
Junho sangat cemas memikir Yoa yang sedang marah padanya dari kemarin. Bahkan pagi ini Yoa minta diantar dengan mobil yang berbeda dengan Junho. Sangking cemas nya, Junho sampai ijin keluar sekolah untuk menemui Yoa di sekolahnya.
Bell istirahat berbunyi, seperti biasa Yoa akan pergi ke perpus dengan Allen.
"Ciyee yang makin dekat sama senior Allen." Goda Yeri.
"Iyaa loh, bisa bisa dari membaca jadi cinta." Tambah Mina diikuti tawa teman-teman nya.
"Pasti bakalan langsung jadi couple of the years." Sela Lia tak mau kalah.
Yoa hanya senyum senyum, "Apaan sih kalian masih kecil juga, gak boleh cinta cintaan."
"Oh iyaa lupa, Yoa kan masih kecil, masih 13 tahun, belum boleh pacaran guys." Kata Mina makin menggoda Yoa.
"Iya iya bener, adek kita ini masih kecil, gak boleh pacaran dulu." Sambung Lia yang makin membuat tawa mereka makin sumringah.
"Sudah yaa kakak kakak ku yang cantik, jangan menggoda ku terus, lebih baik kalian makan biar kenyang, oke." Jawab Yoa sambil mulai beranjak diikuti teman-teman nya yang juga akan keluar kelas.
Yoa memang lebih muda karena ia masuk sekolah lebih cepat. Usia teman-teman nya sudah 15 tahun, sedang Yoa masih 13 tahun, namun teman-teman nya tidak menuntut Yoa memanggil nya kakak, agar terasa lebih akrab.
Saat mereka berjalan keluar kelas terdengar suara dari speaker sekolah, "panggilan ditujukan kepada Yoa Aeri 8-1 untuk datang ke depan pintu masuk. Sekali lagi panggilan kepada Yoa Aeri 8-1 untuk datang ke depan pintu masuk. Terima masih."
"Ada apa Yo kok lo dipanggil?" Tanya Yeri.
"Gak tau. Ada apa yaa kira-kira?" Jawab Yoa.
"Buruan kesana aja deh, siapa tau penting." Kata Yeri lagi diikuti anggukan Mina dan Lia.
"Anterin gue yuk." Pinta Yoa yang langsung disetujui teman-teman nya. Mereka pun menuju pintu masuk sekolah nya.
Sementara di pintu masuk dipenuhi kerumunan siswa perempuan yang tertarik pada seorang siswa laki-laki dengan hoodie hitam dan celana sekolah menengahnya yang tampak sangat tampan, tak ketinggalan bucket hat hitam dan masker hitam yang sudah ditarik nya kedagu. Tentu saja itu menarik siapapun yang memandangnya ingin mengabadikan gambarnya, namun bak seorang artis, 2 pengawal siswa tampan itu memperingatkan mereka untuk tidak mengambil gambar atau akan di tuntut melanggar privasi. Berbeda dengan wajah siswa perempuan yang tampak berseri-seri memandangnya, wajah siswa laki-laki itu malah terlihat sangat cemas dengan memegang paperbag mcd dan 1 bucket bunga tulip putih.
"Kak Junho?" Sapa satu siswa perempuan yang berjalan mendekat dengan teman nya.
"Siapa lo?" Jawab Junho cuek dan dingin.
"Riska temen nya Rike. Masak lupa sih, kita pernah live bareng di acara NBS." Jelas Riska dengan semangat.
"Oh temen nya Rike." Jawab Junho singkat masih dengan perasaan cemas.
"Oiya kenalin ini teman aku Bella. Bella, ini kak Junho tau kan?" Kata Riska memperkenalkan Bella.
Bella mengulurkan tangan, "Tentu saja tau. Hallo, gue Bella."
Junho menatap dingin uluran tangan Bella, lalu memperlihatkan kedua tangan nya yang sibuk memegang paperbag dan bunga.
Bella pun menarik tangan nya lagi, "Ah iyaa gapapa, salam kenal yaa."
"Hmm.." Jawab Junho malas.
"Oiya kak Junho ngapain kesini?" Tanya Riska.
"Mau ketemu seseorang." Jawab Junho singkat.
