Nona Muda Jangyong

Nona Muda Jangyong
Episode 18 : Pria Strowberry


__ADS_3

Sesuai janji pagi itu Hanse mengantar Yoa ke tempat pemotretan. Yoa senang karena diantar Hanse tidak perlu dengan 2 pengawal yang sering membuat nya tidak nyaman. Mereka berhenti di sebuah gedung perusahaan minuman.


"Abang tunggu di cafe sebrang yaa dek?" Kata Hanse sambil menunjuk sebuah cafe di sebrang jalan.


"Bang Han gak pulang aja? Nanti kalau Yoa udah selesai Yoa telfon."


"Gak gak. Abang tunggu aja, lagi free kok."


"Beneran?"


Hanse mengangguk, "Bener. Udah kamu buruan keluar, nanti telat."


"Okedeh. Nanti kalau udah selesai, Yoa pasti langsung keluar."


"Gakperlu buru-buru."


Yoa mengangguk sambil tersenyum, lalu membuka pintu mobil dan keluar, berjalan memasuki pintu masuk perusahaan. Hanse yang melihat Yoa sudah masuk pun langsung mengarahkan mobilnya kearah cafe.


Sementara Yoa sudah memencet tombol lift dan menunggu lift terbuka. Tak menunggu lama lift pun terbuka, Yoa pun memasuki lift dan tiba tiba ada 2 laki-laki yang ikut masuk. Seorang laki-laki dengan memakai bucket hat hitam sedang memainkan hp nya, dan laki-laki satunya membawa sebuah tas jinjing besar.


Yoa menatap sekilas laki-laki yang memakai bucket hat disampingnya.


Kayak pernah lihat cowok ini. Tapi dimana yaa? Atau artis mungkin yaa?


Beberapa saat lift sudah mulai naik, dan tujuan mereka di lantai yang sama.


"Pria strawberry?" Kata Yoa tiba-tiba sambil menunjuk Pria yang memakai bucket hat di sampingnya.


Laki-laki itu mengalihkan pandangan nya dari hp ke arah Yoa. Bocah menggemaskan yang di taman? Gumam laki-laki itu.


"Temen lo Gu?" Tanya laki-laki satu nya pada laki-laki yang ditunjuk Yoa.


"Bukan kak." Jawab laki-laki itu cuek dengan fokus kembali pada hp nya.


Yoa merasa kesal mendengar jawaban laki-laki itu. Dihh sombong amat sihh. Gumam Yoa dalam hati kesal.


"Adek cantik kenalin." Laki-laki yang membawa tas jinjing mengulurkan tangan pada Yoa, "Riki, panggil saja kak Ri."


Yoa membalas uluran tangan nya dengan senyum memaksa, "Yoa." Jawab Yoa lalu melepaskan tangan nya.


Yoa? Kayak pernah denger nama itu? Gumam Guan dalam hati.


"Ini Guan, kenal kan?" Kata Riki sambil menunjuk laki-laki yang ternyata bernama Guan, "Kak Ri asisten nya."


Yoa hanya membalas dengan mengangguk pelan. Dan pintu lift pun terbuka, Yoa langsung keluar tanpa mempedulikan Guan dan Riki.


"Wahh cewek langka nihh gak kenal Guan." Kata Riki sambil berjalan keluar lift juga bersama Guan. Guan hanya diam tidak memperdulikan ucapan asisten nya.


Pemotretan pun di mulai, Yoa sudah siap setelah berganti pakaian. Sambil menunggu model lain ia duduk sambil memainkan hp nya. Berbeda dengan model lain yang punya asisten, Yoa melakukan nya semua sendiri.


Tanpa Yoa sadari Guan memandangi nya dari arah yang sedikit lebih jauh. Tiba-tiba Yoa tersenyum lebar sambil melihat hp nya.


Cantik. Batin Guan tiba-tiba.


"Cantik yaa?" Kata Riki tiba-tiba datang sambil memberi Guan satu cup kopi.


"Siapa?" Jawab Guan singkat sambil menyruput kopinya.

__ADS_1


"Yoa. Kayaknya dia model part time deh. Gimana kalau ajak ke agensi?"


"Jangan kak." Potong seorang perempuan yang tiba-tiba datang, "Dia itu cuma cantik wajahnya doang, tapi kelakuan nya gak cantik sama sekali."


"Lo kenal dia Riska?" Tanya Riki.


"Dia murid beasiswa di sekolah gue. Anak panti asuhan tapi tiap hari pulang pergi naik mobil mewah. Kayak nya sihh dia itu simpenan." Kata Riska dengan senyum sinis.


