Nona Muda Jangyong

Nona Muda Jangyong
Episode 12 : Abang Junho


__ADS_3

Perusahaan AW


Berbeda dengan hari minggu Yoa yang membahagiakan. Diruangan salah satu perusahaan ternama di kota X seorang laki-laki tampan berusia 23 tahun sedang berkutat dengan setumpuk berkas di meja kerja nya. Wajah nya tampak gusar dan kesal, dibantingnya salah satu berkas yang ada di tangan nya, memecah keheningan.


"Fer?" Ucap nya kepada laki-laki lain yang berada di sofa ruangan itu. Membuat laki-laki itu segera beranjak dan menghampiri sumber suara.


"Anda butuh sesuatu tuan?" Tanya laki-laki yang bernama Ferdy.


Laki-laki yang tampak gusar itu memijat pangkal hidungnya, "Apa kau ingin menyiksa ku Fer?"


"Maafkan saya tuan." Jawab Ferdy dengan menunduk merasa bersalah.


"Berapa hari lagi aku harus menunggu?"


"Maafkan saya tuan, paling cepat 1 minggu."


"Shit!" Umpat laki-laki itu pada Ferdy yang berdiri di depan nya dengan wajah datar tanpa ekspresi, "Kenapa tidak kau bunuh saja aku Fer?"


"Maafkan saya tuan."


Kenapa tidak anda gunakan saja tenaga anda untuk menyelesaikan semua pekerjaan ini tuan? Daripada mengomel tidak jelas seperti ini. Gerutu Ferdy dalam hati.


"Aku tidak butuh maaf mu Fer."


Bagaimana kalau anda tutup saja perusahaan anda ini tuan? Agar anda bisa bebas pergi.


"Bagaimana kalau aku tutup saja perusahaan ini Fer?" Lanjut laki-laki itu yang seketika membuat Ferdi terkejut.


Astaga. Apa anda cenayang tuan?


"Jangan lakukan itu tuan. Tuan besar dan nyonya besar bisa marah." Jawab Ferdy menghentikan ide gila tuan nya.


"Bisa gila aku Fer lama-lama disini."


"Bagaimana kalau kita telefon saja tuan?"


"Kau ingin mamah menceramahi ku 2 hari 2 malam?"


"Maafkan saya tuan."


Mereka hening sejenak dalam diam.


Kenapa anda malah diam tuan? Ayo kerjakan tumpukan pekerjaan itu, biar anda bisa segera pergi.


"Apa adekku baik-baik aja?"


"Menurut informasi dari asisten Cho, nona muda sempat menangis ketika berpisah dengan penghuni panti asuhan."


Laki-laki itu seperti tidak suka mendengar jawaban Ferdy, "Itu artinya dia tidak bahagia?"


"Tidak sepenuhnya tuan. Ketika nyonya dan tuan muda Junho mengajak melihat kamar baru nona muda sangat bahagia."


"Apa dia begitu menyukai desain mamah?"


"Mungkin. Seperti nya juga karena nyonya meletakkan barang-barang nct dan wayv tuan."


"Benda apa itu?"


"Itu nama boyband korea tuan."


Laki-laki itu tersenyum bahagia. Dimeja nya ada sebuah plang nama bertulis 'Presiden Direktur Hanse Jangyong'


####


Senin pagi yang cerah, secerah kehidupan Yoa. Pelayan Si mengetuk pintu kamar Yoa.


"Nona muda, apa anda sudah bangun?"

__ADS_1


Tidak menunggu lama pintu terbuka, Yoa muncul dengan sudah memakai seragam sekolah.


"Nona muda, apa anda butuh bantuan untuk bersiap?"


"Tidak pelayan Si." Jawab Yoa sambil clingak clinguk melihat sekeliling.


"Apa nona butuh sesuatu?"


"Ahh tidak. Apa belum ada yang bangun?"


"Tuan besar dan nyonya besar masih di kamarnya, tuan muda Junho juga masih dikamarnya, biasanya jam segini sedang bersiap-siap kesekolah."


