Oleh-oleh Dari Suamiku

Oleh-oleh Dari Suamiku
Bab 19 Kebetulan atau Takdir


__ADS_3

Jalanan cukup padat saat memasuki jam makan siang, sengaja Bastian mencari restoran terdekat agar ketika Tuan Atmaja meminta dijemput maka ia juga akan segera datang. Sekilas mengingat Tuan Amor ingin sebenarnya Bastian berbincang tentang mendiang ayahnya, dan menanyakan kisah hidup ayahnya yang Bastian belum tahu.


Bastian memasuki restoran setelah ia memarkirkan mobilnya. Bangunan bergaya belanda itu cukup ramai pengunjung. Menu makanannya pun beragam dari menu lokal sampai mancanegara negara juga tersedia. Bastian memesan seporsi Swedish meetball dan segelas leci tea dingin.


Setelah mengambil nomor meja, ia tak sengaja melihat sosok yang ia kenal dan setelah didekati memang benar dia adalah Grace. Bastian pun duduk di meja sebelah Grace. Grace tak sadar jika orang disebelahnya sedang memperhatikan dirinya, ia tengah sibuk memberitahukan setatusnya kepada temannya di group aplikasi.


"Nona yang cantik duduk sendirian saja disini? "


Grace menoleh ke meja disebelahnya, ia tak menyangka akan bertemu dengan Bastian.


"Kamu juga sendirian atau bersama seseorang? " Grace melihat sekeliling barangkali Bastian datang dengan seseorang.


"Yah aku sendirian, jika tidak keberatan. Bolehkah aku pindah semeja dengan mu? "


"Tentu, kenapa tidak? "


Bastian pun segera bringsut dari tempatnya duduk.


"Sudah pesan makan? "


"Sudah, tapi belum datang. Jam makan siang disini selalu ramai. "


"Wah kamu sering kesini? "


"Dulu waktu aku masih kerja dirumah sakit itu."


"Ah berarti yang kulihat di lobi rumah sakit itu benar dirimu? "


"Kau melihat ku? "


"Ya tapi hanya sekilas, ku pikir kepalaku yang berhalusinasi karena sedang mabuk asmara" Bastian terkekeh.


Grace tidak berniat terpancing kedalam candaan Bastian, bagai mana pun Bastian adalah seorang lelaki.


"Siapa yang sakit? "


"Tidak ada. Aku menemani Kakek ku cek kesehatan tadi, sekarang beliau sedang makan siang di kafetaria rumah sakit. "


Lalu makanan kedua orang itu datang bersamaan dengan menu yang sama juga.


"Kurasa ini memang kebetualan" Bastian tampak melihat isi piring Grace.


"Hemm.. Yeah mungkin. "


Bastian sebenarnya canggung, ia bingung harus memulai obrolan dari mana. Namun jika ia diam maka dia akan kehilangan kesempatan emasnya.


"Setelah ini kamu akan kemana? "


"Aku akan kerumah sakit lagi. "


"Ah ya aku belum bertanya, siapa yang sedang sakit? "


"Tidak ada, kebetulan ayahku kerja disana. "

__ADS_1


"Bawa mobil? Kalau tidak ikut beramaku aku juga akan kesana menjemput kakek. "


"Ah tidak usah repot, aku bisa naik taksi. "


"Tidak pernah repot jika berkaitan dengan mu, malam malam pun aku terjang kepanti. Apalagi siang hari. "


Grace kembali mengingat malam itu dan dibuat merah pipinya.


"Baiklah aku ikut denganmu. "


Alunan musik jazz merdu bergema dengan volume rendah, membuat nyaman pengunjung. Saat jam makan akan usai ruangan itu terasa sedikit lebih lengang.


Gawai Bastian berdering, ia pun langsung mengankatnya.


[Hallo Bas, kakek di ruang rapat rumah sakit. Jika sudah selesai makan datang lah ke sini.]


[Baik kek, kakek itu sebenarnya cek kesehatan atau cek harga saham rumah sakit sampai ke ruang rapat segala. ]


[Nanti juga kamu akan tahu. ]


Telepon pun di matikan dari seberang.


"Kamu tahu letak ruang rapat rumah sakit?"


"Hmm ya aku tahu nanti akan aku antar. "


Meski umur Grace lebih tua dari Bastian namun jika bersisian mereka terlihat serasi. Dengan treatment yang selama ini Grace jalani mampu membuat wajahnya terlihat lebih muda dari perempuan sebayanya.


Didalam mobil Bastian yang canggung hanya diam saja sambil sesekali melirik ke arah Grace. Grace yang terlihat diam sebenarnya sedang memikirkan langkah kehidupan selanjutnya yang harus ia jalani.


