Oleh-oleh Dari Suamiku

Oleh-oleh Dari Suamiku
Bab 17 Pulang


__ADS_3

Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, kembalilah beberapa saat lagi.


Lagi dan lagi suara operator yang menjawab membuat Sarah sangat kesal. Ia hendak meminta uang dan ijin mengikuti arisan bersama Grace yang diadakan esok hari.


[Kamu kemana aja sih mas, aku telepon tidak nyambung]


[Aku ingin ikut arisan dengan kak Grace, dia sudah menyetujui ku]


[Bisa saja ini jadi jalan kamu mendapat restunya supaya kita bisa menikah]


[Arisan nya 200 juta, aku sudah meng iya kan tawaran kak Grace. Ku harap Mas Darwys tidak keberatan memberiku uang segitu]


[Balas jika sudah tidak sibuk]


Bunyi pesan beruntut di aplikasi hijau milik Darwys saat mode pesawat dimatikan. Ia pun segera membalas.


[Aku baru selesai meeting. ]


[Bagus lah jika kamu dan Grace bisa menjadi dekat. Akan aku tranfer uangnya sekarang. ]


Membaca balasan Darwys membuat mata Sarah berbinar cerah, seolah 200 juta bukan apa apa bagi Darwys. Ia pun mengecek e-bank miliknya dan sudah masuk uang 300 juta. Kehidupan Sarah berbalik dari si miskin menjadi si kaya tanpa bekerja hanya bermodal badan.


Pesan lain masuk dari Herra ibunya.


[Nak, mamah sama papah ada dirumahmu.. Usai meeting pulanglah sebentar]


Tak perlu berpikir panjang Darwys pun langsung bergegas pulang.


***


Herra dan Damian datang ke kediaman anaknya, akibat ulah anaknya membawa perempuan lain di acara Tuan Atmaja banyak rekan bisnis yang membicarakan Darwys. Takut bisnisnya ikut tercoreng mereka akan mendesak keputusan akhir Darwys.


"Pak Andre tolong panggilkan menantu saya"


"Baik Tuan"


Grace turun diikuti Siti dan Tia.


"Mamah ke sini tidak berkabar dulu, tumben.. "


"Papah tidak akan basa basi Grace. tunggu Darwys datang. "


Siti menyuguhkan teh sakura kedalam cangkir Herra dan Damian atmosfer mencekam cukup membuat tangan Siti sedikit gemetar.


Tak lama Darwys pun datang dan langsung duduk disebrang Grace.


"Bilang pada istrimu apa rencanamu selanjutnya dengan wanita itu. Gara-gara kamu bisnis keluarga kita ikut diterpa kabar yang tidak enak. "


"Aku akan menikahi Sarah pah. "

__ADS_1


"Bilang pada istrimu jangan kepada papah, bilang dengan benar! Kamu bukan anak kecil lagi yang merengek ingin memiliki sesuatu. " Wajah memerah dan nada tinggi Damian cukup membuat suasana rumah menjadi senyap.


"Tidak habis fikir papah sama kamu yang membawa wanita itu ke acara Tuan Atmaja. "


"Maaf pah, Sarah yang merengek ingin ikut. "


"Bilang pada istrimu maumu apa sekarang! "


Grace meratap diam ia cukup kaget dengan ucapan mertuanya ia harus siap dengan apa yang akan diucapkan suaminya meski ia tahu apa yang keluar dari mulutnya.


"Grace, restui lah Sarah jadi istri kedua ku. Aku berjanji akan membahagiakan kalian berdua dan aku berjanji akan adil terhadap kalian. " Darwys menatap Grace untuk meyakinkan.


"Jika kamu bersikukuh ingin menikah lagi, maka ceraikan aku pah! " Suara Grace meninggi tak menghiraukan Herra dan Damian.


Deru nafas Grace membuncah seakan tebendung sudah lama, meski ia sudah bersiap diri namun tetap saja rasa hati emosionalnya tetap mengambil alih.


"Darwys hanya akan menikah siri, Ibarat kerajaan kamu akan tetap menjadi ratunya dan Sarah hanya seorang selir. Di zaman itu tidak menjadi permasalahan Grace, tolong mengertilah nak " Herra berusaha menengahi.


" Mah Pah..kenyataannya ini bukan zaman kerajaan, jika mamah ada diposisiku apa mamah mau dimadu? " Ucapan Grace berhasil membuat Herra menelan ludahnya sendiri membayangkan jika suaminya juga melakukan hal yang sama seperti anaknya.


"Jika kamu tetap memaksa, ceraikan lah aku! Maka kamu akan hidup dengan tenang dan bebas mau melakukan apa saja tanpa amukanku! "


Grace berdiri dan meninggalkan suami dan mertuanya dengan air mata yang terurai.


