Nona Muda Jangyong

Nona Muda Jangyong
Episode 32 : Hendra


__ADS_3

Yoa terus menundukkan kepala, fokus pada makanannya, ia sangat malu menatap semua orang setelah kejadian salah peluk.


"Ehem. Ada yang lagi malu-malu kucing nih gara-gara salah peluk." Goda Junho diikuti senyum Diya, Hanse dan korban salah peluk alias Guan.


Yoa mengangkat kepala nya melotot ke arah Junho, "Bang Junho.." Rengek Yoa kesal.


"Udah ngaku aja kamu itu naksir kan sama temen abang yang ganteng ini." Junho merangkul pundak Guan yang duduk disampingnya.


"Enggak.."


"Dihh gak usah ngelak, buktinya udah peluk-peluk."


"Tadi kan Yoa kira bang Junho, salah sendiri punya badan copy paste gak kreatif banget."


Tawa semua orang pecah mendengar ocehan Yoa termasuk pelayan Si dan para pelayan yang ada di dapur.


"Udah Jun jangan godain Yoa terus." Kata Hanse.


"Enak aja copy paste. Ini tu karena waktu pembagian tubuh abang dateng barengan sama Guan." Bantah Junho.


"Gak lucu."


"Siapa juga yang lagi ngelucu. Udah kamu itu ngaku aja naksir Guan kan?"


"Enggak."


"Iyaa."


"Enggak, enggak."


"Iyaa. Iyaa."


"Udah stop-stop. Kalian itu selalu aja berdebat." Ucap Diya menghentikan ocehan kedua anaknya yang sedari tadi tidak ada ujungnya.


"Bang Junho tu tan ngledekin Yoa terus." Adu Yoa sambil mengerucutkan bibirnya.


"Junho udah, berhenti menggoda adekmu. Guan maaf yaa kalau berisik, yaa begini ini dua manusia ini kalau lagi dirumah ribut mulu." Kata Diya.


"Gapapa kok tan, justru seru tan kalau rame kayak gini, dari pada dirumah Guan sepi, cuma ada pelayan." Jawab Diya.


Cuma ada pelayan? Memangnya pria strawberry gak punya keluarga? Orangtua nya kemana? Gumam Yoa dalam hati sambil menatap Guan sekilas.


"Kamu sering-sering aja maen kesini kalau gitu." Tawar Diya.


"Iyaa tan kalau ada waktu senggang Guan usahain mampir." Jawab Guan.


Hah? Sering-sering kesini? Bisa bertelur dikamar aku karena takut keluar kalau pria strawberry kesini terus. Gerutu Yoa dalam hati.


"Iyaa sekalian pdkt sama calon pacar." Goda Junho sambil melirik Yoa.


"Bang Junho.." Teriak Yoa.


"Dih ngapain kamu teriak? Abang kan cuma bilang calon pacar, gak nyebut nama kamu. Atau jangan-jangan kamu naksir beneran yaa sama Guan?"


Yoa langsung menunduk malu mendengar ucapan Junho. Benar juga, kenapa ia keGR'an banget.


"Udah berhenti Junho, lihat tu adek kamu jadi malu." Kata Diya dengan tersenyum gemas pada Yoa yang pipinya memerah karena malu.


"Pipi nya jadi merah gini." Goda Hanse sambil mencubit lembut pipi Yoa yang kebetulan duduk mereka berdampingan.


"Bang Han sakit." Rengek Yoa.


"Strawberry.." Gumam Guan lirih hampir tak terdengar sambil menatap Yoa dengan senyum.


####


Senin pagi yang cerah. Yoa telah sampai disekolahnya dan mulai berjalan masuk halaman sekolah setelah keluar dari mobil. Ia melihat Nuca yang berjalan lebih dulu di depan nya. Yoa sedikit berlari menghampiri Nuca.


