
Perusahaan Jangyong
Seorang wanita sedang berdiri menatap keluar jendela kaca, melihat pemandangan keramaian kota dari lantai 10 ruangan nya. Wanita itu terlihat sangat elegan dengan setelan pakaian kantornya yang terlihat sangat mahal. Beberapa kali ia menyruput kopi di tangan kanan nya. Tiba-tiba ia menoleh ketika mendengar suara hp yang ada di atas meja nya berbunyi. Ia pun meletakkan kopi nya lalu mengambil hp itu. Tertera di layar "Mr. Memanggil."
Tanpa ragu ia langsung menggeser tanda hijau, "Gimana?" Tanyanya setelah mengangkat panggilan itu.
"Gadis kecil itu akan kembali." Suara di sebrang telefon.
Ekspresi wanita itu berubah menjadi seperti sangat marah, "Bodoh, bagaimana mungkin?"
"Aku juga tidak yakin apa itu benar dia."
"Apa saja yang kau lakukan selama ini, kenapa bisa kecolongan?"
"Cho bekerjasama dengan Ferdy, kau tau sendiri aku tidak sanggup melawan Ferdy."
"Kurang ajar! Si tua itu masih saja menyebalkan. Kenapa juga kau takut dengan bocah ingusan seperti Ferdy."
Wanita itu sangat kesal, ia langsung mematikan telefon nya, lalu menjatuhkan tubuh nya di kursi kerja nya, "Sial!" Umpatnya yang terlihat sangat marah. Di meja kerja nya ada bertulisan sebuah nama "Direktur Hania Jangyong"
####
Sore itu Yoa berdiam di kamarnya. Sejak pertemuan nya dengan anak kecil di taman pagi itu ia terus saja memikirkan hal yang tidak-tidak.
Bagaimana kalau tante Diya akan pergi juga seperti mama anak itu? Aku pasti akan sangat menyesal belum merasakan rasa nya punya mama. Tapi bagaimana aku bisa meninggalkan cempaka, aku belum siap berpisah dengan tempat ini.
Sinta yang sedari tadi juga ada di kamar sedang belajar bermaksud meminta bantuan Yoa, "Kak Yoa tolong bantu Sinta mengerjakan soal ini."
Yoa yang memang sedang melamun tidak mendengar apalagi menyahut permintaan Sinta. Sinta mengulangi memanggil lagi sambil menoleh ke arah Yoa, "Kak Yoa?"
Yoa masih belum menjawab, Sinta pun mendekat lalu menggoyang-goyangkan tubuh Yoa, "Kak Yoa gapapa?"
Yoa pun tersadar dari lamunannya, "Hah? Apa Sin?"
"Kak Yoa melamun?"
"Enggak kok."
"Daritadi Sinta panggil gak nyaut."
"Iyaa kah? Maaf."
"Kak Yoa masih mikirin adopsi?"
"Sinta, apa kakak boleh tanya?"
"Boleh, mau tanya apa kak?"
"Emmm itu.." Yoa terasa berat bertanya, karena menurutnya ini hal sensitif bagi Sinta, "Maaf yaa kalau Kak Yoa menyinggung perasaan Sinta, kalau Sinta gak mau jawab gapapa."
"Kakak belum bertanya kenapa malah minta maaf. Udah tanya aja, kalo Sinta bisa jawab pasti Sinta jawab."
"Baiklah. Apa Sinta rindu dengan orangtua Sinta?"
Sinta tersenyum mendengar pertanyaan Yoa. Sinta sudah menebak kalau Yoa sedang memikirkan soal adopsi. Sinta memang sangat dewasa dibanding usia nya, kedua orangtua nya meninggal 1 tahun lalu dan karena ia tidak suka ikut keluarga lain, ia memilih tinggal di panti asuhan.
"Tentu saja rindu kak. Tapi Sinta bisa pergi ke makam mereka kalau rindu."
Yoa menatap Sinta yang sangat tegar, "Maafin kakak yaa?"
