Nona Muda Jangyong

Nona Muda Jangyong
Episode 26 : Demam


__ADS_3

Waktu yang sama saat Yoa mulai diseret oleh 2 siswa yang tidak ia kenal. Nuca sudah di dekat gerbang menunggu Yoa, pandangan nya tiba-tiba tertarik pada seorang laki-laki berbaju serba hitam yang berdiri disamping mobil mewah. Ia pun berjalan mendekati orang itu.


"Kamu sopirnya pakde Hendra kan?" Tanya Nuca pada laki-laki itu.


"Tuan muda Nuca." Jawab laki-laki itu sambil membungkuk, "Benar tuan, sekarang saya sopir nona muda."


"Apa Yoa belum keluar?"


"Belum tuan muda. Harusnya sudah dari 30 menit yang lalu nona muda keluar."


Nuca merasa ada yang ganjal, "Kamu tunggu disini aja, biar saya cari Yoa, dan jangan nelfon pakde dulu."


"Baik tuan muda." Jawab laki-laki itu.


Nuca pun kembali masuk kedalam, perasaan nya seperti tidak enak. Disaat yang sama hp nya bergetar, panggilan masuk dari Allen.


Nuca : Hallo


Allen : Lo udah cek Yoa? Gue lagi ngurus tugas bentar


Nuca : Lo dimana?


Allen : Di cafe deket sekolah


Nuca : Yoa gak sama lo?


Allen : Enggak lah. Gue lagi kerja kelompok


Nuca : Shit! Lo buruan kesini


Allen : Ada apaan woy?


Nuca : Siaga


Allen : Sial!


Panggilan terputus setelah Allen mengumpat. Nuca mulai berfikir sambil berlari ke dalam sekolah lagi. Ia ingat sekali kalau tadi ada siswa laki-laki yang menghampiri nya dan menyampaikan pesan kalau Yoa membatalkan janjinya karena mau menemui Allen, dan siswa itu adalah siswa yang sama dengan yang menghampiri Yoa. Nuca mengeluarkan tab nya dengan buru-buru dari tas nya. Lalu ia mengotak-atik sesuatu, hingga layar tab nya menunjuk kan cctv sekolah. Ia melihat Yoa ditarik 2 siswa ke arah belakang sekolah yang tidak ada cctv nya. Nuca buru-buru berlari ke belakang sekolah dengan memasukkan tab ke tas nya kembali.


Sementara Riska dan Bella bersiap memulai aksinya. 2 siswa memegang tangan Yoa erat, Yoa meronta-ronta.


"Jangan, jangan. Gue mohon jangan." Pinta Yoa dengan wajah yang sudah memucat karena Bella sudah mulai menyalakan kamera hp dan Riska memulai membuka kancing baju nya. Hingga mereka mendengar suara kaki yang berlari semakin mendekat.


"Sial, ada orang." Umpat Bella.


Seketika mereka berempat bergegas pergi dengan perasaan kesal ke arah pintu keluar belakang sekolah. Tubuh Yoa melemas seketika, ia masih merasakan takut dan sedikit lega.


"Yoa." Teriak Nuca yang berlari mendekatinya. Nuca kaget melihat Yoa basah kuyup, menggigil kedinginan dengan ekpresi wajah menahan tangis.


Nuca mengancingkan baju Yoa yang dua kancing atasnya terbuka, tangan Yoa bergetar, ia ingin memeluk Nuca dengan susah payah. Nuca pun membalas pelukan nya dan mengusap rambut Yoa.


"Tenanglah. Ada gue. Gak akan ada yang bisa nyakitin lo." Ucap Nuca yang seketika membuat air mata yang sejak tadi Yoa tahan jatuh tak tertahan, mengalir deras.


"N-nuca aku takut." Kata Yoa dengan susah payah dengan bibir bergetar dan air mata yang terus mengalir.


"Jangan takut, ada gue." Hibur Nuca yang kemudian berdiri menggendong Yoa bersamaan Allen yang tergesa-gesa menghampiri.


"Shit!" Umpat Allen seketika yang melihat Yoa pucat dalam gendongan Nuca.


"Cariin seragam baru, gue bawa dia ke uks." Kata Nuca.


"Okee." Jawab Allen.


Mereka pun berpisah. Nuca membawa Yoa ke uks sementara Allen pergi ke arah lain untuk mencari seragam baru.


Yoa terus menggenggam erat tangan Nuca saat sudah berada di uks. Ia menolak untuk diperiksa dokter.

__ADS_1


"Apa lo yakin gak perlu diperiksa dokter?" Tanya Nuca yang duduk di kursi samping ranjang tempat Yoa duduk.