Sementara Junho terlibat percakapan yang membuat nya sangat malas, Yoa dan teman-teman nya sudah sampai di pintu masuk.
"Rame banget." Kata Mina.
"Ada apaan yaa?" Tanya Lia.
__ADS_1
"Bagi-bagi sembako kali. Lo dapet sembako kali Yo." Celetuk Yeri.
"Ngaco. Mending gue nanyak ke depan dulu." Kata Yoa mulai berjalan mendekati pintu masuk yang biasanya untuk laporan tamu, diikuti ketiga teman Yoa.
Seketika langkah kaki Yoa terhenti melihat sesosok laki-laki tampan yang sangat ia kenal berdiri tidak jauh dari nya dengan paperbag di tangan kiri dan bucket bunga di tangan kanan.
"Abang lo?" Gumam ketiga teman Yoa lirih hampir bersamaan.
"Haduh ngapain sih bang Junho kesini." Gerutu Yoa hingga pandangan mereka pun bertemu.
"Yoa.." Teriak Junho dengan senyum yang sangat manis yang seketika mengundang semua mata mengarah ke pemilik nama, tak terkecuali Riska dan Bella yang tentu saja sangat kaget mendengar nama yang disebut Junho.
Yoa pun berjalan cepat ke arah Junho meninggalkan teman-teman nya. Yoa menarik Junho sedikit menjauh dari kerumunan, yaa meskipun masih dalam pandangan bingung semua orang.
"Bang Junho ngapain sih kesini?" Tanya Yoa sedikit berbisik.
Junho tersenyum, "Ketemu kamu lah. Abang gak bisa lama-lama dicuekin kamu. Maafin yaa?" Rayu Junho dengan wajah memelas.
"Tapi gak harus kesini juga."
Junho menyerahkan paperbag ke tangan kanan Yoa, "Abang bawain kamu mcd, pasti belum makan siang kan?"
Yoa sedikit tersenyum melihat paperbag mcd, jangan lupa Yoa paling lemah dengan mcd.
"Dan ini.." Lanjut Junho sambil mengangkat bunga tulip putih yang ia bawa, "Tulip putih simbol permintaan maaf. Maafin abang yaa? Abang gak kuat kalau kamu cuekin lama-lama." Kata Junho lagi-lagi dengan memelas.
Dan lagi-lagi Yoa tersenyum, Junho berhasil membuat hati nya tersentuh, Yoa pun menerima bunga itu dengan tangan kanan nya.
"Tapi janji ya gak posesif lagi." Kata Yoa.
"Asal kamu selalu cerita sama abang apapun itu."
"Jadi dimaafin?"
Yoa hanya menjawab dengan mengangguk.
"Yes." Sorak Junho yang tiba-tiba melakukan aksi yang sontak membuat semua mata melotot dan melongo tak percaya.
"Bang Junhooo, kebiasaan banget sih cium cium sembarang." Gerutu Yoa menahan malu karena sedari tadi jadi tontonan.
"Nyium adek sendiri masak gak boleh sih." Jawab Junho.
"Tapi lihat situasi juga dong bang. Mending sekarang bang Junho balik, atau aku aduin ke tante Diya kalau bang Junho bolos." Ancam Yoa.
"Siapa bilang abang bolos? Orang ijin kok."
"Terserah lah, kan udah dimaafin, yaudah balik sekarang yaa?" Kata Yoa memohon.
"Tapi..." Junho tersenyum usil, "Peluk dulu." Lanjutnya sambil merentangkan kedua tangan.
Yoa terbelalak mendengar permintaan Junho, "Jangan gila deh bang."
"Yaudah kalau gitu abang gak mau balik." Kata Junho pura-pura ngambek.
Yoa melihat sekelilingnya yang jelas sorot-sorot mata yang memandangnya tajam. Lalu Yoa menatap Junho yang tersenyum manis padanya.
Bang Junho manis banget. Sampek bela-belain kesini demi minta maaf. Gumam Yoa dalam hati, lalu tersenyum pada Junho dan mendekat kepelukan Junho.
"Yoa sayang banget sama bang Junho." Kata Yoa lirih.
