Nona Muda Jangyong

Nona Muda Jangyong
Episode 29 : Pria Strawberry 2


__ADS_3

Pria strawberry? Gumam Yoa dalam hati dengan cepat buru-buru membenarkan maskernya.


"Lama banget deh lo." Kata Junho pada Guan yang baru datang dan mulai duduk di samping Deka, tepatnya didepan Yoa.


"Macet." Jawab Guan singkat, sambil mulai memperhatikan Yoa yang menunduk pura-pura sibuk dengan hp nya.


"Kenalin, adek gue." Kata Junho tiba-tiba karena menyadari Guan menatap Yoa, yang seketika membuat Yoa tersentak kaget.


******! Gimana nihh kalau pria strawberry ngenalin gue. Sempit banget sihh dunia, kenapa temennya bang Junho harus dia sihh. Gerutu Yoa dalam hati.


Guan mengulurkan tangan nya, tapi Yoa hanya diam beberapa saat, lalu mulai membalas uluran tangan Guan dengan masih menunduk.


"Guan."


"Y-yoa.." Jawab Yoa sedikit terbata-bata lalu buru-buru menarik tangan nya.


Suara nya kayak gak asing. Gumam Guan dengan masih memperhatikan Yoa.


"Jangan dilihatin mulu, nanti naksir." Goda Deka yang sadar Guan sedang memperhatikan Yoa begitu intens.


"Apa sih lo." Bantah Guan yang sedikit salah tingkah. Deka dan Junho merasa heran, untuk pertama kali nya Guan memperhatikan perempuan lagi setelah kejadian satu tahun yang lalu. Mereka pikir Guan tidak akan bisa tertarik dengan perempuan lagi.


"Kayaknya lo bakal dapet adek ipar nihh Jun." Goda Deka pada Junho.


"Gue sihh setuju aja kalau sama Guan, daripada sama playboy kayak lo." Kata Junho yang seketika membuat Yoa terbelalak kaget.


What? Ini maksudnya bang Junho mau jodohin aku sama pria strawberry? Gila apa yaa? Bang Junho mau bikin aku habis dimakan senior Riska. Gerutu Yoa dalam hati.


"Nanti adek lo jadi es krim kalau jadian sama manusia es macam Guan." Ejek Deka disertai tawa.


"Iyaa betul." Celetuk Yoa tiba-tiba yang seketika membuat semua menatap nya aneh.


Tawa Deka pun pecah, "Hahaha haduh kasian banget sihh lo Gu, udah di kode bakal di tolak kayaknya."


Junho hanya tersenyum gemas pada adeknya, yang menurutnya sangat polos. Sementara Guan hanya menatap nya datar merasa curiga.


"Sayang banget Gu, lo belum beruntung." Kata Junho.


"Udah nasib lo harus jomblo terus kayak nya Gu." Deka pun tak mau kalah mengejek Guan.


"Kenapa gak dibuka aja maskernya, gue penasaran muka lo kayak gak asing." Kata Guan pada Yoa.


****** dua kali! Please lo diem aja kenapa sihh pria strawberry. Gerutu Yoa dalam hati sambil melotot ke arah Guan.


Kena lo bocah kecil. Gumam Guan dalam hati sambil menyeringai pada Yoa.


Jangan mimpi! Gue gak bakalan biarin lo liat wajah gue. Yoa.


Lo gak bakal bisa mengelak. Guan.


Lihat aja, gue bakal bikin lo penasaran terus. Yoa.


Dasar bocah kecil. Gue harus pastiin lo orang yang sama. Guan.


Junho dan Deka menatap Yoa dan Guan dengan bingung, karena mereka saling melotot satu sama lain.


"Kalian lagi bicara pakek bahasa kalbu yaa?" Celetuk Deka pada Yoa dan Guan.


"Dek buka bentar maskernya, Guan ini temen baik abang kok, tenang aja." Kata Junho yang langsung membuat Guan tersenyum licik pada Guan.


****** tiga kali! Please bang Junho stop. Yoa.


Kena lo! Ayo buruan buka. Guan.


Jangan harap! Yoa.


Mau alasan apa lo kali ini. Guan.


Yoa hanya diam tak menanggapi Junho. Lalu terpikirkan sebuah ide.


"Bang kayaknya kaki Yoa sakit deh, Yoa boleh tunggu di mobil aja gak?" Kata Yoa pura-pura memelas.


Dasar bocah kecil licik. Guan.


"Yaudah kita pulang aja." Jawab Junho sedikit kwatir.


"Tapi lo kan ada live Jun." Kata Deka.


"Oiya, gue lupa."


"Yaudah bang Junho lanjutin dulu aja, biar Yoa ke mobil sama mbak Gina." Kata Yoa mulai berdiri dibantu Gina.