Yoa hanya mengangguk. Bersamaan dengan Allen yang masuk membawa paper bag. Allen lalu duduk di ujung ranjang tempat Yoa duduk.


"Lo baik-baik aja?" Tanya Allen, Yoa hanya mengangguk.


"Ganti seragam lo, Allen sudah membawakan nya." Kata Nuca dengan mulai berdiri, namun Yoa menahan tangan nya yang ada digenggaman Yoa.


"Jangan tinggalin aku." Pinta Yoa masih sedikit takut.


"Kita gak kemana-mana. Ganti baju lo, kita tunggu di depan pintu." Jelas Nuca.


"Gak usah takut. Gak bakal ada yang nyakitin lo. Ada kita." Tambah Allen.


Namun Yoa justru mengeratkan genggaman tangan Nuca, menunduk takut.


"Apa lo mau gue telfon bang Hanse?" Celetuk Nuca yang seketika membuat Yoa mendongak kaget.


"Jangan." Kata Yoa dengan menggeleng.


"Kalau gitu lo ganti seragam lo sekarang, sebelum sopir dan pengawal lo nelfon Bude Diya karena lo belum keluar sekolah."


Yoa seketika mengangguk mantab dan melepaskan tangan Nuca. Allen dan Nuca pun keluar uks meninggalkan Yoa yang mulai mengganti seragam nya yang basah.


"Kita perlu lapor gak?" Tanya Allen seketika saat mereka sudah sampai di luar uks.


"Sial! Harusnya bang Han nyuruh Ferdy beresin mereka aja." Umpat Nuca yang sedari tadi mencoba menahan emosi nya di depan Yoa.


"Bisa dihajar lagi kita kalau bang Han tau kondisi Yoa."


"Kita cerita aja. Cari aman. Kalau bang Han tau bukan dari kita makin habis."


"Oke. Abis ini kita langsung ke kantornya."


"Nuca, Allen.." Teriak Yoa dari dalam yang membuat Nuca dan Allen bergegas masuk ke dalam.


Yoa hanya mengangguk dengan wajah yang masih pucat, namun sudah terlihat tidak takut.


"Lo mau langsung pulang?" Tanya Nuca.


Yoa mengangguk lagi, "Jangan bilang keluargaku yaa?" Mohon Yoa.


"Iyaa. Lo tenang aja." Jawab Nuca.


"Ini bakal jadi rahasia kita bertiga, asal kalau kejadian ini keulang, lo harus kasih tau kita." Tambah Allen.


Yoa hanya mengangguk.


Mereka sama sekali gak nanyak siapa yang bikin aku kayak gini. Apa mereka sudah bisa menebak, jadi mereka tidak menanyakan apapun. Gumam Yoa dalam hati.


Allen dan Nuca pun mengantar Yoa ke mobil nya. Sopir dan pengawal sempat menanyakan kenapa Yoa tampak pucat, namun mereka menjelaskan kalau Yoa hanya sedang lelah sehabis kelas berenang. Sampai dirumah pelayan Si pun menanyakan hal yang sama, Yoa menjawab dengan jawaban yang sama. Yoa langsung masuk kedalam kamar tanpa mau makan, ia mengganti pakaian nya, lalu membaringkan tubuh nya diranjang. Ia menangis sesaat mengingat ancaman Riska dan Bella, mungkin ia bisa menjauhi Hendry dan Guan, tapi bagaimana ia bisa menjauhi Junho, abang yang sangat menyayangi nya. Yoa pun tertidur dengan air mata yang mulai mengering.


####


Sore hari nya Hanse pulang lebih awal dan menjemput Diya dibutik nya. Hanse buru-buru meninggalkan kantor setelah mendengar laporan dari Ferdy tentang Yoa, namun ia tak menceritakan apapun pada Diya. Hanse hanya bilang ingin pulang cepat karena merindukan adek perempuan nya. Saat akan naik lift, Hanse dan Diya melihat Junho yang sedang makan sendiri di ruang makan yang memang dekat dengan lift. Hanse dan Diya pun menghampiri Junho.


"Mamah sama bang Han tumben pulang barengan?" Tanya Junho sambil meletakkan sendok nya karena telah selasai makan.


"Iyaa tadi Hanse jemput mamah dibutik katanya kangen sama Yoa." Jelas Diya.


"Yoa mana? Kok kamu makan sendiri." Tanya Hanse pada Junho.


Junho meneguk minuman nya sejenak, "Di kamar, dari aku pulang tadi aku ketuk kamar nya gak nyaut. Kayaknya sih lagi tidur."


"Kamu pulang jam berapa?" Tanya Hanse mulai cemas.

__ADS_1


"Setengah 4." Jawab Junho singkat.


