Oleh-oleh Dari Suamiku

Oleh-oleh Dari Suamiku
Bab 9 Herra


__ADS_3

"Halo sayang ada apa? Tumben anak mama yang ganteng ini menelepon, sabtu mamah kesana ya kamu mau hadiah apa sayang? " suara Herra lembut seperti biasa.


"Halo mah, urusan hadiah terserah mamah saja. Ada yang mau aku bicarain mah tentang Grace. "


"Grace? Ada apa dengan menantu kesayangan mamah? "


"Bisa kita ketemuan saja mah?"


"Baiklah nak, sepertinya penting. " Pembicaraan terputus setelah Darwys memberi alamat restauran bintang 5 di pusat kota. Ia mengajak Andre asistennya beserta Sarah untuk menemui sang ibunda.


"Sarah nanti jika bertemu mamah kamu tau kan harus apa sayang? " menggenggam tangan calon istrinya yang lembut.


"Iya mas Sarah paham, Sarah harus bisa ambil hati mamah. "


"Bagus, " Angguk Darwys mantap.


Andre menyetir dengan santai sesekali ia melihat sepion yg menghadap bangku penumpangnya. Terlihat majikannya seperti sedang merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya saling menempelkan bahu dan meremas tangan.


***


Di rumah


"Nyonya baik baik saja? " Tanya Tia. Siti hanya mengangguk menggigit bibirnya seraya menanyakan hal yang sama.


"Suamiku berniat menikahi Sarah, " Ia berusaha tenang didepan asistennya.


"Terus nyonya bagaimana? " Tia bertanya lagi.


"Jika nyonya berpisah dengan tuan saya mau mengikuti nyonya saja, " Siti ikut bicara dan Tia mengangguk setuju.

__ADS_1


"Meskipun kalian asisten ku tetapi kalian adalah pekerja yang direkrut suamiku, tapi nanti akan aku bicarakan kalau memang keputusannya harus berpisah," Grace tersenyum melihat kekompakan asistennya.


Tia bercerita jika desas desus pernikahan Darwys akan segera dilaksanan tapi ia masih belum tahu kapan tepatnya. Merasa cukup puas dengan kepandaian Tia dan Siti dalam hal mencari info, Grace berjanji didalam hatinya ia akan memperkerjakan jasa mereka sampai akhir hayat.


***


Kaki jenjang seorang wanita berusia 55tahun menurununi BMW 6 series GT putih dengan heels cream 8 centimeter terlihat elegan meski hanya baru terlihat kakinya. Darwys menyambut nyonya besar di keluarganya itu berpelukan menghamburkan rasa rindu lama tidak bertemu karena sibuk oleh dunia pekerjaan padahal rumah mereka hanya berjarak satu setengah jam.


"Mamah makin cantik saja nih kalau dilihat lihat, " Mata Darwys memeriksa dari sudut kepala sampai kaki ibunya.


"Mamah dari dulu kan memang cantik. Mamah kemarin habis treatment dikorea agar terlihat awet muda loh " Senyum khas Herra yang semakin membuat dirinya terlihat elegan.


Herra yang melihat Andre, menyunggingkan senyum dan Andre pun menunduk membalas hormat. Tak luput dari pandangan Herra melihat heran sosok perempuan cantik yang dibawa anaknya itu,


'mungkin asisten baru Darwys' pikir Herra.


"Mari Nyonya dan tuan saya arahkan ke tempat yang sudah kita pesan, " Andre memimpin jalan. Sarah mengekor dibelakang Darwys dan ibunya. Tak jauh dari Sarah dua orang pria berbadan besar berjalan mengikuti.


"Siapa perempuan ini? Kenapa ikut duduk disini dan mana menantu kesayangan mama? " Mata Herra tampak mencari disekeliling barangkali menantunya sebentar lagi akan muncul memberikannya kejutan.


"Mah kenalin ini Sarah calon istri Darwys. Grace tidak ikut mah, inilah alasan aku ingin menemui mamah, " ujar Darwys dengan tenang.


Mata sang ibunda berhenti mencari keberadaan menantunya, pandangannya sekarang tertuju kepada sosok wanita mungil cantik yang masih tampak muda. Mengetuk meja dengan jari jemarinya membaca raut muka Sarah.


