
Zovennia High School
Siang itu di sekolah paling bergengsi di kota X. Sekolah tempat anak anak orang kaya dan bergengsi. Walaupun terkenal sebagai sekolah kalangan orang atas, tapi tak sedikit siswa pintar yang menerima beasiswa karena prestasi nya bisa bersekolah di Zovennia. Yaa, Zovennia sangat ketat dengan nilai siswa mereka, agar sebanding dengan biaya besar yang mereka terima tiap tahun nya.
Di lapangan basket sekolah itu, Junho duduk di pinggir lapangan sambil memainkan pelan bola basketnya. Ia melamun, masih memikirkan obrolan dengan mama papa nya di meja makan tadi pagi. Walaupun tidak begitu ingat kenangan tentang adek nya, tapi ia sangat bersemangat untuk bisa bertemu dengan adek yang selalu mama nya ceritakan setiap membuka album foto keluarga.
Dua orang laki-laki yang tidak kalah tampan dari Junho menghampirinya dengan keringat yang mengucur sehabis bermain basket. Mereka langsung duduk di samping dan depan Junho.
"Lo kenapa bro dari tadi pagi badmood gitu?" Ucap siswa yang duduk di samping Junho sambil membuka botol minum.
Junho masih sibuk memutar mutar bola basketnya, "Iyaa lagi badmood parah gue."
"Masalah cewek yaa?" Ucap siswa yang bertanya tadi dengan ekpresi sedikit usil.
Junho menoleh ke teman yang disampingnya itu lalu melempar bola nya tiba-tiba, teman nya dengan sigap menerima, "cewek mulu pikiran lo."
"Cihh! Kan gue normal, gak kayak lo berdua, liat cewek malah pada takut. Hahaha." Ucap teman Junho mengejek kedua teman nya sambil tertawa.
"Sialan lo!" Ucap teman Junho satunya sambil menendang pelan orang yang mengejeknya.
Junho hanya diam tidak menanggapi teman nya, pandangan nya kosong kedepan terus terpikir wajah mama nya yang ketika melihat rumah baru mereka sangat bahagia, tapi pagi ini terlihat sangat sedih.
"Kalau ada masalah lo cerita aja" kata teman Junho yang didepan nya.
"Iyaa Jun, jangan disimpan sendiri, nanti stroke lo." Imbuh teman Junho yang terlihat menyebalkan.
"Sialan! Lo doain gue penyakitan." Jawab Junho yang membuat temen nya itu cekikikan, sementara teman satu nya terlihat sangat datar dan dingin.
"Ada sedikit masalah keluarga, pagi ini nyokap gue kelihatan sedih banget, gue gak tega lihatnya." Lanjut Junho yang mulai bercerita.
__ADS_1
"Bokap lo mau kawin lagi yaa?" Celetuk teman Junho yang sangat tidak bisa serius.
Junho melotot pada temen nya itu, "Gue gorok lo yaa ngomong sekali lagi." Ancam Junho mulai sedikit marah, namun dia sangat tau teman nya itu memang selalu senang bercanda.
"Oke, oke ampunn hehehe." Jawab teman nya itu sambil menyatukan kedua tangan tanda minta maaf, membuat teman Junho yang jarang bicara menggeleng gelengkan kepala. "Makanya lo cerita dong." Lanjut teman Junho.
"Nanti aja. Gue bingung mau mulai cerita darimana, cerita nya panjang." Jawab Junho.
"Iyaa kapanpun lo siap, cerita aja." Imbuh teman Junho yang daritadi hanya diam.
"Iyaa Jun, kalau sekarang jangan cerita dulu, karena gue udah laper." Kata teman Junho yang tetap bercanda sambil tersenyum.
Junho mulai berdiri, "kalian makan aja, gue gak mood." Kata Junho mulai berjalan meninggalkan kedua teman nya.
"Ayolah Jun, nanti para cewek tidak semangat makan kalau geng lelaki tampan tidak lengkap." Teriak teman Junho yang melihat Junho mulai menjauh pergi, tapi Junho tak menanggapi nya. Teman Junho satunya juga mulai berdiri karena mulai kesal melihat tingkah teman nya yang selalu tidak bisa serius.
"Woy Guan, lo jangan tinggalin gue juga." Teriak nya sambil sedikit berlari mengikuti teman nya yang juga meninggalkan nya.
####
Mcd Kota X
Yoa terlihat menikmati makanan yang dibelikan Pak Ahmad. Pak Ahmad hanya memandangnya sambil sesekali menyruput milo ice pesanannya.
"Pak Ahmad yakin tidak makan?" Tanya Yoa menghentikan makan nya sejenak.