"Sudahlah papah tidak ingin pusing. Pilih salah satu dan bijaklah" Damian pasrah dengan keputusan anaknya.


"Jangan sampai kamu menyesal nak" Timpal Herra.


" Bagaimana mas? "


" Grace meminta bercerai jika aku menikahimu. "


" Duduk dulu, berbicara pelan pelan saja. " Sarah menepuk tempat disebelahnya.


" Aku bingung harus bagaimana. "


" Utamakan prioritas mu mas, tujuanmu menikah dan keinginan mamah papah. "


" Mamah papah ikut keputusanku. "


" Baguslah kalau begitu, sekarang kamu harus menimbang. Aku masih muda dan pasti bisa hamil jika kamu menginginkan anak. "


Darwys hanya terdiam sembari memijat pelipisnya.


" Memangnya kamu tidak bosan 10 tahun hidup tanpa anak? Kurasa hidupmu tidak berwarna dan waktumu terbuang sia-sia. "


"Tidurlah disini dan tenangkan dirimu malam ini. "


Darwys hanya memejamkan mata berusaha menimbang setiap keputusannya.

__ADS_1


***


Malam hari Darwys menemui Grace diruangannya.


"Jika kamu mau kita bercerai maka akan aku urus secepatnya mah. 10 tahun hidup seperti ini terus bagaikan tidak ada warna. Tidak ada salahnya kita mencoba yang baru. "


"Dan jika kamu merasa berat hidup tanpa aku. Aku selalu lebar membuka tanganku mah. "


"Aku akan urus secepatnya dan sekalian pembagian harta gono-gini. "


Grace dengan tenang mengambil kunci brangkas tempat menyimpan surat-surat berharga dan memberikannya kepada Darwys,


"Baiklah kalau itu keputusan mu, malam ini aku akan pulang kerumah keluargaku. Kita bertemu lagi saat persidangan tiba. "


"Dan perasaan ku terhadapmu sudah hilang berhentilah memanggilku selayaknya orang yang kamu sayang. "


Darwys sedikit terkejut melihat reaksi istrinya, ia bahkan tidak terpikirkan jika Grace akan secepat ini bertolak dari rumahnya.


"Tia dan Siti meminta izin ikut denganku. Jika tidak diizinkan mereka juga akan berhenti bekerja disini. "


Grace mulai berjalan membuka lemari pakaiannya mengambil beberapa baju untuk dibawanya pulang kerumah orang tuanya.


"Tia, Siti ambilkan 2 koper saya yang hitam. "


Tia dan Siti kembali membawa koper yang diminta majikannya.


"Kalian juga berkemas lah jika ingin ikut denganku. "


2 pelayan itu pun pamit kekamar mereka.


Grace berhenti sejenak melihat semua barang kenangan yang ada di ruangan itu. "Katakan pada kekasihmu untuk tidak memakai barang barang pribadiku. Esok aku akan menyuruh orang untuk mengemasi semuanya. "


Darwys hanya mengangguk mengiyakan.


***


Saat terakhir Grace melihat suaminya berkelebat di pikirannya yang resah, dan ia berjengit. Kenangannya akan sore itu menimbulkan sakit didadanya. Ia dan pelayannya memutuskan pulang kerumah orang tuanya. Ayahnya terlihat jelas memendam amarah terhadap menantunya matanya yang memerah dan berair melihat putrinya seperti dibuang begitu saja.


Untuk pertama kalinya sejak tiba, Grace melihat perubahan diwajah ayahnya. Alisnya berubah datar, matanya melembut, dan ketegangan diarea mulutnya mengendur.


"Itu pasti tidak mudah bagimu nak. Ayah menyesal tentang menjodohkan mu dengan Darwys waktu itu. "


Grace menelan susah payah dan berkata, "Tidak apa-apa yah dan ya memang tidak mudah, akan aku jadikan pelajaran hidupku yah. "


Amor memeluk kepala anaknya dan menyandarkan nya di dadanya, "Ayah yakin Darwys nanti akan mendapat karmanya. Lihat anak ayah sepertinya bertambah kurus dan tidak begitu sehat. Wajahmu sepucat hantu casper dan ada lingkaran hitam serta kantung dimatamu. Seprti orang yang tidak tidur berhari-haria atau makan dengan baik. "


Tangan Grace melayang memperbaiki rambutnya yang sebagian menutupi wajahnya, "Aku rasa, aku telalu cantik untuk dibandingkan dengan casper ayah. "


"Hahahah.. "

__ADS_1


Merekapun tertawa meski ada setitik airmata yang masih menempel di sudut mata Amor.


__ADS_2