Oleh-oleh Dari Suamiku

Oleh-oleh Dari Suamiku
Bab 36


__ADS_3

Senyum Grace mengembang puas setelah berhasil membuat Darwys menyerah dan melepaskan dirinya secara sah. Meski masih ada sedikit rasa sakit yang terus terasa tapi dia belajar untuk mengikhlaskan.


Matahari siang itu kian meninggi, jalanan lancar karena hari weekend, separuh penduduk kota sudah pasti berlibur entah kepuncak atau kedaerahan pesisir pantai.


"Kamu mau ikut makan siang? aku ada janji temu dengan Mega. " Noah membuka percakapan didalam mobil.


"Hmm boleh. Kapan kamu akan mengenalkan Mega ke ayah kak? "


"Secepatnya setelah kamu resmi bercerai dengan Darwys, minggu depan aku sudah mulai ada jadwal penerbangan. " Noah menengok kearah Grace dan tersenyum merasa bangga kepada Grace karena selama bertemu suaminya tadi dia tidak meneteskan air mata sedikitpun.


"Kenapa kamu tidak resign saja kak, dan fokus usahamu. "


Belum sempat mendengar jawaban Noah, gawai Grace bergetar ada pesan masuk dari Bastian.


[foto]


[Aku sedang di panti bersama anak-anak mendoakanmu agar masalahmu cepat usai, dan mendoakan kita supaya bisa bersatu. ]


Grace tersenyum melihat foto Bastian sedang dikerubungi anak panti yang biasa ia kunjungi. Ternyata foto bingkisan belanjaan pagi tadi adalah makanan ringan yang sengaja Bastian bawa untuk anak-anak.


[Kalau sudah selesai mediasinya, kemarilah. Ibu Lusi masak makanan lezat untuk makan siang. Anak -anak juga merindukanmu begitupun aku, bahkan aku sangat-sangat merindukanmu.]


Belum sempat Grace membalas Bastian sudah mengirimi pesan lagi. Semakin membuat bibir Grace merekah.


"Kenapa kamu senyum-senyum begitu? " Noah merasa curiga dengan tingkah Grace.


"Hmmmmm" Grace kembali tersenyum lebar tidak menjawab pertanyaan Noah.


Ibu jarinya sibuk mengetik papan keyboard, [Baiklah, aku akan segera kesana.]


Grace meletakan kembali Gawainya dalam saku blazer nya.


"Aku nanti tidak jadi makan bareng kakak dan Mega yah, aku ada janji. "


"Dengan siapa? "


"Dengan anak-anak panti. Aku mau makan bareng anak-anak."


"Ya sudah kita putar balik dulu, aku akan antar. "

__ADS_1


"Eh tidak perlu, kakak pasti sudah ditu ggu Mega. Nanti biar aku bawa mobil kakak ke panti. Kaka pulang bareng Mega, dia pasti bawa mobil. "


"hmmm baiklah. " jawab singkat Noah masih fokus menyetir.


Grace kembali tersenyum dengan membuang mukanya kearah jendela memandang jauh entah kemana, berusaha menutupi rona merah yang ada di pipinya saat ini.


"Kamu kenapa senyum-senyum terus. Ada yang diumpetin? "


"Ah tidak kok. " Grace masih membuang mukanya de jendela.


"Ingat, kamu baru akan bercerai. Jika ada lelaki mendekati mu beritahu aku dulu. Jangan bertindak gegabah di tempat umum agar nantinya mereka tidak mengira bahwa kamu yang menduakan suamimu. Paham? "


"Iya kak. "


Noah tahu adiknya sudah dewasa namun Noah juga paham akan keadaan adiknya yah bahkan tidak perna berpacaran dengan lelaki lain selain Darwys itupun langsung menikah tanpa pacaran.


10menit kemudian Noah sampai suatu restoran yang yang menjadi tempat temunya dengan Mega. Grace tanpa turun dan menemui sahabatnya langsung izin menuju panti karena jaraknya lumayan jauh.


"Aku pergi dulu, berikan salamku pada Mega maaf tudak bisa menjadi obat nyamuk untuk kalian hahaha"


Grace melambaikan tangan dan pergi dengan suasana hati yang senang. Entah apa yang dirinya rasakan terhadap Bastian tapi ketika berada didekatnya ada kenyamanan tersendiri yang Grace rasakan.


