Oleh-oleh Dari Suamiku

Oleh-oleh Dari Suamiku
Bab 15 Kemarahan


__ADS_3

Bunga-bunga mekar ditaman membuat tidak sedikit tamu yang tertarik menikmati wanginya sekar.


"Grace.." panggil Bastian dengan nada lembutnya.


Grace yang mendengar namanya terpanggil langsung menoleh ke Bastian, lalu menatapnya dan berkata "Iya.. Kenapa?"


"Menurutmu, apakah aku ini kurang tampan?" tanya Bastian penuh keseriusan.


"Haaa? " Grace mendengar menuturan kata dari Bastian hanya bisa membuka mulutnya sangat lebar, bahkan jika ada lalat yang lewat pun dia akan terjebak di dalam mulut Grace.


"Aneh, kenap wajahmu seperti itu? Biasanya disaat aku bertanya seperti ini semua orang akan langsung tertarik denganku, dan mengatakan bahwa aku ini sangat tampan. Apalagi para wanita yang mengagumi diriku. Cuman kenapa dirimu berbeda!" keluh Bastian dengan wajah murungnya sambil menatap ke arah lain.


"Aahh begitu? Ya, maaf. Aku hanya sedikit terkejut saja, toh aku saja tidak bisa membedakan porsi tampan dan sangat tampan itu seperti apa. Yang aku tahu semua pria itu tampan" celetuk Grace dengan polosnya.


"Hem.. Tapi jika aku melihat ekspresi wajahmu. Terkesan jika aku ini biasa saja, apa ada yang tidak beres dengan wajahku?" tanya Bastian kembali sambil menoleh ke arah Grace.


"Mungkin itu hanya pemikiran kamu saja, cuman jika aku lihat kembali kamu memang Tam-.. "


"Ehem.. Mah kenapa diluar. Ayo masuk" tanya Darwys sambil melirik ke arah Bastian dengan tatapan sedikit aneh.


Dari tadi tanpa disadari oleh Bastian dan Grace dari dalam ruangan Darwys memperhatikan istrinya.


Jarang sekali istrinya bisa langsung akrab dengan orang yang baru dikenalnya. Sekarang dia tidak lagi menggandeng tangan Sarah entah dimana perempuan itu, pandangan nya hanya tertuju kepada istrinya.


Langkah kakinya maju menerobos lautan manusia, dia sangat penasaran dengan apa yang dibicarakan istri dan cucu Tuan Atmaja.


"Aku mau ketaman wisteria Pah, nanti aku akan menyusul" ucap Grace diselimuti oleh senyuman tipis ke arah Darwys.


Wajah Bastian sengaja berpaling kearah lain dengan menyimpulkan sedikit senyum kemenangan.


"Tapi mah.. "


Belum selesai Darwys berbicara, Sarah dari arah rumah memanggilnya.


"Sayang dari tadi Sarah cariin ternyata disini. Masuk yuk Sarah lapar. "


Tanpa berpikir panjang Darwys pun kembali beranjak memasuki rumah.

__ADS_1


"Oh wanita itu tadi orangnya yah? " Bastian memandang jauh kearah Sarah.


"Wanita selingkuhannya Darwys" Sambung Bastian.


Tangan Grace mencengkram gaunnya, bukan rasa marah yang terlintas tetapi rasa sakit yang dirasa setiap kali mendengar kata perselingkuhan.


"Suamimu orang yang aneh, mencampakanmu demi wanita seperti itu. "


"Ada wanita cantik, tinggi, pintar seperti ini malah berpaling dengan yang tidak jelas asal-usulnya, " Bastian merendahkan badannya demi untuk melihat jelas wajah Grace.


Grace hanya diam tidak ingin emosionalnya memuncak meski semua perkataan Bastian menurutnya benar.


***


Semua tamu yang hadir kini berada dalam satu ruangan besar. Diumur yang sudah tua Tuan Atmaja berencana membagi setiap warisan kepada anak-anaknya.


"Karena anak pertama saya Adi sudah tidak ada maka perusahaan Farmasi dan periklanan akan saya berikan kepada Bastian. "


"Perusahaan mega konstruksi dan perusahaan Akuntan akan saya berikan kepada Bima. "


"Perusahaan Grosir dan Perhotelan saya berikan kepada Alice. "


Anak-anaknya yang kecewa atas hasil pembagian warisan merasa tidak Terima. Bima anak kedua lebih dahulu menyela ucapan Tuan Atmaja, "Apa papa yakin Farmasi diberikan kepada Bastian bocah yang masih berumur 30 tahun itu?"


