Nona Muda Jangyong

Nona Muda Jangyong
Episode 27 : Mimpi Buruk


__ADS_3

"Maksud dokter?" Kata Hanse sedikit meninggikan suara membuat dokter itu bergidik takut.


"Apa yang terjadi pada anak saya?" Diya mulai menitikkan air mata lagi.


"Punggung tangan nona muda terluka. Ini seperti luka karena kejatuhan benda tapi lebih seperti.." Jelas Dokter itu takut untuk melanjutkan ucapannya.


"Seperti apa? Cepat katakan." Junho juga meninggikan suara dengan perasaan yang sangat cemas.


"Maaf, seperti nya tangan nona muda seperti habis terinjak sepatu." Lanjut Dokter itu seketika membuat Diya sangat terkejut, ia mulai merasa takut. Sedang Hanse dan Junho tentu saja sangat marah, apalagi Hanse yang sudah mengetahui kejadian nya, ia sangat ingin beranjak pergi dan membunuh 2 perempuan yang menyakiti adek kesayangannya.


Perawat itu mengobati punggung tangan Yoa dan memasang infus. Dokter itu memberikan resep obat pada pelayan Si. Setelah selesai melakukan perawatan, Dokter dan perawat itu pergi.


Diya terus menggenggam tangan Yoa dan menangis memandangi wajah Yoa yang masih sangat pucat.


"Mah berhenti menangis, mamah bisa sakit." Kata Junho.


"Junho benar mah, kalau mamah sakit adek akan sedih nanti." Tambah Hanse.


"Mama gak bisa melihat adek kalian seperti ini." Jawab Diya masih dengan isakan tangis.


"Nyonya lebih baik sekarang istirahat, suhu tubuh nona muda sudah sedikit turun." Kata pelayan Si setelah mengganti plaster pereda demam dengan yang baru.


"Tidak Si, aku akan tetap disini menemani Yoa." Tolak Diya.


"Pelayan Si, suruh suster menemani Doyon. Biar mamah tidur disini." Perintah Hanse.


"Baik tuan muda." Jawab pelayan Si, lalu keluar kamar Yoa.


Diya membaringkan tubuh nya disamping Yoa, memeluk anaknya dan memandangi wajah pucat yang sangat ia sayangi itu.


####


Yoa berada didalam ruangan kosong. Sangat redup dengan sedikit cahaya.


"Hallo anak panti kita ketemu lagi." Terdengar suara Riska yang menggema.


"Bagaimana kalau kita lanjutkan yang tadi siang." Sahut Bella.


"Jangan. Jangan lakukan itu." Pinta Yoa.


Riska dan Bella tertawa.


"Hahaha kalau begitu, bagaimana kalau kita membuat mu hilang saja?" Riska mengarahkan sebuah pistol ke arah Yoa.


"Apa kau sudah siap mengucapkan selamat tinggal pada semua kesenanganmu mendekati laki-laki kaya?" Tanya Bella.


"Aku mohon jangan lakukan itu." Rintih Yoa mulai menangis.


"Terlambat. Gue udah terlanjur jijik sama lo." Bentak Riska.


"Bagaimana kalau kita hitung sampai 3, apakah lo bisa selamat?" Ancam Bella.


"Biar gue mulai." Riska mulai menarik pelatuk pistolnya.


"Jangan. Jangan. Aku mohon jangan senior." Tubuh Yoa mulai melemas, ia sangat takut.


"Satu.."


Yoa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan air mata yang terus mengalir.


"Dua.."


Yoa mulai menutup mata nya, "Mama, papa, Yoa takut." Gumamnya lirih.


"Tiga.."


Dorr. Terdengar suara tembakan yang membuat Yoa melipat mata nya semakin dalam. Namun bukan sakit yang ia rasakan, tapi justru tubuh besar yang tiba-tiba menghantamnya. Yoa pun membuka matanya.


"Om Hendraa..." Teriak Yoa melihat Hendra yang sudah bersimbah darah berada dalam dekapan nya.


"K-kau tak apa-apa s-sayang?" Tanya Hendra terbata-bata masih dengan senyum.


"Om Hendra berdarah. Maafkan Yoa, maafkan Yoa.." Tangis Yoa semakin keras.


Hendra menutup bibir Yoa dengan jari telunjuk nya, "Hussttt. J-jangan minta maaf. Y-yoa gak s-salah."


"Tapi om Hendra berdarah.."

__ADS_1


"T-tidak apa-apa. A-asal Yoa s-selamat."


