Nona Muda Jangyong

Nona Muda Jangyong
Episode 30 : Panti Asuhan Cempaka


__ADS_3

Yoa masih tertegun menatap bangunan di depan nya. Sudah hampir satu bulan ia tak melihat bangunan yang dulu nya ia sebut rumah.


"Bang Han terima kasih." Ucap Yoa sambil memeluk Hanse erat. Hanse hanya tersenyum sambil mengusap kepala Yoa lembut.


Mereka pun masuk ke dalam panti asuhan cempaka, diikuti para pengawal yang membawa banyak hadiah untuk para penghuni panti asuhan. Mereka disambut semua penghuni panti asuhan dengan bahagia.


"Apa kamu bahagia sayang?" Tanya Bunda pada Yoa yang sekarang sedang duduk di ruang tamu bersama Hanse, Ferdy, Bu Dewi, Pak Ahmad dan istri.


Yoa tersenyum mendengar pertanyaan Bunda, "Tentu saja Yoa bahagia. Tante Diya baik banget bikinin Yoa banyak baju, Om Hendra juga sering beliin Yoa barang-barang mewah, Bang Han sama Bang Junho juga baik banget sama Yoa, dedek Doyon juga gemesin banget." Celoteh Yoa panjang lebar yang diikuti senyum semua orang di ruangan itu.


"Ini nihh yang pak Ahmad kangen dari anak cantik, cerewetnya itu lo bikin cempaka rame." Ujar pak Ahmad.


"Yoa kangen banget deh masakan ibu."


"Tenang aja sayang, udah ibu siapin semua masakan kesukaan Yoa." Jawab istri pak Ahmad.


Mereka tak henti-henti nya bahagia melihat perubahan Yoa yang sudah mulai seperti dulu banyak tersenyum.


"Nak Han terima kasih yaa sudah nganterin Yoa maen kesini." Kata bu Dewi.


"Tidak perlu sungkan bu Dewi, ini sudah kewajiban saya. Panti ini kan juga rumah Yoa." Jawab Hanse dengan sopan.


Yoa sangat senang bisa datang ke cempaka lagi, bertemu dan bermain dengan saudara saudara nya di cempaka. Sebenarnya Yoa sangat ingin menginap, tapi mengingat besok adalah hari senin ia mengurungkan niatnya. Sekarang ia mengerti mengapa abangnya mengajaknya pergi sangat pagi, agar Yoa bisa puas seharian di cempaka.


Saat ini Yoa sedang mengobrol dan bermain dengan penghuni panti di taman belakang rumah, sedangkan Hanse sedang mengobrol serius tentang Yoa dengan Bu Dewi dan pak Ahmad di ruang sekretariat, tak ketinggalan Ferdy yang setia berada di dekat Hanse.


"Apa ada kemungkinan trauma itu membahayakan Yoa?" Tanya Hanse setelah mendengar cerita Bu Dewi dan Pak Ahmad tentang Nisa teman dekat masa kecil Yoa di cempaka.


"Sepertinya tidak selama ia tidak berada di ruangan gelap sendiri nak Han." Jelas Pak Ahmad.


"Sebenarnya beberapa bulan ini Yoa selalu menolak bertemu dokter lagi. Ia selalu bilang kalau ia tidak sakit." Tambah Bu Dewi.


Hanse diam sejenak, memikirkan perkataan Bu Dewi.


"Apa kira-kira dia mau kalau saya ajak ke psikolog, kebetulan saya punya teman psikolog yang cukup terkenal."


"Seperti nya itu ide bagus nak Han. Tapi saya pikir sepertinya Yoa tidak akan mau." Kata Bu Dewi yang sangat mengenal Yoa yang sedikit keras kepala jika perhubungan dengan kesehatan psikisnya.


"Tapi tidak ada salahnya dicoba pelan-pelan nak Han. Yang penting jangan memaksa." Tambah Pak Ahmad.


"Tentu saja saya tidak akan memaksa pak. Saya akan coba bicarakan dengan teman saya dulu." Jawab Hanse.


"Terima kasih yaa nak Han sudah sangat menjaga Yoa. Tolong lindungi dia selalu, sejujurnya saya masih sangat kwatir kalau-kalau orang yang berniat mencelakainya itu kembali berulah."


"Bu Dewi tenang aja, saya sudah perketat penjagaan Yoa tanpa dia tau. Hanya saja dia selalu protes jika ada pengawal yang mengikutinya."


"Pasti dia merasa tidak nyaman nak Han. Kalau masalah ini saya setuju kalau harus memaksa Yoa, ini demi keselamatannya."


"Betul pak Ahmad, saya akan selalu menjaganya."


####


Sementara dirumah Junho merasa bosan karena tidak ada Yoa. Ia pun masuk ke kamar Diya dan mengganggu Doyon yang sedang tidur hingga membuat Diya marah.