Yoa menaik turun kan kepalanya tanda mengerti, "Pelayan Si, aku harus berangkat sekolah sekarang, jarak rumah ini ke sekolah lumayan jauh, aku harus mengejar bis pagi."


Pelayan Si tersenyum mendengar ucapan Yoa yang sangat polos.


Astaga nona kenapa anda masih repot repot mengejar bis. Anda tinggal memilih mau naik mobil yang mana dan mau lewat jalan mana.


"Tidak perlu kwatir nona, ada sopir yang akan mengantar nona mulai hari ini."


"Sopir?"


Ahh iyaa aku lupa, tante Diya punya banyak pekerja, kemarin aku juga melihat banyak bapak bapak berpakaian serba hitam, mana mungkin membiarkan ku naik bis.


"Benar nona. Sebaiknya sekarang nona muda segera turun untuk sarapan."


"Baiklah." Kata Yoa langsung masuk lagi kedalam kamarnya.


Di meja makan Hendra duduk di kursi paling ujung sibuk dengan tablet nya dengan sesekali menyruput kopi, sementara Diya seperti biasa sibuk menyuapi Doyon. Meskipun mempunyai suster tapi sebisa mungkin Diya juga merawat anak nya sendiri, agar anaknya mengenal ibunya. Yoa keluar dari lift bersama pelayan Si.


"Selamat pagi anak cantik mamah." Sapa Diya dengan senyum bahagia.


"Pagi tante. Pagi om." Jawab Yoa yang kemudian duduk setelah pelayan Si menarik kursi untuknya.


"Pagi sayang." Jawab Hendra dengan tersenyum.


"Nyenyak kok tante." Jawab Yoa dengan tersenyum ramah.


Pelayan Si membalik piring didepan Yoa, "Nona ingin makan apa?"


"Pelayan Si biar aku ambil sendiri saja." Kata Yoa sedikit canggung karena memang tidak biasa dengan pelayanan yang ia terima.


Pelayan Si melihat ke arah Diya yang mengisyaratkan dirinya untuk pergi, ia menjawab dengan sedikit menunduk, "Baik nona, silahkan menikmati sarapan anda." Kata pelayan Si berpindah ke belakang Yoa.


"Makan yang banyak yaa sayang." Kata Diya yang melihat Yoa mulai sedikit menghilangkan rasa canggungnya.


"Iyaa tante." Kata Yoa mulai memakan nasi sayur soup dan ayam goreng yang diambilnya.


"Morning." Kata Junho yang tiba-tiba muncul dengan sudah memakai seragam sekolah yang terlihat tampan.


Aku kira hanya ketika memakai kaos oblong dan celana jeans abang terlihat tampan, ternyata memakai seragam sekolah lebih lebih tampan nya. Gumam Yoa dalam hati tertegun melihat Junho yang duduk di sampingnya.


Junho yang menyadari pandangan adeknya itu pun nyengir tidak jelas, "Kenapa dek? Abang tampan yaa?" Kata Junho sambil mencondongkan tubuh lebih dekat ke arah Yoa, yang membuat Yoa mengerjap kaget.


"Hah? Iyaa." Jawab Yoa sedikit gugup.


Seketika membuat tawa Hendra, Diya dan Junho pecah melihat kepolosan Yoa. Junho mengacak-acak rambut Yoa gemas.


"Ya ampun dek, gemas sekali sihh kamu." Yoa tersenyum malu-malu dengan perlakuan Junho, kalau bukan abangnya pasti Yoa sudah jatuh cinta.


"Abangmu ini memang tampan, tapi sayang jomblo." Ledek Diya.


"Mamah." Teriak Junho pada Diya dengan muka cemberut.


"Apasih teriak-teriak, kan kenyataan." Jawab Diya santai dengan masih menyuapi Doyon.


"Banyak tauk yang mau sama Junho, tapi Junho tolak semua." Kilah Junho sambil mulai memakan roti selai yang sudah disiapkan pelayan Si.

__ADS_1


"Mana ada? Kamu aja dingin banget sama cewek, mana ada yang mau sama kamu."