***


Darwys belari dengan langkah yang cepat tak peduli ada orang lain atau perawat, ia terobos.


"maaf, maaf" kata yang terucap ketika badannya menabrak pundak seseorang.


Sampai didepan pintu Ruangan rawat Mawar VIP 1, Darwys mengetuk dan langsung masuk melihat Sarah yang sedang disuapin makan oleh Herra. Darwys berlari dan mendekap tubuh Sarah dengan mata yang tiba tiba meneteskan bulir kebahagiaan.


"Bagaimana kondisimu sayang? "


Sarah mengangguk, "Aku sudah enakan mas. "


"Sarah masih butuh istirahat Wys, tolong gantikan mamah menyuapinya. Mamah ingin keluar sebentar. " Herra memberikan mangkuk bubur itu kepada Darwys.


"Baik mah, terimakasih sudah menemani sarah mah. "


Herra meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


"Kamu tahu sayang betapa bahagianya aku ketika mendapat kabar bahwa kamu sedang hamil. Lihat airmata bahagiaku tidak berhenti mengalir. " Darwys tersenyum lebar dan sesekali mengelus perut Sarah.


"Aku akan berusaha menjaga anak kita mas. " Sarah mengusap iarmata Darwys.


"Keluarga lengkap yang selalu aku impikan akhirnya bisa terwujud. "


"Bagaimana mediasi dengan Kak Grace hari ini? apa kalian masih tetap bersama. Jika kalian masih bersama ijinkan aku membesarkan anak ini sendiri mas. Aku tidak ingin lagi dicap sebagai perebut suami orang. " Raut wajah sarah memancarkan kesedihan.


"Jangan bicara seperti itu, aku adalah lelaki yang bertanggung jawab. Aku sudah putuskan untuk menceraikan Grace demi kamu. Kamu jangan merasa kecil hati. mari minggu depan kita menikah. "


Bagai ada letupan kembang api di dada Sarah, letupan kebahagiaan yang selama ia nantikan akhirnya segera terlaksana.


Darwys mengecup kening Sarah penuh kehangatan, 10 tahun mendambakan seorang anak kini dirinya bisa mendapatkannya dari rahim Sarah.


***


Herra berjalan cepat meninggalkan ruangan Sarah dan menuju ruangan dokter yang memeriksa Sarah.


"Dok apa tidak bisa langsung di tes DNA? "


"Belum bisa bu, Tes DNA busa dilakukan jika bayi sudah dilahirkan. Dan hasil dari USG juga baru masih terbentuk kantung kandungan. Nanti diharuskan segera kontrol lagi setelah 2 minggu dari sekarang. "


Herra meremas-remaa jemarinya, yang ia takutkan jika benar Sarah hamil bukan anak dari Darwys.


Herra keluar ruangan dan menuju taman terbuka untuk berniat menghubungi Grace. Namun belum sempat ia menelpon menuantunya Gawainya bergetar lebih dulu, telpon masuk dari suaminya Damian.


"Halo pah. " berusaha terdengar tidak gugup.


"Halo mah, Mah kata Darwys, Sarah hamil apa benar? "


Rupanya Darwys telah memberitahu suaminya sebelum didirnya memastikan kehamilan Sarah yang sebenarnya.


"I-iya pah, sekarang sedang ada di RS Pelita karena badan Sarah sedang lemah diharuskan rawat inap. Papah tidah perlu khawatir kehamilannya juga masih berupa kantung belum terlihat janinnya. Doakan saja yang terbaik. Jenguk saja nanti jika sudah pulang kerumah. "


"Baiklah kalau begitu, kamu temani calon menantu kita. Jangan sampai terjadi sesuatu pada cucu kita. Aku kan pulang dua hari lagi. "


Damian yang saat itu sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar daerah tidak bisa langsung datang karena memang jauh dan masih belum selesai pekerjaannya.


Setelah mematikan telpon Herra kembali meremas jemarinya.

__ADS_1


"Bagaimana ini, apa aku harus percaya pada Grace atau aku ikuti saja alur kehamilan Sarah. Ya Tuhan, aku harus bagaimana, aku takut jika kenyataan menyakitkan akan menghancurkan perasaan anakku. Semoga memang anak itu adalah cucuku, Engkau yang memberikan sebuah keajaiban untuk anaku bisa memiliki keturunan. "


__ADS_2