"Yoa pulang jam berapa pelayan Si?" Tanya Hanse pada pelayan Si yang sedari tadi juga ada di samping meja makan.


"Biasanya setengah 2 nona sudah sampai rumah tuan muda, tapi hari ini jam 2 lebih baru sampai rumah. Dari siang saya tawari makan, nona selalu menolak. Katanya ia lelah dan ingin tidur." Jelas pelayan Si.


"Ada apa sih Han?" Tanya Diya mulai curiga melihat Hanse yang tampak kwatir.


Hanse melihat jam tangannya, "Sekarang jam 6, berarti sudah sekitar 4 jam Yoa di dalam kamar. Sial!" Umpat Hanse yang kemudian langsung berlari menaiki tangga tampak buru-buru.


Diya, Junho dan pelayan Si mengikuti Hanse berlarian menaik tangga. Hanse berhenti di depan kamar Yoa dan langsung meraih gagang pintu, namun pintu terkunci.


"Ambil kunci cadangan." Perintah Hanse pada pelayan Si. Pelayan Si pun bergegas menuruni tangga kembali mengambil kunci cadangan yang disimpan nya.


"Ada apa sih Han?" Tanya Diya sudah sangat cemas.


Hanse hanya diam dengan wajah gusar.


"Bang Han jangan diem aja. Jelasin ada apa?" Tanya Junho juga ikut cemas.


"Mamah sama Junho tenang dulu, semoga ini hanya kekwatiran Hanse aja." Jawab Hanse.


Tak lama pelayan Si pun datang membawa kunci. Hanse langsung membuka nya, dan berlari masuk kedalam kamar Yoa, diikuti Diya, Junho dan pelayan Si.


Tampak Yoa yang tertidur dengan wajah pucat dan tubuh yang menggigil kedinginan. Hanse duduk disisi kanan Yoa dengan Junho yang berdiri disampingnya, Diya duduk di sisi kiri dengan pelayan Si yang berdiri disampingnya. Hanse memegang kening Yoa yang sangat panas.


"Adek demam. Ambil air hangat dan panggil dokter segera." Perintah Hanse pada pelayan Si.


Diya membelai pipi Yoa, "Panas sekali." Ucap Diya yang seketika membuat tubuh nya lemas.


"Kenapa adek bisa tiba-tiba demam?" Tanya Junho.


"Kita tunggu dokter aja." Jawab Hanse.


Diya mengusap rambut Yoa dengan air mata yang mulai jatuh, "Sayang, anak cantik mamah, jangan sakit. Mamah gak bisa lihat kamu sakit."


Hanse sangat sedih melihat mama nya menangis. Ini kali kedua sejak ia melihat ekspresi terluka mama nya. Yang pertema tentu saja ketika Diya berpisah dengan Yoa 10 tahun lalu.


"Jagain mamah sama adek sebentar. Abang mau nelfon Ferdy." Perintah Hanse pada Junho yang juga tampak sedih melihat mama dan adek nya.


Junho mengangguk, lalu duduk ditempat yang ditinggalkan Hanse.


"Shit!" Umpat Hanse sesaat setelah ia keluar dari kamar Yoa. Ia mengusap kasar rambutnya berkali-kali. Lalu mengambil hp nya menghubungi Ferdy.


Ferdy : Iya tuan


Hanse : Kau apakan mereka?


Ferdy : Saya hanya memberi hukuman kecil tuan


Hanse : Jangan terlalu keras, aku masih perlu mereka untuk melindungi Yoa. Urus saja dua perempuan sialan itu


Ferdy : Baik tuan


Hanse pun memutuskan panggilan nya bersamaan dengan dokter yang sudah datang. Ia mengajak dokter itu masuk ke dalam kamar Yoa. Pelayan Si sudah menempelkan plaster pereda demam dan menyeka tubuh Yoa dengan air hangat. Diya masih setia disamping Yoa, menggenggam tangan Yoa. Sedangkan Junho berdiri diujung ranjang bersama Hanse. Dokter mulai memeriksa Yoa, mengecek suhu tubuh nya.


"Pasangkan infus." Perintah dokter itu pada perawat disampingnya.


"Apa anak saya baik-baik aja dok?" Tanya Diya dengan bekas air mata nya yang mulai mengering.


"Nona muda hanya demam. Saya akan memberikan infus, beberapa obat dan vitamin." Jelas Dokter.


"Dok.." Kata perawat itu sambil menunjukkan punggung tangan Yoa yang terluka.


Dokter itu pun melihat punggung tangan Yoa yang memerah dan sedikit bengkak dengan bekas darah yang mengering.

__ADS_1


"Maaf. Apa nona muda baru saja mengalami kecelakaan?" Tanya Dokter ragu.


__ADS_2