
"Selasa besok sampai jumat aku akan memantau proyek pembangunan pabrik yang sedang kubangun ditanah yang kemarin kubeli. Tolong kamu handle pekerjaan disini selama aku tidak ada Ram. "
"Baik Kak. "
"Itu saja yang ingin ku sampaikan, sekarang kamu kembalilah keruanganmu. " Darwys masih fokus dengan monitornya.
Saat Rama akan meninggalkan ruangan itu, Rama berbalik,
"Apa kakak tidak ingin tahu isi pertemuan apa tadi aku di ruang rapat rumah sakit? "
"paling pertemuan permintaan alat medis seperti biasa kan? " Darwys berbicara sembari menatap layar monitornya.
"Bukan, sepertinya Kak Grace akan menggantikan Tuan Amor memimpin rumah sakit itu. "
"Grace? "
"Iya Kak Grace yang akan kaka ceraikan. Dan telebih tadi ada pria yang merangkul Kak Grace dengan akrab. Ya sudah kalau begitu aku akan kembali keruangan ku. " Rama berjalan keluar sambil tersenyum lebar.
Darwys berhenti dari layar monitornya saat mendengar nama Grace, ia pun mengambil gawainya mencoba menelepon ayahnya, namun nomor yang dituju tidak aktif. Dirinya berusaha menenangkan diri tentang apa yang Rama ucapkan tadi. Pertama soal jabatan Tuan Amor dirumah sakit kedua siapa lelaki yang sedang mendekati Grace.
'Tuan Amor bukannya dokter biasa? dan siapa lelaki baj*ngan yang coba-coba mendekati istriku. "
Kembali ke gawainya, dirinya berusaha menelpon ibunya, "Halo mah ini Darwys. "
"Iya mamah tahu, ada apa? " Jawab Herra diseberang telepon.
"Aku tadi coba telpon papah tapi tidak tersambung, papah dirumah? "
"Papahmu ada rapat di kantornya, kamu ada apa telpon tapi ngomongnya cepet banget begitu. "
"Mamah tahu tidak tadi Rama ada rapat di rumah sakit menggantikanku, katanya Grace akan menggantikan Tuan Amor memimpin rumah sakit. Bukannya Tuan Amor Dokter bedah biasa? "
"Tuan Amor itu dokter luarbiasa bukan dokter biasa Wys, asal kamu tahu dulu kakekmu berumur panjang berkat beliau. Jika Tuan Amor pemilik asli Rumah sakit itu wajar saja. Karir dia didunia kedokteran sudah lama."
"Iya sih tapi kenapa selama ini aku tidak tahu jika Tuan Amor pemilik rumah sakit. "
"Papahmu pasti tahu, nanti hubungi saja papah. "
"hmm baiklah. "
Saat Darwys akan menutup telepon, Herra kembali bertanya persoalan hubungan anaknya.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan kamu dengan Grace, jujur mamah menyayangkan sekali jika kamu bercerai dengannya, dia sudah mamah anggap anak mamah sendiri. "
Karena semasa kecil Grace sering bermain dirumah Darwys untuk ikut ayahnya yang menjadi dokter pribadi Tuan Dwin De Agapius kakek Darwys dari pihak ayahnya. Herra sudah sudah sangat menyayangi Grace selayaknya putri kandungnya yang ia jaga sedari kecil.
"Aku juga tidak ingin mah bercerai dengan Grace, tapi jika aku batalkan Grace pasti akan menggugat balik. apalagi disini aku yang salah pasti akan mudah baginya. "
"Semoga kamu bisa merayu Grace kembali ya nak. "
" Iya mah. "
***
Darwys merasa hari ini adalah hari tersibuk dirinya. Dari Proyeknya yang mandat gara-gara beberapa warga masih protes atas pembangunan yang sedang berlangsung, ditambah Grace yang mempunyai teka teki yang harus ia pecahkan.
Sarah menyambut kedatangan Darwys saat pulang seperti biasa, "kamu kenapa mas, kok lesu begitu? "
"Mamah tidak ingin aku bercerai dengan Grace. "
"Mamah atau kamu yang tidak ingin perceraian itu terjadi. "
"ya sejujurnya akupun ingin kita bisa hidup damai bertiga. "
"Bukan begitu maksudku sayang, bagaimanapun Grace dan aku tumbuh bersama. "
"Grace Grace Grace dan Grace, pusing aku mendengar namanya. " Sarah berjalan mendahului Darwys dan meninggalkan pemilik rumah sendirian.
Saat makan malam Sarah tidak turun dian menyuruh Nela membawakan makanannya kekamar dirinya seperti itu karena itu bentuk protesnya terhadap Darwys.
"Sarah tidak ikut makan kak? " Tanya Rama.
"Dia sedang marah karena aku tadi membahas persoalan Grace. "
"Hmmmm" jawab Rama tidak peduli.
"Lelaki yang siang tadi merangkul Grace kamu kenal Ram? "
"Tidak, tapi dia tampak lebih muda. mungkin seumuran denganku atau mungkin lebih muda lagi. "
Darwys kemudian membayangkan jika Grace diantar jemput oleh pria yang Rama maksud, dikecup punggung telapak tangan Grace seolah seperti sepasang kekasih. Dan kembali Darwys menggeleng keras.
"Tidak mungkin Grace mendekati lelaki yang lebih muda, itu bukan typenya. "
__ADS_1
"Jangan salah kak, yang muda yang lebih punya gairah kan. Muda, tampan, punya jabatan bagus siapa yang tidak ingin dengannya ditambah Kak Grace yang cantik, elegan dan berwibawa. " Dikepala Rama terbayangkan jika yang bersanding dengan Grace adalah dirinya.
"Kamu salah Ram, yang berumur yang lebih bergairah. Lihatlah Sarah meski umur kita selisih 7 tahun di malah tergila-gila denganku. "
"Jangan-jangan Sarah mendekatimu hanya karna harta kak. "
"Jangan berpikiran negatif kamu, dia itu hanya gadis desa. Dia tidak tahu apa-apa. Sudahlah selesaikan makan mu. "
****
Sarah mengurung diri hampir semalaman. Darwys yang merasa bersalahpun mendatanginya.
"Sayang maafin mas yah, tidak ada maksud mas membuatmu sakit hati. Apa yang mas ucapkan tadi sore mas minta maaf. "
"Mas janji setelah bercerai mas akan menikahimu segera. "
Sarah yang berbaring membelakangi Darwys menoleh.
"Bener ya mas? "
"Iya sayang. "
"Mas tidur sini ya malam ini. " Pinta Sarah.
"Hmmm malam ini tidak bisa, besok harus bangun subuh buta. "
"Memangnya mas mau kemana ? "
"Aku ada urusan ditanah yang kemarin kubeli di dekat rumahmu. Apa kamu mau ikut? mungkin jumat sore baru kembali kesini. "
"Ahh tidaklah mas, disana banyak yang mengenalku nanti aku jadi bahan omongan. "
"ya sudah, jaga diri baik-baik yah. Kalo ada apa-apa bisa minta tolong Rama atau Pak Andre."
"Rama tidak ikut? " wajah Sarah seketika gugup.
"Tidak, dia menggantilanku di kantor. "
"Baiklah. "
Darwys meninggalkan Sarah dengan tenang, kini dirinya harus fokus ke pekerjaan nya dan berusaha tidak lagi memikirkan Grace.
__ADS_1