
Rumah Keluarga Jangyong
Pagi itu Diya berada di meja makan sedang menyuapi Doyon putra terakhirnya yang berusia 2 tahun. Namun ia hanya melamun dengan pandangan kosong seperti sedang memikirkan sesuatu.
Cups. Seorang pria berusia 47 tahun tiba-tiba datang dan menciup pipi nya, "Pagi.." Katanya sambil duduk di kursi makan ujung sebelah kiri Diya.
Diya kaget dan tersadar dari lamunan, "Papah? Pagi.." Lalu menatap suaminya yang sedang menyruput kopi.
"Kamu masih mikirin anak kita?" Tanya Hendra yang menyadari istrinya sedang melamun.
Diya menyerahkan mangkuk makanan Doyon kepada suster yang duduk disamping tempat makan Doyon. Lalu mengambilkan nasi ke piring suaminya.
"Mama takut dia tidak mau menerima kita pah."
"Sabarlah, semua butuh waktu, berikan dia waktu untuk mencerna keadaan."
Hendra mulai memakan makanan yang diberikan istrinya. Sambil menatap istrinya serius.
"Sampai kapan pah? Sudah 10 tahun, mama sangat ingin memeluknya."
"Bukankah selama 2 tahun ini kau telah melakukannya?"
"Tapi aku ingin dia memelukku dan memanggilku mama bukan tante. Dia juga sangat tertutup, meskipun aku sudah berusaha mendekatinya."
Hendra tersenyum mendengar ucapan istrinya yang tampak sangat gelisah itu, "Bagus dong, itu tandanya dia bisa melindungi dirinya sendiri dari orang lain."
"Mama ini bukan oranglain pah."
"Tapi dia tidak tau mah, sudah lah bersabar sedikit lagi, kita bisa bersabar selama 10 tahun, kenapa untuk beberapa hari saja kamu sangat gelisah."
"Mama hanya takut dia tidak mau menerima kita."
"Adek gak mau menerima kita mah?" Tanya Junho yang sudah rapi dengan seragam sekolah nya tiba-tiba muncul, lalu duduk di depan mama nya.
"Bukan tidak mau menerima, tapi belum siap menerima." Jawab papa menatap Junho.
"Lalu kita harus gimana pah?" Tanya Junho yang sebenarnya sangat bersemangat sejak mama nya bilang akan membawa adek nya pulang.
"Papa kan sudah bilang, beri dia waktu, papa yakin dia akan segera menerima kita."
Diya hanya berdiam dengan raut muka sedih. Junho menatap mama nya ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Diya.
"Mama tenang saja, Junho akan siap membantu kalau adek belum mau pulang. Setelah melihat Junho pasti nanti adek akan sangat bangga punya abang yang ganteng." Ucap Junho sambil mengarahkan jari telunjuk dan jempolnya dibawah dagu membentuk tanda centang, dengan senyum manis yang menambah ketampannya.
__ADS_1
Diya mulai tersenyum melihat putra kedua nya yang mencoba menghiburnya. Junho memang sangat tampan, di sekolah nya bahkan ia dijuluki 'Best Boyfriendmaterial'. Hampir tidak ada satu gadis pun yang tidak menyukai nya di sekolah. Namun tak ada satupun yang bisa menarik hatinya.
#####
Yoa dan teman teman nya sedang makan di kantin. Mina duduk di samping Yoa, Yeri dan Lia duduk didepan nya. Mereka asyik berbincang sambil makan bakso.
Hp Mina ada ditengah membuka sebuah online shop yang menjual baju baju, "Kemarin aku udah keep satu yang model ini." Tunjuk Mina pada salah satu dress berwarna merah.
"Iya bagus juga, cocok ini buat lo Mi." Jawab Yeri.
"Cariin juga dong, gue pengen beli padding bentar lagi kan musim dingin." Imbuh Lia.
"Oiyaa gue juga belum beli padding baru." Timpal Yeri.
Yeri, Mina dan Lia masih asyik melihat lihat online shop tanpa menyadari Yoa yang sedang melamun. Kemudian Lia menyadarinya lalu menyikut Yeri, Mina melihat Lia menyikut Yeri, Lia pun mengarah kan matanya ke Yoa seolah mengisyaratkan Yeri dan Mina untuk melihat Yoa yang sedang melamun.
"Yoa?" Ucap Mina pelan namun sedikit mengagetkan Yoa yang memang sedang sangat tidak fokus pada obrolan teman teman nya.
Yeri, Mina dan Lia menatap Yoa penuh tanda tanya, "Ada apa?" Tanya Yoa bingung dengan pandangan ketiga teman nya.
"Lo ada masalah?" Tanya Yeri segera menyadari sikap Yoa yang sedikit berbeda dua hari ini.
"Iyaa, gue perhatiin 2 hari ini lo sering bengong dehh Yo." Tambah Lia yang sering melihat Yoa melamun.
"Lo kan selalu cerita kalau ada masalah, jangan disimpan sendiri." Kata Mina sambil merangkul Yoa.
Yoa tersenyum pada ketiga teman yang selama ini sangat baik kepada nya.
