
Seperti biasa jam istirahat Yoa ada diperpus bersama Allen, dan sesuai janji hari ini hari terakhirnya menemani Allen belajar di perpus.
"Yoa, hari ini kan hari terakhir kita menghabiskan waktu bersama, gimana kalau kita rayain." Celetuk Allen.
"Rayain apaan? Gak usah." Jawab Yoa dengan tetap fokus dengan buku nya.
"Kenapa?" Tanya Allen sedikit kecewa, "Oh pasti lo pengen ke perpus bareng gue terus yaa?" Lanjutnya tiba-tiba senang.
"Gak usah kepedean." Jawab Yoa santai.
"Terus kenapa dong kok gak usah?"
Yoa menutup buku nya, lalu menatap Allen, "Karena gue gak mau fans-fans lo makin marah sama gue."
"Yaelah, masih aja mikirin orang. Kayak nya lo itu cocok deh jadi presiden, hobi lo kan mikirin orang mulu. Kalah tu presiden."
"Kalau gue jadi presiden gue bakal asingin cowok-cowok cakep seperti lo, biar gak nyusahin cewek kayak gue." Yoa mulai fokus dengan buku nya lagi.
Allen mencoba menahan tawanya, karena sadar masih ada di perpus, "Selain cantik ternyata lo lucu juga yaa."
"Berhenti nyebut gue cantik, itu kata bahaya banget kalau fans lo denger."
"Suka suka gue lah, emang lo cantik kok."
"Allen.." Kata Yoa penuh penekanan dan sedikit melotot, Allen justru meledeknya dengan menjulurkan lidah.
"Yoa?" Kata suara yang mendekat seketika membuat Allen dan Yoa menoleh.
"Kak Hendry?" Kata Yoa yang kemudian dibalas Hendry dengan senyum dan mulai duduk disamping Yoa.
"Aku kira aku satu-satu nya cowok yang kamu kenal disekolah ini, ternyata kamu deket juga sama Allen." Kata Hendry.
Yoa sedikit melirik Allen, "Ahh iyaa, kebetulan baru seminggu ini kak."
"Yoa bilang gue ganteng jadinya dia mau deket sama gue." Sela Allen dengan senyum menggoda Yoa yang seketika membuat Yoa mengangkat kedua alisnya.
"Ohh yaa?" Kata Hendry pada Allen, "Adek cantikku ini udah besar ternyata." Lanjut Hendry pada Yoa dengan mengacak-acak puncak kepala Yoa yang seketika membuat Yoa canggung.
"Kak Hendry gak usah percaya omongan Allen, dia itu suka gak jelas ngomongnya." Jelas Yoa.
Allen? Bahkan kamu memanggilnya dengan nama? Padahal dulu aku sering memaksamu memanggilku dengan nama, tapi kamu selalu menolak. Gumam Hendry dalam hati sambil tersenyum pada Yoa.
"Oiya Yo, weekend ini aku sekeluarga mau ke cempaka. Kamu mau ikut sekalian?" Tanya Hendry.
Cempaka. Astaga, sudah hampir 1 bulan sejak aku keluar dari panti, aku belum pernah kesana, aku hanya beberapa kali menelfon bunda dan bu dewi. Apakabar yaa Sinta, teman-teman dan kakak-kakak disana?
"Yo.." Panggil Hendry sambil melambaikan tangan ke wajah Yoa yang terlihat sedang melamun
"Ha? Iyaa kak?" Jawab Yoa tersadar dari lamunan nya.
"Kok kamu malah ngelamun?" Tanya Hendry.
"Mikirin gue yaa lo? Gue masih didepan lo, gak usah dipikirin." Sela Allen.
"Penyakit kepedean lo itu udah parah banget yaa kayaknya Len." Kata Yoa pada Allen, "Maaf kak weekend ini aku udah ada janji." Kata Yoa pada Hendry.
"Janji? Janji sama siapa?"
Aduh. Jawab apa ini? Masak iya aku harus jawab makhluk nyebelin macam kalian berdua versi saudara kandung.
"Sama gue. Kita mau ke toko buku. Iyaa kan Yo?" Sahut Allen yang membuat Yoa sedikit lega dan mengangguk membenarkan jawaban Allen.
"Yaudah kalau gitu next time sama aku aja yaa Yo kalau kamu mau beli buku." Hendry mulai berdiri karena merasa sedikit kesal, "Kamu hati-hati kalau mau punya temen cowok. Aku ke kelas dulu." Lanjut Hendry dengan tersenyum, lalu berlalu pergi.
"Harus nya tu si Hendry bilangnya kamu hati-hati kalau mau temenan sama cowok yang udah punya pacar." Gerutu Allen karena merasa tersindir dengan ucapan Hendry.
