Nona Muda Jangyong

Nona Muda Jangyong
Episode 14 : Ribut


__ADS_3

Hari kesepuluh Yoa menjalani kehidupan baru nya yang bukan lagi anak panti asuhan. Yoa sudah lebih dekat dengan keluarganya, tidak begitu sulit karena Yoa sudah lama mengenal Diya dan Hendra walaupun ia belum bisa membiasakan mengubah panggilan, sementara dengan Junho ia juga sedikit lebih dekat karena Junho begitu suka menggoda Yoa. Sebenarnya Yoa juga senang dekat dengan Junho karena mereka samasama hobby menonton film walaupun dengan genre yang berbeda tapi Junho tidak pernah protes ketika Yoa mengajaknya menonton drama korea di bioskop mini milik mereka dirumah, Yoa juga sudah mulai tidak risih ketika Junho ingin memeluk dan mencium nya meskipun dengan selingan protes yang selalu ada. Dan Doyon, jangan ditanya, Yoa begitu menyukai anak kecil, jadi tidak sulit bagi Doyon untuk mengenali Yoa sebagai kakaknya. Hanya abang pertama nya yang belum Yoa temui, hanya melihat foto foto nya karena memang Diya melarang untuk menghubungi hanya boleh bertemu langsung ketika abang nya pulang, walaupun entah kapan.


Siang itu jam istirahat seperti biasa Yoa dan teman-teman nya makan di kantin. Setelah membeli beberapa makanan mereka mencari tempat duduk yang kebetulan hampir penuh tidak ada yang kosong.


"Dimana nihh guys, penuh semua." Keluh Yeri.


"Lo sihh Li kelamaan di toilet." Kata Mina.


"Perut gue mules banget tau tadi." Jawab Lia.


Yoa tidak menanggapi obrolan teman-teman nya, ia sibuk melihat mencari tempat kosong, hingga mata nya tertuju pada sebuah tempat yang baru saja ditinggalkan beberapa siswa.


"Ayok, itu ada tempat kosong." Kata Yoa mulai melangkah, diikuti teman-teman nya.


"Ehh tunggu.." Kata Mina tiba-tiba menghentikan langkah ketiga temannya.


"Apasih Min?" Tanya Yeri.


"Lo yakin Yo mau duduk disana?" Kata Mina pada Yoa sedikit berbisik.


"Emang kenapa?" Tanya Yoa bingung.


"Ada senior Hendri sama pacarnya." Jawab Mina lebih berbisik, membuat ketiga teman nya langsung mengarahkan mata ke arah yang dimaksud.


"Emang kenapa?" Kata Yoa santai mulai melangkahkan kaki lagi, "Kita kan cuma duduk, lagian ini tempat umum. Buruan keburu bell." Ketiga teman Yoa pun mengikuti saja langkah Yoa dan langsung duduk di tempat yang dituju. Yoa duduk paling ujung yang disampingnya diikuti Yeri, Mina dan Lia didepan mereka yang di mana jarak satu bangku dari tempat Mina ada Hendri, Bella dan satu teman Bella yang bernama Riska.


Hendri yang menyadari siswa yang baru saja duduk adalah Yoa dan teman-teman nya pun terlihat senang, "Yoa?" Sapa Hendri.


"Iyaa kak." Jawab Yoa dengan senyum sedikit dipaksa.


"Kamu apa kabar? Kata papa kamu keluar panti?" Tanya Hendri yang seketika membuat Yoa menghentikan makannya.


Keluar? Sepertinya bu dewi gak cerita yang sebenarnya.


"Iyaa kak udah hampir seminggu." Jawab Yoa sedikit malas sambil melanjutkan makannya. Ketiga teman Yoa saling melempar pandang sambil memakan makanan nya. Sementara Bella terlihat sangat kesal Hendri mengajak Yoa berbicara.


"Jadi kamu udah mulai tinggal sendiri? Bukan nya kamu bilang kalau udah kuliah?" Tanya Hendri lagi, karena ia sedikit tau kalau Yoa tidak mau adopsi dan akan tinggal sendiri ketika lulus SMA.


Lia memegang perutnya yang tiba-tiba mules lagi, "Min perut gue sakit lagi, anterin dong."


"Ya ampun Li lagi makan juga." Keluh Mina.


"Sumpah gak tahan banget, please." Rintih Lia sambil masih memegangi perutnya.