"Jangan tinggalin Yoa. Yoa sayang sama om Hendra. Yoa belum sempat memanggil papa."


Hendra tersenyum, "La-Lakukan lah, s-sekarang."


Yoa mengangguk, "Papa. Yoa sayang sama papa. Jangan tinggalin Yoa." Kata Yoa sambil memeluk Hendra. Namun tubuh Hendra sudah tidak bergerak.


Yoa menggerak-gerakkan tubuh Hendra, "Gak. Gak boleh. Pah bangun, papah gak boleh tinggalin Yoa. Bangun pah, bangun."


Tidak ada reaksi. Tubuh Hendra justru menjadi dingin. Yoa menyadari bahwa Hendra sudah tidak bernafas, "Papah..." Teriak Yoa pecah diiringin airmata yang menandai sakit di hati nya.


####


Diya tampak tertidur disamping Yoa. Sementara Junho tidur di sofa, dengan Hanse yang juga duduk di sofa, namun sedang sibuk dengan laptopnya, mengurus pekerjaan yang ia tinggal.


"Papah.." Gumam Yoa lirih yang seketika membuat Hanse menoleh ke arah Yoa. Hanse pun menghampiri nya.


"Sepertinya dia mengigau." Kata Hanse melihat Yoa yang masih menutup matanya. Hanse mengusap keringat Yoa yang membasahi pelipisnya, dahi nya nampak berkerut.


Diya terbangun karena merasa Yoa bergerak, "Ada apa?" Tanya Diya pada Hanse sambil bangun dari tidurnya.


"Sepertinya adek mengigau." Jawab Hanse.


"Pah.." Gumam Yoa lagi masih dalam tidur nya, "Papah jangan tinggalin Yoa.."


"Sayang.." Ucap Diya mencoba membangun kan Yoa dengan mengusap pipi nya.


"Papah..." Teriak Yoa yang langsung membangun kan Junho. Yoa telah membuka mata nya, seketika air mata mengalir dari kedua mata nya.


Diya menghapus air mata nya, "Tenang sayang, cuma mimpi.."


Yoa mencoba menyadarkan dirinya, mengedarkan pandangan, ia melihat Diya di sisi kirinya tersenyum dengan mata bengkak sehabis menangis, lalu dilihat nya Hanse yang duduk disisi kanan nya dengan mata panda seperti tidak tidur beberapa hari, dan Junho disamping Hanse dengan mata merah yang baru bangun tidur.


"Adek gapapa?" Tanya Junho.


"Om Hendra mana..?" Tanya Yoa.


"Kamu mau ketemu papah?" Tanya Diya.


Yoa mengangguk lemah.


Hanse pun kembali dengan tab yang sudah terhubung panggilan video dengan Hendra.


"Pah, anak papah yang cantik sudah bangun. Dan langsung mencari papah." Celetuk Hanse.


"Benarkah? Mana papah mau melihatnya." Jawab Hendra dari sebrang.


Hanse pun mengarahkan ke depan Yoa yang seketika membuat Yoa merasa lega, untunglah itu hanya mimpi buruk nya, sedari membuka mata ia hanya fokus mencari sosok Hendra.


"Sayang, anak cantik papah, apa masih sakit?" Tanya Hendra dengan tersenyum yang justru membuat Yoa menjatuhkan air mata nya, tak bisa berkata-kata, ia fikir ia tak akan bisa melihat senyum lelaki tampan itu lagi.


Diya menghapus air mata Yoa.


"Jangan menangis sayang. Anak cantik papah gak boleh menangis." Kata Hendra mencoba menghibur Yoa.


"Yoa kangen sama om Hendra." Yoa mulai bicara dengan suara sedikit serak.


"Iyaa sayang. Papah juga kangen banget sama anak cantik papah."


"Om Hendra cepat pulang." Yoa menangis lagi, kali ini lebih keras. Yoa masih terbayang-bayang mimpi buruknya.


"Iyaa sayang, besok akan papah suruh asisten Cho mengatur nya yaa."


Yoa mengangguk mantab.


"Sekarang anak cantik tidur yaa. Istirahat. Pokoknya kalau papah udah pulang, anak cantik harus udah sembuh."


"Iyaa. Om Hendra cepat pulang."


"Iyaa sayang. Sekarang tidur yaa, papah matiin video call nya."


Yoa mengangguk lalu melambaikan tangan pada Hendra. Hendra membalasnya lalu mematikan panggilan itu.


Diya memeluk Yoa, "Sudah jangan menangis lagi. Sekarang tidur yaa."


