
Sementara di sekolah nya Junho sedang makan di kantin bersama dua teman nya. Junho tampak kesal karena Yoa tidak membalas chat nya dan nomornya malah mendadak tidak aktif.
"Nelfonin siapa sih lo? Serius banget." Tanya Deka.
"Adek gue. Nomer nya malah gak aktif." Jawab Junho.
"Lagi kelas mungkin." Tambah Deka.
Junho tidak menjawab. Tiba-tiba Rike datang dan langsung duduk di kursi kosong samping Junho.
"Bang Junho.." Sapa Rike yang hanya dibalas tatapan kesal Junho, "Hai Kak Deka, Kak Guan." Deka membalas dengan senyum sementara Guan tidak peduli dan fokus pada hp nya.
"Ngapain sih lo kesini?" Tanya Junho dengan nada kesal.
"Bang Junho jutek banget sih. Kan aku cuma pengen ngobrol." Jawab Rike.
"Lama-lama kalian berdua tu cocok lo. Coba kalau bukan sepupu, pasti udah kek orang pacaran hahaha." Goda Deka sambil ketawa yang langsung mendapat tatapan kesal Junho.
"Mau mati yaa lo?" Ancam Junho.
Rike justru senang sambil gelayutan di lengan Junho, "Kayaknya sah-sah aja sepupu pacaran, iyaa kan bang Junho?"
Junho menarik lengan nya kasar, "Gak usah ngaco, siapa juga yang mau pacaran sama lo?"
Deka cekikikan melihat Junho marah. Rike mengerucutkan bibirnya kesal, lalu mengalihkan pandangan pada Guan yang sibuk dengan hp nya seolah tidak peduli sekitarnya.
"Oiya bang Junho, inget gak temen ku Riska?" Tanya Rike.
"Gak." Jawab Junho singkat.
"Yang satu agensi sama Guan bukan sih?" Sela Deka.
"Iyaa itu. Kak Deka inget?"
"Inget lahh. Fans nomer 1 nya Guan kan?" Jawab Deka menggoda Guan yang tetap tidak peduli.
"Iyaa dia itu suka tau sama kak Guan. Tapi kak Guan nya cuek aja. Emang kak Guan punya pacar ya?" Tanya Rike pada Guan.
"Enggak. Dan gak pengen punya pacar." Jawab Guan cuek dengan masih fokus pada hp nya.
"Guan lagi ngincer adek nya Junho." Celetuk Deka sambil melirik Junho yang sedang menikmati cola nya, tapi tampak tidak peduli dengan ucapan Deka, karena batin Junho gapapa kalau Guan menyukai adeknya, karena Junho sangat mengenal Guan.
"Maksudnya Aeri?" Tanya Rike sedikit kaget karena dipikirnya Deka dan Guan sudah tau Yoa sedangkan dia belum.
"Aeri? Bukan nya namanya Yoa?" Kata Deka.
"Nama nya Yoa Aeri Jangyong." Sela Junho yang membuat Guan menghentikan aktifitasnya.
Yoa? Nama gadis menggemaskan itu kan juga Yoa. Apa jangan-jangan dia? Gumam Guan dalam hati.
"Bagus deh kak Guan gak suka sama Riska karena Aeri, yang penting jangan sama anak panti yang diceritain Riska, nanti kak Guan diporotin lagi." Kata Rike.
"Darimana lo tau soal itu?" Tanya Guan mulai bicara, yang membuat Junho dan Deka mulai penasaran.
"Riska yang cerita. Malahan dia mintak tolong buat bantuin kasih pelajaran cewek itu." Jelas Rike.
"Gilak lo mau bully anak orang?" Kata Deka pada Rike.
"Dia itu gak punya orangtua tau kak, mana bisa disebut anak orang, lagian cewek matre kayak gitu emang pantes di.."
"Jangan ikut campur urusan oranglain." Sela Guan memotong ucapan Rike.
"Gue cuma mau bantuin Riska kak, bantuin Aeri juga. Kan biar gak ada pengganggu kalau kak Guan sama Aeri."
"Jangan bawa bawa adek gue." Bentak Junho pada Rike.
"Bang Junho kenapa malah bentak Rike sih, kan aku mau bantuin Aeri bang." Bantah Rike.
"Adek gue gak butuh bantuan lo. Dan kalau lo melakukan hal-hal aneh gue bisa aduin lo ke bokap gue." Ancam Junho mulai kesal.
"Bang Junho ngancam Rike?" Tanya Rike.
"Lo juga bakal berurusan sama gue kalau sampek melakukan hal jahat atas nama gue." Sela Guan juga mengancam Rike.
"Tapi kan gue cuma.."
"Udah-udah jangan berdebat lagi." Sela Deka memotong Rike karena merasa keributan mereka sudah mulai mengundang pandangan siswa lain. Guan pun berdiri dan beranjak pergi, Junho juga ikut berdiri namun tangan nya ditahan oleh Rike.
