Nona Muda Jangyong

Nona Muda Jangyong
Episode 31 : Ketahuan


__ADS_3

"Iphone terbaru?" Teriak Yoa sangat senang, "Ini buat Yoa bang?"


"Tentu saja buat adek abang yang paling cantik."


Yoa langsung memeluk Hanse erat, "Makasih bang Han."


"Everything for you sayang." Jawab Hanse sambil membalas pelukan Yoa lebih erat.


Yoa melepas pelukan dan mulai membuka box iphone baru nya. Iphone keluaran terbaru yang harganya setara dua motor. Hanse menatap Yoa dengan bahagia karena berhasil membuat mood adeknya kembali membaik. Namun tiba-tiba hp nya berbunyi panggilan masuk dari Junho.


"Hallo.."


"Bang Han dimana? Cepat pulang, penting." Suara Junho di sebrang terdengar sedikit kesal.


"Ada apa?"


"Pokoknya cepat pulang. Nanti Junho jelasin dirumah."


"Soal apa?"


"Soal adek. Junho gak bisa jelasin di telfon."


"Iya ini udah dijalan."


Panggilan pun terputus dengan ekpresi Hanse yang sedikit kwatir, apalagi Junho berkata akan membicarakan Yoa dengan nada sedikit kesal.


"Agak cepet." Perintah Hanse pada sopir.


"Baik tuan." Jawab sopir dengan sedikit menunduk tapi tetap fokus menyetir.


"Telfon dari siapa bang?" Tanya Yoa dengan masih sibuk mengotak atik iphone barunya.


"Dari Junho." Jawab Hanse.


"Emang ada apa bang Junho nelfon?"


"Ada tamu dirumah mau ketemu bang Han." Hanse berbohong karena tidak mau Yoa bertanya lebih jauh. Yoa hanya menaik turunkan kepalanya.


####


Sama dengan Yoa di hari minggu Yeri juga menghabiskan waktu nya dengan menghibur diri. Ia sedang ditempat penyewaan komik. Yeri memang sangat menyukai komik, bahkan ia bisa menghabiskan 24jam waktunya untuk membaca komik. Saat Yeri akan mengambil sebuah komik sebuah tangan juga sedang mengambil nya secara bersamaan. Kayak pernah terjadi.


"Kak Allen?" Ucap Yeri saat menatap pemilik tangan.


"Lo temennya Yoa bukan?"


Yeri mengangguk sambil tersenyum, "Iya kak. Kak Allen suka komik juga ternyata."


"Iyaa sekedar hobi sih. Lo sendiri?"


"Iyaa sendiri. Kalau kak Allen?"


"Gue juga sendiri sih. Mau join satu meja aja gak?"


Tuhan mimpi apa gue semalem bisa ketemu senior Allen. Mana ganteng banget gini dia pakek hoodie item makin mirip oppa oppa korea. Gumam Yeri dalam hati larut dalam lamunan menatap wajah tampan Allen.


Allen melambaikan tangan nya didepan wajah Yeri yang seketika membuat Yeri tersadar kaget.


"Kok nglamun?" Tanya Allen.


"Hah? Eee-enggak kok kak." Jawab Yeri sedikit gugup.


"Gimana mau gak join satu meja?"


Yeri mengangguk mantab, "Mau kak."


Yeri pun mengikuti Allen menuju meja baca yang sudah dipesan Allen. Yeri pun duduk di kursi meja itu, sedang Allen masih berdiri.


"Lo mau minum atau makan? Gue beliin sekalian." Tanya Allen.


"Capucinno ice sama nugget aja kak."


"Oke, tunggu bentar yaa."


Yeri mengangguk dan Allen pun pergi memesan minum dan makan.


Beberapa menit kemudian mereka sama sama larut dalam komik masing-masing sambil sesekali menyruput minuman atau memakan camilan yang dibeli Allen.


"Kok lo sendirian aja. Temen-temen lo kemana?" Allen mulai mengajak berbincang lagi.


"Kalau Lia sama Mina ada arisan keluarga katanya kak."


"Mereka saudara?"


"Iyaa sepupu."

__ADS_1


"Yoa?"


"Yoa katanya lagi jalan sama abang pertama nya."


Pasti bang Han. Gumam Allen dalam hati.


"Ohh. Lo sering kesini?"


"Lumayan sih kak."


"Kok gak pernah ketemu yaa? Gue juga sering kesini."


"Iyaa kah? Tapi akhirnya ketemu juga ini kak."


"Iyaa juga sihh." Allen tersenyum yang tiba-tiba membuat Yeri deg-deg'an melihat senyum nya.


