
Grace sampai restoran yang sudah dipesan oleh Esme jam 10 tepat, saat menuju restoran tersebut grace dimanjakan dengan danau-danau kecil dan sesekali pagar jalan alami, tanaman bambu kecil yang ditanam sedemikian ruma sehingga membentuk pagar tinggi. Pagar itu penghalang dari tanah lapang untuk bermain golf. "Baru tahu aku ada tempat seindah ini."
Grace memasuki restoran dan duduk di meja yang sudah di pesan oleh temannya. Saat akan duduk di meja dengan 6 kursi itu badannya berpapasan dengan lengan kekar seseorang yang sedang duduk, orang yang ia kenal di sebrang mejanya.
Terkejut, ia menahan napas. "Oh permisi Tuan Bastian. Saya tidak tahu anda berada disini."
Bastian bangkit dari kursinnya dibelakang meja , dan jantung Grace berhenti sejenak . Yang dilihatnya semalam tidak mendekati Baastian yang sebenarnya. Ditelannya gumpalan kekaguman yang menyumbat tenggorokannya.
Bastian itu tinggi dan tampak kuat dalam setelan kaos dengan potongan sempurna yang pas pada bahu tegap dan dada lebarnya, yang menyempit menjadi pinggang langsing dan pinggul ramping dibalik celana pendek yang nyaman untuk bermain golf berwarna hitam. Potongan rambut yang halus dan berwarna coklat gelap lurus dan menarik, tergantung melewati tengkuk. Anak-anak rambut halus menutupi alisnya, membuatnya terkesan seperti seorang berandalan, sedikit pemberontak, tetapi juga tampan.
Dada Grace terasa sesak, dan perutnya menegang senang ketika ia menyadari bahwa Bastian sedang memandangi nya dengan secermat ia mengamati pria itu. Grace mengawasi pandangan bastian yang menyapu wajahnya, badannya sampai kakinya sebelum kembali ke matanya. Pengamatan serius yang Bastian lakukan membuat tubuh Grace hampir meleleh.
Bastian yang sudah tau agenda Grace sebenarnya sengaja meresrvasi meja yang dekat dengannya namun ia tidak menyangka jika akan bertemu diawal. Bastian sudah bermain Golf dari jam 8 pagi kini ia niat beristirahat sembari memandangi mawarnya tanpa mengajaknya bertemu secara pribadi.
"Hmm kamu sepertinya datang lebih awal dari yang lain. "
Sambil berdeham, Grace berkata, "sepertinya aku terlalu cepat datang. aku akan menunggu teman-teman yang lain datang. "
Bastian hanya mengangguk, "oh ya. "
Pria itu tersenyum padanya, dan jantung Grace berdetak lebih cepat. Ia tidak mungkin menahan diri untuk tidak membalas senyum itu.
Grace begitu menarik sehingga Bastian tidak kuasa mengendalikan sensasi-sensasi baru dan aneh yang dirasakan setiap kali Grace di dekatnya.
Lissa, Lauren, Esme, dan Mega datang bersamaan, mereka melambaikan tangan kearah Grace yang sudah menunggu.
"Sudah lama menunggu? " Tanya Lissa.
"Ah baru 10 menit belum lama. "
Mega yang melihat ada Bastian di meja persis dibelakang Grace dan melirik ke arah Grace, "kamu kesini tidak sendirian? "
"Aku sendirian. "
"Itu? " Mega menunjuk Bastian menggunakan isyarat dagunya.
"Oh dia sudah dari tadi disini sebelum aku datang mungkin sedang bermain Golf. "
Lissa dan Esme menoleh kearah Bastian yang ditunjuk Mega.
"Wah gantengnya, memangnya siapa dia?" Senggol Esme ke Grace.
"Nantilah akan ku ceritakan, kita tunggu Lauren selesai memesan dulu. "
Tidak berselang lama ada 2 pemuda dan 1 wanita muda lainnya yang melambai kearah Bastian.
__ADS_1
'Oh ternyata dia tidak sendiri. ' gumam Grace.
"Eh ini kelebihan kursi ya kita pesan meja? " Lauren menghitung jumlah kursi.
"Coba ku absen dulu. " Mega mengechek group di gawainya.
"Grace, Lissa, Lauren, Esme, Aku. Sarah? Sarah belum datang? "
"Wanita itu ikut. " Lissa hampir tersedak minumannya.
"Biarkan dia ikut, aku ingin buat pelajaran kepada perempuan itu. Mungkin kalian tidak akan nyaman, tapi yang bisa membantukku. "
"kita akan selalu mendukungmu. "
Dari arah pintu tampak Sarah melambaikan tangan kepada Darwys. Ia datang mengenakan dress hijau dengan ikat pinggang bergaris hijau tua. Sarah memasukin restoran yang mulai tampak ramai karena saat itu masuk jam camilan para pemain Golf.
