Oleh-oleh Dari Suamiku

Oleh-oleh Dari Suamiku
Bab 10 Tragedi 10 tahun lalu


__ADS_3

Bandara Sukarno-Hatta, Indonesia.


Tidak ada hari sepi ditempat ini, langkah kaki yang mengejar waktu suara-suara pengumuman saling bersahutan. Bastian Liam Sukmo menunggu jemputan keluarganya yang telat karena macet. Ditemani ponselnya memandang foto sang mawar yang membuatnya kian penasaran.


"Maaf Pak tadi dompet anda terjatuh, " menyodorkan Dompet kulit berlogo Lv, Noah Sky Amor salah seorang pilot yang sudah selesai bertugas menemukan dompet yang terjatuh dari saku orang yang tadi berjalan didepannya.


"Ah ya terimakasih Pak Noah, " Mata Bastian membaca name tage pada seragam Noah.


"Baik kalau begitu saya permisi dulu. " Noah meninggalkan Bastian di belakang.


"Loh bunda sendirian? " Tanya Bastian saat mengetahui ibundanya sendirian menjemput.


"Iya, tadi kakek mau ikut tapi tiba-tiba kesehatannya kurang Vit. Ayo, " Tiara menggandeng lengan anaknya.


Selama perjalanan pulang mata Bastian lebih sering menikmati pemandangan kota yang sudah 10 tahun ia tinggal, jalanan semakin ramai dan gedung gedung tinggi semakin banyak.


"Kondisi Kak Dirga gimana bun? Apa sudah ada kemajuan? " menatap jauh disela-sela kota ia teringat sang kakak.


"Kakakmu masih koma nak, nanti kita jenguk sama-sama ya, " tangan lembut Tiara mengelus rambut pelipis anaknya, menahan haru akan nasib anak pertamanya yang tragis 10 tahun lalu.


Flashback On

__ADS_1


Pukul dua dini hari disaat semua anggota keluarga terlelap tidur, sekelompok pria berjumlah 7 orang mengendap endap memasuki kediaman keluarga Adi Jaya Sukmo. Kediaman yang seharusnya ketat penjaagaan harus mengalami mimpi buruk karena sebuah penghianatan.


"Urus semua penjaga yang ada agar tidak curiga, " Ketua kelompok itu memerintah si penghianat keluarga mengacungkan dia jari memberi kode isyarat. Yang kelompok itu incar hanya anggota keluarga tidak termasuk pelayan. Tetapi jika terpaksa maka pelayan pun akan ikut direnggut nyawanya demi keamanan kelompok. 2 orang mengawasi kamar pelayan dan 5 orang beraksi.Diwaktu yang sama Bastian yang berumur 20tahun sedang asik berada didalam ruangan isolasi yang biasa ia sebut studio laboratorium. Dengan dinding yang dipasangi alat kedap suara serta pintu masuk rahasia yang ia rancang sedemikian rupa sehingga hanya ia yang mengetahui. Terpasang cermin dua arah setebal 10cm anti peluru yang memungkinkan ia bisa melihat keadaan kamar sedangkan dari bagian kamar hanya bisa melihat pantulan cermin biasa. Dan Dirga yang saat itu sedang ada proyek dikota ia memutuskan menginap dirumah orang tuanya memang kebetulan anak dan istrinya sedang tidak ikut ia dinas. Di dalam kamar Dirga masuk 2 orang yang tidak di kenal dengan pakaian serba hitam, yang mana mereka melihat Dirga sedang tertidur pulas di atas ranjangnya. Kemudian dengan perlahan kedua orang tersebut melangkahkan kakinya tanpa bersuara, lalu salah satu dari mereka membekap saluran nafas Dirga dari hidung hingga mulutnya menggunakan sapu tangan yang telah di berikan obat bius. Dengan sangat terkejut Dirga membuka matanya dengan sangat lebar lalu berusah membela dirinya sekuat tenaga menggeliat ke sana ke sini. Ya, meskipun usianya sudah memasuki 30 tahun namun Dirga tetap berusaha agar terlepas dari cengkraman 2 orang tersebut dengan postur tubuh yang sangat kekar. Namun semua itu tidak bertahan lama, di menit ke-5 Dirga merasakan badannya mulai terkulai lemas hingga ia langsung terjatuh ke lantai dengan tak sadarkan diri. 2 pria kekar itu pun saling menoleh dan tersenyum miring saat menatap Dirga yang kini terkapar akibat obat bius yang sudah bereaksi. Tanpa basa-basi lagi, mereka segera melancarkan aksinya untuk memukul tubuh hingga kepala Dirga menggunakan benda tumpul sampai seluruh tubuhnya berlumuran darah segar.Tak berbeda jauh, di kamar Adi dan Tiara juga terdapat 3 orang pria berbadan besar sedang berusaha membius keduanya. Tiara yang berpura pura pingsan mengamati keadaan dan terus melihat pergerakan pelaku yang sedang berusaha mengikat badan suaminya serta siap melancarkan aksi dengan memukulnya menggunakan tongkat baseball aluminium.


