
Untuk anaku Bastian,
Anak lelakiku yang pintar kejarlah impian hidupmu sebahagia mungkin. Jika nanti kau menemukan sorang peremuan untuk dijadikan pendamping jangan hanya berpacu pada sosok bunda, bunda memang baik tapi carilah kriteriamu sendiri yang bahkan lebih baik dari bunda. Ketika merasa kesulitan dihidupmu menuju dewasa cobalah datangi Tuan Amor dia adalah sahabat papah, memintalah pendapatnya.
Papah yang selalu mendukungmu
Adi Jaya Sukmo
***
Perjalanan yang harusnya sebentar menjadi lama, malam minggu tradisi pekan malam yang orang habiskan di luar membuat jalanan menjadi macet. Diluar mobil lusinan pasangan berboncengan memeluk dari arah belakang tangan para gadis mendekap pasangannya yang jaga kemudi.
Grace memandang lurus penuh kekosongan dinetranya. Air mata tidak lagi menetes mungkin karena sudah habis terkuras, membuat area mata menjadi sembab. Ia sudah sadar ia bersama lelaki yang bukan suaminya, mungkin jika Darwys tahu ia akan terbakar api cemburu.
"Maaf jika tidak nyaman nona, tuan Amor meminta tolong dan mengijinkan ku mengantarkan anda pulang." Bastian mencoba membuka percakapan.
Grace hanya diam, bahkan Bastian lupa memperkenalkan siapa dirinya.
Kecanggungan terasa menusuk hati Bastian ketika Grace tidak membalas ucapannya.
"Bisakah Anda mengantarkan saya ke suatu tempat? " Grace berbicara menoleh sang pengemudi.
"Tempat mana yang ingin anda tuju nona? " Memandang grace dengan raut muka heran, pasalnya hari sudah mulai semakin larut.
"Stop panggil saya nona, tuan. Panggil saja nama saya" Grace tampak merapihkan tatanan rambut dan memberi polesan di bagian bawah matanya agak tidak terlihat sembab.
"Lalu siapa nama anda nona?" Bastian berpura pura tidak tahu nama wanita di sampingnya.
"Panggil saya Grace" pandangan Grace kembali melihat arah depan.
"Baiklah dan kau juga tidak usah memanggilku tuan, Namaku Bastian. Oh ya bisakah kita menganggil dengan sebutan aku dan kamu? "
__ADS_1
Grace hanya mengangguk, Bastian yang merasa bodoh karena sudah berbicara panjang menggigit bibirnya lagi.
Bukan rumah tempat yang Grace tuju, kini ia hanya ingin menenangkan dirinya di panti asuhan yang ia sering datangi ketika sedih.
"Malam bu apakah anak-sudah tertidur? " Tanya Grace pada pemilik panti asuhan yang keluar pintu ketika mendengar suara mobil masuk.
"Mereka sedang bersiap untuk tidur nyonya, mari saya antar, " Wanita berusia 60 tahun itu mengantarkan Grace tanpa menanyakan siapa lelaki yang datang bersama Grace.
Bangunan yang luas itu terdiri dari 5 kamar besar, 4 kamar anak-anak dan 1 kamar para pengasuh. Grace salah satu relawan yang sering datang mengunjungin tempat ini ia juga lah penyumbang terbesar di panti asuhan. Bukan kesombongan yang ia inginkan ia hanya ingin anak-anak di panti ini tumbuh dewasa dengan layak.
Suara sorak riang anak-anak ketika melihat Grace memasuki kamarnya. Terlukis senyum bahagia diwajah grace, tangan nya mengelus satu persatu rambut anak-anak itu.
"Kakak apa kabar, kenapa kaka lama tidak kesini? Kita semua kangen kaka, " Tanya anak berusia 7tahun membuat semua kawannya mengangguk menanyakan hal yang sama.
Sudah sebulan memang Grace tidak berkunjung, kesibukannya menumpukkan kerinduan kepada anak asuh di panti. Ia kembali bercerita dan membacakan dongeng dikamar tersebut.
Di pintu terdapat kedua orang yang sedang berdiri, yang mana itu adalah Lusi selaku pemilik panti dan juga Bastian. Mereka berdua memandang kearah dimana Grace sedang bermain bersama anak panti.
"Grace adalah seorang wanita yang kuat, hatinya sangatlah lembut penuh dengan rasa keibuan menjadi hal yang di rindukan anak panti ini" Ujar Lusi sambil tersenyum.
"Mari kita tunggu diluar saja Tuan, tidak enak jika nanti ketahuan kalau kita seperti sedang memata-matainya hehe.." Lusi segera berbalik dan berjalan untuk mengajaknya duduk di ruang tamu rumah panti tersebut.
