Nona Muda Jangyong

Nona Muda Jangyong
Episode 16 : Dijodohkan


__ADS_3

Malam itu Hendra dan keluarganya sedang makan malam. Yoa sedang bermain bersama Doyon karena sudah selesai makan, sementara Junho asyik dengan game di tablet nya. Hendra dan Diya masih makan sambil menatap Yoa yang tampak lebih ceria dan banyak bicara dibanding pertama datang. Mereka mengira akan sangat susah mendekati Yoa, ternyata tidak.


"Yoa.." Panggil Hendra pada Yoa.


"Iyaa om." Jawab Yoa dengan masih bermain dengan Doyon.


"Gimana sekolah kamu?" Tanya Hendra.


"Baik om." Yoa hanya menjawab singkat karena sibuk dengan Doyon.


"Gak ada yang ganggu kamu kan?"


Pertanyaan Hendra seketika membuat Junho menghentikan bermain game nya, Yoa juga mendadak membeku menerima tatapan Hendra, Diya dan Junho. Junho memang menceritakan curhatan Yoa pada Hendra dan Diya.


Yoa melotot menatap Junho, merasa kesal padahal Junho sudah berjanji tidak mengatakan apa-apa pada Hendra dan Diya. Junho yang merasa ditatap menutup wajahnya dengan tabletnya.


"Yoa sayang?" Panggil Diya pada Yoa.


"Iyaa tan.." Jawab Yoa.


"Jadi bener ada yang ganggu kamu disekolah?" Tanya Diya.


Yoa terdiam, bingung harus menjawab apa.


"Kamu bilang aja gak usah takut, papah cuma tanyak aja kok." Kata Hendra.


"Cuma salah paham kok om, udah selesai juga. Sekarang udah gak ada yang berani ganggu Yoa." Kata Yoa sedikit berbohong.


"Bener?" Tanya Hendra meyakinkan.


"Beneran om. Pasti bang Junho yaa yang bilang ke om?" Tanya Yoa yang seketika membuat Junho kelagapan dan langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Bang Junho mau kabur yaa?" Kata Yoa sambil menunjuk Junho.


"Pah mah Junho ke kamar dulu yaa." Kata Junho sambil langsung berlari menuju tangga.


Tidak mau tinggal diam Yoa juga langsung berdiri mengejar Junho, "Bang Junho berhenti gak?"


"Ampun dek, abang gak niat ngadu kok." Kata Junho dengan masih berlari dan mulai menaiki tangga.


"Junho Yoa sudah mamah bilang jangan berlarian di tangga." Teriak Diya yang melihat anak anaknya sudah berlari menaiki tangga.


Hendra hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat tingkah kedua anaknya nya yang beberapa hari ini meramaikan rumah.


####


Jumat sore yang besoknya hari libur sekolah. Yoa bermain di kamar Junho, sekarang Yoa sudah menghilangkan semua rasa canggungnya pada Junho bahkan ia merasa lebih dekat dengan Junho dibanding Hendra dan Diya, karena memang Hendra dan Diya sering sibuk bekerja, seperti beberapa hari kedepan Hendra akan melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri.


Seperti biasa Junho sibuk dengan game yang sekarang menggunakan laptop di kamarnya, sedang Yoa rebahan di ranjang Junho sibuk chat group dengan teman teman nya membahas Allen.


Yeri : jangan-jangan senior Allen beneran marah sama lo


Yoa : lo jangan nakut-nakutin gue deh


Mina : berarti senior Allen sengaja ngumpet dari lo, makanya susah ditemuin


Lia : kenapa gak mintak kontak nya ke temen-temen nya aja sih


Mina : bener tu Lia atau kalau gak lewat sosmed aja, gue follow sosmednya


Yoa : masak minta maaf lewat sosmed sih?


Yeri : jangan, gak sopan


Lia : yaudah nunggu senin aja


Mina : iya pas itu, senin pagi biasanya anak-anak basket pada latihan

__ADS_1


Yoa : apa hubungan nya?