__ADS_1
Yoa tersenyum melihat Allen kesal, "Udah cuekin aja. Mending sekarang kita ke kantin, gue laper." Kata Yoa mulai membereskan buku-buku nya.
"Lo ketagihan yaa makan bareng gue, tumben ngajak makan duluan." Sahut Allen merasa senang kembali.
"Gue lagi gak ada tenaga mikirin orang, gue mau mikirin perut gue yang keroncongan dulu." Kata Yoa yang kemudian mulai berdiri.
"Gitu terus kek enak." Allen juga mulai ikut berdiri. Lalu mereka pun keluar perpus.
####
Setelah selesai makan dengan Allen, Yoa berjalan sendiri ke kelas nya. Saat melewati lapangan basket, ia melihat Nuca yang sedang duduk sendiri di bangku dekat lapangan sambil melihat siswa lain yang sedang main basket. Yoa pun menghampiri Nuca dan langsung duduk di sampingnya. Nuca menoleh melihat siapa yang duduk disampingnya, lalu Yoa melempar senyum. Nuca hanya menanggapi dengan muka datar dan kembali fokus ke lapangan basket.
"Kok kamu gak pernah bilang kalau kita sepupu." Yoa mulai membuka obrolan.
"Tanpa gue bilang nanti lo juga bakalan tau." Nuca menjawab tanpa mengalihkan pandangan.
"Nanti? Nanti kapan? Kalau kemarin kamu gak nolongin aku, aku gak bakalan tau kalau kita sepupu."
"Nanti kalau ada acara kumpul keluarga."
Ahh iyaa aku kan belum pernah ketemu keluarga lain, oma juga. Apa karena aku belum bisa memanggil tante Diya dan om Hendra mama papa jadi mereka malu membawa ku kumpul keluarga. Gumam Yoa dalam hati.
Nuca menoleh ke arah Yoa yang terdiam larut dalam lamunannya.
"Gak usah mikir macem-macem. Nanti kalau saat nya tiba lo juga bakal ketemu keluarga lain." Kata Nuca seperti paham apa yang dipikirkan Yoa.
"Iyaa kamu benar." Yoa menaik turun kan kepala nya, "Berarti kamu tau kalau aku anak nya.."
"Tenang aja, gue gak bakalan kasih tau siapapun." Sela Nuca memotong perkataan Yoa.
Yoa tersenyum menatap Nuca, lalu mengambil hp nya mengarahkan pada Nuca, "Bagi nomer hp nya dong abang sepupu."
"Buat apaan?"
"Gak perlu."
"Ayo lah. Nanti pulang sekolah kita makan sebentar." Pinta Yoa dengan senyum manis.
"Gak mau, gue gak laper."
"Kamu malu yaa makan sama aku? Karena aku sering digosipin yang aneh-aneh." Keluh Yoa yang tiba-tiba memasang wajah sedih.
"Ngomong apaan sih lo?"
"Makanya, please kita makan yaa nanti. Aku kan juga pengen deket sama kamu."
"Ogah. Bisa dibunuh bang Junho gue."
"Kalau gitu aku laporin bang Junho, kalau perlu bang Hanse juga kalau kamu gak mau nemenin aku makan." Ancam Yoa dengan mulai belagak mau menelfon dengan hpnya.
Nuca terbelalak mendengar nama Hanse.
Bisa dihajar kalau bang Han tau gue gak nurutin mau nya Yoa. Gumam nya dalam hati.
Nuca langsung merebut hp Yoa, lalu mulai mengetik nomornya di hp Yoa, "Puas lo?"
Yoa senyum-senyum setelah menerima hp nya kembali dari Nuca, "Jadi nanti pulang sekolah kita makan bareng dulu." Yoa langsung berdiri setelah memasukkan hp nya kembali ke kantong seragamnya, "Gue tunggu di gerbang, oke?" Lanjut Yoa lalu mulai beranjak pergi tanpa menunggu jawaban Nuca.
Tanpa mereka sadari Bella yang kebetulan lewat mendengar percakapan terakhir mereka, lalu ia tersenyum licik.
####
Bell pulang sekolah berbunyi. Yoa tertinggal sendiri dengan beberapa siswa. Ia sudah meminta teman-teman nya pulang terlebih dahulu karena ia ada janji dengan Nuca. Yeri, Mina, Lia sebenarnya mengenal Nuca yang adalah sepupu Junho, tapi mereka tidak menanyakan itu pada Yoa, karena mereka fikir Yoa pasti sudah tau.
Yoa membuka hp nya mencari nomer Nuca, namun sebelum ia mulai menelfon ada seorang siswa laki-laki sedikit gemuk memakai kaca mata tebal menghampirinya dengan sedikit gugup.
__ADS_1
"K-kamu Yoa yaa?" Tanya nya dengan tergagap.
"Iyaa. Ada apa yaa?"
Siswa itu terlihat takut dan bingung, "A-adaa yang nyariin k-kamu."