Bastian hanya bisa mengekori langkah kaki Lusi, sebenarnya di dalam lubuk hatinya Bastian sangat ingin memandangi wajah Grace lebih lama lagi. Yang mana wajah Grace terlihat begitu menggemaskan ketika sedang bermain bersama anak-anak.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Grace, Tuan?" Ucap Lusi sambil menuangkan teh hangat ke dalam cangkir Bastian.
"Sulit diceritakan Bu, Grace sedang mengalami kesedihan yang begitu mendalam. Saya takut jika kesedihan ini akan berlarut-larut dan membuatnya tidak bisa bangkit. Lantaran tepat di hari ini suaminya berulang tahun dan juga suaminya itu mengumumkan bahwa dia akan memadu Grace tepat di acara pesta besar itu, Bu.." Jawab Bastian sambil meminum tehnya dengn perlahan.
"Oh ternyata seperti itu, kasihan juga nasibnya yang malang. Bahkan aku saja sebagai wanita bisa merasakan betapa sakitnya ucapan suaminya itu. Apa lagi dengan Grace ya, hem.. coba deh nanti pelan-pelan Ibu akan membantu untuk berbicara dengannya. Lalu Tuan ini siapanya Nyonya Grace, kalau boleh saya tahu?" Lusi kembali bertanya dengan mimik wajah yang penasaran.
Dengan penampilan yang rapih dan juga postur tubuh sangat berwibawa, tidak mungkin bukan jika laki-laki yang membawa Grace itu adalah asistennya atau pun sopir pribadinya.
__ADS_1
"Saya Bastian Bu, saya calon suami Grace.. Tapi jika Grace sudah cerai dengan suaminya hehhehe.. " Bastian tertawa yang membuat Lusi menggelengkan kepalanya sambil ikut tersenyum.
Namun, tanpa mereka sadari Grace sudah mendekati mereka sert langsung melontarkan pertanyaan yang membuat tawa Bastian menghilang, dan digantikan oleh wajah yang sangat tegang dengan kedua bola mata yang hampir copot.
"Tadi aku dengar kalian sedang mengomongin calon suami, memangnya calon suami siapa? " Tanya Grace yang kini sudah berdiri di dekat mereka.
"Eohh.. eee.. i-itu, eeee.. bu-bukan siapa-siapa kok hehe.. ayo kita pulang. Hari sudah semakin larut malam, tidak baik wanita cantik sepertimu masih berkeliran di luar rumah"
Bastian berbicara sambil berdiri dengan berpura-pura melihat jam di tangannya untuk menutupi kegugupannya. Tetapi, tanpa di sadari oleh Bastian capannya itu mampu membuat pipi Grace mulai memerah bagaikan kepiting yang baru saja selesai di masak.
Pukul 10 malam Grace dan Bastian meninggalkan panti asuhan. Perjalanan yang lancar membuat Grace sempat tertidur. Wanita berusia 33 tahun itu masih sangat terlihat muda karena dirawat. Bastian bahkan tidak menyangka jika ia jatuh cinta kepada perempuan yang usianya diatas dirinya. Sejenak Bastian menepikan mobil hanya untuk menyelimuti badan Grace dengan jasnya.
"Pah jika papah ingin tahu perempuan seperti apa pendampingku kelak. Lihatlah dari surga bahwa disampingku ini yang kelak akan menjadi istriku pah. Hanya satu dan hanya dia, "
Ucap lirih dihati Bastian berharap Ayahnya bisa mendengar bisikan hati anaknya.
***
"Grace Bangun kita sudah sampai, " Dengan lembut Bastian membangunkan Grace.
"Oh maaf aku pasti ketiduran.. maaf ya" Grace terperanjat kaget berusaha membersihan matanya.
"Tidak apa, pakai saja jasku saat masuk. Angin malam sangat kencang dan dingin, " Bastian membukakan pintu mobil dan juga mengambil selembar kertas yang berada di jok belakang.
"Oh ya ini Undangan Ulang tahun kakeku sabtu depan untuk Darwys suamimu, tapi aku juga berharap kamu ikut hadir datang di acara tersebut, "
"Baiklah nanti akan aku sampaikan, sekali lagi terimaksih sudah mengantarkanku pulang, " Grace mengngguk tersenyum sopan.
Bastian berlari kecil menuju kursi kemudinya membuka pintu dan memberi pesan kepada Grace "Aku akn menantimu mawar". Senyum lelaki tampan itu sedikit membuat hati Grace Berdesir.
Di kesempatan lain, Bastian mungkin akan lebih sabar pada wanita menarik yang berdiri di depannya dan menikmati percakapan mereka.
__ADS_1
***