"Bang Junho mau kemana?"
Junho tak menjawab, hanya menarik tangan nya kasar lalu pergi mengikuti Guan.
__ADS_1
"Rike, mending lo urungin deh niat lo buat ngerjain tu cewek. Tau sendiri kan kalau Junho marah kayak apa, dan sekarang bertambah Guan. Sekedar informasi aja sih, Guan kalau marah 5x lipat lebih menyeramkan daripada Junho." Kata Deka lalu berlalu pergi mengikuti kedua teman nya. Rike menghentakkan kaki nya kesal.
####
"Bagus. Gak sia-sia waktu selama ini buat melatih ni bocah." Kata Hanse setelah melihat sebuah video di hpnya.
"Apa dia boleh bertindak tuan?" Tanya Ferdy.
"Bagaimana data-data dua gadis itu?"
"Yang satu putri pemilik sekolah dan satu nya putri pengusaha yang merupakan rekan bisnis Jangyong tuan."
"Cihh! Dasar tidak tau malu."
"Apa perlu dibereskan tuan?"
"Tidak perlu."
Harusnya perlu tuan. Saya kesal sekali melihat nona muda diperlakukan seperti itu. Dengus Ferdy dalam hati.
"Aku tau kau kesal." Lanjut Hanse, "Tapi aku ingin kau menyerang nya perlahan saja."
"Lewat orangtua mereka."
"Kau sangat paham pikiran ku Fer. Mereka menyerang adekku dengan kata orangtua, aku juga harus membalasnya demikian."
"Baik tuan, akan saya bereskan."
"Hubungi dua senjata ku, aku ingin memberi mereka hadiah."
"Baik tuan."
####
Jam sekolah telah usai. Sesuai janji Yoa menunggu Allen di dekat gerbang sekolah, karena ia takut jika jemputan nya tiba-tiba datang.
"Udah lama?" Tanya Allen setelah sedikit berlari menghampiri Yoa.
"Enggak kok baru. Lo jujur deh sama gue, gue hacker yaa?" Kata Yoa to the point.
Allen tertawa mendengar perkataan Yoa, "Hahaha kalau gue hacker, gue ngapain capek sekolah, mending cari duit bobol atm." Celetuk Allen.
"Huss mulut lo, nanti ada yang denger bisa dilaporin polisi."
"Jadi beneran lo yang hilangin postingan itu?"
"Sekarang mana bayaran gue?" Kata Allen sambil menengadahkan tangan nya.
"Jawab dulu pertanyaan gue. Gimana cara nya lo bisa ilangin postingan itu?"
"Gampang. Samperin aja yang posting terus minta dia hapus postingannya."
"Kok lo tau yang posting? Bukannya yang posting username anonim."
"Username nya doang kan yang anonim, tapi orangnya pasti nyata, gak mungkin hantu. Selama dia murid sekolah ini, gue pasti bisa temuin."
"Kayaknya gue ganti deh nyebut lo hacker. Lo lebih cocok disebut dukun mungkin."
Allen tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Yoa ditambah Yoa mengucapkan nya dengan ekspresi datar yang menurutnya sangat lucu.
"Hahaha polos banget sih lo." Kata Allen sambil mengacak acak rambut Yoa.
"Berani nya lo ngacak-ngacak rambut Yoa ku." Kata suara yang tiba-tiba datang mendekati mereka. Allen dan Yoa langsung menoleh.
"Bang Junho?" Kata Yoa setelah melihat suara yang datang adalah abangnya yang sangat posesif dengan muka kesalnya.
Junho merangkul pundak Yoa, "Sudah abang bilang, kamu gak boleh deket-deket cowok sembarangan." Kata Junho lalu mencium pipi Yoa, yang tentu saja membuat Yoa sangat malu didepan Allen.
Yoa menyentuh pipi nya bekas ciuman Junho, "Bang Junho apa-apaan sih?" Kata Yoa kesal.
"Itu hukuman karena kamu nakal."
"Apasih bang Junho aneh banget." Yoa sangat kesal dengan Junho yang menurutnya bersikap aneh.
"Siapa lo? Berani berani nya deketin Yoa." Tanya Junho pada Allen yang sedari tadi hanya senyum senyum melihat kelakuan Junho.
"Kenalin.." Jawab Allen sambil mengulurkan tangan, tapi Junho hanya melihat tangan itu dan tak membalasnya, Allen pun menarik tangan nya lagi.
"Cuekin aja Len, emang aneh manusia satu ini." Sela Yoa ketus dengan melirik Junho.
Allen tersenyum kembali, "Gak masalah Yo, gue ngerti kok. Jangan kwatir kak, gue ini gak ada niat jahat kok, justru gue pengen jagain Yoa. Iyaa kan Yo?" Yoa menjawab Allen dengan mengangguk mantab.
