
Yoa terbangun tengah malam, dilihatnya Diya yang masih memeluknya, menengok ke belakang Diya, Junho yang terlelap memeluk Diya dari belakang. Sementara Hanse meringkuk disisi kanan nya, mata panda nya terlihat jelas.
Maaf kan Yoa membuat kalian susah. Yoa bahagia bisa memiliki keluarga seperti kalian. Jika boleh serakah Yoa ingin sekali seumur hidup seperti ini. Gumam Yoa dalam hati, hingga ia terlelap kembali dengan sangat nyaman.
Ia berusaha melupakan kejadian buruk yang menimpa nya, dengan tidak menceritakan pada keluarganya. Ia tidak ingin membuat mereka dilanda rasa cemas.
Sabtu pagi yang cerah pun datang. Perlahan Yoa membuka mata nya. Diya, Hanse, dan Junho sudah tidak terlihat di kamar nya. Hanya ada seorang pelayan yang duduk di samping ranjangnya. Pelayan itu sontak berdiri melihat Yoa yang sudah membuka mata.
"Selamat pagi nona muda, anda sudah bangun." Sapa pelayan itu sambil membungkuk.
Yoa hanya tersenyum lalu mengangguk kecil sambil berusaha bangun, pelayan itu membantu nya bersandar di ujung ranjang.
"Apa nona merasakan sakit?"
Yoa menggeleng, "Mamah, bang Junho dan bang Han kemana?"
"Nyonya sedang mengurus tuan muda Doyon. Sedang tuan muda Junho dan tuan muda Han sedang bermain basket di halaman rumah."
Yoa hanya menaik turun kan kepala nya mendengar jawaban pelayan.
"Apa nona muda butuh sesuatu?"
"Aku pengen mandi mbak. Badan ku rasa nya lengket."
"Baik nona. Akan saya siapkan air hangat nya."
"Terima kasih mbak."
"Samasama nona."
Pelayan itu pun masuk ke dalam kamar mandi dan menyiap kan air hangat untuk Yoa. Ia juga menyiapkan pakaian untuk Yoa. Pelayan itu menunggu di depan kamar mandi saat Yoa mandi, Yoa menolak saat pelayan itu membantu nya mandi, ia ingin mandi sendiri. Setelah selesai mandi, Yoa memakan sarapan nya dengan masih ditemani pelayan itu. Yoa mengajak nya makan juga, walaupun awal nya menolak tapi pelayan itu pun mau karena Yoa memaksa dan berkata kalau ia tidak bisa makan sendiri.
"Mbak aku pengen lihat bang Junho sama bang Hanse main basket." Kata Yoa setelah meminum obat yang diberikan pelayan.
"Baik nona muda, akan saya ambilkan sweater dulu, udara diluar sedang dingin."
Yoa hanya mengangguk.
Junho dan Hanse sedang bermain basket berdua. Mereka saling melempar dan merebut bola basket. Yoa pun mendekat bersama pelayan di sampingnya. Junho yang melihat Yoa datang pun menghentikan bolanya.
"Kok kamu keluar dek, udara nya lagi dingin." Kata Junho sambil menghampiri Yoa.
Yoa tersenyum, "Yoa bosan di kamar, pengen keluar."
Junho menyentuh kening Yoa dengan telapak tangan nya.
"Masih panas?" Tanya Hanse yang juga mendekat.
"Udah mendingan. Duduk dek." Kata Junho menyuruh Yoa duduk di kursi dipinggir lapangan. Junho dan Hanse memilih duduk di lantai lapangan sambil meminum air putih dari botol.
"Kamu udah makan?" Tanya Hanse pada Yoa.
"Udah bang."
"Minum obat?"
"Udah juga. Yoa pengen jalan-jalan bang."
"Jangan. Udara nya sedang dingin." Jawab Hanse.
"Iyaa, lebih baik kamu istirahat aja dikamar dek." Tambah Junho yang seketika membuat Yoa memasang wajah cemberut.
"Memangnya kamu mau kemana?" Tanya Hanse.
"Kemana aja, yang penting jalan-jalan." Jawab Yoa.
"Bagaimana kalau nanti malam saja, ikut abang ke NBS?" Bujuk Junho.
"Iyaa." Jawab Yoa mantab, dengan wajah sumringah.
"Gak." Sela Hanse, "Kamu masih sakit."
__ADS_1
"Udah sembuh bang." Bantah Yoa.
"Tenang saja bang, pasti Junho jagain adek." Tambah Junho
Hanse diam sejenak, menatap Junho dan Yoa bergantian.
"Yaudah, tapi besok juga harus keluar sama bang Han yaa?" Jelas Hanse yg seketika membuat senyum Yoa merekah. Junho juga gak kalah senang, karena akhirnya ia bisa jalan berdua dengan adeknya kesayangannya.
