Nona Muda Jangyong

Nona Muda Jangyong
Episode 7 : Bukti


__ADS_3

Yeri, Mina dan Lia samasama bingung dengan pertanyaan Yoa. Hampir 2 tahun mereka berteman, Yoa sangat jarang berbicara tentang keluarga apalagi orangtua. Bahkan saat bersama Yoa mereka sebisa mungkin tidak berbicara tentang keluarga karena mereka tau Yoa sejak kecil tinggal di panti asuhan.


"Ada yang mau adopsi lo lagi yaa?" Tanya Yeri.


"Emmm.. Iyaa." Jawab Yoa sedikit berat, karena ia belum siap cerita pada teman teman nya disaat hati nya sendiri belum sepenuhnya siap menerima.


"Dan lo setuju adopsi itu?" Tanya Mina.


Yoa mengangguk sedikit ragu.


"Lo yakin?" Tanya Lia juga.


Yeri, Mina dan Lia sangat tau kalau Yoa selalu tidak setuju tentang adopsi, mereka tidak tau alasan sebenernya karena Yoa juga tidak pernah cerita, mereka hanya tau kalau Yoa sangat mencintai keluarganya di panti asuhan cempaka.


"Gue belum yakin. Tapi gue pengen belajar menerima." Jawab Yoa.


"Kita seneng kalau akhirnya lo udah setuju mau punya keluarga, tapi jangan memaksakan, cukup lakukan yang membuat lo bahagia." Kata Yeri.


"Iyaa bener Yo. Kita pasti jadi orang pertama yang sangat setuju kalau lo punya keluarga, asal itu buat lo bahagia." Tambah Lia.


"Jadi Yo, lo harus yakinin hati lo dulu kalau pasti bahagia saat punya keluarga." Kata Mina tidak mau kalah menyemangati teman nya.


Yoa tersenyum menatap ketiga teman nya. Dia merasa sangat beruntung bertemu mereka, hal itu lah yang membuat nya kuat selama ini dan tidak punya waktu untuk bersedih karena tidak punya keluarga.


"Jadi serius lo udah setuju adopsi?" Tanya Yeri lagi.


"Gue sihh bilang kalau bakal belajar menerima, akhir pekan ini gue bakal ketemu sama calon nyokap gue." Jelas Yoa.


"Yang adopsi lo ibu tunggal?" Tanya Lia.


"Bukan. Kata Bu Dewi mereka orangtua lengkap sama 3 anak laki-laki. Tapi suami nya masih ada urusan pekerjaan jadi belum bisa bertemu."


"Ohh, mungkin mereka adopsi lo karena mereka ingin anak perempuan." Jelas Yeri.


"Wahh, pasti keren banget lo punya 3 saudara laki-laki Yo, lo bakalan jadi tuan putri di keluarga mereka." Kata Mina sambil senyum senyum membayangkan Yoa menjadi putri kerajaan.


"Berlebihan dehh lo Min." Sanggah Yoa.


Yoa, Yeri dan Lia tersenyum melihat tingkah Mina.


####


Aeri J. Boutiqe


Diya terlihat mencoba beberapa baju didepan kaca, mengambil melihatnya di cermin, dirasa tidak cocok mengambil yang lain, begitu terus sampai beberapa kali ia merasa sedikit kesal karena menurutnya tidak ada yang cocok.


"Mana yang harus aku pakai pelayan Si? Bukankah tidak ada yang cocok dengan ku?" Tanya nya pada pelayan Si yang sedari tadi terlihat bahagia melihat majikan nya begitu bersemangat.


"Pakaian apa saja sangat cocok dengan mu nyonya."


"Kau berbohong. Aku ingin pakaian yang terbaik, karena ini pertama kali nya aku akan bertemu anak ku sebagai mama."


"Nona muda pasti senang apapun yang akan nyonya pakai."

__ADS_1


Diya tersenyum mendengar jawaban pelayan Si, "Kau benar. Dia gadis yang sangat sederhana, dia tidak akan peduli dengan pakaian yang akan ku pakai, dia hanya akan peduli siapa yang akan dia temui."


