Oleh-oleh Dari Suamiku

Oleh-oleh Dari Suamiku
32 Juragan Jiang


__ADS_3

Desa dipinggir kota seseorang datang ke kediaman Sarah yang sudah ditinggalkan pemiliknya.


"Rumah ini tampak lama kosong, tanaman yang biasa dirawat pun mati semua, menjadikan semak belukar dan ilalang meninggi. Kemana perempuan itu?atau jangan-jangan dia sudah mati? "


Rumah yang terbuat dari kayu dan bambu mengeluarkan bau apek karena sudah tidak dirawat lagi ditambah beberapa genteng yang jatuh membuat langit sedikit mengintip kedalam rumah. Beberapa kain dan ada kasur yang sudah berjamur.


Lelaki berusia 50tahunan itu susah payah berusaha memasuki kedalam rumah untuk mengecek keadaan sang penghuni.


"Semua baju masih ada dan tidak ada yang hilang juga. Atau jangan-jangan dia kabur?"


Tangan lelaki itu membuka hordeng penutup kamar, sama halnya ruangan sebelumnya, kamar itu juga kosong ditambah bau menyengat dari jamur lumut yang tumbuh di kasur kapuk.


Kembali mengecek isi lemari kayu yang sudah lapuk dia tidak menemukan apapun kecuali kertas kertas kecil yang tersumpal di pojok pakaian yang terlipat. Jelas itu adalah kertas-kertas struk belanjaan dari minimarket yang jaraknya hampir 1kilometer dari gubuk itu. Kertas yang mulai memudar tintanya menyisakan logo toko dan jumlah pembayaran masih samar terlihat.


"Banyak juga wanita ini belanja, dapat dari mana uang sebanyak ini. Apa dia hanya memungut struk orang lain dipinggir jalan? ck. " Lelaki itu tersenyum miring.


Dirinya keluar dari gubuk itu dan coba menanyakan keberadaan Sarah kepada tetangganya. Tetangga berjarak 100meter itupun jelas tidak tahu, "Saya tidak tahu juragan kemana Sarah, saya setiap hari keladang singkong dan jarang pulang karena sering menginap di gubuk tengah ladang. " Wanita parubaya itu sedikit membungkukan badannya karena takut kena marah Juragan Jiang.


Juragan Jiang


pemilik lahan singkong yang bersebelahan dengan proyek pembangunan milik Darwys, ia datang untuk memantau perkebuanannya. Dirinya mendapat laporan dari Mandor pegawai yang ia pekerjakan bahwa final dari pembangunan pabrik pembuatan alat medis akan mengancam hasil panen singkongnya terlebih lagi perihal pencemaran yang akan dihasilkan pabrik tersebut.


"Baiklah, tolong kabari saya jika ada tetangga lain yang melihat kemana perginya Sarah. Rumahnya sudah lama tak berpenghuni. "


"Baik juragan. " jawab lirih perempuan itu sambil mengangguk.

__ADS_1


Jiang mengambil gawai di celana kargo tebalnya dan mencari nama kontak yang ia akan hubungi.


"Halo mah? Sarah tidak ada di gubuknya. Dilihat dari kondisi rumah itu sepertinya Sarah sudah pergi lama mah. " Jiang menghubungi istrinya.


"Apa! kenapa bisa dia tidak ada? dia kan istri sirimu! lalu bagaimana ini sebentar lagi anak kita lahir, aku tak mau jika harus merawat dua anak sekaligus! kamu harus cari dia sampai ketemu atau anak Jal*ng itu akan ku buang!" Suara tinggi perempuan itu cukup membuat kepala Jiang berkeringat.


"Akan aku cari nanti setelah urusan perkebuanan selsai ya mah, kamu jangan marah-marah terus kasian dede bayi yang ada di perutmu. "


Wanita itu menutup panggilan sebelum mengucapkan selamat tinggal.


Jiang kembali mengenakan topi lebar ala koboy untuk kembali ke lahan singkongnya menemui pemilik proyek yang katanya sudah tiba.


Tanah milik Darwys lebih luas dibanding milik lahan Jiang namun Jiang adalah juragan terkenal di daerah itu. Terlebih lagi hampir penduduk disana bekerja untuk Jiang.


Darwys tampak sudah lama menunggu di ruangan itu, "Duduk juragan, saya tidak akan berbasa-basi untuk membangun bisnis."


Jiang duduk disitu juga ada petinggi setempat seperti ketua rt dan rw serta lurah. Jiang tidak terpikir sebelumnya jika perangkat desa juga akan hadir, yang tadinya Jiang ingin mengambil keuntungan dari Darwys sekarang malah Jiang merasa Darwys yang akan mengambil keuntungan darinya.