__ADS_1
"Maksud lo, lo memperkenalkan diri sebagai penjaganya Yoa gitu? Cihh! Gue yang lebih berhak jagain Yoa, gue itu pelindungnya." Jelas Junho.
Dan kita adalah dua pelindung Yoa. Ahh tidak, lebih tepatnya kita adalah anggota 5 pelindung Yoa. Gumam Allen sambil menatap Junho.
Allen hanya tertawa kecil mendengar perkataan Junho.
"Lo ngetawain gue yaa?" Bentak Junho.
"Bang Junho kok bentak Allen sih?"
"Kamu belain dia?"
"Bukan belain. Bang Junho kenapa deh, aneh banget tiba-tiba marah." Kata Yoa sambil menyingkirkan tangan Junho yang sedari tadi merangkulnya, "Allen makasih yaa tadi udah bantuin, besok kita omongin lagi." Lanjut Yoa lalu melangkah pergi dengan kesal menuju mobil.
"Awas ya lo deketin Yoa lagi." Ancam Junho yang kemudian sedikit berlari menyusul Yoa.
Allen menatap kepergian Yoa dan Junho dengan senyum, "Kirain kakaknya doang yang serem, ternyatanya adeknya galak juga." Gumam Allen sambil mengambil hp nya di saku celana yang tiba-tiba bergetar. Ia tersenyum melihat nama yang menelfon nya.
Allen : iyaa pak
Penelfon : kerja bagus
Allen : apa yang harus saya lakukan lagi?
Penelfon : datang ke kantor dengan Nuca
Allen : baik pak
####
Sesampainya dirumah Yoa berjalan cepat menuju kamarnya dan tidak memperdulikan Junho yang berteriak-teriak memanggilnya. Yoa sangat kesal dengan sikap posesif Junho. Yoa berlari menaiki tangga, dengan Junho mengikuti dibelakangnya.
"Dek berhenti dong. Kamu ini kenapa sih kok malah nyuekin abang."
Yoa tidak menjawab, ia membuka pintu kamarnya lalu masuk dan menutup pintu nya dengan keras. Junho menggedor-gedor pintu kamar Yoa yang terkunci.
"Dek buka dong pintunya." Teriak Junho dari depan pintu kamar Yoa.
Diya yang mendengar suara keributan keluar dari kamarnya dan menghampiri Junho yang sibuk menggedor gedor pintu kamar Yoa.
"Junho ada apa sih pulang-pulang kok ribut banget?"
"Adek marah mah, padahal aku kan ngejaga dia dari cowok cowok brengsek di luar sana."
"Astaga, masalah pacar lagi."
Pelayan Si yang mendengar ada keributan juga ikut menghampiri kamar Yoa.
"Ada apa nyonya? Tadi saya lihat nona muda buru-buru masuk kamarnya." Tanya pelayan Si.
Diya langsung melotot ke arah Junho, "Junho? Kamu apain lagi adekmu?" Kata Diya sambil mengangkat kedua tangan nya ke pinggang.
"Junho cuma larang adek deket-deket cowok mahh."
"Gak mungkin. Yoa sampai marah seperti ini pasti kamu bikin masalah."
"Tadi Junho marahin cowok yang lagi ngobrol sama adek." Jelas Junho dengan sedikit lirih.
"Dan kamu gak nanyak dia itu teman nya atau bukan?"
"Yaa enggak lah mahh, jelas-jelas dia deketin adek." Bantah Junho dengan meninggikan suaranya lagi.
"Astaga Junho, bener-bener yaa kamu." Kata Diya menahan amarahnya, "Sudah sana masuk kamar ganti baju, makan."
"Tapi adek gimana mah?"
"Masuk kamar mamah bilang." Perintah Diya dengan suara yang meninggi.
"Iyaa mah." Jawab Junho dengan lirih lalu mulai berjalan menuju kamarnya. Setelah melihat Junho masuk kamar, Diya mengetok pintu kamar Yoa. Tok tok
"Sayang. Makan dulu yuk?"
"Yoa gak laper tan." Jawab Yoa dari dalam kamarnya dengan sedikit teriak.
"Jangan gitu dong, nanti kamu sakit. Gimana kalau pelayan Si bawakan saja makanan nya ke kamar?"
Hening sejenak terasa dari kamar Yoa, hingga kemudian ia menjawab, "Iyaa tan, Yoa mau."
Diya pun tersenyum mendengar jawaban Yoa, "Yaudah kamu tunggu yaa."
Yoa tak lagi menjawab, Diya pun menatap pelayan Si, "Si suruh pelayan anter makanan buat Yoa sama Junho juga. Bilang ke Bik Dian, bikinin dimsum dan udang kesukaan Yoa."
__ADS_1
"Baik nyonya." Jawab pelayan Si sambil sedikit menunduk.