"Tidak, kau makan lah yang banyak." Kata Pak Ahmad sambil menyuapi satu kentang goreng, "Kata Bu Dewi kau tidak makan dengan benar beberapa hari ini."
Yoa mengangguk sambil tersenyum lalu melanjutkan memakan burger di tangan nya, sambil sesekali menyruput milo ice nya. Yoa memang sangat menyukai makanan mcd, tapi dia tidak bisa sering memakannya, karena ia harus menabung. Pak Ahmad terlihat sibuk dengan tablet nya, melihat beberapa data. Pak Ahmad adalah mantan pemadam kebakaran, sejak pensiun 5 tahun lalu ia dan istrinya membuka usaha catring makanan sambil sesekali membantu di panti asuhan.
__ADS_1
Yoa kembali setelah mencuci tangan nya di tempat cuci tangan, "Pak Ahmad, Yoa sudah selesai makan." Yoa kembali duduk di kursinya depan Pak Ahmad.
Pak Ahmad tersenyum menatap Yoa lalu mematikan tabletnya dan memasukkannya kembali kedalam tas, lalu mengambil sebuah kotak dan meletakkan nya didepan Yoa.
Yoa menatap bingung ke arah Pak Ahmad, "ini apa Pak Ahmad?" Kata Yoa sambil mulai memegang kotak itu.
"Bukalah, itu yang akan menjawab semua pertanyaan yang sedang kau pikirkan." Jawab Pak Ahmad yang semakin membuat Yoa bingung.
Yoa mulai membuka kotak itu, ada baju untuk anak yang kira-kira berumur dibawah 5 tahun, sebuah sepatu kecil, kedua barang itu terlihat lusuh menghitam seperti bekas terbakar. Yoa mengamati barang barang itu, lalu ia melihat sebuah foto anak kecil yang sama dengan foto-foto masa kecil nya selama di panti asuhan cempaka, "ini Yoa kan Pak?" Tanya Yoa sambil menatap foto itu lalu menatap Pak Ahmad.
Pak Ahmad mengangguk, "iyaa itu foto masa kecilmu nak."
Yoa mengamati foto itu lagi, terfokus pada background foto itu yang diambil di sebuah plang, "Panti asuhan santa? Ini dimana Pak? Apa dulu cempaka bernama santa?"
"Bukan nak, itu panti asuhan lama mu?" Jelas Pak Ahmad yang membuat Yoa sedikit kaget, karena setau nya ia sudah di cempaka sejak kecil.
"Jadi Yoa pernah di panti asuhan lain? Kenapa tidak ada yang menceritakan pada Yoa?" Tanya Yoa semakin penasaran.
Pak Ahmad menghela nafas, lalu menghembuskan nya pelan, "Maka dari itu Pak Ahmad disini untuk menceritakan nya padamu nak. Dan ini akan berhubungan dengan keluarga mu."
Deg. Jantung Yoa berdetak kencang mendengar kata 'keluargamu'. Ia menatap serius ke arah Pak Ahmad seolah siap mendengar apapun.
"10 tahun lalu terjadi kebakaran di panti asuhan santa." Ucap Pak Ahmad memulai ceritanya, Yoa terlihat sangat serius dan sedikit tegang, takut jika cerita itu akan menyakitinya.
"Kebetulan hari itu Pak Ahmad sedang bertugas, jadi Pak Ahmad ada di lokasi. Kebakaran itu sangat besar, bahkan hanya sedikit penghuni panti yang selamat. Tapi syukurlah kamu yang waktu itu masih berusia 3 tahun berhasil selamat berkat salah satu pengurus panti yang medekapmu erat dalam selimut."
Yoa semakin tegang dan menahan airmata sekuat tenaga nya, karena ia tak ingin melihat Pak Ahmad berat bercerita jika melihat nya menangis.
"Pengurus itu menyerahkan mu pada Pak Ahmad, dia terus menangis dengan terbatuk batuk karena terlalu banyak menghirup asap dan memohon untuk menyelamatkan mu, Pak Ahmad berhasil membawa mu dan pengurus itu keluar dari api, tapi..." Ucapan Pak Ahmad terhenti, yang membuat Yoa gelisah.
__ADS_1
"Tapi apa pak?" Tanya Yoa yang merasakan seluruh tubuh nya sejenak terasa sangat dingin.
Pak Ahmad menatap Yoa dengan ekpresi yang sangat sedih. Kejadian itu kembali tergambar diingatan nya, tapi ia tak bisa berbuat banyak saat itu. Sekarang pun ia masih sedikit ragu apakah memang benar ini saat yang tepat Yoa mengetahui nya.