"Kamu itu gangguin adekmu terus kerjaannya. Kalau nangis gini gak bisa diemin." Celoteh Diya sambil menggendong Doyon.


"Abis Junho bosen mah. Bang Han sih gak ngajak-ngajak Junho."


"Kan kemarin udah ada pejanjian nya kalau hari ini waktu Yoa khusus buat Hanse."


"Ya tapi kan Junho jadi gabut gini kalau gak ada adek."


"Itu urusan kamu sendiri, maka nya cari pacar biar gak jadi jomblo kesepian yang kerjaan nya gangguin adeknya mulu."


"Dihh si mamah gimana sihh malah nyuruh anaknya pacaran bukannya belajar."


"Tanpa mamah suruh pun kamu pasti belajar, kalau enggak mana mungkin kamu bisa beli game-game gak guna kamu itu."

__ADS_1


"Itu mamah tau. Junho itu gak mau pacaran, ngabisin duit, mending buat beli game."


"Dasar pelit. Bilang aja kamu gak laku."


"Wahh mamah meragukan hasil karya sendiri. Anak seganteng Junho sekali nunjuk pasti cewek bakalan setuju jadi pacar Junho."


"Narsis banget kamu. Udah sana keluar dari kamar mamah, kamu itu gangguin Doyon tidur, mamah jadi gak bisa bikin desain."


"Kalau gitu Junho nongkrong aja yaa mah ke cafe?"


"Terserah kamu. Pokoknya jauh-jauh jangan ganggu Doyon tidur."


"Tapi bagi duit yaa.." Pinta Junho dengan senyum menyeringai.


"Duit terus kamu itu. Udah minggat dulu nanti mamah kasih."


"Mamah jahat banget sihh anak sendiri disuruh minggat."


"Bodo amat. Udah sana pergi."


"Duit mahh."


"Nanti mamah transfer Junho. Udah sana pergi."


Junho pun tersenyum penuh kemenangan, lalu mencium pipi Diya, "Thankyou so much mamah ku yang cantik." Lalu pergi keluar kamar Diya.


"Dasar bocah nakal." Gumam Diya sambil tersenyum melihat kepergian anak laki-laki nya yang menurutnya memang sangat tampan.


Junho pun menuju cafe tempat ia janjian dengan Guan, karena Deka tidak bisa ikut. Junho memasuki cafe mencari keberadaan Guan yang katanya sudah sampai lebih dulu. Kedatangan Junho mengundang semua penghuni cafe yang memang lumayan rame karena hari libur. Junho memakai setelan kaos putih dan celana jeans berwarna navy, memakai topi hitam yang menambah ketampanan nya.


"Lo gak bisa cari cafe yang rada sepian?" Gerutu Junho sambil duduk di depan Guan yang sibuk dengan hp nya.


"Lo lupa ini hari apa? Lagian tumben tumbenan hari minggu ngajak nongkrong." Jawab Guan dengan masih fokus dengan hp nya.


"Gue gabut dirumah gak ada Yoa." Jelas Junho sambil melepas topi nya dan meletakkan di meja.


"Jalan sama bang Han."


"Kemana?"


Uhukk-uhukk. Tiba-tiba Junho yang sedang minum tersedak mendengar pertanyaan Guan.


"Pelan-pelan, gue gak minta minuman lo." Kata Guan.


"Sialan! Gue kaget."


"Kaget kenapa?"


Junho tertawa melihat Guan menatap nya aneh.


"Lagian gimana gue gak kaget, lo jarang dan hampir gak pernah kepoin cewek. Ini lo kesan nya kek tertarik sama adek gue."


Guan mendadak salah tingkah mendengar penjelasan Junho.


"Gue itu kayak pernah ketemu dia pas pemotretan."


"Kan emang gue pernah bilang ke lo kalau adek gue model, jadi yaa mungkin kalian pernah paling gak sekali ketemu."


"Lo ada foto nya gak sih? Gue masih penasaran sama muka nya. Di sosmed lo udah lo delete."


"Iyaa itu disuruh bang Han. Gue gak boleh kasih tau publik dulu. Yaa lo pasti ngerti lah dunia bisnis kayak gimana."


"Iyaa paham lahh gue."


Junho pun membuka galery hp nya, yang hampir semua nya dipenuhi dengan semua foto Yoa. Gimana enggak Junho begitu menyayangi adeknya itu, bahkan kalau Yoa minta bulan pun Junho pasti akan memberi nya. Haha lebay.


"Nihh.." Junho menyerah kan hp nya pada Guan yang menunjukkan foto Yoa.

__ADS_1


Guan menerima hp Junho dan seketika senyum merekah di bibirnya melihat foto Yoa yang sedang tersenyum menggendong Doyon.


Bingo. Gue gak mungkin salah. Gumam Guan dalam hati.


Junho justru merasa takut melihat senyum Guan yang sangat jarang ia lihat itu. Junho pun merebut hp nya.