"Jangan sembarangan kalau ngomong Ris. Masak anak sekecil itu jadi simpenan." Kata Riki tidak percaya.


"Nama nya juga butuh kak. Pasti apa aja dilakuin. Pokoknya jangan ajakin ke agensi deh nanti malah bikin skandal yang ngrusak nama agensi." Jelas Riska dengan nada mengejek.


Guan terus menatap Yoa yang tetap dengan senyum senyum bermain hp. Guan pun berdiri, merasa malas menanggapi ocehan Riska. Tapi Riska tiba-tiba meraih lengan Guan.


"Ehh kak Guan mau kemana?" Celetuk Riska.


Guan melirik tangan Riska yang gelayutan di lengan nya, lalu menatap Riska tajam, "Singkirin tangan kotor lo." Gertak Guan.


Namun Riska tak merasa takut, justru makin mengeratkan tangannya pada lengan Guan, "Kak Guan jangan pergi dong, kan aku pengen ngobrol."


Guan sudah merasa sangat kesal dengan tingkah Riska yang sangat menjijikkan menurutnya. Riska adalah anak rekan bisnis keluarga Guan, jadi Guan masih berfikir untuk mau bersikap kasar, karena biasa nya ia akan kasar pada perempuan yang kecentilan mendekatinya. Riska menyukai Guan sejak lama, sampai ia memaksa Papa nya untuk membantu masuk ke agensi Guan yang sebenarnya sangat ketat perihal perekrutan model karena harus dilihat latar belakang, attitude dan skill, tapi Riska masuk lewat kenalan Papa nya yang membantu ia bisa masuk tanpa tes. Yang lebih membuat Guan benci ternyata Riska juga mendekati Junho dengan terus-terusan mengirim dm di sosmed Junho. Untungnya Junho dan Guan saling cerita tentang Riska, jadi mereka samasama tidak suka pada Riska yang hanya gila popularitas.


Guan menarik tangan nya kasar dari tangan Riska, lalu pergi meninggalkan Riska. Yoa tanpa sengaja melihatnya, Riska langsung menatap Yoa penuh amarah.


Itu kan senior Riska. Kenapa sihh harus ketemu disini. Tau gini aku gak pilih iklan yang ini. Gumam Yoa sambil berusaha menghindari pandangan Riska dengan membuang muka ke lain arah.


"Ayo semua nya bersiap ke stage." Teriak asisten sutradara.


Yoa pun langsung menuju stage, Riska dengan masih sedikit kesal juga berjalan menuju stage.


"Oke ready yaa?" Kata fotografer lalu mulai mengambil foto. Beberapa kali mereka mengubah gaya menuruti arahan fotografer.


"Coba akting sedikit lebih akrab yaa." Kata fotografer mengarahkan yang membuat Riska tiba-tiba menyentuh pipi Guan.


Refleks Guan menangkis tangan Riska dengan kasar sambil berdiri dengan emosi yang siap meledak, "Udah berapa kali gue bilang jangan sentuh gue dengan tangan kotor lo itu." Bentak Guan dengan nada tinggi yang seketika membuat seisi ruangan terdiam takut.


Riska yang sebenarnya sangat tau sifat Guan pun tidak merasa takut, "Aku kan nurutin arahan fotografer."


Guan langsung menatap fotografer yang sudah membeku takut, dan kesal dengan Riska. Guan memang model terkenal yang sulit bisa ada kesempatan untuk bekerjasama dengan nya. Produk apapun yang menjadikan ia model pasti laris di pasaran.


"Saya nyuruh nya lebih akrab bukan menyentuh. Lo model baru nya? Kok gak mengerti arahan." Kata fotografer itu memarahi Riska.


"Lo nyalahin gue?" Bantah Riska.


"Udah-udah jangan berdebat." Sela Riki, "Riska, lo kenal Guan kan? Harusnya lo tau harus gimana kalau mau nyentuh Guan." Kata Riki.


"Kan lagi di stage kak, masak iya harus ijin dulu." Riska masih tidak mau disalahin.


"Gak peduli dimana pun, lo harusnya min.." Kata Riki yang terhenti karena Guan mengangkat satu tangan nya tanda meminta Riki diam.


"Udah kelar belum?" Tanya Guan pada fotografer.


"Masih ada satu take untuk pasangan." Jawab fotografer dengan nada sedikit takut.


"Yaudah yuk kak Guan kita take." Sahut Riska sambil senyum senyum merapikan rambutnya yang tidak berantakan.


