Oleh-oleh Dari Suamiku

Oleh-oleh Dari Suamiku
Bab 26 Steak House Victoria


__ADS_3

Saat malam tiba di kediaman Amor.


"Kamu tidak makan malam Grace? " Tanya Noah saat melihat Grace yang sedang bersiap akan pergi keluar.


"Mau kemana putri ayah malam-malam begini. "


"Aku ada janji yah, nanti aku makan diluar. Sembari menikmati cutiku daripada bosan dirumah. "


"Kamu masih kerja di perusahaan milik keluarga Agapius? "


Grace menggelengkan kepala dengan keras.


"Grace akan menjadi penerus rumah sakit, soalnya ayah sudah semakin tua . "


"Kenapa ayah tidak diskusi denganku dulu? Curang sekali. " Noah menatap tajam kearah Grace yang tertawa dan menjulurkan lidahnya.


"Kamu tidak usah iri. Perusahan jasa pengirimanmu sudah berkembang pesat bahkan sampai sudah keranah internasional mau mengimbangi si Amazing itu kan? "


"Kok ayah tahu? Bahkan aku ingin merahasiakannya sampai cabang yang di Ausie resmi dibuka. "


"Oh jadi kakak main rahasia-rahasiaan nih. " Grace menjewer telinga kakaknya yang sedang menyendokan nasi keatas piring.


"Aw!! Sakit tahu! ... Tadinya aku ingin kamu yang jadi kepala cabang disana, tapi ayah malah selangkah lebih maju dariku. "


"Boleh juga tuh, dari pada aku harus duduk di rumah sakit. " Grace duduk di sebelah Noah dan tersenyum lebar pada ayahnya.


"Tidak bisa, ingat kamu sudah tanda tangan. Lagipula bagaimana kalian tidak tega meninggalkan ayah kalian seorang diri dirumah. Yang laki-laki sibuk penerbangan keluar negeri terus, yang perempuan malah mau tinggal diluar negeri. Ayah tidak bisa mati dengan tenang jika anak-anak ayah jauh dari ayah. "


"Ayah aku tidak serius menanggapi kemauan kak Noah, ayah tenang saja. "


Grace duduk memangku wajahnya dengan tangan diatas meja.


"Kak, kamu sedang dekat dengan seseorang yah? "


Noah kaget hampir menyemburkan makanan dalam mulutnya.


"Tahu dari mana kamu? " Tanya Tuan Amor kepada putrinya.


"Darwys sepertinya tadi melihat kakak bersama seseorang, dia bilang aku mengenalnya. Siapa kak? "


"Baiklah kakak beritahu, tapi ada syaratnya. "


Tuan Amor dan Grace kompak mengangguk.


"Syaratnya ayah dan Grace tidak boleh menilai dari statusnya dan harus menerima keputusanku. "


"Apakah masih seorang pelajar? " Tuan Amor menerka nerka.


Noah menggeleng.


"Dia adalah sahabat Grace, Mega. "

__ADS_1


Sepersekian detik setelah Noah menyebut nama Mega, mulut Grace terbuka lebar.


"Mega? Kaka serius?"


"Kakak sudah lama berhubungan dengannya mungkin 4 atau 5 tahun. "


"Tapi maaf, dia kan janda apa kakak tidak akan menyesal nantinya? "


"Janda? " Tuan Amor melihat tajam kearah Noah.


"Ini keputusan ku yah, meski janda dia belum memiliki anak. Dia cerai hidup. Orangnya baik kalau tidak percaya tanyakan saja pada Grace. "


"Apa tidak ada pilihan lain Noah? Opsi 2 atau 3 agar ayah juga bisa memilihkannya untukmu. "


"Tidak ada ayah hanya dia satu-satunya, tadinya akan aku bicarakan setelah perceraian Grace selesai tapi takdir sudah memberitahu kalian lebih awal. Maafkan kakak jika itu membuatmu tidak nyaman Grace, karena dia sahabatmu. "


"Aku tidak masalah jika Mega menjadi iparku, tapi kamu tidak apa-apa kak? "


"Hmmm aku tidak apa-apa. "


Noah dan Grace kini melihat kearah ayahnya yang bermuka teduh.


"Ayah sudah kenyang, ayah akan naik duluan ke kamar. "


Nampak ada kekecewaan diwajah Noah atas tanggapan Tuan Amor atas keputusannya yang dekat dengan seorang janda.


Tak berselang lama Gawai Grace bergetar ada pesan masuk.


"Kak aku pergi dulu yah, kaka coba bujuk ayah. Aku yakin ayah akan merestui kakak. Daaahh. "


***


Steak House Victoria, restoran olahan daging sapi ala eropa selalu ramai setiap harinya apalagi hari ini adalah malam minggu membuat para pelayan bertambah sibuk.


