Nona Muda Jangyong

Nona Muda Jangyong
Episode 20 : Bintang


__ADS_3

Perusahaan Jangyong


Hendra sedang berbicara dengan Hania yang tak lain adalah adik iparnya atau istri dari almarhum adik Hendra. Namun hubungan mereka tak begitu akur, karena Hania begitu serakah dengan harta. Hania mempunyai 2 orang anak kandung laki-laki, dan 1 anak angkat perempuan. Anak laki-laki pertama nya berusia 27 tahun bernama Rehan, sudah menikah dan tinggal di luar negeri, anak laki-laki kedua nya berusia 15 tahun bernama Nuca, sedang anak perempuan nya berusia 16 tahun bernama Rike.


"Kalau keponakan ku sudah kembali kenapa gak bang Hendra kenalin ke publik." Celetuk Hania dengan senyum sinis.


Sementara Hendra sibuk dengan berkas di tangan nya, "Tidak perlu. Lagian Aeri juga gak butuh itu." Jawab Hendra tanpa mengalihkan pandangan dari berkasnya.


"Apa bang Hendra sama Diya yakin kalau itu benar-benar Aeri? Jangan karena kepepet.."


"Aku dan Diya sangat yakin." Sela Hendra dengan cepat, "Atau kau meragukan kemampuan Ferdy?" Lanjut Hendra sambil menatap Hania, yang seketika membuat wanita itu merasa sedikit takut, bukan karena tatapan Hendra, tapi karena sebuah nama yang baru saja disebutkan oleh Hendra.


"Ferdy kan juga manusia. Pasti bisa melakukan kesalahan." Bantah Hania.


"Kalau begitu apa kau mau mencoba kemampuan Ferdy?"


"Maksud bang Hendra?" Kata Hania gelagapan.


"Apa aku perlu jelaskan maksudku?"


Hania langsung berdiri dari duduknya, "Tidak perlu. Kalau gitu aku akan lanjut bekerja." Lalu mulai berjalan menuju pintu keluar.


"Jangan berani macam-macam." Seketika langkah Hania terhenti. "Kali ini Hanse yang melindungi nya, kau tau sendiri sekali Hanse bicara apa yang akan Ferdy lakukan." Ancam Hendra yang seketika membuat Hania merinding takut dan melengos pergi keluar ruangan Hendra.


Sepeninggalan Hania, asisten Cho memasuki ruangan Hendra.


"Apa ada yang perlu saya lakukan tuan?" Tanya Asisten dengan sedikit membungkuk.


"Tidak perlu repot-repot Cho. Hanse sudah memasang tembok tinggi dengan Ferdy. Cukup awasi hal-hal kecil."


"Baik tuan."


####


Sepulang sekolah sopir menjemput Yoa terlebih dahulu karena jam pulang Yoa lebih awal dari Junho. Yoa berada didalam mobil menunggu Junho didepan sekolah Junho.


"Sekolah bang Junho bagus banget." Gumam Yoa sambil melihat dari balik kaca mobil. Tiba-tiba hp Yoa bergetar tanda ada panggilan masuk yang ternyata dari Junho.


"iyaa bang?"


"Kamu udah dimana?" Tanya Junho disebrang telfon


"Di depan sekolah bang Junho."


"Oh yaudah tungguin."


Panggilan pun terputus. Yoa kembali memandangi sekolah Junho. Dan melihat Junho berjalan hendak menuju mobil.


Siapa yaa cewek itu? Kok bang Junho kayak kesel gitu muka nya. Gumam Yoa saat melihat Junho tiba-tiba dihentikan oleh seorang siswi cantik, tapi Junho terlihat menarik tangan nya kasar saat siswi itu bergelayutan di lengan nya.


"Ngapain sih lo? Gue buru-buru." Bentak Junho pada siswi itu.


"Bang Junho galak banget sih. Aku kan cuma nanyak." Kata siswi itu.


"Nanyak apaan? Cepetan." Jawab Junho kesal.


"Kata mamah, Aeri pulang yaa? Kenalin ke Rike dong." Kata siswi yang ternyata bernama Rike itu dengan semangat.


Junho seketika membulatkan mata mendengar ucapan Rike, "Gak perlu. Nanti aja kalau mamah ngajak kerumah oma."


"Kapan bang?"


"Yaa gak tau, tanyak aja mamah." Kata Junho langsung pergi meninggalkan Rike dan tak peduli teriak nya lagi.


"Bang Junhooo.. Rike kan belum selesai ngomong." Teriak Rike.