"Kakak ini minta maaf terus daritadi. Gapapa kok kak. Kalau kakak memang sudah siap punya keluarga pergi lah, tidak semua anak beruntung bisa punya kesempatan bertemu orangtua, apalagi sebaik tante Diya."
Yoa tertegun mendengar perkataan Sinta, ia langsung memeluk Sinta.
__ADS_1
Sinta benar, banyak yang lebih tidak beruntung dibanding diriku. Mungkin memang ini saatnya aku berpisah dengan cempaka. Kupikir masih ada 4 atau 5 tahun lagi aku harus meninggal cempaka, tak ku sangka harus secepat ini.
"Sinta, kakak sudah memutuskan akan pergi."
"Iyaa. Sinta senang mendengarnya. Tapi kakak harus tetap datang berkunjung ketika ada waktu yaa."
"Pasti. Kalau gitu, kakak ke Bu Dewi dulu yaa."
"Iyaa kak. Pergilah."
Yoa pun keluar dari kamar menuju ruang sekretariat.
Tok tok
"Iyaa?" Suara Bu Dewi dari dalam menjawab.
"Bu Dewi, Yoa ingin bicara, apakah Bu Dewi sibuk?"
"Masuklah sayang."
Yoa pun membuka pintu setelah mendapatkan ijin. Didalam ruangan ada Bu Dewi dan juga Bunda yang sedang sibuk dengan beberapa berkas, Yoa langsung duduk di depan mereka.
"Ada apa Yoa?" Tanya Bu Dewi.
"Emmm itu.." Yoa menatap Bu Dewi dan Bunda ragu-ragu, "Yoa akan pindah."
Bu Dewi dan Bunda langsung tersenyum mendengar ucapan Yoa.
"Benarkah?" Tanya Bu Dewi.
Yoa mengangguk pelan.
"Kau yakin?" Tanya Bunda yang mulai ikut bicara.
"Tapi.." Kata Yoa yang kemudian menunduk terdiam, ia ingin segera berkumpul dengan keluarganya, tapi ia juga belum siap berpisah dengan keluarga nya di panti asuhan cempaka.
Yoa masih terdiam, belum bisa berkata apapun.
"Jangan terburu-buru, Bu Diya kan sudah bilang tidak harus segera pindah, kapanpun kamu siap saja." Jelas Bunda.
Tante Diya. Mendengar nama nya membuatku semakin ingin segera bertemu dengan nya. Bagaimana jika aku kehilangan kesempatan memanggilnya mama?
Airmata Yoa tiba tiba terjatuh, ia terus mengingat anak kecil di taman ditambah perkataan Sinta. Bunda yang melihat Yoa menangis pun menghampiri nya, lalu membelai rambut Yoa lembut.
"Jangan menangis. Kamu tau kan Bu Diya itu sangat baik, beliau tidak akan memaksamu sayang." Kata Bunda.
"Benar. Tidak perlu memaksa, seperti katamu waktu itu, kamu belajar pelan-pelan." Tambah Bu Dewi.
"Tidak.." Yoa mulai mengangkat wajahnya kembali, "Yoa tidak mau lama-lama, Yoa ingin segera bertemu keluarga Yoa."
Bu Dewi dan Bunda tersenyum, ternyata Yoa sudah menerima keluarganya.
"Tapi Yoa belum siap berpisah dari keluarga cempaka." Lanjut Yoa terasa berat.
"Siapa bilang Yoa akan berpisah dengan cempaka?" Tanya Bu Dewi.
"Kalau Yoa pindah, Yoa tidak bisa bersama kalian lagi."
"Yoa, kamu sekarang hanya bertambah keluarga, bukan berpisah sayang." Jelas Bu Dewi.
"Bu Dewi benar sayang. Kita tidak berpisah, Yoa masih bisa tiap hari kesini, Bunda yakin Bu Diya akan mengizin kan nya." Tambah Bunda.
"Benarkah?" Tanya Yoa.
__ADS_1
"Tentu saja sayang." Jawab Bunda.