"Morning.." Sapa Yoa sambil tersenyum pada Nuca dan mulai berjalan disamping Nuca.


"Morning." Jawab Nuca sambil melihat kearah Yoa lalu kembali fokus berjalan dengan cool, "Udah sehat?" Tanya Nuca tanpa melihat ke arah Yoa.


Yoa mengangguk kecil, "Hmm. Thanks yaa waktu itu aku gak kebayang kalau gak ada kamu."


"Lain kali manfaatin teknologi bernama handphone."


Yoa sedikit mengerucutkan bibirnya, "Iya-iya abang Nuca."


"Lo itu harusnya panggil gue adek."


"Tapi kan kamu umurnya lebih tua dari aku."


"Terserah lo aja."


"Oke. Aku harus belok kanan." Kata Yoa menghentikan langkahnya di perempatan lorong, "Bye bye abang sepupu ku yang ganteng." Ucap Yoa sambil melambai lalu mengambil jalan ke kanan menuju kelasnya.


Nuca tersenyum kecil melihat punggung Yoa yang menjauh pergi.


Sampai di kelas Yoa melihat 3 teman nya sudah duduk di tempat duduk masing-masing. Lia dan Mina tampak sibuk dengan hp mereka sedang Yeri melamun sambil senyum-senyum gak jelas.


"Masih pagi hey udah senyum senyum sendiri. Kesambet baru tau rasa lo." Goda Yoa saat melewati Yeri lalu duduk di tempatnya.

__ADS_1


Yeri yang makin tersenyum mendengar Yoa menggoda nya pun membalikkan tubuhnya ke arah Yoa.


"Gue itu lagi happy tauk." Ucap Yeri.


"Happy kenapa? Dm lo di bls sama gebetan lo? Atau menang giveaway album kpop?"


"No. Ini tu happy nya di atas tingkat happy kalau dapet postcard bias."


"Apaan sih? Gue jadi kepo kok bisa ngalahin oppa oppa lo."


"Happy nya itu karena.." Yeri menjeda kalimatnya, lalu tersenyum jahil menatap Yoa, "Karena rahasia.." Teriak Yeri kemudian.


"iihh resek." Gerutu Yoa sambil melempar bukunya ke arah Yeri disambut tawa Yeri.


"Ngomongin apaan sihh sampek ngakak gitu lo Yer?" Kata Mina.


"Ngomongin oppa nya si Yeri dating sama unnie." Sahut Yoa kesal.


"Dihh jangan dong." Bantah Yeri.


Pandangan Lia menangkap tangan Yoa yang lengan jaket nya sedikit tersingkap, punggung tangan Yoa tampak di pasang plester lumayan besar. Lia langsung menghampiri Yoa meraih tangan Yoa.


"Tangan lo kenapa? What happen?"


Yoa kaget mendengar pertanyaan Lia. Padahal sedari tadi ia sengaja menutupi dengan jaket dan tanpa sadar tersingkap saat ia melempar buku ke arah Yeri.


Mina juga langsung berdiri ikut menghampiri Yoa, "Yo lo kenapa deh?"


"Gue baru ngeh." Tambah Yeri.


"Eee, anu.." Yoa sedikit gugup.


"Anu apa? Cerita sama kita." Sela Lia.


"Iyaa lo itu kebiasaan apa-apa gak mau cerita." Tambah Yeri.


"Ini tu.."


"Ini apa sih Yo." Sela Lia lagi.


"Yaa lo jangan nyela dong Li, sini aku bisikin." Kata Yoa sambil menyuruh teman-teman nya sedikit merapat. Yeri, Lia dan Mina pun menurut.


Duhh cerita gak yaa..


"Ini itu karena.." Yoa menjeda kalimatnya sejenak lalu menatap wajah teman-teman nya yang tampak serius, ia menyeringai, "Karena kebanyakan streaming mv bias." Lanjut Yoa dengan tawa terbahak-bahak.