"Anterin Min, udah kesakitan itu." Kata Yoa.


"Entar saudara lo diculik kesepian lagi lo." Tambah Yeri.

__ADS_1


"Yaudah yuk." Kata Mina yang kemudian berdiri diikuti Lia yang juga mulai berdiri. Mina dan Lia memang sangat dekat, karena mereka adalah sepupu yang sejak kecil sudah bersama dan saling bergantung. Mina dan Lia pun meninggalkan kantin menuju toilet. Sejenak suasana di meja itu hening, hingga Hendri mulai bersuara.


"Pertanyaan ku belum dijawab Yo."


Yoa terlihat bingung menjawab pertanyaan Hendri, "Emmmm.. Itu kak tinggal sama.."


"Tentu saja tinggal dengan sponsor nya." Celetuk Bella memotong perkataan Yoa, seketika membuat Yeri menatap nya dengan pandangan kesal.


"Maksud lo apa?" Kata Yeri dengan nada sedikit tinggi membuat Yoa langsung menyentuh punggung tangan Yeri seolah kode untuk tidak melanjutkan.


"Sponsor apa sihh bel?" Tanya Hendri pada Bella yang memang tidak tau jika Bella sangat tidak menyukai kedekatan Yoa dan Hendri.


"Ya ampun sayang, masak kamu gak ngerti sihh? Sponsor gitu yang membiayai dia." Jawab Bella sambil gelayutan di lengan Hendri.


"Iyaa Hen, sponsor yang kek ngebeli gitu." Timpal Riska yang seketika membuat ketiga teman Yoa makin geram.


"Mulut lo lancang yaa?" Sentak Yeri pada Riska yang hanya dibalas senyuman sinis.


"Yeri." Kata Yoa sambil menggelengkab kepala meminta Yeri bersabar.


"Bella, Riska, apasih maksud kalian?" Kata Hendri yang mulai menyadari suasana yang tidak nyaman.


"Maksudnya siapa tau aja ada yang membeli nya gitu Hen." Jawab Riska diikuti senyuman Riska dan Bella dengan sinis.


Yeri sudah tidak bisa menahan emosi nya lagi, "Heh bener bener yaa mulut lo." Teriak Yeri sambil berdiri menunjuk Riska yang seketika mengundang pandangan semua siswa yang ada di kantin.


Yoa ikut berdiri menarik lengan Yeri mengajak duduk kembali, "Sudahlah Yer."


"Ya ampun sayang, Riska itu cuma bercanda kali, kenapa dianggap serius sihh." Kata Bella sedikit centil sambil masih gelayutan di lengan Hendri.


"Tapi bercanda nya gak lucu." Kata Hendri mulai kesal.


"Lagian gak salah Riska ngomong kayak gitu, soalnya beberapa hari ini aku sama Riska tu sering lihat Yoa diantar jemput naik mobil mewah." Kata Bella sambil melirik kearah Yoa.


"Bener tuh Hen, udah gitu lihat tu jaket yang dipakek merk mahal gitu, gak mungkin kan dia jadi model ecek-ecek bisa beli barang semahal itu." Tambah Riska tak kalah sinis.


Hendri melihat Yoa yang memang sedang memakai jaket mahal yang dibeli Diya untuk Yoa.


Astaga! Bodoh banget sihh gue, tante Diya kan desainer terkenal, gak mungkin ngasih aku baju merk sembarangan, padahal tadi gue asal ambil aja ngepasin sama warna seragam. Gumam Yoa sambil sedikit melihat jaket yang ia pakai.


"Emang nya kenapa kalau Yoa pakek barang mahal? Kalian iri, iya?" Celetuk Yeri.


"Dihh, siapa juga yang iri, jaket kek gitu mah bokap nyokap gue bisa beliin 10." Jawab Riska dengan sombongnya karena memang dia anak orang berada.


"Ohh yaa? Lo lihat nih merk jaket Yoa." Kata Yeri sambil mengangkat lengan Yoa memperlihatkan ujung lengan jaket Yoa yang memang ada label, "Aeri J. Boutiqe, yang harga 1 jaket aja sama kek harga mobil lo." Lanjut Yeri yang seketika membuat Riska terdiam. Riska memang tau kalau jaket yang dipakai Yoa memang terlihat mahal, tapi ia tidak menyangka kalau jaket itu merk Aeri J. Boutiqe yang merupakan butik milik Diya yang semua pakaiannya adalah desain Diya sendiri yang memang terkenal sangat mahal.