__ADS_1
"Bang Junho juga sayang banget sama kamu." Jawab Junho mengeratkan pelukannya, lalu melepaskan dan mengusap lembut puncak kepala Yoa, "Yaudah abang balik yaa. Jangan lupa makan."
Yoa mengangguk, "Bang Junho ati-ati."
Junho mengangguk, lalu berlalu pergi. Yeri, Mina dan Lia langsung menghampiri Yoa begitu Junho pergi.
"Huuwaaa Yoa, gue envy banget sama lo." Kata Mina.
"Lo abis menyelamatkan dunia yaa dikehidupan sebelumnya? Kok bisa beruntung banget." Tambah Lia.
"Mulai dehh lebay nya." Jawab Yoa.
"Yo.." Yeri mengarahkan mata nya ke arah Riska dan Bella yang sedari tadi menatap nya penuh emosi.
"Pinter juga ya lo ternyata bisa kenal cowok cowok tajir. Kemarin kak Guan, sekarang kak Junho. Pakek pelet dimana lo?" Kata Riska sambil berjalan mendekat pada Yoa bersama Bella.
Yoa merentangkan tangan nya menahan teman-teman nya yang sudah pasti sangat emosi.
"Pantes aja Hendri jauhin lo, ternyata kayak gini sifat asli lo." Kata Bella sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Bilang aja kalian iri." Celetuk Yeri.
"Yer.." Sela Yoa.
"Sorry ya kita gak level tu iri sama anak panti macam teman kalian ini." Kata Riska sambil menunjuk-nunjuk Yoa.
"Mending lo berhenti deh nyari-nyari cowok kaya, sebelum gue aduin ke bokap gue. Gue gak mau yaa kalau sampek lo kena skandal terus malu-maluin sekolah ini." Kata Riska yang memang anak pemilik sekolah.
"Kenapa sih kalian berdua kok jahat banget sama Yoa?" Celetuk Mina.
"Iyaa emang Yoa salah apa sih sama senior?" Tambah Lia.
"Mina, Lia, udah diem." Perintah Yoa.
Yoa mencoba menahan emosi nya sebisa mungkin, walaupun sebenarnya hati nya sangat sakit.
"Gue gak peduli yaa lo mau deketin siapa pun, asal lo jangan deketin kak Junho dan kak Guan." Gertak Riska.
"Harusnya tadi itu kita aduin saja Ris ke Junho kalau anak panti ini cewek gak bener." Tambah Bella.
"Gimana kalau gue bantuin aduin ke bang Junho?" Kata suara yang tiba-tiba mendekat, "Mumpung gue lagi kangen banget nihh pengen nelfon bang Junho."
Siapa ni cowok? Kok kenal bang Junho. Gumam Yoa dalam hati sambil mengamati seorang siswa laki-laki tinggi, manis dan terlihat memiliki gigi gingsul.
"Ehh Nuca. Lo mau nelfon kak Junho yaa? Lo punya nomer nya? Gue mintak dong." Kata Riska sok akrab dengan siswa laki-laki yang ternyata bernama Nuca.
Nuca tertawa geli, "Cihh! Tadi gue denger lo sombong banget nyuruh nyuruh Yoa jauhin bang Junho, ternyata nomer hp nya aja lo gak tau."
Riska gelagapan salah tingkah karena tebakan Nuca sangat benar, "Gue itu gak tau nomer baru nya. Kata Rike bang Junho ganti nomer."
Nuca kembali tertawa mendengar jawaban Riska, "Hahaha lo lagi nglawak yaa? Kok lucu banget. Sekedar informasi aja nih, bang Junho itu tidak pernah mengganti nomer nya sejak dia mengerti hp."
Lagi-lagi Riska salah tingkah mendengar jawaban Nuca yang tentu saja membuat Yoa dan teman-teman nya melipat ujung bibirnya ke dalam menahan tawa. Riska berdecak kesal, lalu berlalu pergi bersama Bella.
Yoa menghampiri Nuca, "Thanks yaa."
"Sama-sama adek sepupu." Jawab Nuca yang tentu saja membuatkan Yoa dan ketiga teman nya membulatkan mata.
"Sepupu?" Tanya Yoa bingung.
__ADS_1