Yeri : senior Allen anak basket


Mina : senior Allen anak basket


Lia : senior Allen anak basket


Yoa tersenyum melihat balasan chat teman-teman nya yang kompak bisa sama persis dalam waktu bersamaan.


"Bang." Panggil Yoa yang memulai percakapan karena sedari tadi hanya terdengar suara keyboard Junho.


"Hmm.." Jawab Junho dengan masih fokus pada layar laptopnya.


"Caranya biar gampang dimaafin gimana?"


"Kasih hadiah aja."


"Hadiah? Hadiah buat cowok apa yaa?"


"Kasih aja sepatu atau jaket."


"Sepatu? Jaket? Tapi gak tau ukuran nya."


"Kalau gitu jam tangan aja."


"Jam tangan?"


Junho tiba-tiba menghentikan game nya setelah menyadari Yoa menyebut kata cowok. Junho langsung memutar kursinya yang sedari tadi membelakangi Yoa.


"Kamu punya pacar?" Tanya Junho sedikit teriak.


"Pacar?" Yoa bingung dengan pertanyaan Junho yang menurutnya aneh.


"Iyaa kamu tadi bilang mau ngasih hadiah cowok kan?"


"Bohong. Coba lihat hp kamu, abang mau lihat siapa cowok yang coba deketin kamu." Kata Junho mulai berdiri mendekati Yoa.


"Dihh dibilangin bukan pacar aku kok."


"Yaudah kalau gitu siniin hp nya abang mau lihat." Kata Junho sambil menengadahkan telapak tangan kanan nya.


Gawat. Yeri, Mina sama Lia kan sering ngomongin bang Junho di group chat. Aku juga sering kirimin mereka foto bang Junho hasil paparaziku. Kalau bang Junho tau bisa ngamuk.


Yoa reflek mendekap hp nya di dada, "Gak mau, ini kan privasi bang." Kata Yoa sedikit gugup.


"Tu kan kamu mencurigakan gugup gitu."


"Siapa yang gugup, enggak kok."


"Biasa nya kalau orang lagi gugup tu pasti nyembunyiin masalah. Siniin hp nya."


"Gak mau." Yoa mulai beranjak dari ranjang bersiap kabur, "ini kan hp ku." Yoa pun langsung tancap gas keluar kamar Junho.


Junho yang melihat Yoa kabur tentu saja tidak tinggal diam langsung berlari mengejar, "Yoa kamu nakal yaa, berhenti gak?"


Yoa yang sudah lari duluan menuruni tangga hampir sampai di lantai bawah,"Bang Junho yang nakal." Teriak Yoa dari bawah.


"Yoa Junho kalian susah sekali dibilangin jangan lari-larian ditangga." Teriak Diya yang tiba-tiba muncul dari arah dapur.


Yoa menoleh ke arah Diya, "Tante pegangin bang Junho." Kata Yoa lalu bergegas lari keluar rumah.


"Junho berhenti, jangan mengejar adekmu lagi." Perintah Diya sambil menahan lengan Junho.


Junho berhenti sejenak menatap Diya, "Mah, adek tu yang nakal, Junho pinjem hp gak dibolehin."


"Kamu kan ada hp sendiri, ngapain pinjem hp adekmu?"

__ADS_1


"Duhh, Junho itu cuma mau lihat chat adek mah, nanti kalau ada cowok yang manfaatin dia gimana?"


"Hah? Cowok? Yoa punya pacar?"


"Maka nya itu Junho mau cek. Udah lepasin yaa?" Kata Junho melepaskan tangan Diya dari lengan nya dan langsung pergi mencari Yoa ke luar rumah.


Sementara Diya masih terdiam, "Yoa punya pacar? Dia kan masih kecil. Gak boleh gak boleh." Gumam Diya lalu mulai mengikuti Junho keluar rumah mencari Yoa.


Sementara Yoa sudah menemukan tempat persembunyian yang menurutnya aman, dibalik salah satu pot besar yang berjejer sepanjang pintu masuk gerbang utama. Yoa duduk dibalik pot itu sambil mengatur nafasnya.