__ADS_1


Junho pun masuk kedalam mobil setelah sopir membukakan pintu untuknya.


"Sorry, kelamaan yaa?" Kata Junho saat ia sudah masuk dan mulai memasang seatbelt.


"Gak kok bang. Tadi itu siapa bang?"


"Siapa?"


"Yang ngobrol sama bang Junho di gerbang."


"Rike."


"Pacar bang Junho yaa?"


"Bukan. Abang gak punya pacar."


"Terus?"


"Dia itu sepupu kita."


"Sepupu? Kok gak abang kenalin ke aku."


"Gak perlu. Memangnya mamah gak cerita soal keluarga kita ke kamu?"


Yoa tampak berfikir sejenak, "Yang aku tau keluarga kita ada tante Diya yang anak tunggal dan nenek kakek sudah meninggal, om Hendra masih ada oma dan adik om udah meninggal, terus bang Hanse bang Junho sama dedek Doyon." Jelas Yoa.


"Kamu gak nanyak ke mamah?"


"Kata tante Diya aku boleh nanyak apa aja. Tapi aku sedikit takut bang."


"Takut kenapa?"


"Kata Pak Ahmad, dulu ada orang jahat yang mau nyelakain aku, jadinya aku belum siap dengar ceritanya."


Yoa mengangguk dan tersenyum manis pada Junho yang kemudian mengusap lembut puncak kepala Yoa.


Malam hari Yoa terbaring di ranjang kamarnya termenung sambil menatap langit-langit kamarnya, ia masih memikirkan ucapan Junho. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya. Tok tok


"Sayang boleh mamah masuk?" Suara dari luar pintu.


"Iyaa tante masuk saja tidak dikunci." Sahut Yoa.


Diya pun membuka pintu lalu masuk menghampiri Yoa yang sudah duduk di ranjang, "Apa kamu sudah makan?" Tanya Yoa sambil duduk di samping Yoa.


"Sudah tante. Tante baru pulang?"


"Sudah 1 jam yang lalu. Apa kamu sibuk sekarang? Mamah mau mengajakmu ke suatu tempat."


"Tidak. Kalau gitu Yoa ganti baju dulu." Kata Yoa akan beranjak tapi Diya menghentikan dengan menyentuh punggung tangan nya.


"Untuk apa ganti baju? Kita cuma mau ke atap rumah kok." Jelas Diya sambil tersenyum.


"Ke atap rumah?"


Diya hanya mengangguk lalu mulai menggandeng lengan Yoa keluar kamar lalu menaiki lift menuju atap. Lalu Diya membuka pintu sebuah ruangan seperti kamar. Ruangan itu gelap dan membuat Yoa langsung menggenggam erat lengan Diya karena Yoa memang takut gelap.


"Jangan takut, ada mamah." Kata Diya sambil menyentuh tangan Yoa yang mengerat di lengannya.


Diya pun mengajak Yoa masuk lebih dalam, ada banyak lazy bag didalam nya, "Duduk lah disini." Kata Diya menyuruh Yoa duduk di salah satu lazy bag tapi ia tidak mau melepaskan lengan Diya. Diya hanya tersenyum melihat anaknya yang semakin mengeratkan tangannya sambil juga duduk di lazy bag dekat Yoa. Diya merebahkan dirinya, Yoa juga mengikuti.


"Lihat lahh ke atas." Perintah Diya, Yoa pun mengikuti dan langsung mengarahkan pandangan diatasnya yang seketika membuat mata nya terbelalak.


"Wahh, indah sekali." Gumam Yoa.


"Cuaca nya sedang cerah, apa kamu suka?" Tanya Diya.

__ADS_1


"Suka.." Jawab Yoa dengan masih terperangah dengan pemandangan bintang-bintang bertaburan dari balik atap kaca.


Sejenak hening tercipta diantara mereka. Diya memiringkan badan kearah Yoa, memandangi wajah anak perempuan nya yang terlihat sangat cantik. Diya tersenyum bahagia, "Aeri.." Kata Diya memecah keheningan.


Yoa menoleh kearah Diya yang sedang asyik memandangnya, Diya tersenyum lalu menyibak rambut Yoa ke belakang telinga.


"Aeri itu nama pemberian kakek dan opa." Jelas Diya yang seketika membuat Yoa memiringkan tubuhnya ke arah Diya karena merasa Diya ingin menceritakan sesuatu.


"Apa mereka sangat menyukai ku tante?" Tanya Yoa.