"Yaa kan Junho pilih pilih juga."


"Sudah sudah, kalian itu berdebat terus, bisa bisa Yoa kabur dari sini karena telinga nya panas dengerin kalian berdebat." Sela Hendra sambil menikmati makanannya, yang membuat Diya dan Junho terdiam sungkan.


Yoa hanya senyum senyum melihat hura hara di meja makan yang jarang ia lihat, biasa nya Yoa sarapan dijalan karena jarak sekolah nya yang lumayan dari sekolah, jadi ia harus berangkat sangat pagi.


####


"Oh my god!" Teriak Mina. Seketika membuat ketiga teman nya menoleh serentak ke arahnya yang sedang terbelalak menatap hp nya.


"Mina mulut lo." Balas Yeri karena merasa kesal teriakan Mina mengagetkan nya.


"Apasih lo Min?" Tanya Lia mewakili.


"Yoa yoa, ini lo kan?" Kata Mina menyodorkan hp nya ke arah Yoa.


Yoa mengambil ahli hp Mina dan sedikit kaget melihat akun instagram yang terpampang di hp Mina, "Kok lo bisa tau akun nya bang Junho?"


"Bang?" Tanya Mina kaget.


"Apaan sihh?" Yeri merebut hp Mina yang ada di tangan Yoa lalu melihatnya bersama Lia. Tidak kalah terkejut dari Mina mata Yoa dan Lia seketika membulat.


"Gilak! Lo kenal sama Junho?" Tanya Lia pada Yoa yang masih bersikap santai.


"Kalian pacaran?" Tambah Yeri.


"Apaan deh, enggak mungkin lahh." Jawab Yoa sambil mengibaskan tangan nya.


"Tapi ini caption nya pakek tanda love lhoh Yo." Sanggah Yeri.


"Kalau gak pacaran, mungkin baru pdkt?" Tanya Mina.


Yoa menatap ketiga teman nya yang menatap nya dengan penuh curiga. Yoa sebenarnya sudah tau foto itu, foto nya dengan Junho yang diambil di mobil pagi ini ketika mereka berangkat ke sekolah bersama, tapi dia tidak menyangka kalau Junho akan menguploadnya ke akun sosial medianya dengan caption "Adek♥"


Yoa menghela nafas sejenak lalu menghembuskan nya pelan, "Bang Junho itu ab..." Penjelasan Yoa terpotong saat hp yang ada di kantongnya tiba-tiba bergetar. Ia mengambil hp nya, dan terkaget melihat panggilan yang masuk.


Astaga! Apa bang Junho punya indera keenam?


"Hallo?" Yoa mengangkat panggilan itu dengan masih mendapat tatapan ketiga teman nya yang menanti penjelasan.


"Hallo dek. Apa abang mengganggu?"


"Tidak. Ada apa bang Junho menelfon?" Mendengar nama Junho disebut ketiga teman Yoa langsung membulatkan mata dan langsung berebut ikut menempelkan telinga di hp Yoa.


"Kamu pulang jam berapa dek? Tadi lupa mau nanyak."


"Sekitar jam satu bang." Jawab Yoa dengan mencoba sedikit mendorong teman-teman nya untuk menjauh.


"Yahhh.. Abang pulang jam 3." Terdengar nada kecewa dari sebrang telfon.


"Apa aku tunggu saja?" Jawab Yoa mengerti kalau Junho ingin pulang bersama.


"Tidak usah. Kamu pulang duluan aja dek, kita ketemu dirumah."


"Rumah?" Gumam Yeri tanpa suara pada teman-teman nya.


"Iya bang siap. Ada lagi?"


"Tidak ada dek. Kamu tunggu aja, nanti sopir jemput. Jangan naik bis. Abang tutup yaa, jangan lupa makan."


"Iyaa abang Junho juga. Bye."


"Bye."


Sambungan pun terputus.

__ADS_1


"Abang Junho?" Tanya ketiga teman Yoa serempak sesaat setelah Yoa meletakkan hp nya kembali ke dalam kantong.


__ADS_2