Yoa mulai clingak-clinguk melihat situasi dan keberadaan Junho, "Huft! Untung bisa kabur, susah emang yaa kalau punya abang macem cenayang gitu, kenapa tiba-tiba mau cek hp sihh? Kalau bang Junho tau chat itu, haduhh bisa ****** aku." Gumam Yoa.


"Emang chat apaan?" Kata seseorang yang tiba-tiba menyaut dari samping Yoa.


"Group chat teman-teman ku." Jawab Yoa dengan masih clingak clinguk tidak menyadari kedatangan orang disampingnya.


"Ohh cuma chat teman. Bukan pacar kan?"


"Bukan lah, mana mungkin ak..." Kata Yoa sambil menoleh ke arah orang disampingnya, "Kamu siapa?" Kata Yoa yang baru menyadari ada orang di samping nya.


Orang itu tersenyum, lalu mengulurkan tangan, "Hallo adek kecil, kenalkan nama ku Hanse."


Yoa hanya menatap orang itu dan membuat nya terdiam. Ini manusia bukan yaa? Kok ganteng banget, aku kira bang Junho satu satu nya laki-laki ganteng yang pernah aku lihat secara langsung, ini lebih ganteng lagi dari bang Junho.


Hanse melambaikan lambaikan tangan didepan wajah Yoa yang terlihat melamun, "Hallo adek kecil?"


Yoa tersadar dari lamunannya, "ehh, iyaa om?"


"Om?" Hanse mengeryitkan dahinya, "Usia kita cuma beda 10 tahun."


"Iyaa kah? Tapi om seperti seumuran om Hendra, apa om mau mencari om Hendra? Atau tante Diya?"


Hanse mulai memasang wajah sedikit kesal, "Adek kecil, siapa bilang aku kesini mau mencari om sama tante mu, aku mau mencari mu tauk."


"Mereka bukan om sama tante ku, mereka mamah papahku tauk. Dan untuk apa om mencariku, apa kita saling kenal?"


Hanse tersenyum mendengar jawaban Yoa, "Ohh jadi mereka mamah mertua dan papah mertua?"


"Hah? Mamah mertua? Papah mertua? Maksud om?"


"Iyaa aku ini calon mantu mereka. Kamu Yoa kan? Calon istri ku?" Kata Hanse diselingi senyum jahil.


Seketika Yoa berdiri mendengar ucapan Hanse seolah tidak peduli lagi kalau kalau Junho menemukan nya, "Calon istri? Om gila yaa? Aku ini kan masih kecil."


Hanse juga ikut berdiri yang membuat Yoa mulai mendongak saat melihatnya karena Hanse begitu tinggi,"Gak masalah, aku bisa menunggu. 5 tahun lagi kan usiamu 18 dan usia ku 28 jadi tidak masalah lah. Kita ini dijodohkan jadi kamu gak bisa nolak."


Yoa menggeleng-gelengkan kepala tanda tidak percaya, "Dijodohkan? Gak gak, gak mungkin."


Om ini emang ganteng sihh, tapi masak aku nikah sama om om, gak mau gak mau. Gumam Yoa dalam hati.


"Apa nya yang tidak mungkin?" Kata Hanse dengan masih tersenyum jahil merasa gemas dengan tingkah Yoa.


"Biar aku tanya tante Diya, aku gak percaya orang asing seperti om." Kata Yoa yang langsung berlari kembali ke arah rumah.


"Hey adek kecil aku bukan orang asing." Teriak Hanse yang kemudian ia tertawa terbahak bahak lalu juga mulai berjalan mengikuti Yoa.


Yoa menghampiri Diya dan Junho yang sedang clingak clinguk mencari nya.


"Tante, tante Diya?" Kata Diya menghambur ke tubuh Diya.


"Nahh, ini anak nakal nya, siniin hp nya." Kata Junho.


Yoa langsung mendekap hp nya, "Bang Junho diem dulu dehh. Tante.."


"Ehh bener-bener yaa ni anak." Sela Junho.


"Junho." Kata Diya menyuruh Junho diam, "Ada apa sayang?" Lanjut Diya mendekap Yoa dalam pelukan nya.

__ADS_1


"Tante, Yoa gak mau di jodohkan."


__ADS_2