Banyak juga lelaku yang menoleh kearah Sarah saat dia datang, bukan karena kagum lebih kepada aneh. Wanita berbaju hijau dengan tas merah.
Grace yang melihat tas itu merasa tidak asing. Sarah menghampiri perkumpulan itu dan menaruh tasnya diatas meja.
"Hallo semua. " Sapa Sarah.
Semua diam tampak muak dengan kehadiran Sarah.
"Saya belum telat kan?"
"Tampaknya aku tak asing dengan tas itu. " Mega melihat kearah tas merah yang Sarah letakan diatas meja.
"oh ini, ini hadiah dari kak Grace. Baguskan, tampak mahal. "
"aku tidak pernah memberikanmu kado ataupun hadiah lain. Jika memang benar itu adalah tas ku yang hilang belum lama ini setelah aku pisah rumah dengan suamiku. "
"Waktu itu asisten yang mengambil barang-barang dikamar kak Grace memberikan ini kepada ku, kata mereka ini adalah Hadiah dari kak Grcae buatku. "
"Aku tidak percaya asisten ku berbicara seperti itu apalagi tanpa perintahku. "
"Lalu kak Grace menuduhku mencuri tas ini begitu? kalo tas ini kudapat tanpa persetujuan aku tidak akan membawanya kesini. "
"Cih bermuka dua sekali. " Bisik Lissa.
"Entah apa salahku tapi kalian perlakukan aku seperti ini. Aku hanya ingin punya teman. dan besosialisasi bersama kalian. "
Semua diam sudah lelah berbicara dengan Sarah berusaha tidak menghiraukan perempuan itu.
"kamu tidak akan kuat ada di group ini. Dari caramu masuk ke kehidupan Grace saja sudah salah. Lebih baik mundur saja. Toh kita tidak ada yang mau berteman denganmu. Yang ada nanti suami kita ikutan jadi korbannya. "
__ADS_1
Wajah Sarah merah padam antara marah dan malu di berdiri dan beringsut meninggalkan meja itu.
Para wanita selain Grace menutup mulut menahan tawa.
***
Gold Woman memulai acara nya sendiri tanpa hadirnya Sarah karena memang wanita itu dari awal tidak diizinkan mesuk kedalam Group.
"Mega sampai berapa lama kamu ingin menutupi semuanya dari kita? " Grace membuka suara.
"Mega punya rahasia? " Tanya Esme, Lisa dan Lauren tampak bertukar pandang.
Wajah Mega bersemu merah karena malu.
" apa aku saja yang harus memberitahukan ke semua " terang Grace.
Mega lalu menutup wajahnya dan menggeleng menandakan ia tidak ingin bercerita .jadi grace menceritakan semua yang ia tahu dari kakaknya Noah dan semua wanita yang ada di situ menoleh ke arah Mega tampak tidak percaya .
" Jadi kau akan segera menikah?"
" mungkin iya tapi aku belum meminta restu kepada Grace dan keluarganya ini sudah aku rahasiakan selama 4 sampai 5 tahun Aku berharap kamu mau menerimaku sebagai iparmu Grace "
"Aku tidak masalah kamu menjadi kakak iparku Meg tapi coba kamu datanglah bersama Noah untuk mengenalkan dirimu sendiri kepada ayah ."
"Baiklah nanti akan aku bicarakan bersama Noah. "
Meja dibelakang Grace tampak sudah ditinggalkan pemiliknya, Bastian pergi bersama 3 orang tadi yang Grace tidak kenal.
"Lalu lelaki yang Mega maksud siapnya Grace? " Lissa bertanya untuk mengingatkan aksi tunjuk Mega menggunakan Dagunya waktu awal pertemuan.
"Itu adalah Bastian penerus perusahaan Mega Farmasi, kalian juga pasti tahu perusahaan itu. Dia cucu kedua dari pemilik utama perusahaan. "
"Lalu apa hubungannya dengan mu Grace? "
Grace lalu menceritakan semua yang telah terjadi sampai adegan dimana ia dilamar dan ia dipeluk didepan restoran kemarin.
"Gila, cepet banget ga sih dia ngungkapin perasaannya ke Grace, padahal baru kenal. Apa jangan-jangan dia mendekatimu karena ada maunya?" Potong Esme.
"Entahlah, tapi untuk sekarang aku sedang berusaha menjauhinya dan tidak dekat dengan siapapun selama proses cerai ini belum selesai. "
"Tapi dilihat dari perawakannya dia tampan, gagah, masih muda, punya jabatan yang tinggi juga. Perfect banget dijadikan suami. Ya ga si? " Lauren mengambil suara.
Semua serempak mengangguk tanpa terkecuali Grace yang ikut reflek mengangguk.
****
__ADS_1
Dilapangan Golf yang membentang Bastian menggaruk telinganya saat akan memukul bola.
'Seperti ada yang sedang membicarakanku'