terlihat tidak peduli dan Rike yang serius mendengarkan percakapan Eni dan Hania.


"Lanjutkan makan kalian." Sela Eni yang tentu saja membuat Nuca dan Rike tidak berani bergerak.


Sebenarnya Eni adalah orang yang sangat ramah dan baik. Namun sejak awal Hania berhubungan dengan anak nya Handi, Eni dan suami nya tidak menyetujui nya. Tapi karena Hania sudah hamil duluan, mereka terpaksa menikahkan nya. Hania begitu gila harta dan Eni tau itu, hanya karena Eni sangat menyayangi Nuca jadi ia masih mengijinkan Hania tinggal dirumah itu meski anaknya telah tiada.


####


Sama hal nya dengan ibu mertuanya, Diya juga sedang makan malam bersama keluarga nya tanpa Hendra yang sedang melakukan perjalanan bisnis.


"Tante, boleh Yoa nanyak?" Tanya Yoa tiba-tiba.


"Boleh dong. Memang Yoa mau nanyak apa?" Jawab Diya dengan tersenyum manis.


"Nuca itu siapa tan?"

__ADS_1


"Kamu udah ketemu Nuca dek?" Sela Junho.


Yoa hanya menjawab dengan mengangguk.


"Kapan?" Tanya Junho.


"Tadi siang setelah abang balik." Jawab Yoa.


"Nuca itu sepupu kamu sayang, keponakan nya papah." Jelas Diya.


"Apa selama ini kalian tidak saling kenal?" Tanya Hanse mulai ikut bicara.


Yoa menggeleng, "Yoa gak terlalu pandai bergaul. Jadi tidak banyak kenal siswa lain apalagi kak Nuca itu senior."


"Nuca memang tidak banyak bicara anaknya. Sekarang kamu sudah tau kalau kalian sepupu, jadi berteman lah dengan nya." Kata Diya.


"Jangan. Nuca kan cowok mahh. Adek gak boleh deket-deket sama cowok." Sela Junho.


"Astaga Junho. Nuca itu kan sepupu kalian bukan oranglain." Sahut Diya.


"Tetep aja dia cowok mah. Adek hanya boleh deket-deket sama papah, Junho dan bang Hanse."


"Kamu lama-lama mamah larang deket-deket Yoa kalau posesif kayak gitu."


Seketika Yoa dan Hanse tersenyum mendengar ancaman Diya.


"Mamah jahat banget sihh. Mamah mending bunuh Junho aja daripada nyuruh Junho jauh-jauh sama adek." Jawab Junho.


"Abang lebay banget sih." Sahut Yoa.


"Yaa gitu kalau jomblo kelamaan, nempelin Yoa mulu kerjaan nya." Ledek Hanse.


"Hey bang Han gak nyadar yaa? Bang Han itu lebih lama jomblo nya daripada aku, terlalu galak sihh mana mungkin ada cewek yang mau." Balas Junho.


"Wahh kamu ngehina abang yaa. Tanya aja sama Ferdy sudah berapa selebriti yang abang tolak."


"Alah palingan si Ferdy itu pacar abang, apa-apa dia lakuin buat abang."


"Yaa jelas dong Ferdy kan..."


"Sudah-sudah, kenapa kalian jadi berdebat." Teriak Diya menghentikan perdebatan dua anak laki-lakinya, yang seketika diam membisu.


Sementara Yoa tertawa terbahak-bahak melihat dua abangnya seperti tom and jerry.


"Mahh, malam minggu aku mau ajak Yoa ke NBS yaa?" Tanya Junho yang mulai bicara lagi.


"Gak boleh. Sabtu malam adek harus tidur, istirahat, karena hari minggu nya mau aku ajak jalan-jalan berdua." Sela Hanse.


"Harus nya istirahatnya itu hari minggu, karena senin nya sekolah." Bantah Junho.


"Yaa jalan nya kan pagi, malem nya bisa istirahat. Lagian NBS itu terlalu ramai, nanti Yoa terganggu."


"Abang gak tau yaa ada yang nama nya tempat VVIP."


"Tetep aja terlalu ramai. Yoa jalan sama abang aja dek." Hanse mulai merayu Yoa.


"Jangan mau dek, mending sama bang Junho pasti seru." Junho tak mau kalah.


Yoa hanya memasang wajah bingung mendengar abangnya tiba-tiba malah berdebat soalnya, namun tak dipungkiri ia sangat bahagia menjadi perebutan mereka.


"Kenapa bang Junho sama bang Han berdebat sih, orang harinya jelas-jelas beda. Yoa bisa pergi di hari sabtu sama bang Junho, dan pergi lagi di hari minggu sama bang Han." Jelas Yoa.

__ADS_1


"Lama-lama dua-dua nya mama larang dekat-dekat Yoa." Celetuk Diya.


"No..." Teriak Hanse dan Junho bersamaan.


__ADS_2