
[Aku tadi melihat kakakmu sedang duduk dengan seorang wanita. Dan wanita itu adalah seseorang yang kamu kenal, apa kamu mengetahuinya? ]
Grace membaca pesan singkat yang dikirim oleh Darwys saat ia dan asistennya sedang merapihkan barang yang ia ambil dari rumah suaminya.
"Masih belum ketemu Tas merah pemberian mamah? "
"Tidak ada nyah, saya sudah mencarinya. "
Tas merah itu pemberian Nyonya Herra saat ulang tahunnya yang ke 30tahun.Tas itu juga lah bukti saat Nyonya Herra berdoa persis didepan perut Grace saat dikamar agar cepat di titipkan momongan oleh sang Pencipta. Dan tas itu ingin ia kenakan saat esok bertemu dengan kumpulan Gold Women saat ada Sarah disana. Namun ntah dimana tas itu berada sekarang jika mungkin tertinggal Grace harus bersusah payah kembali kerumah itu lagi tak rela jika benda itu dipakai orang lain.
Gawai Grace kembali bergetar.
[Bisakah kita bertemu sebentar saja, ku rasa aku sedikit merindukanmu. ]
Grace hanya membacanya tanpa membalas, ia merasa bertemu dengan Darwys hanyalah akan membuang waktu dan tenaganya.
[Aku ingin membahas tentang perceraian kita. Jika kamu tidak ingin bertemu maka aku batalkan saja perceraian ini.]
Kalimat itu membuat Grace memijat pelipisnya, entah drama apa lagi yang akan Darwys rencanakan, kini dirinya sudah sangat muak dengan perilakunya.
[Kapan dimana? ]
[Steak House Victoria malam ini pukul 8]
Grace sudah membaca tempat pertemuannya, ingin rasanya menghindar dari lelaki yang telah menghianatinya.
Gawainya kembali bergetar kali ini Sarah yang mengirim pesan.
"Kak aku sudah dapat uangnya, kata mas Darwys arisan nya besok. Dimana tempatnya? "
Grace menarik nafas panjang, ingin rasanya ia tak membalas. Namun Grace sudah memiliki rencana untuk membalas kedua biawak itu atas apa yang ia rasakan saat ini.
"Nyah maaf tadi saya melihat ada amplop putih masih tersegel di dalam tas Coklat yang talinya putus. Tas ini. " Tia mengangkat tas yang ia maksud. Itu adalah Tas lama yang dulu biasa ia gunakan saat pergi kekantor.
"Amplop? Coba saya lihat. " Grace menerima amplop yang pada dasarnya berwarna putih itu namun mungkin karena sudah lama didalam tas amplol itu sedikit menguning.
"Ini Amplop rumah sakit. "
Saat akan membuka amplop itu, gawainya kembali bergetar namun kali ini sebuah nada panggilan. Grace memejamkan mata dan menarik nafas dalam, panggilan dari nomor yang baru masuk tanpa nama awalnya ia pikir itu Sarah. Ia mengangkat untuk memberitahunya agar tidak mengganggunya lagi.
"Aku sudah membaca pesanmu, besok datang saja ke resto Henshuin! Dan tolong jangan mengirimi ku pesan samapai esok hari.. "
"Kau akan bertemu seseorang? "
Grace tertegun dengan suara yang ia dengar, bukan suara perempuan yang ia dengar namun suara seorang lelaki yang ia kenal.
"Bastian apakah itu kamu? "
"Ya ini aku. Kau esok berjanjian dengan seseorang? Kamu baru saja aku lamar semalam Grace Ola Amor. "
__ADS_1
Grace berusaha menahan tawa dengan apa yang ia dengar. Ia pun meletakan amplop putih itu di laci sebelah tempat tidur, Tia dan Siti yang tadi sedang membenahi barang barang Grace pun ikut diusir olehnya.
"Kenapa kamu menahan tawa? Apa yang aku ucapkan benar bukan? "
Grace kembali menahan tawa entah mengapa Bastian berbicara seolah ia adalah orang yang sudah lama ia kenal dan Grace mulai nyaman dengan itu.