"Kau tunggu disisni nyonya, akan tiba saatnya giliranmum Jadi tenang saja, kau pun akan merasakannya!" Ucap salah satu pria didepan wajah Tiara. Tiara yang berpura pura tidak sadarkan diri berusaha menahan isak tangisnya saat melihat apa yang mereka lakukan terhadap suaminya.


BAGG!! BIGG!! BUUGGG!


"HAHAHHA RASAKAN ITU, RASAKAN!! MATI SAJA KAU!! HAHAHAHAHA" Di saat suara tawa para pembunuh menggelegar, Tiara yang melihat adanya sececar harapan segera melarikan diri dengan memastikan dan memperhitungkan semuanya dengan sangat matang, perlahan demi perlahan Tiara melangkahkan kakinya lalu kabur menjauhi mereka semua dengan keadaan yang tidak bisa di jelaskan. Berjalan terseok seok dibanjiri airmata, terlintas di benaknya untuk menuju kamar Bastian yang paling ujung. Ia tahu jika Bastian memiliki ruangan rahasia ia berharap anaknya bisa bersembunyi disana.Melewati kamar si sulung Tiara mengintip dari sela lubang kunci kamar anak pertamanya ternyata Dirga bernasib sama dengan suaminya semakin membuncah air mata Tiara, tangan yang bergetar berusaha menutup mulutnya sendiri berjalan perlahan tanpa membuat suara ia menuju kamar Bastian.Tiara tahu kamar anaknya tidak pernah dikunci karena anaknya lebih sering tidur di studionya. Mengintip lagi dari sela lubang kunci kamar Bastian masih terlihat rapih menandakan para pembunuh itu belum memasuki kamarnya. Tiara masuk dan mengunci kamar itu."Nak, Bastian apakah kamu dikamar nak? " Suara parau Tiara terdengar sangat menyedihkan.Berjalan menyusuri ruangan mengandalkan tembok sebagai pembimbing.


"Bastian... " Air mata Tiara sudah tidak terbendung. Bastian keluar dari dalam tembok yang tidak nampak seperti pintu.


"Bunda! Bunda kenapa? " Bastian mengguncang pundak ibunya.


"Ayah dan Kakakmu sudah dibunuh. Ada kawanan pembunuh yang memasuki rumah ini nak, " Terang tiara. Tak lama 5 orang membuka paksa kamar Bastian.


"Nyonya anda tidak usah bersembunyi, sebentar lagi kau dan anak kesayangan mu akan mengikuti jejak Suami dan saudaranya HAHAHAHA"


BRAAKK!BRAAKK!


5 orang dengan badan besarnya memporak porandakan kamar Bastian.

__ADS_1


"Bos di kamar mandi dan kamar pakaian kosong, " kata salah satu pria yang mengecek sekeliling ruangan itu.


Terdengar suara sirine polisi memecahkan kesenangan sang pembunuh tersebut.


"Sial siapa yang berani memanggil polisi disaat aku sedang berpesta! " pemimpin kawanan itu memperlihatkan wajah merah amarah.


"Bos ayo cepat kabur akan saya antar ke arah yang tepat" Si penghianat keluarga Adi Jaya Sukmo memunculkan diri.Perawakannya yang kurus serta kacamata yang bertengger tidak asing bagi Bastian mengenalinya, ia dengan serius akan mengingat setiap wajah pelaku yang telah menghilangkan nyawa ayah dan kakaknya.


Selang 6 jam dari kejadian si penghianat tertangkap pada saat akan keluar pulau, 7 tersangka pembunuhan masih dalam setatus buron. Dirga ditemukan selamat dengan kondisi yang sangat kritis mengakibatkan dirinya koma. Sang ayah sekaligus kepala rumah tangga ditemukan tewas mengenaskan.


Flashback off


Sejak saat itu Bastian beserta Tiara sangat trauma dan terpukul. Demi melupakan trauma nya Bastian memutuskan untuk melanjutkan hidup di Amerika sedangkan Tiara berjanji akan merawat Dirga hingga ia pulih kembali.


***


"Kak Raya bagaimana keadaan Kak Dirga? " Bastian memasuki ruang rawat VVIP.


"Kemarin lusa ia sempat menggerakan jarinya sedikit namun belum siuman," Raya istri Dirga memberi pelukan selamat datang.


"Syukurlah ada kemajuan, terimakasih Ka sudah tetap setia menemani kakaku disaat seperti ini. "

__ADS_1


Bastian memandang lekat wajah sang kakak yang terlihat kurus itu.


"Kak aku berjanji akan menangkap para bedebah itu, kaka cepatlah bangun."


__ADS_2