***


"Ya begitulah, dulu kan pernah kerja disini. Meski sebentar. "


Grace pun mengetuk ruang meeting, dan dibukakan pintu itu dari dalam oleh seseorang. Saat pintu terbuka Grace mendapati Ayahnya dan Tuan atmaja sedang duduk di kursi bermeja panjang.


"Salam Tuan Atmaja. " Grace sedikit membungkukan badan.


"Nah kebetulan sekali. Ini anak perempuan ku Grace Ola Amor. "


"Kalau nona Grace sepertinya kita pernah bertemu ya? "


Grace dan Bastian memasuki ruangan.


"Di ulang tahun anda Tuan. "


"Oh yayaya saya ingat. Dan kelihatan nya kalian sudah saling kenal satu sama lain. "


Bastian masih sedikit kaget, perempuan yang ia sukai ternyata anak sahabat ayahnya. Pantas saja saat melihat Tuan Amor ia merasa tidak asing.


"Iya kek, kita sudah berteman beberapa hari terakhir. " Bastian tersenyum kaku.


Apa jadinya jika Bastian akan merebut istri orang yang berarti calon mertua nya adalah sahabat ayahnya. Salah sedikit saja ia bisa menjerumuskan Grace kejalan yang salah karna Bastian mengajaknya lari dari genggaman Darwys.

__ADS_1


'Dalam hal ini aku tidak boleh salah langkah. Jangan sampai Tuan Amor tidak menyukaiku. '


Grace dan Bastian tersenyum kaku. Grace juga kaget ia baru mengetahui jika ayahnya kenal dengan Tuan Atmaja.


'Apakah ini kebetulan ataukah Takdir? '


Tuan Atmaja memeberikan dokumen kepada Bastian untuk dibaca. Berisi kepemilikan perusahaan dan para investor yang menanam saham di rumah sakit tersebut.


selain menjadi dokter dirumah sakit ini Tuan Amor juga ternyata Direktur CEO, meski ia pemilik rumah sakit namun ia juga tidak pamrih untuk turun langsung kelapangan. Bastian cukup kagum dengan sosok Tuan Amor.


"perusahaan farmasi kita sudah lama bekerja sama dengan rumah sakit ini. "


" Jadi kakek harap kamu menjaga dengan baik hubungan ini. " Tuan Atmaja menerangkan lebih lanjut tentang saham dan sebagainya.


Tuan Amor ingin mengajak anak sahabatnya ke kediamannya, "Sesekali mainlah kerumahku, terakhir aku melihatmu dulu saat kau Lulus SMA, papahmu membuat acara cukup mewah hanya untuk kelulusanmu. " Amor dan Grace tertawa kecil.


Wajah Bastian dibuat merah malu karena ucapan Tuan Amor, "Lain waktu saya akan main om. "


***


"Mas, Sarah ingin menempati kamar ini, apakah boleh? "


Sarah dan Darwys kini sedang mengecek kamar istrinya yang sedang dikemasi isi ruangannya.


" Jangan dulu, ini masih kamar Grace. Sabarlah sebentar lagi. Ketika kita sah menjadi suami istri maka kamu boleh menempatinya, juga kamar utama. "


"Baiklah, Sarah akan bersabar dan berdoa agar urusan ikat tidak ada halangan lagi. "


Sarah merangkul lengan Darwys dan menyandarkan kepala dipundak nya.


"Sudah agak siang, aku akan berangkat ke kantor. Kamu baik-baik dirumah yah. " Darwys mengecup kening Sarah.


Sarah masih berdiri di samping ranjang Grace, melihat lihat barang apa saja yang Grace bawa dari rumah itu.


Sarah yang gatal akan barang mewah pun menanyakan soal perhiasan kepada pelayan itu, "Apakah tidak ada perhiasan milik Kak Grace? "


"Tidak ada Non, sepertinya sudah dibawa sebelumnya oleh Nyonya Grace. "


Sarah menyungutkan bibirnya,


'Cih sudah seperti perampok saja, semua barang mewah dia bawa. Padahalkan harusnya itu menjadi warisan ku. '


"Tinggalkan Tas merah itu, tas itu tidak usah dibawa. "


"Tapi non. "


"Tinggalkan saja, itu hadiah dari Kak Grace untuku yang belum sempat ia kasih. "


Pelayan itu tampak ragu ragu dengan ucapan Sarah, mereka pun saling pandang.


"Jika takut, nanti aku akan bicara langsung dengan kak Grace. Kalian kalau tidak percaya tanyakan saja pada beliau. "


"Baiklah non. " Pelayan itu tidak mempunyai banyak nyali untuk berbicara lebih lanjut, merekapun meninggalkan Tas merah brand ternama itu.

__ADS_1


Saat akan menuruni anak tangga Rama tidak sengaja melihat Sarah didalam kamar Grace, ia cukup penasaran mengenai kelebihan Sarah yang bisa menyaingi nyonya rumah itu. Sesaat Rama memikirkan sesuatu untuk direncanakan.


__ADS_2