"Iya papa berikan saja perusahaan Akuntan dan Perhotelan kepadanya biar Kak Bima yang urus Farmasi dan aku yang urus periklanan pah" Ujar Alice.


"Papa sudah yakin, papa titip semua hasil kerja papa kepada kalian. Kalian tidak boleh iri kita ini keluarga, jaga dan majukan lah setiap bidang yang bisa kita genggam"


Semua tamu bertepuk tangan mengiyakan keputusan pendiri Mega Farmasi itu.


Ada pula beberapa orang yang berbisik-bisik dengan hasil keputusan itu.


"Cih anak baru gede sudah diberi wewenang pegang perusahaan sebesar itu, paling sebentar lagi juga bangkrut akibat ilmu yang kurang. "


"Anak baru lulus kemarin bisa apa? "


"Ada kabar kalao Bastian itu anak badung loh"

__ADS_1


Dan banyak percakapan lainnya dibalik riuhnya tepuk tangan.


Darwys yang memandang Istrinya berjabat tangan mengucapkan selamat dengan Bastian merasakan hawa panas pada wajahnya. Ia yang berniat menghampiri Grace gagal karena Sarah selalu menggandeng lengannya.


Biar nanti ku urus dirumah saja Grace.


***


"Mah aku tidak suka jika kamu dekat dengan lelaki lain diluar sana" Tangan Darwys berkacak pinggang meluapkan unek-uneknya dari tadi yang ia pendam.


Grace yang sedang meletakan kembali perhiasannya kedalam tempatnya menoleh "Lelaki lain siapa ? kerja pun sekarang aku hanya kerjakan dirumah. Bukannya kamu pah yang dekat dengan wanita lain sampai mau meminang nya?"


Darwys merasa dibodohi oleh Grace, kini tangan kirinya memijat pelipis "Itu beda kasus mah, aku bahkan tidak membohongimu tentang hubunganku dengan Sarah dan malah aku terus terang meminta restumu. "


"Terus aku harus juga meminta ijinmu untuk mencari suami baru? " Tanya Grace yang langsung berdiri dan berbicara dengan nada tinggi bahkan Tia dan Siti yang berada didepan pintu sampai mendengar.


PLAK!!


"Cukup mah, apa yang seharusnya miliku ya tetap miliku. Tidak akan ada yang pergi dari hidupku tanpa izin ku, paham kamu?!"


Darwys kembali keluar dari kamar Grace rasa cemburu dan amarah yang terbendung sudah ia luapkan. Ingatan saat Bastian mencium tangan istrinya dan mengajaknya berdansa, melihat istrinya tersenyum lebar dengan lelaki lain sudah cukup membuat hatinya panas.


"Tuan. Nyonya Herra baru saja datang, sekarang sedang menunggu tuan dibawah" Andre dari bawah membuat langkah Darwys terhenti.


"Malam-malam begini pak? Tumben ada apa?" Darwys menghentikan langkahnya.


"Tuan langsung temui nyonya saja"


"Apa perlu saya beritahu Nyonya Grace?" Lanjut Andre.


"Tidak perlu pak, temenani saya saja kebawah ngobrol sama mamah" Darwys beranjak menemui Herra.


Dikamar Grace ia diam terpaku, gemetar dan terkejut kini terasa memeluk tubuhnya. Suami yang ia cintai bahkan ketika marah tidak pernah main tangan kini ia berani menampar dirinya. Pipi yang masih berwarna merah hasil cap tangan Darwys terasa perih namun hatinya lebih merasa sakit.


"Nyonya biar saya bantu kompres pipinya ya" Siti datang dengan membawa air di baskom kecil.


"Baik Siti, maaf sudah membuat kalian kembali bekerja saat waktunya istirahat. "

__ADS_1


Tia yang sedang menyisir rambut Grace sering beradu pandang dengan mata Siti yang sedang membasuh bekas tamparan Tuan majikannya itu. Seolah kedipan mata berisi bahasa yang mereka sedang obrolkan.


"Saya tidak apa-apa Tia Siti, terimakasih sudah khawatir. " Grace hanya mengulim senyum melihat tingkah asisten ya.


__ADS_2