Mereka pun larut dalam obrolan. Yeri pikir selama ini Allen manusia yang susah didekati ternyata ia lumayan ramah dan asyik diajak ngobrol walaupun kebanyakan hanya tentang Yoa, namun Yeri tetap menikmati dan diam-diam sedikit tertarik pada Allen.


####


Guan duduk di ruang tamu rumah Junho. Sedang Junho entah kemana, ia hanya berpesan untuk menunggu sebentar. Diya pun mendekati Guan.


"Guan. Udah lama?"


Guan pun berdiri lalu mencium punggung tangan Diya lalu kembali duduk ketika Diya sudah duduk.


"Barusan kok tan. Tante apa kabar?"


"Baik kok. Mami papi sehat?"


"Sehat tan, tapi yaa gitu sibuk ke luar negeri terus."


"Iyaa lah papi kamu itu kan bisnis nya banyak dan mami kamu itu kan bucin parah, kemana mana ngintilin papi kamu." Ujar Diya karena ia memang sangat mengenal orangtua Guan yang adalah teman semasa SMA nya.


"Iyaa tan betul."


"Kalau tante mah udah males Gu, capek. Apalagi sekarang ada adek perempuan nya Junho jadi betah dirumah."


"Seru itu pasti tan rumah jadi rame."


"Iyaa betul. Kamu sering sering lah main kesini kalau sepi dirumah."


"Iyaa tan."


"Terima kasih tan, jadi ngrepotin."


"Gak ngrepotin. Kamu tunggu disini yaa biar tante suruh pelayan Si siapin makan."


"Iyaa tan."


Diya pun berdiri dan berjalan menuju dapur mencari pelayan Si.


Sementara itu Hanse dan Yoa telah sampai dirumah, Hanse keluar lebih dulu dan langsung masuk ke dalam rumah, sementara Yoa baru keluar mobil setelah dibukakan pintu oleh Ferdy.


"Bang Han kenapa kok buru-buru gitu?" Gumam Yoa lirih namun masih terdengar di telinga Ferdy.


"Mungkin tamu nya penting nona." Jawab Ferdy.


"Atau kebelet pipis kali yaa."


Ferdy dan semua pengawal seketika melipat bibir mereka ke dalam menahan tawa mendengar ucapan Yoa yang selalu apa adanya dan sangat polos.


Yoa pun masuk ke dalam rumah, sementara Ferdy tetap berada diluar. Pandangan Yoa tertuju pada sesosok laki-laki yang sedang berdiri diruang tamu melihat ke arah jendela yang memang terhubung ke taman samping rumah. Laki-laki itu memasukkan kedua tangan nya ke dalam saku.


"Aku mau pamer ke bang Junho.." Gumam Yoa saat melihat laki-laki yang ia kira adalah Junho.


Yoa menghampiri nya lalu melingkarkan kedua tangannya di tubuh laki-laki itu seperti sedang memeluk, dengan iphone yang ia pegang dengan kedua tangan.


"Bang Junho, adek punya iphone baru dong." Ucap Yoa bersemangat tanpa ia tau kalau yang didepan nya sekarang adalah Guan bukan abangnya.


Guan sempat kaget dengan perlakuan Yoa, namun ia bersikap santai agar Yoa tidak curiga.


Kena kau bocah kecil. Gumam Guan sambil menyeringai.


"Kok parfum bang Junho beda bau nya." Ucap Yoa kemudian karena merasa aneh dengan bau parfum yang ia cium tidak seperti biasanya.


"Yoa kamu ngapain sayang?" Teriak Diya karena kaget melihat anak perempuan nya memeluk Guan.


Yoa melepas tangan nya dari tubuh Guan lalu menatap Diya yang sedang berjalan mendekati nya, "Tante ngagetin Yoa aja sihh."


"Gimana mamah gak kaget lihat anak perempuan nya peluk-peluk orang sembarangan."


Guan sudah membalik tubuhnya, namun Yoa belum menyadarinya karena sedang membelakangi.


"Siapa yang peluk orang sembarangan? Orang Yoa peluk bang Ju.." Kata Yoa sambil membalikkan badan melihat orang dibelakang nya, seketika ia menghentikan ucapan nya dan melotot kaget melihat sosok tampan yang sedang tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


******! Ketahuan. Gumam Yoa dalam hati.


Guan mengejeknya dengan menjulurkan sedikit lidahnya.


Yoa seketika ingin melarikan diri, "Tante, Yoa kekamar dulu yaa, capek.." Ucap Yoa sambil berlari menaiki tangga.


"Ehh lewat lift aja sayang, kamu itu belum bener-bener sembuh."


