Oleh-oleh Dari Suamiku

Oleh-oleh Dari Suamiku
Bab 21 Berita Perceraian


__ADS_3

Hari semakin larut kepala sarah terasa mau pecah karena gila, badannya yang lemas ia paksakan untuk pergi meninggalkan kamar Rama. Saat akan menuju kamarnya sendiri ia mendengar suara mobil Darwys, Sarah bergegas masuk kamarnya merapihkan rambut dan mengenakan parfum.


Tak lama terdengar suara ketukan pintu terdengar.


"masuk."


"Aku kira kamu udah tidur sayang. " Darwys mengecup pipi Sarah.


"Aku menunggumu pulang mas. "


"sudah makan? "


"Sudah tadi, mulutmu bau alkohol. Kamu abis minum minuman ya mas? "


"Ah iya, tidak banyak. Kamu seksi sekali malam ini sayang, aku jadi ingin memakanmu. " Darwys menyengir lapar.


"Malam ini aku sepertinya kurang enak badan sayang. "


"Tidak enak badan? lemas? "


Sarah mengangguk, dan ia berdiri dengan lemas mengambil minum digelas untuk membasahi tenggorokannya.


"Jangan-jangan kamu hamil sayang! " Darwys mencengkram pundak Sarah. Sarah yang sedang minum akhirnya tersedak karena perkataan Darwys yang mengatakan bahwa dirinya hamil.


"Hamil? "


"Iya! Kan selama ini kita tidak pernah menggunakan pengaman. "


Sarah yang tahu penyebab badannya lemas hanya diam sambil menyeruput minumannya sedikit demi sedikit karena gugup. Badannya lemas karena kehabisan energi saat 3 jam melayani Rama demi uang 500 juta. Rama menjanjikan uang senilai 5 milyar kepada Sarah yang esok hari akan ia Terima.


"Besok kita cek kedokter yah, aku akan mengantarmu. "


"Ah tidak usah mas, aku hanya kecapean saja. Lagian tidak semua wanita hamil merasa lemas diawal kehamilannya. "


"Memangnya kamu pernah hamil? Seenaknya bicara seperti itu. "


Sarah kembali tersedak.


"Besok kita cek yah, semoga dugaanku benar. "


Darwys meninggalkan Sarah, ia menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya.


Sarah yang menghembuskan nafas dalam-dalam berusaha menenangkan diri.


'Syukurlah Mas Darwys tidak curiga'


***


Suara angin membuat suara gesekan daun-daun dipohon taman dekat kamar Bastian terdengar tidak berirama seraya para pohon itu mengejek dan mentertawakan lelaki lajang itu.


Sudah dua hari Bastian merasa tidak bersemangat, ia menyesali dirinya yang bodoh melupakan inti pertemuannya dengan Grace di restoran kala itu.


'Bodohnya aku, saking senangnya sampai lupa lagi meminta kontaknya'

__ADS_1


'Entah kapan lagi aku bisa bertemu dengannya'


'Atau aku datang saja kerumah ayahnya untuk meminta nomor kontaknya'


'Ah itu lebih gila!! bagaimana bisa Tuan Amor memberikan nomor kontak pribadi putrinya yang sudah menikah kepada bujang seperti diriku'


'Ya Tuhan kumohon bantu aku, aku sadar telah melewatkan kesempatan itu. Berilah aku kesempatan kedua ya Tuhan. Meski ini kusadar salah untuk mendekati wanita bersuami. '


Tuan Atmaja melihat cucunya yang sedang mengacak acak rambut seperti orang gila namun berwajah rupawan. Ia penasaran dengan apa yang cucunya pikirkan.


"Ada apa denganmu Bas, rambut berantakan seperti orang gila saja. "


"Tidak ada apa-apa kek. Aku hanya sedang merubah gaya rambutku. " Bastian tertawa kecil.


"Ada-ada saja. Oh ya kamu tidak ingin main ke rumah Amor? "


"Ingin kek, tapi aku masih sibuk dengan dengan pekerjaanku. "


"Hemm baiklah. " Tuan Atmaja kembali menyesap teh yang ia bawa tadi.


Bastian meremas tangannya dalam pangkuan seperti orang yang sedang gelisah, Tuan Atmaja yang melihatnya bertanya, "Ada yang ingin kamu sampaikan kepada kakek? "


Bastian berhenti meremas tangannya dan melihat kearah Tuan Atmaja dengan lekat, bahakan suara daun terdengar senyap seakan mendukungnya untuk berbicara.


"Kek, aku ingin jujur kepada kakek. Tapi kakek jangan marah. "


"Tentang apa? " Tuan Atmaja kembali menyesap tehnya.


Tuan Atmaja berhenti menyesap teh itu, dan memandang lekat mata bastian memastikan apa yang dikeluarkan dari mulut cucunya adalah kesungguhan atau bukan.