"Beri mamah alasan nak, kenapa kamu mau dengan perempuan ini, " Jari Herra menggeretuk dari kelingking ketelunjuk.


"Sarah gadis baik mah, dia perhatian dan menyayangi aku. Aku juga menyayanginya mah, " Mata Drawys penuh ketegasan memancarkan aura meyakinkan.


"Garce bukannya dia juga perhatian dan menyayangi kamu kan? Lalu bagai mana dengan Garce? " Pandangan Herra beralih menusuk indra penglihatan anaknya.

__ADS_1


"Grace... Grace.. Iya mah tapi.. " Keringat dipelipisnya meluncur meski di ruangan itu dingin ntah kenapa Darwys yang tadinya mantap malah menjadi gugup. Sarah yang daritadi diam ikut bicara,


"Grace belum bisa memberikan keturunan untuk Mas Darwys anak mamah, ijinkan Sarah masuk mah untuk melengkapi kebahagiaan Mas Darwys. " Mata Darwys terbelalak dengan apa yang diucapkan Sarah. Herra dengan ekspresi yang tetap tenang memandang lekat Sarah.


"Bukti kelayakan apa yang akan kamu berikan untuk menikah dengan anaku? " Pertanyaan yang ditujukan untuk Sarah membuat telapak tangan Darwys semakin basah.


"Cucu mah, aku bisa mengandung anak Mas Darwys, " Suara mantap Sarah terdengar tanpa ragu."Selain itu? " Tanya Herra kembali.


"Selain itu? " dengan pongah bingung Sarah bertanya balik.


"Grace dia bisa memimpin perusahaan. Apa kamu bisa seperti dia ? Benar memang jika saya ingin punya cucu darah daging Darwys tapi perempuan yang hanya bisa menghabiskan uang suaminya itu tidak ada gunanya! "


Maksud dari Herra adalah ia ingin perempuan yang mendampingi putranya adalah yang bisa segalanya meski begitu iya juga akan menjamin menantunya bahagia, meski tidak bekerja setidaknya seorang perempuan harus punya nilai yang tinggi atas dasar ilmu dan keterampilan.


"Mah aku janji sebelum aku menikahi Sarah, ia akan belajar segala hal. Mamah tenang saja, mamah mendapat menantu idaman ditambah mamah mendapat cucu, aku janji itu. " Senyum darwis mengembang.


"Lalu Grace mau kamu kemanakan? Berat rasanya jika harus melepaskan Grace nak, " suara sendu terdengar dari mulut Herra. Akhirnya Darwys mengungkapkan rencananya yang mana ia tetap ingin menikahi Sarah tanpa harus bercerai dengan isteri pertamanya.


"Baiklah mamah akan coba berbicara dengan Grace dan keluarga Amor, " Herra mengiyakan saran anaknya.


***


Malam yang sepi menghampiri Grace, terbesit dibenaknya untuk memberi kabar kepada keluarga Amor tentang rencana Darwys. Bukan untuk memberikan keluarganya berita buruk Grace semata-mata hanya ingin keluarganya bersikap tenang dan biarkan urusan rumah tangga kecilnya dia selesaikan sendiri.


"Apa kamu yakin dengan keputusanmu nak ? " suara sang ayah terdengar hangat.


"Grace yakin ayah, biarkan grace menyelesaikannya sendiri. " Grace menjawab mantap.


"Tapi ayah tidak bisa menghentikan apa yanga akan dilakukan kakakmu jika ia tahu mengenai hal ini, " Ayahnya kembali mengingatkan.Grace hanya menggigit bibirnya mengingat bahwa sang kakak yang sangat protektif tidak ingin adiknya disakiti, apa jadinya nanti jika kakanya tahu. Dengan penuh pertimbangan Grace mempunyai jawaban atas kegundahan hatinya.

__ADS_1


~~~°°°°°°°°°°°°°Hallo semua para membaca, maafkan mimin ya jika agak telat update, sabar saja ya untuk menunggu update selanjutnya. Doakan mimin selalu sehat dan kalian yang baca jangan lupa komentar yak, sebagian komentar kalian adalah ide dan semangat buat mimin.(´༎ຶ ͜ʖ ༎ຶ `) Author butuh penyemangat !!!!!


__ADS_2