Yoa langsung menghentikan langkahnya di anak tangga kelima, lalu turun kembali dengan menunduk seperti salah tingkah menuju ke lift.


"Kenapa anak itu?" Gumam Diya karena melihat tingkah Yoa yang seperti sedang malu-malu.


"Mungkin Yoa malu ketemu Guan tante."


"Kalian udah saling kenal?"


"Sudah tan. Guan pernah satu projek iklan juga."


"Ohh iyaa tante ingat Junho pernah cerita katanya kamu naksir yaa sama Yoa?" Goda Diya.


"Hah? Junho cerita kayak gitu tan?"


"Iyaa. Tante sih seneng aja, apalagi tante ini tau banget lah kalau Guan ini anak baik. Tapi jangan pacaran dulu yaa, nunggu Yoa umur 15 atau 16 tahun dulu."


"Hah? Iya tan." Jawab Guan malu-malu yang seketika membuat Diya tersenyum senang.


Ehh ****! Kok gue iyain aja ucapan tante? Apa jangan-jangan gue beneran udah naksir si bocah kecil? Gak-gak, yang ada gue dipelototin terus kalau sampek pacaran sama dia. Gumam Guan dalam hati.


Sementara itu Hanse sudah berada didalam kamar Junho. Ia sangat kesal setelah mendengar cerita Junho.


"Terus kita harus gimana bang? Gak mungkin nambah pengawal, adek bisa gak nyaman nanti."


"Iyaa abang tau itu."


Tok tok. Ada yang mengetuk pintu kamar Junho.


"Masuk." Ucap Junho.


Guan muncul dari balik pintu setelah pelayan membukakan pintu. Junho memang menyuruh pelayan untuk memanggil Guan ke kamarnya.


"Bener yang diceritain Junho Gu?" Tanya Hanse pada Guan.


"Bener bang. Awalnya gue gak tau kalau Yoa adek Junho, tapi sempet waktu itu gue lihat mobil bang Han di perusahaan minuman tempat gue sama Yoa pemotretan." Jelas Guan.


"Iya hari itu gue emang nganterin Yoa. Tapi gak ikut masuk."


"Abang punya rencana apa? Junho takut adek kenapa-kenapa." Ucap Junho.


"Gue bersedia bantuin kalau perlu bang." Tambah Guan.


"Thanks Gu. Gue gak bakal tau kalau itu anak sudah berbuat sebanyak ini kalau gak ada informasi dari lo. Sebenernya ada 2 orang yang gue tau sangat membenci Yoa di sekolah. Yang satu ini mudah kalau mau diatasi karena dia anak kepala sekolah Yoa, tapi yang namanya Riska ini orangtua nya cukup kuat."


"Atau gue tanya bokap aja bang? Setau gue perusahaan bokap Riska itu ada kerjasama sama perusahaan papi Guan." Ujar Guan.


"Iyaa bener bang, kita minta tolong bokap Guan aja bang." Tambah Junho.


"Kalau masalah perusahaan nanti biar abang yang urus. Yang penting kalian pastiin keselamatan Yoa. Disekolah nya abang sudah taruh beberapa pelindung, tapi mereka gak bisa sepenuhnya menjaga karena memang harus belajar."


"Gue boleh nanyak dikit gak ?" Tanya Guan disambut anggukkan kepala Junho dan Hanse, "Apa selama ini Yoa pernah cerita apapun yang ia alami di luar rumah?"


"Enggak pernah. Sama mamah pun dia gak mau cerita." Jawab Junho.


"Mungkin karena dia belum terbiasa." Tambah Hanse.


"Iyaa bang Han bener. Menurut gue lebih baik sedikit paksa Yoa mau cerita, jadi akan lebih mudah tau apa yang sedang dia alami."


"Caranya?" Tanya Junho.


"Habiskan lebih banyak waktu, tanya-tanya sebanyak mungkin. Pasti bakal ada satu waktu dia bakal keceplosan." Jelas Guan.


"Guan bener bang. Nanti Junho coba."


"Kalau itu abang serahin ke kamu aja Jun. Kata Junho lo naksir Yoa Gu?"


Ini keluarga demen banget nanyak gue naksir Yoa apa enggak.


"Jangan percaya omongan Junho bang."


Junho tersenyum melihat Guan seperti salah tingkah mendengar pertanyaan Hanse, "Udah ngaku aja lo." Goda Junho.


"Apaan sih lo kampret." Umpat Guan.


"Thanks Gu, lo udah mau bantuin adek abang." Ucap Hanse sambil merangkul Guan.


"Bang Han kayak sama aja. Keluarga bang Han itu udah kayak keluarga Guan sendiri."

__ADS_1


__ADS_2