"Saya akan menawarkan kepada juragan beberapa keuntungan dari proyek ini, jika... Juragan Jiang menjual tanahnya kepada saya. "


"Oh tidak bisa..! " Triak Jiang.


"Sabar, jangan dipotong dulu ucapan saya juragan. Saya akan memberikan keuntungan untuk juragan. Pertama saya akan membayar uang sesuai kesepakatan jual beli tanah langsung kepada juragan tanpa perantara perangkat desa. Yang kedua juragan bisa bekerja di pabrik saya nantinya jika pembangunan ini selesai sebagai karyawan tetap. Ketiga semua karyawan juragan juga bisa melamar untuk bekerja disini. keempat semua warga yang tidak terikat juragan Jiang juga bisa melamar. Karena pabrik ini akan membutuhkan banyak karyawan nantinya. Dalam artian pabrik yang saya bangun akan menjadi lowongan pekerjaan bagi pemuda pemudi yang masih menganggur. Betul atau tidak Pak Lurah? " Darwys menoleh kearah Lurah dan jawaban Lurah hanya mengangguk-anggukan kepala.


Jiang berpikir dan menimbang semua ucapan Darwys. Dirinya adalah orang paling kaya didaerah tersebut namun apa jadinya jika dirinya malah ikut menjadi karyawan orang lain ditambah perangkat desa nampak lebih condong kearah Darwys.

__ADS_1


"Jika saya menolak bagaimana! " Jawab Jiang tak mau kalah.


"Tidak masalah, Toh nantinya semua karyawan juragan akan berpaling ke pabrik saya. Apalagi gaji yang ditawarkan lebih besar dari yang juragan berikan. Juragan mau bertani sendiri dengan mengandalkan dua tangan untuk mengurus 2hektar tanah? jika sanggup silahkan saja saya tidak menahan. "


"huh licik sekali anda ternyata. " Jiang tertawa miring.


"pikirkanlah baik-baik juragan, saya hanya punya waktu sampai hari jumat. setelah lewat dari itu kesepakatan saya anggap hangus karena pembangunan akan terus berjalan. "


"Hah iya! Limbah, limbah yang kau hasilkan akan berdapak buruk pada lingkungan disini ingat itu, bisa saya laporkan kepada pihak yang terkait, tau rasa kamu. "


"Juragan juragan. Saya membangun pabrik ini legal dasar hukumnya, semua SOP yang berkaitan dengan produksi sudah lulus uji. Bahkan saya membangun alat pendaur ulang dan alat penampung bahan berbahaya. Jika tidak percaya tanyakan kepada Pak Lurah yang sudah melihat alatnya. " Darwys tersenyum sambil bergeleng pelan ia sudah menyiapkan jawaban atas semua tudingan Jiang yang akan meluncur.


Jiang menggigit bibirnya tidak bisa berkata lagi, kedua tangan nya ikut mengepal menahan emosi.


"Pikirkan saja dulu juragan, juragan tidak akan rugi. Gaji yang saya tawarkan untuk juragan sama tingginya seperti gaji dikota. "


Jiang berdiri tegak merasa tak terima dengan ucapan Darwys yang barusan keluar dari mulutnya, "Cih.. uang yang saya hasilkan dari menjual singkong lebih banyak daripada gaji yang ditawarkan, tak usah bermimpi menjadikanku Bud*k pabrikmu! saya juga bisa menaikan gaji karyawan jika saya mau! jangan mimpi kau! "


Jiang hendak melangkah pergi dan terhenti saat Darwys berkata, "Saya tahu juragan Jiang tidak pernah membayar pajak, saya juga tahu 50% karyawan juragan adalah anak dibawah umur bahkan gaji yang selama ini juragan berikan kepada mereka jauh dari cukup. "


Cukup lama Jiang mematung, namun langsung pergi meninggalkan bangunan kecil itu, ucapan Darwys cukup membuat pelipisnya berkeringat deras. Sebenarnya sudah sukup jika Darwys ingin melaporkan Jiang perihal pajak, namun sekarang jika pekerja dibawah umur ikut dilaporkan masalah Jiang akan bertambah berat.


"Bagaimana jika Juragan Jiang tetap menolak Tuan? " Tanya pak lurah.


"Tenang saja, dia pasti akan kembali kesini dan menyerah. hahahah" Darwys tertawa puas dengan keputusan yang ia ambil.

__ADS_1


__ADS_2