"Benar nyonya. Nona muda adalah gadis yang sangat baik."


"Dia putri ku yang berharga." Diya tersenyum bahagia mengingat wajah anak perempuannya, "Dia pasti akan terkejut melihat ku nanti." Tiba tiba wajah Diya terlihat sedikit sedih.


"Saya yakin nona muda akan senang nyonya, karena nona sudah mengenal nyonya." Jelas pelayan Si mencoba menenangkan majikan nya.


"Semoga." Jawab Diya singkat.


####


Hari pertemuan pun tiba, sejak pulang sekolah Yoa terlihat gelisah. Ia mondar mandir di kamarnya, entah apa yang sedang dipikirnya, ia sedikit tidak sabar, juga sedikit takut.


"Kak Yoa berhentilah menirukan setrika apa kau tak lelah?" Kata Sinta teman sekamar Yoa yang berumur 3 tahun lebih muda dari Yoa.


Yoa langsung duduk di samping Sinta yang sedang duduk di ranjang, "Aku takut."


"Kalau takut tidak usah menerima nya."


"Mana bisa?"


"Bukankah biasanya kakak akan menolak?"


Yoa menatap Sinta bingung harus menjawab apa, karena memang tidak ada penghuni panti yang tau masalahnya kecuali Bu Dewi, Bunda dan Pak Ahmad.


"Tapi aku sudah bilang akan belajar menerima."


"Harusnya kak Yoa senang karena sudah mengenal orang yang akan mengadopsi kakak."


"Kenal?"


"Iyaa, yang akan mengadopsi kakak kan tante Di..." Jawaban Sinta terpotong saat ada yang membuka pintu kamar mereka.


"Yoa.." Terlihat Bunda berjalan memasuki kamar mereka, "Ayo kita keluar." Kata Bunda dengan tersenyum.


"Iyaa Bunda." Jawab Yoa yang kemudian berdiri dari tempatnya.


"Sinta segera lah makan siang." kata Bunda pada Sinta.


"Baik Bunda."


Yoa dan Bunda pun keluar ruangan menuju ruang sekretariat. Yoa sedikit gelisah, tapi juga penasaran siapa orangtua kandungnya. Sesampainya di ruang sekretariat Yoa hanya menunduk, jantungnya berdetak semakin kencang.


"Yoa?" Sapa seorang wanita cantik yang membuat Yoa terkejut sekaligus senang karena dia sangat mengenal suara itu.


Yoa pun mengangkat kepala nya dan menatap sumber suara, "Tante Diya?" Kata Yoa sangat senang dan langsung berlari menghampiri Diya.


Diya memeluk Yoa dan mengusap rambutnya, "Sayang apa kabar? Tante kangen banget sama Yoa."


"Yoa juga kangen banget sama tante. Tante pasti sedang sibuk yaa? Sudah lama tidak ke cempaka."


"Iyaa sayang tante sangat sibuk, maafkan tante yaa?"

__ADS_1


Yoa mengangguk mantab sambil tersenyum. Yoa memang sangat dekat dengan Diya sejak 2 tahun terakhir, Diya juga membiayai biaya sekolah Yoa selama di sekolah menengah pertama. Yoa sangat menghormati Diya, karena Diya sering memberi nya hadiah.


Yoa sedikit larut dalam kebahagiaan nya karena bertemu wanita yang begitu dia rindukan. Lalu dia tersadar tujuan nya ada di ruang sekretariat. Yoa mengedarkan pandangan pada semua orang yang ada di ruangan itu.


Bunda, Bu Dewi, Pak Ahmad, Tante Diya, dan pria tua itu, aku sering melihatnya kesini dengan Tante Diya, tidak mungkin wanita ini kan? Dia sepertinya terlalu muda untuk disebut ibu 4 anak. Gumam Yoa dalam hati sambil menatap pelayan Si tajam.


Pelayan Si yang menyadari hal itu langsung menunduk menatap Yoa, "Selamat siang nona muda."


Nona muda? Dia memanggil ku nona muda? Kata Yoa dalam hati bingung.


Yoa hanya membalas dengan senyum canggung.