"Yeri, sudahlah jangan diterusin, lo gak malu dilihatin seisi kantin?" Kata Yoa sedikit berbisik.

__ADS_1


"Biarin Yo. Biar pada dijaga tu mulut. Biar gak seenaknya nyinyir." Kata Yeri justru sengaja meninggikan suaranya.


"Sudah sudah jangan ribut. Riska lo kalau ngomong jangan sembarangan, minta maaf sana." Perintah Hendri dengan nada kesal.


"Dihh, males banget, ngapain gue harus minta maaf." Bantah Riska.


"Sayang, Riska kan cuma bercanda kenapa harus minta maaf." Kata Bella membela Riska.


"Kamu juga minta maaf sama Yoa." Kata Hendri.


"Gak." Jawab Bella dengan nada kesal karena Hendri membela Yoa.


"Kita kan gak salah ngapain juga minta maaf." Timpal Riska.


"Sudah lah kak, tidak..." Kata Yoa yang tiba-tiba berbicara tapi terpotong karena ada murid laki-laki yang tiba-tiba duduk di depan nya, tempat duduk yang ditinggalkan Lia.


"Kalau gitu gimana kalau gue upload video lo yang seenaknya fitnah orang ini ke sosmed gue?" Kata murid laki-laki itu sambil memperlihatkan hp nya yang sedari tadi dari kejauhan merekam mereka.


"Senior Allen?" Kata Yeri yang terbelalak mendengar ucapan Allen. Semua yang ada dikantin tak kalah kaget melihat Allen, terutama Bella dan Riska.


"Apasih Allen bercandanya gak lucu." Kata Riska dengan senyum senyum yang sebenarnya takut karena ia memang salah satu selebriti sosmed yang kalau video buruk nya tersebar bisa menurunkan followersnya.


"Siapa bilang gue bercanda?" Kata Allen dengan senyuman menantang yang membuat tubuh Riska mulai dingin.


Bella yang melihat teman nya yang mulai terlihat pucat tidak tinggal diam, "Ya ampun Allen, kita tadi itu cuma bercanda. Iya kan Yo?" Kata Bella tersenyum sok ramah pada Yoa.


"Bercanda lo bilang?" Sela Yeri, "Nyebut orang lain udah ada yang ngebeli lo bilang bercanda? Sinting yaa lo?"


"Yeri, sudah lahh." Kata Yoa dengan lembut, "Iya senior Bella dan senior Riska tadi cuma bercanda kok, jadi lo hapus aja video itu, lagian gue gak suka kalau candaan gue jadi konsumsi publik, gue bisa tuntut itu." Kata Yoa pada Allen.


Allen tersenyum manis, "Baru kali ini lhoh gue nolongin orang bukan nya dapet ucapan terima kasih malah dapet ancaman."


"Gue gak mintak ditolongin kok." Jawab Yoa dengan nada sopan namun terasa menusuk bagi Allen.


Tiba-tiba Mina datang menyela dengan sedikit berlari ke arah Yoa dan Mina, lalu merasa bingung melihat seisi kantin yang menatap ke arah meja mereka, "Ada sih ini?" Tanya Mina dengan sedikit ngos-ngosan.


"Gak ada apa-apa kok." Jawan Yoa, "Lo kenapa lari-larian gitu, Lia mana?" Yoa melihat kebelakang Mina mencari keberadaan Lia.


"Itu Lia.." Mina mengatur nafas sejenak, "Lia di uks." Lanjut Mina yang sontak membuat Yoa dan Yeri berdiri.


"Lia kenapa?" Tanya Yeri.


"Itu tadi dia tiba-tiba pingsan." Jawab Mina.


"Yaudah kita susul Lia." Kata Yoa yang mengajak teman-teman nya pergi, namun terhenti sejenak saat Hendri memanggil Yoa.


"Yoa tunggu." Kata Hendri dengan berdiri, "Maaf yaa.."

__ADS_1


Yoa melihat ke arah Hendri, "Gak ada yang salah kok kak, gak perlu minta maaf. Aku duluan yaa kak." Kata Yoa lalu buru buru pergi bersama kedua teman nya.


Mimpi apasih gue harus jadi tontonan dikantin gini. Gumam Yoa dalam hati.


__ADS_2