"Pergilah kerumah Tuan Amor bicaralah dengan beliau. "


"Tapi jika aku jujur kepadanya, mukaku akan seperti penjahat kek. Anak sahabat yang ingin mendekati putrinya yang sudah bersuami, apa kata dunia nanti. Seorang bastian yang ganteng pari purna merebut istri yang bersuami. "


Bastian kembali mengacak rambutnya.


"Kakek dengar dari Tuan Amor jika putrinya akan segera bercerai. "


"Nah itu kek Grace akan bercerai... Tunggu? "


Bastian berdiri kaget.


"Grace akan bercerai dengan Darwys? "


"Iya Tuan Amor yang memberitahu kakek, info yang kakek punya dari sumber yang terpercaya. "


"Baiklah kek, aku akan segera ke rumah Tuan Amor. " Bastian berbicara sambil berlari menuju kamarnya.


Tuan Atmaja terkekeh melihat tingkah cucunya lalu ia menghabiskan teh berasa pahit itu.


"Besok saja perginya, sekarang sudah menjelang malam! " Tuan Atmaja kembali berteriak setelah menghabiskan tehnya.


Namun teriakan Tuan Atmaja sudah tak terdengar lagi ditelinga Bastian, yang ia dengar sekarang hanyalah detak jantungnya sendiri yang semakin kencang dan nafas yang tidak beraturan.

__ADS_1


***


Lain ditempat Grace berada, iya memikirkan bagaimana caranya ia mengatakan kepada Noah kakaknya. Malam ini Noah akan pulang untuk cuti yang lumayan panjang.


"Bicaralah sejujurnya kepada kakakmu, jika kakakmu marah berarti kakakmu menyayangimu."


"Tapi kakak adalah orang yang keras ayah. Bahkan dulu saat pertama kali kakak tahu aku di jodohkan kakaklah yang menodong Darwys untuk bersumpah dan berjanji untuk membuatku bahagia. "


"Iya ayah tahu, tapi tetap saja kamu harus jujur kepadanya. Kakakmu sangat menyayangimu. "


Grace mengusap mukanya.


"Jika ibumu disurga pasti merasa sedih dengan apa yang terjadi kepada mu. " Tuan Amor meneteskan air mata merasa bersalah.


"Ayah, ayah jangan menangis. Ayah tidak bersalah. Sudah-sudah. " Grace merangkul ayahnya berusaha menenangkannya.


"Andaikan dulu ayah mendengarkan ibumu, nasib mu tidak akan seperti ini nak. Ayah lebih memilih berhubungan baik dengan keluarga Agapius agar bisnis keluarga semakin berkembang. Ayah yang salah ayah meminta maaf. " Air mata mengucur deras dari netra seorang Amor. Keputusan yang ia buat menjadi penyesalan yang kini ia rasakan bahkan yang menanggung semua itu adalah putri kecilnya sendiri yang sangat ia sayangi.


Grace hanya bisa menepuk nepuk pundak sang ayah ia pun meneteskan air mata di ujung netranya.


***


Saat suasana sudah tenang dan Tuan beranjak memasuki kamarnya untuk beristirahat. Tia datang menghampiri Grace.


"Nyonya, kata Pak Tejo ada tamu yang ingin masuk. Tapi Pak Tejo larang karena belum ada janji temu. "


"Siapa namanya? "


"Kurang tahu Nyah, tapi sepertinya dia mengenal Tuan Amor. Atau saya beritahu Tuan Amor saja untuk memastikan ya nyah? "


"Jangan! Ayah sedang beristirahat. Biar saya saja yang menemuinya. "


Grace berjalan menuju luar rumah berbalut jubah tebal untuk menepis angin dingin malam itu.


Degup jantung Bastian terasa lebih cepat saat melihat wanita yang ia sukai menghampirinya, ia tidak menyangka jika Grace berada dirumah itu dan dia jugalah yang mempersilahkan dirinya masuk


Bastian tersenyum lebar memberikan pesona tersendiri di wajahnya.


"Beri jalan masuk Pak, beliau tamu ayah. "


Grace enggan menanyakan langsung ada urusan apa Bastian datang kerumah ayahnya selarut ini. Grace mempersilahkan Bastian masuk meski tidak tahu apa yang akan dibicarakan.


"Duduklah, pelayan sedang membuatkan teh hangat untukmu. "


Bastiaan membuka sweater tebalnya dan meletakan disebelah tempat ia sedang duduk.


"Ada perlu apa datang selarut ini? Jika ingin bertemu ayah datang lagi saja esok. Ayahku baru saja beristirahat. "


Bastian masih terpesona dengan penampilan Grace yang mengenakan baju tidur rumahan, rambut yang ia jepit membuat rambut itu seperti ekor kuda yang bergoyang.


"Menikahlah dengan ku setelah kau resmi bercerai dengan Darwys. "


Grace kaget dengan apa yang di ucapkan sampai Tia yang membawa teh ikut berhenti mendengar apa yang Bastian katakan

__ADS_1


__ADS_2