
"Belum ada kabar dari Sarah? " Tanya Ayu
"Belum ada mah, sepertinya dia kabur mah, sebulan yang lalu ada warga yang lihat Sarah masuk kedalam sebuah mobil." terang Jiang
Wanita berumur 40 tahun itu nampak memamerkan perut buncitnya dibalik daster coklat yang ia kenakan. Kehamilan pertamanya setelah 20 tahun menikahi Jiang, dirinya sangat mewanti-wanti agar anaknya lahir dengan normal dan selamat. Lalu Dimas anak berusia 2 tahun yang terlihat kurus dengan baju yang kedodoran serta hidung yang menghitam akibat ingus yang tidak di lap dengan bersih adalah anak kandung Sarah dan Jiang.
Flashback on
"Maaf juragan, saya tidak ada uang untuk membayar hutang mendiang bapak saya. "
"saya tidak peduli, bapakmu itu berani berjudi dengan taruhan tanah ini dan ditambah hutang lainnya yang menumpuk. Sekarang kamu bisa pergi dari rumah ini karena tanahnya akan aku gunakan jadi lahan singkong. "
"Lalu saya tinggal dimana juragan, sekarang sedang hujan dan sebentar lagi larut malam. Saya tidak ada saudara untuk ditumpangi juragan. "
"Saya tidak perduli kau mau tinggal dimana. cepat kemasi saja barangmu! "
"Sa-saya akan berkerja diladang tanpa digaji juragan, gaji saya juragan ambil saja buat bayar hutang bapak saya. Saya akan lakukan apa saja asalkan saya tidak diusir juragan. Saya mohon. "
Dengan tatapan laparnya, Jiang melihat gadis berusia 26 tahun tampak meringkuk berlutut memohon memperlihatkan tali penutup gunung di pundak mulusnya dan belahan yang mengintip dibalik daster kebesaran. Seketika Jiang membasahi bibirnya dan menelan ludahnya. Hujan deras diluar membuat suasananya seolah mendukung Jiang untuk merencanakan aksinya.
Jiang membungkuk dan mengelus belakang telinga Sarah merambat hingga pundak. Dan membisikan sebuah kalimat kepada Sarah, "berikan badanmu, maka hutang bapakmu lunas! tapi tanah ini akan menjadi milik saya karena dengan badanmu belum bisa melunasinya dan kau masih bisa tinggal di gubuk ini. bagaimana? "
Sarah meneteskan airmata dan susah payah menelan air liurnya. Hanya dengan cara ini dirinya bisa bertahan hidup. Dengan sangat terpaksa dirinya mengangguk berat.
"Bagus!" bisik Jiang yang tampak siap dengan aksinya.
Jiang membopong Sarah masuk kedalam bilik kamar dan melakukan hal itu.
'Aku harus bisa hidup agar bisa membalas Si tua bangka ini, Jiang baj*ingan! Akan kubalas perlakuanmu ini! "
Suara jeritan hati Sarah dibarengi airmata yang tidak hentinya menetes.
Hingga 3 bulan berlalu, Sarah mual-mual hingga badannya demam. Seorang tukang pijet dipanggil oleh tetangganya karena untuk berobat Sarah tak punya uang untuk ongkos dan beli obatnya. Beruntung Jiang tidak memangkas habis gajinya sebagai buruh cabut singkong uangnya bisa untuk membayar tukang pijat.
Tukang pijat memegang perut Sarah dan langsung terasa jika Sarah tengah berbadan dua.
"Nduk ini bukan sakit, saya tidak bisa memijatmu. kamu sebenarnya sedang hamil. "
Seolah tertimpa beban berat dada Sarah terasa sesak, sesak sekali sampai matanya tak bisa berkedip.
"A-apa mbok tidak salah bicara, mana mungkin saya hamil mbok. Saya hidup sendiri disini. "
"Kamu tidak usah membohongi saya, saya juga seorang dukun bayi. Mudah bagi saya mendeteksi perutmu mual karena sakit atau karena ada nyawa didalamnya. "
__ADS_1
Sarah meringis menahan tangis, airmatanya tak kuasa dibendung. Menetes hingga membasahi telinga hingga ke bantal tempatnya berbaring.
"Sudah jangan ditangisi, anak ini pemberian sang Pencipta. Jujur saja pada Mbok siapa yang menghamilimu."
Sarah kembali menggigit bibirnya rapat-rapat, mengetahui dirinya hamil sudah terasa sesak dadanya apalagi harus memberitahukan kepada orang lain siapa bapak dari anak yang dia kandung.
Mbok Turi nama dukun bayi itu megelus rambut hingga pelipis Sarah. berusaha menenangkan Sarah yang tak henti nya meneteskan air mata.
"Tidak apa jika berat bagimu untuk membicarakannya, tapi mbok minta kamu yang tabah dan bicara kepada bapak Si Jabang bayi untuk bertanggungjawab. "
Sarah berusaha duduk dan menahan mualnya, ia mengelap airmata yang tak mau berhenti menetes.
"Mbok, tolong rahasiakan ini dari tetangga dan warga ya mbok. Saya tidak mau banyak yang tahu tentang kondisi saya. Nanti saya akan coba bicara dengan bapaknya anak ini. "
Mbok Turi mengangguk dan tersenyum lebar kemudian membenarkan harit yang ia pakai dan pamit pergi meninggalkan Sarah sendirian.
Sesaat setelah Mbok Turi pergi Sarah pergi kerumah Juragan Jiang menggunakan sepeda tetangganya.
30 menit Sarah mengayuh disiang yang terik sampai di depan rumah gedong bergerbang besi warna hitam. Mobil Jeep Juragan Jiang masih teparkir didepan rumah mewah itu.