Junho pun ikut berdiri, "Kamu yakin dek?"


Yoa hanya mengangguk, "Kak Deka, kak Guan, Yoa duluan yaa." Pamit Yoa dengan senyum licik kepada Guan. Meskipun tertutup masker tapi Guan tahu Yoa sedang mengejeknya.


Jangan senang dulu bocah kecil. Kesempatan kita buat ketemu masih sangat banyak. Guan.


"Hati-hati yaa adek cantik." Jawab Deka dengan ramah.


Yoa pun berlalu meninggalkan Junho dan teman-teman nya bersama Gina. Dari kejauhan Rike dan Riska melihat Yoa.

__ADS_1


"Itu anak abis dari tempat VVIP gak sihh?" Tanya Rike.


"Kayaknya sihh.." Jawab Riska.


"Apa gue bilang, kayaknya dia bukan cewek sembarangan."


"Jangan ketipu, siapa tau ada salah satu korban dia disana."


"Bisa jadi sihh."


"Ayo kita cari kak Junho cs." Kata Riska sambil menggandeng Rike menuju tempat VVIP.


Rike dan Riska pun menghampiri Junho dan teman-teman nya.


"Bang Junho.." Sapa Rike sambil duduk di samping Junho.


"Hallo kak Junho, kak Deka, kak Guan.." Sapa Riska dengan masih berdiri sok cantik.


"Hallo Riska.." Hanya Deka yang menanggapi Riska, sementara Junho dan Guan tentu saja mereka lebih tertarik dengan hp nya. Riska mulai duduk di samping Guan.


"Aeri gak ikut bang?" Tanya Rike.


Junho hanya diam tak menanggapi Rike.


"Ikut kok, tapi kaki nya lagi sakit jadi nunggu di mobil." Justru Deka yang menjawab Rike.


"Ohyaa? Rike pengen banget deh ketemu Aeri, pasti dia cantik kayak bude Diya." Celoteh Rike.


"Bukan cuma cantik. Tapi cantik banget." Seru Deka lagi.


"Duhh Rike gak sabar deh pengen main sama Aeri."


"Kenalin ke Riska juga dong kak Junho." Sela Riska.


"Jangan deket-deket adek gue." Kata Junho tiba-tiba dengan nada tidak suka.


"Lhoh kenapa? Kan Aeri itu sepupu Rike."


"Nanti adek gue kena pengaruh buruk lo berdua."


"Kak Junho tenang aja, nanti Riska jagain kok. Riska ajak main ke tempat-tempat asyik."


Guan menyeringai mendengar ucapan Riska.


Apa lo masih bisa bilang kayak gitu kalau lo tau siapa adek Junho sebenernya. Walaupun gue belum bisa lihat seluruh wajahnya, tapi gue yakin dia orang yang sama. Gumam Guan dalam hati.


"Tanpa lo, adek gue bisa ke tempat-tempat yang dia mau. Bahkan keluarga gue bisa beli tempat-tempat yang dia mau." Kata Junho sambil berdiri, lalu berlalu pergi entah kemana.


"Bang Junho mau live yaa, Rike ikut.." Sahut Rike sambil sedikit berlari mengejar Junho.


"Riska gak live?" Tanya Deka.


"Bentar lagi kak." Jawab Riska tersenyum ramah pada Deka, "Kak Guan kita live bareng yuk?"


"Gue gak tertarik." Jawab Guan cuek.


"Yahh, bentar aja kak." Rayu Riska.


"Gak."


"10 menit aja."


"Gak."


Riska pun kesal dengan sikap Guan. Tapi ia mencoba sabar, karena ia memang sangat mengenal Guan yang memang terkenal dingin pada semua perempuan, sudah mau menjawab pun udah syukur.


"Kalau gitu sama kak Deka aja. Yuk kak live."


Deka tampak bingung menjawab, sebenarnya ia juga tidak terlalu menyukai Riska, karena menurutnya ia sangat centil. Namun karena Deka memang sangat ramah, ia tidak bisa bersikap dingin dengan perempuan.


"Ha? Sorry gue gak live hari ini, ada mabar penting." Kata Deka mencoba mencari alasan.


Riska makin cemberut kesal.


####


Junho dan Yoa sudah berada di mobil dalam perjalanan pulang. Junho asyik dengan game di gadget nya, sementara Yoa juga asyik nonton video korea di youtube. Tiba-tiba Yoa teringat sesuatu, ia pun memutar tubuh nya menghadap ke arah Junho.


"Bang.."


"Hem.." Junho tak mengalihkan pandangan nya dari game.


"Bang Junho udah lama temenan sama pria strawberry?"