"Yoaa....." Teriak Yeri, Lia dan Mina hampir bersamaan dengan wajah kesal.


"Awas lo bohong lagi." Ancam Lia.


"Iyaa-iyaa enggak hehe."


Yeri, Lia, dan Mina pun merapat kembali dan akhirnya Yoa pun menceritakan semua kejadian yang menimpa nya.


"Gilak yaa tu orang!" Umpat Lia.


"Sumpah ini tu udah keterlaluan banget Yo." Tambah Yeri.


"Iyaa Yo. Lo harus laporin ke guru kalau perlu ke dewan sekolah." Kata Mina.


"No. Gue gak mau bikin keluarga gue kwatir."


"Tapi Nuca tau, dia kan sepupu lo, gak mungkin kan dia gak ngasih tau keluarga lo." Jelas Yeri.


"Gue sihh udah bilang ke bang Nuca buat jangan bilang ke keluarga gue. Tapi gue ngerasa abang-abang gue udah pada tau."


"Kok bisa?" Tanya Lia.


"Biasa nya nih bang Junho tu kepo parah, tapi kemarin gak ada bahas sama sekali."


"Dua senior gila itu harus kabur dong kalau gitu." Yeri menyeringai jahat.


"Maksud lo Yer?" Tanya Mina.


"Jangan bilang lo pada gak tau kalau pak Hendra Jangyong itu donatur terbesar disekolah kita." Jelas Yeri pada teman-teman nya yang terlihat bingung.


"Oh iyaa lo bener Yer. Walaupun bokap senior Bella kepala sekolah tapi kan tetep kalau gak ada bokapnya Yoa sekolah ini gak bakal jalan." Tambah Lia bersemangat.


"Lo tinggal bilang ke bokap lo buat atasin mereka Yo." Mina.


"Apa kalian pikir gue bisa berbuat sejauh itu?" Tanya Yoa pada teman-temannya dengan gaya dibuat-buat seimut mungkin.


"Aishhtt.. Jangan sok imut gitu lo, jijik gue." Kata Yeri.


"Udahlah ibu peri macam Yoa mana boleh berbuat jahat." Mina.


"Nanti dipulangin ke kayangan kalau berbuat jahat." Lia.


Hahahahaha. Tawa mereka berempatpun pecah diiringi suara gaduh murid lain yang mulai berdatangan.


Apa dikehidupan sebelumnya gue menyelamatkan dunia? Sampek gue diberkati untuk dekat dengan banyak orang baik, salah satu nya mereka bertiga. Gumam Yoa dalam hati.

__ADS_1


####


Hendra sedang berada di dalam pesawat pribadinya bersama asisten Cho untuk pulang dari urusan bisnis di luar negeri. Hendra melihat foto-foto yang dikirim Hanse pada nya, foto yang memperlihatkan Yoa tertawa bersama teman-teman nya pagi ini.


"Berapa lama lagi kita sampai Cho?"


"Sekitar 2 jam lagi tuan."


"Kenapa lama sekali. Aku sudah rindu anak perempuan ku."


"Maafkan saya tuan."


"Lihat lah." Hendra menunjukkan foto Yoa di tab nya pada asisten Cho yang duduk didepan nya, "Dia sudah bisa tertawa selepas ini."


"Nona muda memang berhati baik tuan."


"Kamu benar Cho. Aku dan Diya sangat beruntung memiliki anak seperti Aeri."


"Iyaa tuan."


"Kamu sudah menyiapkan hadiah untuk teman-teman Yoa juga?"


"Tentu saja tuan. Sudah saya belikan sesuai perintah tuan."


"Bagus." Hendra kembali memandangi foto Yoa dengan perasaan tidak sabar untuk segera memeluk putri kecilnya.


####


Jam istirahat pun tiba. Yoa sedang mengantri makanan bersama teman-teman nya di kantin. Yeri dan Yoa mengantri di penjual siomay, sedang Lia dan Mina di penjual nasi padang.