"Kamu tahu sendiri kan Bu Diya juga sering berkunjung kesini. Tentu nanti beliau juga akan mengajakmu sering kesini." Tambah Bu Dewi.
"Iyaa Bu Dewi benar, nanti Yoa pasti akan sering kesini." Kata Yoa.
"Kalau begitu telfon lahh mama mu, sampaikan berita bahagia ini sendiri. Pasti beliau akan sangat bahagia." Kata Bu Dewi.
Yoa mengangguk patuh sambil mengeluarkan hp dari saku celana nya, "Tapi Yoa tidak punya nomer hp Tante Diya."
Bu Dewi membuka hp nya dan menunjukkan sebuah nomor yang ada di daftar kontaknya dengan nama 'Bu Diya' , "ini catatlah."
Yoa pun mengetik kontak Bu Diya di hp nya, lalu memencet tombol 'call'. Tidak menunggu beberapa lama langsung terhubung.
"Hallo, ini Yoa kan?" Jawab suara disebrang begitu bersemangat.
"Iyaa, ini Yoa tante. Tante Diya kok bisa tau Yoa yang menelefon?" Tanya Yoa bingung karena belum sempat bicara Diya sudah tau kalau ia yang menelefon.
"Tentu saja tau sayang. Mama sudah lama menyimpan kontak mu, tapi tidak berani menghubungimu."
Mama? Jadi begini rasanya bertelfon dengan mama. Aku sering melihat teman-teman ku melakukan ini, hati ku terasa hangat.
"Ahh benarkah? Apa tante sedang sibuk? Apa Yoa mengganggu?"
"Tentu saja tidak sayang. Ada apa? Apa ada yang kamu butuhkan? Katakan pada mama, akan mama penuhi."
"Tidak tante, Yoa hanya ingin bilang kalau Yoa akan pindah besok, apa tante bisa menjemput Yoa?"
Bunda dan Bu Dewi kaget mendengar kata besok. Mereka pikir masih butuh 2 atau 3 hari lagi untuk Yoa mau pindah, mereka tidak menyangka kalau secepat itu, mereka pun tersenyum bahagia.
Diya tidak kalah bahagia, sampai tidak bisa berkata kata, hingga ia diam beberapa saat.
"Tante? Tante bisa mendengar Yoa kan?"
"Ahh iya sayang, mama dengar kok" suara Diya sedikit serak seperti sedang menangis.
"Kenapa suara tante aneh, apa tante menangis?"
"Tidak. Mama tidak menangis sayang. Mama hanya sedang bahagia. Baiklah, besok mama akan menjemputmu."
"Iyaa tante, akan Yoa tunggu. Oiya tante, apa Yoa boleh meninggalkan sebagian barang Yoa disini?"
"Tentu boleh sayang. Nanti kamu akan sering berkunjung ke cempaka. Tinggalkan sebagian pakaian mu, mama akan buatkan pakaian untukmu."
"Jadi Yoa boleh sering kembali ke cempaka?"
"Harus dong sayang. Cempaka kan juga rumahmu, sekarang kamu akan punya 2 rumah dan 2 keluarga."
Yoa tersenyum senang mendengar perkataan Diya.
Benar kata Sinta, aku sangat beruntung mempunyai mama sebaik tante Diya, bahkan aku lahir dari rahim nya.
"Terima kasih tante. Kalau begitu Yoa akan membereskan barang Yoa."
"Iyaa sayang. Mama akan sampaikan berita ini pada papa dan abang abang mu, pasti mereka akan sangat bahagia."
Papa? Aku juga akan punya papa? Dan abang? Apa aku akan punya 3 abang?
"Iyaa tante. Yoa tutup telefon nya yaa?"
"Iyaa sayang, jangan lupa makan malam yaa?"
"Iyaa, tante juga. Sampai bertemu besok tante."
__ADS_1
"Iyaa sayang."
Yoa pun menutup telefon nya lalu menatap Bu Dewi dan Bunda yang sedari tadi terlihat bahagia melihat ibu dan anak untuk pertama kali nya bicara dalam telefon.