"Nyariin aku? Siapa?"
"K-kamu didisuruh ke perpus." Kata siswa itu lalu langsung melarikan diri. Yoa bingung melihat tingkah aneh siswa itu.
"Siapa yang nyariin aku di perpus? Apa Allen yaa?" Gumam Yoa yang kemudian tanpa ragu mulai beranjak dan berniat menuju ke perpus.
Sekolah mulai sepi, hanya terlihat beberapa siswa yang masih berkeliaran. Yoa berjalan ke arah perpus dengan santai. Namun tiba-tiba dari belakang ada dua siswa yang menggandeng tangan nya dengan paksa, Yoa kaget dan seketika memberontak.
"Siapa kalian? Lepasin." Bentak Yoa namun segera dua siswa itu membungkam mulut nya, Yoa berusaha melawan namun tenaga nya kalah dengan dua siswa yang menariknya berjalan ke arah jalan belakang sekolah yang merupakan jalan sepi arah ke gudang. Sampai di jalan sepi belakang sekolah, Yoa melihat Riska dan Bella duduk di kursi. Yoa terus meronta-ronta hingga kemudian 2 siswa itu melepaskan nya dengan sedikit mendorong, untung Yoa dengan sigap menahan tubuh nya hingga tidak terjatuh.
"Apaan sih kalian?" Teriak Yoa.
Bella dan Riska tersenyum sinis.
"Gak perlu teriak-teriak anak panti, nanti lo capek sendiri." Kata Riska.
"Senior mau apa?" Tanya Yoa sedikit takut.
"Lo yakin nanyak mau kita?" Sahut Riska.
"Kalau gue ada salah, gue minta maaf. Kita bisa selesain baik-baik." Mohon Yoa.
Sontak Riska dan Bella tertawa.
"Kita gak butuh maaf lo." Sahut Bella.
Riska memberi kode pada 2 siswa yang menyeret Yoa. Kemudian mereka yang ada dibelakang Yoa mendorongnya hingga tersungkur. Beruntung Yoa sadar pandangan Riska jadi ia bisa menahan sedikit badan nya agar kulitnya tidak bergesek dengan tanah, meskipun posisi nya sudah bersimpuh.
Riska dan Bella berdiri dari duduknya, Yoa mendongakkan kepalanya menatap Riska dan Bella, ia mulai bergetar takut.
"Senior mau apa?"
"Mau kita? Gampang kok. Lo jangan sok kegatelan lagi deketin cowok-cowok kaya." Bentak Riska.
"Mendingan lo itu deketin om-om aja, lebih banyak duitnya dan lebih pantes buat lo." Tambah Bella.
Yoa makin takut, ia mulai memilin rok seragam nya. Bibirnya bergetar tak bisa berkata-kata, mata nya mulai ingin menangis, namun ia menahan nya.
"Maaf senior." Ucap nya dengan lirih.
"Maaf doang yang lo bisa?" Bentak Bella.
"Siram." Perintah Riska pada dua siswa dibelakang Yoa yang sontak membuat Yoa kaget karena tiba-tiba mereka menyiram 2 ember air ke tubuh Yoa.
Riska, Bella dan 2 siswa itu tertawa melihat Yoa yang basah kuyup. Riska berjongkok didepan Yoa lalu menarik rambut Yoa kebelakang, hingga wajah Yoa yang menahan sakit mendongak ke atas meringis kesakitan, namun ia tak bisa berkata apapun.
"Gue peringatin lo untuk yang terakhir kali. Jangan pernah deketin kak Guan dan kak Junho lagi. Denger lo?" Kata Riska lalu menghentak kan rambut Yoa kasar.
Sementara Bella tiba-tiba menginjak tangan Yoa yang sedang menahan tubuh nya yang mulai kedinginan di tanah, Yoa meringis kesakitan.
"Sakit, tolong lepasin." Rintih Yoa.
"Satu lagi. Jangan pernah deketin Hendri lagi. Sampek gue liat lo deketin dia lagi, jangan harap lo bisa sekolah lagi disini."
Bella mengangkat kaki nya, melepaskan tangan Yoa. Yoa meringis kesakitan melihat tangan nya yang memerah karena sepatu Bella. Ia ingin menangis, namun menahan nya sekuat tenaga, karena ia tak mau terlihat lemah.
"Gimana kalau kita bikin dia bugil?" Kata Riska dengan senyum licik, yang sontak membuat Yoa makin bergetar karena mengigil dingin dan takut mendengar ucapan Riska. Seketika ia memikirkan Diya dan Hendra yang pasti akan malu kalau sampai melihat nya seperti itu.
Mama, papa, maafin Yoa. Gumam Yoa dengan menutup mata yang tanpa sadar ia telah memanggil Diya dan Hendra tak lagi om dan tante.
__ADS_1