"Lo tanpa pare kan Yo?" Tanya Yeri.


"Iyaa seperti biasa." Jawab Yoa yang sedang fokus pada hp nya tanpa menoleh ke arah Yeri.


"Panggilan ditujukan kepada Yoa Aeri 8-1 untuk datang ke ruang kepala sekolah, sekali lagi panggilan ditujukan kepada Yoa Aeri 8-1 untuk datang ke ruang kepala sekolah. Terima kasih." Suara dari speaker sekolah.


"Lo dipanggil ke ruang kepsek?" Tanya Yeri sedikit berbisik.


"Gue juga denger." Jawab Yoa juga berbisik.


Lia dan Mina juga langsung menghampiri Yoa dan Yeri setelah mendengar suara dari speaker sekolah.


"Jangan bilang ini kerjaan senior Bella." Ucap Lia begitu tiba disamping Yoa dan Yeri.


"Siapa yang salah siapa yang dipanggil, aneh banget." Tambah Mina.


"Lo mau kita temenin?" Tanya Yeri karena melihat Yoa sedikit gugup.


"Gak usah, gue sendiri aja." Jawab Yoa.


"Lo yakin?" Tanya Yeri lagi.


Yoa hanya mengangguk.


"Kalau ada apa-apa langsung telfon kita aja." Lia.


Yoa hanya mengangguk lagi, lalu mulai berjalan meninggalkan teman-teman nya.


Sementara itu diruang kepala sekolah Hendra sedang mengobrol dengan Rudi kepala sekolah Yoa.


"Saya sudah panggilkan Yoa nya pak." Kata Rudi.


"Terima kasih pak Rudi." Jawab Hendra.


"Samasama pak Hendra tak perlu sungkan. Yoa pasti juga senang bertemu orang yang sudah membiayai sebagian biaya sekolahnya selama ini."


"Pak Rudi tak perlu membahas itu, itu sudah kewajiban saya."


Tiba-tiba pintu ruang kepala sekolah terbuka, Hendra berharap itu Yoa, karena ia sudah sangat merindukan anak perempuan nya itu, ditambah malam itu Yoa menangis ingin sekali bertemu dengan nya.


"Bella?" Kata Rudi begitu melihat seorang yang menyelonong masuk tanpa mengetuk pintu, "Kamu itu kebiasaan gak sopan."


Pak Hendra? Donatur sekolah sekaligus papa nya Junho Jangyong. Kesempatan bagus, aku kasih tau aja soal anak panti biar Junho dijauhkan dari anak panti itu. Gumam Bella dalam hati sambil menyeringai licik.


Bella hanya bersikap biasa saja dan berjalan menghampiri Rudi, "Maaf pah, aku cuma pengen ngobrol sama papah."


"Ini di sekolah Bella, papah juga lagi ada tamu, kan malu sama pak Hendra."


"Gak perlu sungkan pak. Mungkin putri nya kangen." Sela Hendra.


"Maaf yaa pak. Bella salim dulu sama pak Hendra."


Bella pun menghampiri Hendra dan mencium punggung tangan Hendra, "Hallo pak Hendra, saya Bella."


"Iyaa Bella saya Hendra. Anak pak Rudi cantik." Puji Hendra.


"Terima kasih pak."


Tok-tok. Suara pintu diketuk dari luar.


"Masuk." Ucap Rudi.

__ADS_1


Pintu pun terbuka pelan-pelan. Seketika Hendra berdiri melihat sosok yang masuk ke dalam ruangan itu. Senyum Hendra pun mengembang. Rudi ikut berdiri sebagai rasa hormat karena melihat Hendra berdiri. Berbeda dengan Hendra, Bella tampak sedikit terkejut dan kesal melihat sesosok siswa perempuan cantik yang sudah masuk dengan menundukkan wajahnya.


__ADS_2