"Gue mau nya pasangan sama dia." Kata Guan menunjuk Yoa yang sedari tadi diam ikut jadi penonton.

__ADS_1


Yoa langsung membulatkan mata mendengar perkataan Guan yang pasti membuat Riska langsung menatap nya tajam penuh amarah.


Sialan! Ni orang mau bikin gue dibunuh senior Riska apa yaa? Gerutu Yoa dalam hati.


"Oh oke oke. Ayo Yoa bersiap." Perintah fotografer.


"Iyaa kak." Jawab Yoa singkat dengan sedikit kesal.


Riska pun pergi dengan rasa kesalnya. Yoa dan Guan pun bersiap di stage dengan minuman iklan di tangan.


Yoa sedikit berbisik pada Guan di tengah pemotretan, "Heh pria strawberry, lo gila ya bikin kak Riska marah sama gue."


"Bukan urusan gue." Jawab Guan singkat yang membuat Yoa melotot menatap nya.


Tiba-tiba Guan melakukan gaya menggandeng tangan Yoa, yang membuat Yoa sedikit kaget tapi tidak bisa menolak.


Tadi bilangnya gak suka disentuh, sekarang gandeng tangan orang sembarangan. Dasar cowok gak jelas. Gumam Yoa.


Beberapa menit kemudian pemotretan selesai. Yoa menuju kamar mandi untuk berganti pakaian, dan ternyata didalam kamar mandi ada Riska.


"K-kak Riska." Sapa Yoa dengan canggung.


"Seneng lo udah bikin gue malu?" Bentak Riska.


"Maksud kak Riska?" Tanya Yoa, "Masih aja nanyak. Bodoh banget sih lo Yoa, ya jelas lah masalah pria strawberry sialan itu." Lanjut Yoa dalam hati.


"Gak usah belagak polos deh lo. Gak cukup apa jadi simpenan, masih mau godain kak Guan." Kata Riska sambil mendorong Yoa tapi tak sampai terjatuh.


"Gue gak bermaksud gitu kok kak. Lagian gue gak kenal dia."


"Jelaslah, lo bukan level dia jadi lo gak bakalan kenal dia. Anak panti kayak lo mana bisa sejajar sama konglomerat macam kita. Orangtua lo aja gak jelas, palingan lo dibuang karena mereka miskin."


"Kak Riska." Bentak Yoa meninggikan suaranya dengan sedikit emosi, "Kak Riska boleh yaa hina gue sepuas kakak, tapi jangan sekalipun bawa bawa orangtua gue."


"Berani lo bentak gue." Kata Riska sambil mendorong Yoa kasar hingga terjatuh, "Emang kenapa kalau gue bawa orangtua lo? Kenyataan kan lo itu dibuang di panti, atau jangan jangan lo itu aib makanya dibuang?"


Yoa hanya diam mencoba menahan emosi nya.


"Awas ya lo deketin kak Guan lagi." Kata Riska sambil menunjuk wajah Yoa, lalu pergi keluar kamar mandi.


Yoa pun bangkit lalu membersihkan kedua telapak tangannya, "Sial banget sihh hari ini. Jangan lagi deh ketemu pria strawberry itu." Gumam nya.


Hanse sudah menunggu didepan pintu masuk perusahaan setelah mendapat chat dari Yoa kalau ia sudah selesai dan bersiap pulang. Hanse melihat Yoa yang berjalan dengan lemas dan bete menuju pintu keluar. Setelah melihat Hanse yang sudah berdiri disamping mobil menunggu nya, Yoa tersenyum senang.


"Bang Han." Teriak Yoa langsung berlari menghambur ke pelukan Hanse.


"Capek yaa?" Tanya Hanse sambil mengusap kepala Yoa. Yoa hanya mengangguk.


"Ada masalah?" Tanya Hanse lagi. Yoa menggeleng. Hanse sedikit kesal, pasti ada masalah dengan adeknya, tapi ia yang biasanya sangat emosian mencoba menahan itu didepan Yoa.


"Mau mcd?" Tanya Hanse yang langsung membuat Yoa mendongak ke arah wajah Hanse.


"Mau." Jawab Yoa dengan senyum manis.


Hanse pun membukakan pintu mobil untuk Yoa. Yoa melepaskan pelukan lalu masuk kedalam mobil dengan mood yang sedikit membaik. Setelah naik juga Hanse mulai menjalankan mobilnya meninggalkan tempat. Mobilnya sempat berpapasan dengan mobil Guan.


"Kayak mobil Kak Han." Gumam Guan pelan.

__ADS_1


__ADS_2