####
Malam pun tiba. Malam minggu yg sudah dinanti-nanti banyak anak muda. Jalanan tampak mulai macet dipenuhi kendaraan. Cafe cafe dan mall mall pun tampak ramai manusia yang berlalu lalang, termasuk di salah satu cafe paling hits yang tiap malam minggu mengadakan acara NBS (nongkrong bareng selebgram). Banyak selebgram yang berkumpul dan saling colab untuk online bareng.
Yoa dan Junho pun sudah sampai di cafe acara NBS. Mereka turun dari mobil mewah, pengawal yang biasa nya hanya 2 kini menjadi 4 dengan 1 perempuan dan 3 laki-laki. Tentu saja semua itu diatur oleh Hanse dan Yoa pun tidak bisa menolak, karena ia juga masih merasakan sedikit takut dengan kejadian di sekolahnya.
Yoa tampak cantik dengan dress motif bunga selutut. Sedang Junho dengan hoodie maroon dan celana hitam.
Saat hendak masuk ke dalam cafe Yoa melihat Riska bersama dengan 2 perempuan masuk ke dalam cafe. Seketika Yoa menghentikan langkahnya.
"Ada apa nona?" Tanya pengawal perempuan disamping Yoa.
Junho yang baru menyadari Yoa berhenti pun menghampiri nya, "Ada apa dek?"
"Bang Junho boleh Yoa pakek masker?" Tanya Yoa.
"Kenapa? Kamu ngerasa ada yang gak enak?" Junho tampak kwatir karena Yoa seperti sedikit ketakutan.
Yoa menggeleng, "Yoa hanya tidak nyaman kalau nanti ada yang melihat."
Junho pun mengangguk menyetujui permintaan Yoa, karena ia juga merasa belum saatnya orang luar banyak yang tau tentang adek perempuannya. Yoa pun sudah memakai masker yang diambilkan pengawal dari mobil.
Junho mengedarkan pandangan mencari 2 teman nya sambil menggandeng Yoa. Yoa pun clingak clinguk bukan karena mencari seseorang, tapi karena memperhatikan orang-orang yang sedari tadi memperhatikan nya. Bagaimana tidak, untuk pertama kalinya seorang Junho Jangyong menggandeng tangan seorang perempuan.
"Bang.." Bisik Yoa sambil menarik narik lengan hoodie Junho.
"Ada apa dek?" Jawab Junho tanpa menatap Yoa, karena masih fokus mencari teman-temannya.
"Yoa mau ke toilet bentar yaa?"
Yoa menggelengkan kepala, lalu meraih lengan pengawal wanita, "Biar dianter mbak Gina aja." Yaa nama pengawal itu adalah Gina.
Junho pun mengangguk. Yoa pun pergi ke toilet dengan Gina. Sebenarnya ia tidak merasa ingin ke toilet, itu hanya alasan karena ia merasa tidak nyaman dengan pandangan orang-orang.
Sementara Yoa ke toilet, Junho menuju tempat VVIP yang disana sudah ada Deka sedang asyik bermain game.
"Guan mana?" Tanya Junho sambil duduk di sofa depan Deka yang dibatasi sebuah meja.
Deka melihat Junho sekilas, lalu kembali fokus dengan game nya, "Tauk. Kena macet kali."
Junho pun tak menanggapi nya lagi dan mulai membuka hp nya. Deka pun selesai dengan game nya.
"Adek lo mana? Katanya lo ajak." Tanya Deka.
"Gue sembunyiin, bahaya kalau deket-deket playboy kayak lo."
"Dihh, gue itu cowok baik-baik kali."
"Baik dari Hongkong."
Sementara Junho dan Deka asyik berdebat, Yoa sedang berdiam diri di dalam salah satu bilik toilet paling pojok, ia duduk di closet yang ia tutup, dan Gina menunggunya di dekat pintu masuk toilet. Tiba-tiba Riska dan Rike masuk ke dalam toilet dan langsung menuju kaca lalu mulai mengaplikasi kan beberapa make up. Lalu Yoa pun keluar dari toilet dan terkejut melihat Riska dari pantulan kaca, Yoa buru-buru membenarkan masker yang tadi sempat ditarik sedikit ke bawah dagu, tapi terlambat Riska sudah sempat melihat nya dari pantulan kaca juga.
"Ngapain lo disini anak panti?" Celetuk Riska yang membuat Gina hendak bergerak namun Yoa menggeleng kan kepala mengisyaratkan untuk tetap diam.
"Ohh ini cewek matrek yang lo ceritain itu Ris?" Timpal Rike dengan ketus.
Yoa hanya diam lalu mencuci tangan nya di wastafel.
"Jangan bilang lo kesini mau cari mangsa yaa?" Kata Riska yang membuat Gina mulai mengepalkan tangan nya geram.