"Besok aku akan ada perkumpulan bersama teman-teman arisan dan calon istri mantan suamiku akan datang. "
"Kamu bebicara jujur? "
"Tentu saja. "
Grace duduk bersandar pada dipannya seolah seperti remaja yang sedang mabuk cinta, ia pun merasa bodoh untuk apa ia sampai menjelaskan hal tersebut kepada Bastian.
"Lalu kamu dapat nomorku dari mana? "
"Aku mendapatkannya dari sumber terpercaya, calon ayah mertua ku yang memberikannya. "
Grace tidak bisa menahan tawanya, ia merasa benar benar seperti gadis remaja kembali kali ini.
"Hey kenapa kamu tertawa lagi. Kamu tidak percaya Tuan Amor akan menjadi mertuaku? "
" Yayaya... Aku Setu... Eh Belum tentu. "
Kalian juga bisa membayangkan rona merah di kedua pipi Bastian dan Grace kan?
"Grace tahukah kamu bahwa aku mencintaimu. "
"Kenyataannya, aku merindukanmu. Setiap saat, setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari.
Aku berharap kamu dapat mendengar bagaimana Jantungku berdetak kencang dan melambat disaat bersamaan."
Grace menutup senyumnya dengan selimut, ia merasa malu sendiri. Mungkin jika ayahnya lihat ia akan ditertawakan.
"Tapi kita baru kenal beberapa hari. "
"Hitungan hari cukup membuatku jatuh hati kepadamu. Lalu, butuh berapa lama waktumu jatuh hati kepadamu. Kuharap secepatnya. "
Beberapa burung tampak bertengger di pagar besi balkon kamarnya. Benyanyi sahut menyahut seolah mengetahui isi hati wanita yang sedang menutup wajahnya dengan selimut.
"Aku tidak jelas mendengar suaramu Bas. "
"Apa perlu aku ulang?"
"Kurasa tidak perlu. "
"Bolehkah malam ini kita bertemu? "
"Tidak bisa. "
__ADS_1
"Aku akan datang kerumahmu kalau begitu. Agar kita betemu dirumah. "
"Aku sudah ada janji. "
"Dengan siapa? "
"Kamu ingin tahu aku bertemu dengan siapa? "
"Bukan aku ingin tahu, tetapi aku harus tahu. Aku sudah melamarmu jadi kamu tidak boleh sembarangan berjanjian dengan seseorang diluar sana. "
"Tapi aku belum menerimamu Tuan Bastian Putra Sukmo. "
"Ku yakin kamu akan menerimaku 1000% aku yakin. "
"Terserah dirimu saja lah. "
"Jadi kamu ada janji dengan siapa? "
"Darwys mengajakku bertemu, entah apa lagi yang akan ia katakan. "
"Lalu kamu menyetujuinya? "
"Tadinya aku menolak, tapi dia mengancamku mengagalkan perceraian. Aku hanya ingin lepas darinya dengan baik. "
"Jika ia membatalkan perceraian nya kamu siapkan berkas untuk menggugat dia balik. "
"Ia akan aku lakukan jika itu terjadi. "
"Aku akan ikut denganmu, aku takut dia akan melukaimu. "
"Tidak perlu, nanti malah akan membuatnya salah paham. "
"Baiklah aku akan melihatnya dari jauh. Dimana kalian akan bertemu jangan sampai aku memaksa. "
"Steak House Victoria jam 8 nanti. "
"Baiklah. Aku akan kesana nanti. Hmm setelah ini aku akan ada meeting, tidur siang sana agar saat bertemu denganku nanti malam kau tampak bercahaya. "
"Iya aku juga mengantuk, butuh istirahat yang cukup untuk menyembuhkan mentalku. Bye. "
Tak sadar hampir 1 jam Grace mengobrol dengan Bastian obrolan yang diselingi dengan tawa membuat perasaan Grace lebih membaik.
Lelaki misterius yang susah ditebak entah ada angin apa semalam ia dengan lantang meminta menikahi ku.
Hati grace berbisik dibarengi tarikan bibir tersenyum malu.
Gawai Grace kembali bergetar, ada pesan masuk.
[Kesan pertama saat melihatmu itu seperti waktu yang berhenti. Mata ini hanya bisa melihatmu. Sampai berjumpa nanti malam bunga mawarku. ]
__ADS_1
Grace kembali tersenyum dengan pipi merona.