"Seperti nya Yoa sangat bersemangat bertemu mama nya." Ucap Bu Dewi mengawali pembicaraan yang membuat Yoa kembali gelisah.


Semua orang dalam ruangan itu tersenyum.


"Sayang, lihat lah foto yang tante bawa untukmu." Kata Diya sambil menyerahkan sebuah foto keluarga, dalam foto itu ada laki-laki yang merangkul perempuan yang sedang menggendong anak perempuan yang berusia sekitar 3 tahun, dan ada 2 anak laki laki yang berusia sekitar 6 tahun dan 13 tahun dalam foto itu.


Deg. Jantung Yoa semakin tidak karuan melihat foto keluarga itu.


Bayi perempuan ini mirip dengan foto kecilku. Ahh tidak, bukan mirip, ini memang aku ketika kecil. Dan perempuan ini mirip tante Diya. Apa ini? Aku tidak mengerti.


Bunda mendekati Yoa yang sedari tadi sudah duduk di samping Diya. Lalu membelai rambut nya lembut, "Sayang, Bu Diya adalah mama mu."


Mata Yoa membulat tidak percaya. Ia menatap Diya yang sudah mulai menitikkan airmata yang sedari tadi ditahan nya, karena ia sangat terharu bisa berada di hari yang sangat di nantikan 10 tahun lama nya.


Tante Diya? Mamaku? Wanita cantik dan sangat baik ini mamaku? Bagaimana mungkin?


Diya membelai pipi Yoa, "Sayang, anak mama." Diya tidak bisa menahan airmata nya yang semakin deras.


Yoa masih terdiam tidak percaya. Semua orang dalam ruangan merasa terharu sekaligus lega bisa mempertemuan keluarga yang lama terpisah.


Yoa menatap Diya bingung, tidak bisa dipungkiri dia sedikit lega karena orangtua kandungnya ternyata adalah orang yang sudah sangat ia kenal, bahkan sudah ia sayangi seperti ibu kandung sendiri.


"Sayang, ini mama. Apa kau tidak senang bertemu mama?" Tanya Diya karena melihat Yoa seperti tidak bisa mengeluarkan ekspresi apapun.


"Yoa, Bu Diya adalah mama mu nak. Lihat, foto itu buktinya. Sama kan seperti yang Pak Ahmad berikan padamu?" Kata Pak Ahmad, Yoa hanya mengangguk.


"Iyaa sayang, kamu pasti bahagia kan Bu Diya menjadi mama mu?" Tambah Bu Dewi.


"Ayoo sayang peluk mama mu, kau pasti ingin kan merasa kan pelukan mama?" Ucap Bunda tak ketinggalan memberi semangat Yoa.


Yoa menatap Diya yang terlihat tersenyum dengan airmata yang masih mengalir. Tiba-tiba Yoa langsung memeluk Diya, "Apa benar tante Diya mama Yoa?" Tanya Yoa.


Diya mengeratkan pelukan sambil mengangguk mantab, "Tentu saja benar sayang. Kamu anak mama yang mama rindukan selama ini."


Hangat. Jadi pelukan hangat yang selalu aku rasakan tiap bertemu tante Diya adalah pelukan seorang mama. Pelukan ini sangat hangat.


Diya melepaskan pelukan nya, "Cho berikan itu pada anakku." Kata Diya sambil meminta asisten Cho memberikan sesuatu yang ia bawa.


"Baik nyonya." Jawab Asisten Cho sambil berjalan mendekati Yoa memberikan sebuah map dan album foto, "Ini nona muda silahkan dibuka. Ini adalah hasil tes DNA dan foto foto nona semenjak dalam kandungan hingga berusia 3 tahun sebagai bukti nona benar benar anak kandung nyonya Diya dan tuan Hendra." Jelas Asisten Cho pada Yoa.


Yoa mulai membuka map itu, dan benar hasilnya 99,9% memiliki hubungan darah.

__ADS_1


Aku benar-benar anak tante Diya.


Lalu Yoa mulai membuka album foto, banyak foto foto nya semasa kecil dengan baju baju yang berbeda beda dan terlihat mahal, membuatnya mulai mau menerima.


__ADS_2