Yoa hanya menanggai nya dengan tersenyum kecut, lalu mengambil tisu dan mengelap tangan nya.
"Seperti nya senior Riska peduli banget yaa sama hidup gue." Jawab Yoa berusaha ramah.
__ADS_1
"Cihh, najis banget gue peduli sama anak panti kek lo." Bentak Riska.
"Dari cara ngomong lo aja udah kurang ajar kayak gitu. Lo tu gak pantes disini, ngapain sihh disini." Tambah Rike.
"Kakak cantik, ini kan tempat umum, lagian gak ada larangan kok kalau anak panti seperti gue gak boleh masuk kesini." Kata Yoa pada Rike.
Yoa pun mulai melangkahkan kaki nya hendak keluar melewati Riska dan Rike.
BRUK!
"Nona muda.." Teriak Gina langsung menghampiri Yoa yang jatuh tersungkur dilantai. Siapa lagi kalau bukan si Riska pelakunya. Berbeda dengan Riska yang tersenyum bahagia, Rike justru menatap Yoa dan Gina heran.
"Nona tidak apa-apa?" Tanya Gina sambil membantu Yoa berdiri. Yoa hanya menggeleng menahan sakit di kaki nya yang sepertinya sedikit terkilir.
"****** lo! Maka nya jangan macem-macem sama gue." Celetuk Riska.
Gina pun makin geram, ia hendak menghampiri Riska namun tangan nya ditahan Yoa.
"Jangan.." Bisik Yoa pelan yang hanya bisa didengar Gina.
"Tapi nona.." Bantah Gina yang hanya dibalas gelengan kepala Yoa.
Riska pun keluar toilet diikuti Rike.
"Ris, lo yakin dia cuma anak panti?" Tanya Rike.
"Yakin lah, lo gak liat muka nya kampungan gitu."
"Sebenernya gue perhatiin dia gak kampungan banget kok. Dan lo lihat gak perempuan tadi manggil dia nona muda."
"Alah, palingan itu bodyguard yang dikasih sama om om yang pelihara dia."
Rike hanya diam tidak menanggapi jawaban Riska lagi. Ia mencoba mengingat-ingat, karena menurutnya wajah Gina seperti tidak asing. Bagaimana tidak, Gina adalah bodyguard perempuan terhandal yang dimiliki Hanse, yang terkadang juga ditugaskan mengawal Diya.
Gina menggandeng lengan Yoa yang berjalan sedikit pincang menghampiri Junho yang sedang asyik mabar game bersama Deka.
"Inget yaa jangan cerita apa-apa ke bang Junho." Kata Yoa mengingatkan Gina.
Ya Yoa telah mengancam Gina untuk tidak melaporkan apapun. Dan Gina terpaksa menyetujui nya karena Yoa bilang akan mogok makan kalau sampai Gina melapor. Yoa sedikit banyak mulai tahu kalau keluarga nya pasti akan berbuat sesuatu jika ada yang mengancam keselamatan nya, dilihat dari keluarganya yang tidak bertanya tentang luka di tangan nya, padahal mereka jelas tahu luka itu bekas terinjak sepatu.
Junho langsung meletakkan hp nya sembarangan begitu melihat Yoa berjalan pincang menghampirinya.
"Kaki kamu kenapa?" Tanya Junho sambil membantu Yoa duduk.
"Gapapa kok bang. Tadi Yoa gak sengajaa terpeleset."
Junho langsung melirik Gina yang berdiri disamping Yoa. Gina hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi.
"Sakit gak?"
"Enggak bang. Tenang aja, nanti sampek rumah diurut pasti langsung sembuh kok."
"Ehem.." Deka yang sedari tadi hanya memperhatikan Junho dan Yoa mulai berdehem.
Junho pun menatap Deka yang tersenyum lebar padanya, "Ngapain lo senyum-senyum gak jelas."
"Kenalin dong." Rayu Deka.
"Teman nya bang Junho?" Tanya Yoa pada Junho.
Junho mengangguk, "Kenalin nama nya Deka, kamu harus hati-hati, dia playboy cap kadal."
Yoa menarik masker yang sedari tadi dipakai nya sedikit kebawah lalu tersenyum sambil mengulurkan tangan, "Halo kak, kenalin gue Yoa."
Deka pun menerima uluran tangan Yoa, "Halo, gue Deka temen Junho paling ganteng."
Junho menarik tangan Yoa yang sedang bersalaman dengan Deka, "Gak usah lama-lama."
"Abang ipar galak banget sih." Goda Deka.
"Mau mati lo." Celetuk Junho yang membuat Yoa senyum-senyum karena melihat abangnya yang sangat posesif.
__ADS_1
"Sorry telat." Ucap seorang laki-laki tinggi tampan memakai hoodie coklat yang tiba-tiba datang.