"Tentu saja. Kakek dan nenek sangat menyukai mu karena mamah anak tunggal jadi mereka sangat senang saat bayi perempuan lahir setelah 2 abangmu."


"Kalau opa tante?"


"Opa?" Kata Diya tersenyum sendu lalu membalikkan badan nya telentang menghadap langit.


"Tentu saja opa sangat menyukaimu juga." Kata suara yang tiba-tiba muncul.


Diya dan Yoa langsung menoleh ke sumber suara, "Om Hendra?" Kata Yoa.


Hendra berjalan mendekat, lalu mencium kening Diya, "Tumben balik luar negerinya cepet." Tanya Diya.


"Iyaa, udah kangen sama anak cantik ini." Jawab Hendra sambil beralih mencium kening Yoa, lalu ikut merebahkan diri lazy bag samping Yoa.


Mereka bertiga telentang, sejenak terdiam menatap bintang-bintang yang bertaburan. Hingga Hendra mulai bicara.


"Opa itu tidak suka punya keturunan perempuan, kata nya mengurus anak perempuan itu berat, tidak bisa dipukul tidak bisa dimarahi. Tapi sejak kamu lahir, opa sangat menyukai mu, bahkan sering berebut dengan kakek untuk mengurusmu." Hendra bercerita dengan membayangkan kejadian itu.


"Kenapa opa bisa tiba-tiba menyukai ku om?" Tanya Yoa masih dengan menatap bintang-bintang.


Hendra tersenyum, "Karena kamu lahir ditanggal yang sama dengan hari ulang tahun opa."


Yoa langsung menoleh ke arah Hendra, "Benarkah?"


Hendra mengangguk dan tersenyum ke arah Yoa. Diya kembali memiringkan tubuhnya ke arah Yoa, "Kau tau, kakek sangat cemburu karena itu, sampai-sampai kakek mengubah nama perusahaan nya dengan nama mu."


Seketika Yoa terbelalak dan langsung menoleh ke arah Diya yang sedang menatapnya, "Serius tan?"


Diya tertawa kecil mengingat kekonyolan Ayahnya lalu mengangguk mantab ke arah Yoa.


"Tapi Yoa tidak pernah tau nama perusahaan yang sama dengan nama Yoa." Kata Yoa.


"Aeri World. Perusahaan AW. Apa kamu benar-benar tidak tau?" Tanya Diya.


"Bisa jungkir balik abangmu kalau sampai ada yang tidak tau perusahaan nya." Celetuk Hendra dengan tertawa kecil.


Yoa tampak berfikir, seperti tidak asing mendengar nama itu, "Yoa ingat." Kata Yoa tiba-tiba, "Waktu itu Yoa pernah dapat hadiah karena nama Yoa ada Aeri nya."


"Nahh waktu itu, pertama kali Ferdy menemukan mu." Jelas Diya.


"Perusahaan itu sekarang diurus abangmu." Kata Hendra.


"Bang Han hebat yaa om, masih muda tapi sudah bisa mengelola perusahaan sebesar itu." Kata Yoa.


"Kamu benar. Dia memang sangat hebat. Apalagi perihal anak cantik ini." Diya mengusap rambut Yoa, "Pasti bang Han akan lakukan apapun."


Hendra tiba-tiba memeluk Yoa, Diya pun mengikuti memeluk, yang membuang Yoa tersenyum.


"Apapun yang terjadi nanti, apapun yang akan kamu ketahui dan lakukan nanti, janji yaa jangan tinggalin papa dan mama." Kata Hendra yang membuat Yoa sedikit bingung tapi ia tak begitu memikirkan nya.


"Mama dan papa tidak akan sanggup kalau harus jauh darimu lagi." Tambah Diya dengan sendu.


"Yoa tidak akan kemana-mana lagi, Yoa kan sudah disini. Ini keluarga Yoa, teman hidup Yoa selama nya." Kata Yoa yang membuat Hendra dan Diya tersenyum dan semakin mengeratkan pelukan mereka.


Selama ini aku selalu iri melihat teman-teman ku punya orangtua. Ku pikir aku tidak akan pernah merasakan punya orangtua seumur hidupku. Apa aku terlalu serakah jika aku ingin seperti ini selamanya? Mama papa, rasanya aku ingin memanggil kalian tapi aku bingung bagaimana memulainya. Sebanyak bintang-bintang itu, aku ingin menyayangi kalian. Gumam Yoa yang kemudian ia terlelap dalam tidurnya. Hendra dan Diya tersenyum melihat Yoa tertidur dengan damai.

__ADS_1


__ADS_2