"Siapa pria strawberry?"


"Maksudku kak Guan."


"Lumayan, sejak sekolah menengah pertama. Sekitar 5 tahunan."


Yoa membuka mulutnya membentuk huruf O. Lalu membenarkan posisi duduk nya kembali ke arah depan.

__ADS_1


Junho baru sadar kalo adeknya baru saja menanyakan teman nya. Ia pun menghentikan game nya sejenak.


"Kamu naksir sama Guan?" Tanya Junho sambil menatap Yoa.


"What?" Yoa terkaget dengan pertanyaan Junho. Ini abangnya benar-benar berniat membuatnya dimakan Riska.


"Kalau kamu naksir, abang setuju aja sih. Soalnya kayaknya si Guan juga naksir kamu."


"Hah?" Yoa melongo mendengar perkataan Junho.


"Guan itu jarang banget nanyak soal cewek. Tapi dia ada beberapa kali nanyak soal kamu."


"Jangan ngaco ihh bang."


"Dihh, abang serius dek. Walaupun rada dingin, Guan itu baik kok."


Berkali-kali bikin aku berurusan sama senior Riska, baik darimana cobak. Gerutu Yoa dalam hati.


"Udah deh jangan bahas kak Guan lagi."


"Perasaan kamu yang bahas duluan."


"Yaudah sekarang udahan bahasnya."


"Ciyee adek naksir sama Guan. Aku bilangin mamah ahh.." Goda Junho.


"Abang.." Teriak Yoa kesal.


Junho tertawa mendengar Yoa sudah bisa teriak, ia bahagia karena adek kesayangannya sudah benar-benar sehat.


####


Sementara di ruang kamarnya Hanse sedang bertelfon dengan Hendra.


"Apa kamu bener-bener yakin kalau ini bukan ulah nya lagi?" Tanya Hendra di sebrang telfon.


"Ferdy gak mungkin salah pah."


"Apa Yoa sering di bully seperti itu."


"Seperti nya pah. Tapi ini terparah. Apa kita home schooling aja Yoa."


"Jangan. Itu gak baik buat psikis nya."


"Kalau wanita itu berulah lagi gimana pah? Hanse gak bisa lihat Yoa kenapa-kenapa."


"Papah ngerti. Tapi kita harus menjelaskan pelan-pelan ke Yoa."


"Apa papah ada rencana?"


"Kita tunggu sampai Yoa bisa sepenuhnya menerima kita. Setidak nya sampai bisa mengubah panggilan ke papah dan mamah."


"Lalu?"


"Papah akan umumkan Yoa ke publik."


"Papah yakin? Apa itu gak makin membahayakan Yoa."


"Itu tugas mu menjaga nya ekstra ketat. Papah percaya sama Ferdy."


"Baiklah. Han ikut rencana papah."


"Gimana keadaan Yoa sekarang?"


"Udah baik pah. Udah bisa teriakin Junho."


"Hahaha ohh yaa. Syukurlah."


"Besok Han akan bikin dia makin bahagia."


"Yaudah istirahat lah."


"Papa juga."


Panggilan pun terputus. Hanse mulai merebahkan dirinya diatas tempat tidurnya. Memejamkan mata dan mulai berkelana ke dunia mimpi.


###


Hari minggu pagi. Disini Hanse dan Yoa sekarang, di dalam mobil menuju tempat entah kemana, yang Yoa tahu ia hanya sedang kesal karena Hanse mengajak nya keluar sangat pagi, saat ia masih mengantuk karena semalam ia tidur larut karena terus-terusan berdebat dengan Junho.


"Ini kapan sampai nya sih bang." Gerutu Yoa yang entah sudah berapa kali ia mengucapkan nya, padahal baru 30 menit mobil keluar dari rumah.


Hanse tersenyum, lalu mengacak-ngacak rambut Yoa yang sedang cemberut, "Siapa suruh kamu tidur malem banget."


"Salahin bang Junho."


"Udah jangan cemberut gitu dong. Kita sarapan di mcd aja gimana?"


Seperti sedang mendapatkan cairan penghilang rasa kantuk, mata Yoa langsung berbinar, "Deal.." Celetuknya bersemangat.


Ferdy yang sedari tadi sesekali melihat dari kaca spion pun merasa gemas dengan tingkah Yoa.

__ADS_1


Makin hari nona muda makin menggemaskan. Haduhh, tangan ku gatal sekali ingin mencubit pipinya. Benar-benar membahayakan kalau nona dibiarkan berkeliaran sendiri, bisa-bisa diculik karena semua orang yang melihat merasa gemas.


Tak sadar Ferdy menyunggingkan sedikit senyum, seperti baru saja mendapatkan vitamin.


__ADS_2