"Permisi pak saya mau bertemu Juragan Jiang." Sarah meminta ijin masuk kepada lelaki yang menjaga gerbang itu. Lelaki berbadan besar itu menghampiri sarah dan melihat dari atas sampai bawah badan Sarah yang mengenakan daster lusuh itu.
"Pengemis dilarang masuk! "
"Saya bukan pengemis pak, saya pekerja Juragan Jiang dilahan singkongnya. Ingin laporan karena beberapa karung singkongnya ada yang mencuri. " Sarah bicara berbohong untuk mengelabuhi penjaga jika dirinya berbicara jujur pasti akan diusir.
"Masuk! Sudah ditunggu Juragan. "
Sarah membungkuk ke penjaga itu dan kemudian memasuki ruangan tamu yang bercat putih dan bernuansa kayu jati asli.
Jiang datang dengan menghisap cerutunya.
"Hilang berapa karung singkong? "
Sarah menelan ludahnya dan susah payang mencoba berbicara. Cukup lama Sarah diam tak bersuara munduk dan kembali meneteskan airmata tanpa suara.
"Jangan diam saja!!"
"Ju-juragan, Saya hamil anak Juragan. " Sarah dengan gagap berusaha mengeluarkan suaranya. Kepalanya tetunduk takut akan jawaban yang dikeluarkan Jiang.
"Hamil anak siapa? " suara perempuan datang dari arah belakang Sarah. Ayu mendengar ucapan Sarah saat dirinya akan menyuguhkan minuman karena ia sangka yang datang adalah rekan bisnis Jiang.
Sarah berlutut dihadapan Jiang sebelum Jiang mengeluarkan suara.
__ADS_1
"Juragan mohon nikahi saya, tolong tanggung jawab atas bayi yang saya kandung. Karena saya hanya melakukannya hanya dengan Juragan. "
Wajah Jiang nampak merah dan berkeringat. Istrinya yang membawa baki minuman pun mundur hingga menjatuhkan gelasnya.
"Apa yang dia katakan benar? " Ayu menutup mulutnya tidak percaya.
"Papah bisa jelaskan mah. " Jiang memohon.
Ayu meletakan baki nampannya secara sembarang dan lari menuju kamarnya.
Terdengar suara jeritan Ayu yang sangat keras seperti orang kerasukan Ayu juga mebanting semua barang yang ada diatas meja merasa kecewa dan merasa sakit hati.
Sarah yang masih berlutut turut mendengar suara jeritan wanita berusia 38 tahun itu dirinya ikut meneteskan air matanya atas kenyataan yang telah terjadi.
"Kau sudah Gila! mana mungkin kau hamil. jika hamil pun itu bukan anaku. Pasti kau sudah banyak tidur dengan banyak pemuda. "
"Tidak Juragan, saya berani bersumpah, saya hanya melakukannya dengan Juragan. Saya mohon juragan mau bertanggungjawab. "
"Saya tak Sudi! " Jiang membentak Sarah.
Suara jeritan Ayu sudah tak terdengar lagi namun langkah kakinya kini terdengar mendekati ruang tamu. Dengan rambut yang sudah berantakan dan mata yang berkobar seperti api Ayu meluapkan amarah nya.
"Kau Jiang! berani-beraninya melakukan hal itu kepadaku. Aku susah payang berubah menjadi wanita baik demi kau, tapi kau malah seperti ini. "
Jiang kini berlutut dihadapan istrinya memohon ampun, "Maaf sayang, ini tidak seperti yang kamu kira. ini kecelakan dan aku khilaf. Dia melakukan itu karena ingin melunasi hutang bapaknya. "
"Dasar ******* sialan! berani-beraninya merayu suamiku dengan tubuhmu itu! jangan harap kamu mendapatkan harta suamiku! " Ayu menjambak rambut Sarah hingga kepalanya menghadap keatas.
"A-ampun buk, saya tidak mengharapkan kan harta juragan, sa-saya hanya ingin juragan bertanggungjawab tas anak ini."
Ayu duduk disofa dengan masih dihadapkan dengan Jiang dan Sarah yang berlutut bersisian.
Titien mengambil nafas panjang dan berusaha menenangkan diri.
" Nikahi dia secara sirih, jangan sampai orang luar tahu tentang hubungan kalian. Selama hamil kau tetap tinggal disini dan setelah lahir anakmu akan menjadi anaku. "
"Ta-tapi Buk. " Sarah memeluk perutnya sendiri hendak menolak jika anaknya akan diambil Ayu.
"Jika kau menolak, Jiang juga tidak akan menikahimu. Jiang menjadi juragan karena usaha bapaku. Jangan harap kau hidup enak setelah menikah dengan suamiku. "
Sarah menunduk dalam-dalam dirinya tidak berdaya untuk menolak pada akhirnya dirinya mengalah asalkan anaknya diakui oleh Jiang dan hidup dengan benar nantinya setelah lahir meski tidak dirinya sendiri yang mengurus.
Flashback off
__ADS_1
"Sudahlah Mah, jangan pikirkan dia lagi. Nanti setelah kita pindah ke kota kita bisa menyewa pembantu dan pengasuh untuk merawat anak-anak. " Jiang berusaha menenangkan istrinya.
Jiang telah menyetujui permintaan Darwys, dan menjual lahannya dengan syarat dirinya dipekerjakan sebagai bawahan langsung Darwys serta diberikan tempat tinggal dikota agar istrinya bisa ikut bersamanya. Dan Darwys menerima Jiang sebagai supir pribadi dirinya.