Darwys tampak sudah menunggu Grace di meja dengan dua kursi dekat jendela lebar.


"Ada apa kamu memintaku datang kesini? "


"Duduklah dulu. Hari ini kamu tampak cantik seperti biasa. "


Darwys menungkan minuman kedalam gelas yang sudah disediakan. Bahkan dirinya terlihat sudah meminum beberapa gelas saat menunggu Grace datang.


"Aku kesini bukan untuk minum, bicarakan saja apa tujuanmu bertemu denganku. "


"Tidak usah tegang, kita ini masih suami istri. "


"Tidak menurutku. "


"Grace kau harusnya tahu aku dan Sarah itu sebuah kesalahan. Tidak seharusnya kamu ingin bercerai denganku. "


"Sebuah kesalahan adalah kecelakaan. Selingkuh dan berbohong bukanlah kesalahan, itu adalah pilihan yang disengaja."

__ADS_1


"Aku tidak berbohong aku memberi tahumu semuanya sejak awal. "


"Ya tapi kamu menghianatiku, kamu berbohong kepada hatiku. "


"Aku tidak berhianat, dirimu masih aku sisakan ruang dihatiku. Dan aku ingin kamu ada disana selamanya. "


"Kamu tahu apa yang kamu lakukan dan kamu tahu itu akan menyakitiku, tapi entah bagaimana itu tidak menghentikanmu."


"Kumohon Grace, setiap malam aku selalu memimpikanmu. Aku rindu wangi harum mu, aku rindu saat kamu menyemprotkan parfum mawar ke badanku saat aku lupa memakainya. Hatiku memang bercabang namun aku masih mencintaimu. "Darwys berusaha menggenggam tangan grace diatas meja namun dengan tegas grace melepasnya.


"Selingkuh adalah hal yang paling menjijikkan, menyakitkan, dan tidak sopan yang bisa kamu lakukan terhadap seseorang yang kamu katakan kamu cintai."


Darwys kembali meneguk minumannya.


"Tidak bisa kah kamu memaafkanku sayang dan kita bersatu lagi. "


"Maaf aku sudah tidak ada hati untukmu.Aku orang yang cukup baik untuk memaafkanmu. Tapi, tidak cukup bodoh untuk memercayaimu lagi. Aku tidak kesal karena kamu berbohong padaku, aku kesal karena mulai sekarang aku tidak bisa memercayaimu."


Darwys kembali meneguk minumannya lalu mengacak rambut kepalanya.


"Akhh! Sulit sekali berbicara baik-baik denganmu, haruskah aku berlutut memohon ampunan hah!? Oh gini saja aku batalkan saja perceraian kita, agar kau tetap menjadi miliku selamanya. "


Suara tinggi Darwys cukup membuat separuh dari pengunjung di restoran tampak menoleh kearah dirinya dan Grace.


"Jika kamu membatalkannya maka aku akan gugat balik agar bisa bercerai denganmu! " Grace berdiri lalu pergi meninggalkan Darwys yang kepalanya tergeletak di meja karena mabuk.


Dimeja yang tak jauh dari tempat tadi Grace duduk Bastian pun menyusul mengikuti Grace keluar gedung itu.


Bastian berhasil meraih tangan Grace, menarik dan merengkuh nya kedalam pelukannya. Grace berlinang air mata ia berhasil menahan emosi selama ada didepan Darwys.


"Sudah, jangan menangis. Kamu hebat, kamu berhasil membuat dirimu semakin kuat. " Tangan Bastian mengelus rambut halus Grace.


Grace masih membenamkan wajahnya didalam pelukan Bastian. Ia sudah tidak peduli lagi dengan orang yang berlalu lalang melihatnya.


"Sesakit ini dikecewakan dan di khianati, apakah dikehidupan sebelumnya aku seorang pendosa Bas? "


"Dikehidupan sebelumnya kamu adalah seorang ratu yang sangat dicintai rakyatnya Grace, percayalah. "


Grace mengangkat kepalanya dan memandang wajah Bastian.


"Dan Rajanya memiliki selir yang banyak? "


"Tidak! Rajanya tidak memiliki selir karena akulah Rajanya. " Bastian tersenyum dan memandang wajah Grace hingga hidung mereka hampir bersentuhan.


"Kondisimu tampak tidak baik jika pulang sendiri, aku akan mengantarmu. "


"Tapi aku bawa mobil. "


"Nanti aku suruh orang mengambilnya. "


Grace dan Bastian kemudian pergi meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2