Yoa mendongak menatap Diya, "Yoa ingin tidur sama tante, bang Han dan bang Junho juga."

__ADS_1


Diya tersenyum mendengar permintaan Yoa.


"Ide bagus. Bang Han juga ingin jagain adek cantik." Kata Hanse lalu mulai berbaring disamping Yoa.


"Kalau gitu abang disamping mamah." Tambah Junho sambil berbaring disamping Diya.


Yoa tersenyum dalam pelukan Diya, "Makasih tante, makasih bang Hanse, makasih bang Junho."


####


Sementara ditempat nya Hendra diliputi rasa cemas.


"Apa yang terjadi sebenarnya Cho?" Tanya Hendra.


"Menurut informasi dari Ferdy, nona muda di bully teman nya tuan."


"Apa kau yakin ini bukan perbuatan wanita itu?"


"Seperti nya bukan tuan. Ferdy bilang nona muda dekat dengan laki-laki yang disukai teman nya ini. Dan Ferdy sudah mencari informasi kalau mereka tidak saling kenal."


Hendra menggebrak meja di depan nya, "Kalau begitu laporkan ke dewan sekolah."


"Maaf tuan. Kalau masalah itu lebih baik kita tanya langsung pada nona muda tuan. Karena setau saya nona muda sangat baik, dan juga nona muda tidak suka menjadi bahan omongan orang lain tuan."


"Kamu benar Cho. Anak perempuan ku itu sudah seperti malaikat. Kamu tau rasa nya aku ingin segera pulang sekarang juga saat mendengarnya sakit."


"Maaf kan saya tuan. Saya akan segera mengurus kepulangan tuan."


####


Sementara Hania dengan ekspresi wajah yang bahagia sedang berbicara dengan seseorang di telefon. Ia duduk di samping kolam renang rumahnya sambil menikmati teh hangat.


"Coba saja kalau dua gadis kecil itu berhasil, aku tidak perlu bekerja capek-capek."


"Bagaimana kalau ku temui saja 2 gadis itu?" Sahut suara laki-laki disebrang foto.


"Tidak perlu. Kita lihat saja dulu sampai dimana kemampuan mereka."


"Ku dengar Nuca yang menyelamatkan nya."


Hania tampak kesal mendengar nama anak laki-laki nya disebut, "Sial! Lagi-lagi si Han brengsek itu memanfaatkan Nuca."


"Kenapa tidak kau bujuk saja bocahmu itu. Seperti nya dia tau banyak."


"Kau pikir aku tidak pernah mencobanya?"


"Beri tau aku apa yang anakmu sukai. Aku akan memikirkan caranya."


"Yang aku tau dia sangat suka..." Suara Hania terpotong saat melihat Nuca baru pulang dengan wajah yang berantakan seperti kelelahan, "Aku akan menelfon mu lagi nanti."


Hania mematikan telfon nya lalu menghampiri Nuca yang berjalan menuju tangga, "Anak ganteng mamah udah pulang." Kata Hania dengan senyum sambil bergelayut di lengan Nuca.


Nuca hanya berhenti dan tidak menjawab Hania.


"Apa kau sudah makan? Mau mamah siapin makan?" Tanya Hania lagi.


"Tidak perlu. Aku lelah mau tidur." Jawab Nuca cuek.


"Kalau begitu mamah siapain air hangat untuk mandi?"


"Tidak perlu."


Hania terdiam tidak tau harus berkata apa lagi. Nuca berniat beranjak, namun Hania menahannya, "Oiya kamu darimana sayang jam segini baru pulang? Apa kamu abis menjenguk teman mu yang sakit?"


Nuca seketika tersentak dengan ucapan Hania, dia langsung menoleh menatap Hania tajam.


Duhh bodoh lagi-lagi aku keceplosan. Gumam Hania dalam hati.


"Jangan bilang itu perbuatan mamah." Tanya Nuca.


Hania tampak mengalihkan pandangan, "Apasih maksud kamu?"


"Inget yaa mah, kalau sampai aku tau mamah nyakiti Aeri, aku gak bakal bisa memohon lagi ke bang Han."


"Kamu nuduh mamah?"


"Nuca gak nuduh. Nuca hanya memperingatkan." Jelas Nuca lalu beranjak pergi menaiki tangga menuju kamarnya.

__ADS_1


"Kurang ajar si Ferdy, bahkan anakku sendiri pun masih terus mencurigaiku." Gerutu Hania dalam hati.


__ADS_2