"Gue belum siap buat cerita, nanti kalau udah waktu nya gua pasti bakal cerita ke kalian." Ucap Yoa dengan sedikit tersenyum seperti terpaksa, namun ketiga teman nya memahami itu dan membalas dengan senyum tulus.
"Iyaa kita pasti bakal siap kapanpun kalau lo mau cerita, yang penting lo jangan sedih sedih gitu." Ucap Mina semakin mengeratkan rangkulannya.
"Iyaa Yo, lo kan biasanya ceria, banyak senyum, nanti fans fans lo pada kabur loh kalau liat muka lo jadi jelek karena cemberut." Kata Lia berusaha menghibur Yoa.
"Bener kata Lia, nanti para anggota YFC pada galau liat lo sedih." Tambah Yeri.
"YFC?" Tanya Yoa bingung menatap Yeri.
Yeri, Mina dan Lia saling pandang, lalu tersenyum, "Yoa Fans Club" jawab ketiga teman nya bersamaan. Yoa tertawa melihat tingkah ketiga teman nya. Mereka pun kembali berbincang dan tertawa membuat Yoa seakan melupakan sejenak masalah yang sedang mengganggu pikirannya 2 hari ini.
Jam pulang sekolah, Yoa berdiri di depan gerbang sekolahnya. Teman teman nya sudah pulang duluan. Biasanya Yoa akan naik bis untuk pulang, tapi hari ini Pak Ahmad berjanji akan menjemputnya. Yoa berdiri sambil memainkan hp nya. Tiba-tiba dari belakang ada yang menepuk pundaknya.
"Yoa?" Seorang siswa laki laki tampan dengan tinggi sekitar 170cm berdiri disamping Yoa.
__ADS_1
Yoa menoleh ke sumber suara, "Kak Hendry?"
"Kamu nungguin siapa? Kok belum naik bis?"
"Ah itu Kak aku nunggu jemputan."
"Tumben. Kalau masih lama bareng aja yuk, aku udah dijemput tuhh." Hendry menunjuk mobil mewah berwarna putih dengan orang berbaju hitam yang berdiri disamping mobil yang tak lain adalah sopir keluarga Hendry.
"Gak usah Kak, aku udah janji sama Pak Ahmad."
"Ohh Pak Ahmad. Kamu telfon aja bilang kamu pulang bareng aku."
"Gak usah Kak, aku gak enak sama Pak Ahmad."
"Ayolah Yo. Sudah lama kita tidak ngobrol, aku ingin ngobrol dengan mu sebentar saja." ucap Hendry memelas sambil meraih tangan Yoa dengan kedua tangannya.
"Tapi Kak.." Ucapan Yoa terpotong karena Hendry mulai sedikit menariknya.
"Ayolah Yoa sebentar saja." Hendry semakin memelas, yang membuat Yoa menjadi tidak tega. Saat ingin mulai melangkahkan kaki, terdengar suara dari sebrang jalan.
"Nak Yoa?" Teriak Pak Ahmad di sebrang jalan dengan masih duduk di motor maticnya sambil melambaikan tangan ke arah Yoa.
Yoa yang melihat kedatangan Pak Ahmad tersenyum lega, ia melepaskan tangan nya dari tangan Hendry, "Maaf Kak Hendry, lain kali saja kita ngobrolnya, Pak Ahmad sudah datang." Ucap Yoa langsung berlari meninggalkan Hendry.
"Hati-hati Yo." Teriak Hendry sambil melihat punggung Yoa yang sudah tidak menoleh sedikitpun pada nya.
Yoa menghampiri Pak Ahmad, "Pak Ahmad kenapa lama sekali?" Yoa menerima helm yang di beri Pak Ahmad dan langsung duduk di belakang Pak Ahmad sambil memasang helm.
"Maaf tadi bensin nya habis dan pom bensin nya antri." Jawab Pak Ahmad sambil melihat siswa laki-laki yang masih memadang Yoa dari sebrang jalan, "itu nak Hendry kan?"
"Iyaa." jawab Yoa singkat lalu mengambil pegangan jaket Pak Ahmad bertuliskan 'Fire Fighters' yang terlihat kedodoran, "sudah ayo kita pulang."
Pak Ahmad pun menyala kan mesin motornya, mengangguk sedikit ke arah Hendry yang masih memperhatikan, Hendry membalas dengan sedikit membungkuk.
"Kalian lagi berantem?" Tanya Pak Ahmad disepanjang jalan sambil fokus mengemudi motornya.
"Siapa?" Jawab Yoa singkat sambil melihat-lihat jalanan yang mereka lewati.
"Kamu dan nak Hendry. Biasanya kalian sangat akrab, tadi terlihat sangat canggung."
"Biasa saja. Cepatlah Pak Ahmad, Yoa sudah lapar."
Pak Ahmad melihat ekspresi Yoa dari spion yang seperti tidak senang dengan obrolan tentang Hendry, "Baiklahh, akan Pak Ahmad belikan makanan kesukaanmu."
__ADS_1
Yoa hanya tersenyum senang dengan jawaban Pak Ahmad dengan tetap masih melihat jalanan.