"Jangan lama-lama nanti lo ke sihir sama kecantikan adek gue."


"Gue gak salah."


"Gak salah? Maksud lo?"


"Dia orang yang sama."


"Ngomong apaan sih lo, gak ngerti gue."


Guan menatap Junho yang kebingungan dengan ucapan nya. Guan menimbang apakah harus menceritakan tentang Riska yang seperti nya sangat membenci Yoa, bahkan sampai mempengaruhi Rike. Tunggu, tunggu, Rike kan sepupu Junho, masak dia gak kenal adek Junho.


"Adek lo akhir-akhir ini baik-baik aja kan?" Tanya Guan karena ia kwatir Riska berbuat sesuatu yang buruk pada Yoa, apalagi Guan sedikit tau Riska yang akan melakukan segala cara untuk memenuhi keinginannya.


"Sumpah gue gak paham arah pembicaraan lo. Mending to the point aja deh." Kata Junho sedikit kesal, mengingat Yoa yang kemarin habis di bully hingga sakit, ia berfikir arah pembicaraan Guan seperti nya berhubungan dengan yang terjadi pada adeknya.


Guan clingak-clinguk seperti melihat keadaan apakah aman untuk membicarakan nya dengan Junho, takut-takut ada teman atau kenalan Riska disitu. Guan pun berdiri lalu membisikkan sesuatu ke telinga Junho. Cukup lama Guan membisikkan sesuatu ke Junho hingga mengubah ekspresi wajah Junho menjadi sangat kesal.


Guan pun kembali duduk setelah selesai mengatakan tentang Riska yang menuduh Yoa simpanan om om, hingga tentang Riska yang meminta bantuan Rike untuk membully Yoa.


"Sial!" Umpat Junho kesal terutama pada Riska yang kemarin ia dengar sebagai pelaku bully yang menyebabkan Yoa sakit berdasarkan informasi dari abangnya Hanse.


"Maka nya gue penasaran apa adek lo orang yang sama yang gue pikirin. Apalagi Rike itu sepupu lo."


"Keluarga besar gue emang belum semua nya tahu tentang Yoa."


"Lo harus selesaiin ini segera."


Junho diam sejenak tampak berfikir. Kemudian ia mengambil topinya lalu memakainya.


"Ikut gue kerumah, mobil lo biar dibawa pengawal gue." Kata Junho sambil berdiri dan berjalan keluar cafe, Guan hanya mengangguk dan mengikuti Junho.


Kali ini lo gak bisa mengelak bocah kecil. Sorry yaa gue menang. Ini juga demi keselamatan lo. Gumam Guan yang sedikit ada rasa senang karena ia akan bertemu Yoa dan melihat wajahnya.


Hatcuu. Tiba-tiba Yoa bersin.


"Tu kan kamu jadi flu, udah nangisnya." Kata Hanse sambil memberikan tisu. Sedari pulang dari cempaka Yoa terus menangis karena ingin menginap, tapi tidak mungkin karena besok harus sekolah.


"Kayaknya ada yang lagi ngomongin Yoa." Ucap Yoa disela sesegukan karena terlalu lama menangis.


"Maksud kamu?" Tanya Hanse bingung dengan ucapan Yoa.


"Katanya kalau kita tiba-tiba bersin ada yang lagi ngomongin kita." Jawab Yoa dengan polos.


Ferdy yang berada di bangku depan samping sopir mencoba menahan tawa nya mendengar ucapan Yoa.


Hahahaha astaga nona muda, andai tidak ada tuan Hanse pasti sekarang saya sakit perut karena tertawa terbahak-bahak. Bisa-bisa nya sepatah kalimat yang keluar dari bibir nona membuat saya sangat gemas. Gumam Ferdy sambil melirik Yoa dari kaca mobil.


"Kamu ini ada-ada aja." Kata Hanse sambil mengacak-acak rambut Yoa, "Udah jangan nangis lagi. Nanti abang kasih hadiah kalau kamu berhenti nangis."


Yoa sedikit tersenyum lalu mengusap air mata nya, "Hadiah apa? Album kpop atau tiket nonton konser?"


"Kamu mau itu?"


Yoa mengangguk, "Tapi kalau tiket konser jangan sekarang bang, kan belum liburan."


"Iyaa nanti kalau kamu liburan bang Han beliin tiket konser apapun yang kamu mau. Tapi ini hadiah nya beda."


"Emang apa hadiahnya?"


"Fer.." Hanse menyuruh Ferdy menyerahkan paperbag yang sedari tadi ia bawa pada Yoa.

__ADS_1


"Silahkan nona Yoa." Kata Ferdy sambil menyerahkan paperbag pada Yoa. Yoa menerima nya dan seketika membuatkan membulatkan mata dan membuka mulut tak percaya dengan yang ia terima.


__ADS_2